
Happy Reading...
*****
Satu jam sebelumnya Raja melihat sebuah brosur bertuliskan bazar di Pasar Seru. Ia mengajak Anta dan merengek untuk pergi ke sana. Karena Tasya sedang kesakitan datang bulan, maka ia tak bisa ikut. Mama Dewi juga sedang pergi menemani Andri di restoran.
Akhirnya, dengan berat hati Anta menemani adiknya. Setelah diberi uang oleh Tasya dan juga mendapat kiriman uang dari Andri, ia dan Raja pergi ke Pasar Seru menggunakan busway.
Seseorang menepuk bahu Anta membuat gadis itu menoleh dan tersentak.
"Mau ke mana?" tanya Arya.
"Haissh kirain Anta hantu yang tegur," ucap gadis itu.
"Elo sama Raja mau ke mana?" tanya Arya lagi.
"Nih, si Raja minta dianterin ke Pasar Seru."
"Gue ikut!"
Tanpa menunggu persetujuan Anta, Arya langsung memesan tiket busway. Kemudian, ketiganya duduk bersandingan di kursi paling belakang. Raja yang duduk di antara keduanya langsung berpindah setelah mendapat tatapan tajam dari Arya.
Ponsel Arya kemudian berdering, Anta sempat melirik nama yang tertera di layar. Mey menghubungi pemuda itu. Akan tetapi, pria di samping gadis itu tak mengangkat sambungan ponsel tersebut.
"Kok, enggak diangkat?" tanya Anta.
"Males ah, gue kayak orang bego kalau sama Mey, tiap gue mau melawan gue enggak bisa, gue juga heran. Mana banyak temen-temen di forum sekolah ngucapin selamat ke gue, katanya gue sama tuh cewek jadian," keluh Arya dengan nada kesal.
Anta sempat melirik memperhatikan pria muda di sampingnya itu. Sebenarnya ia ingin mengatakan hal yang ia lihat bersama Arga saat itu, tetapi hati kecilnya masih merasa kasihan pada sahabatnya Mey.
"Kok, elo bengong mana ngeliatin gue aneh gitu?" tanya Arya.
"Enggak kok, orang Anta lagi perhatiin gedung yang itu," ucap Anta seraya menunjuk asal.
Tak lama kemudian, bus yang mereka tumpangi sampai di halte bus Pasar Seru.
"Udah sampai, Kak!" ucap Raja.
Ketiganya kemudian turun di halte tersebut. Mereka lalu berjalan masuk menuju Pasar Seru. Anta tak sengaja menabrak punggung seseorang kala itu. Ia langsung mendongakkan kepalanya melihat seseorang yang ia tabrak.
"Bunda, Yanda?"
"Lho, kalian ke sini juga?" tanya Anan.
Raja langsung memeluk Dita kala itu.
"Bunda sama Yanda jalan bareng?" tanya Anta tersenyum senang.
Anan dan Dita langsung terlihat kikuk dan canggung.
"Kita enggak sengaja ketemu tadi di busway, terus barengan ke sini," sahut Anan.
"Ya udah kalau gitu, jalan bareng aja yuk!" ajak Dita seraya menggandeng Raja dan melanjutkan langkahnya.
Anta mengikuti di samping Anan dan Arya.
"Ini si anak songong kok ikutan, ngikutin kamu mulu kayaknya?" tanya Anan menggoda Arya.
Arya langsung tertawa sinis mendengar candaan Anan.
"Hahaha... anak songong? Kayaknya yang lebih songong Om, deh," sahut Arya.
Anan langsung menatap tajam ke arah pemuda itu. Arya langsung menunduk tak berdaya.
"Nan, itu banyak kain batik, banyak model pakaiannya juga, kita kesana yuk!" ajak Dita.
"Oke!"
Kring kring!
Suara bel sepeda yang melintas melewati rombongan itu sempat membuat Dita terkejut. Wanita itu hampir saja jatuh tetapi Annan langsung sigap menolongnya. Anta tersenyum gemas sampai tak sadar menepuk-nepuk bahu Arya yang berada di sampingnya.
"Woi... ini jalanan buat pejalan kaki bukan buat sepeda!" bentak Anan meneriaki si pengendara sepeda tadi, ia lalu menoleh ke arah Dita.
Pengendara sepeda itu berhenti dan menoleh lalu ia meminta maaf menghampiri Dita.
"Kamu enggak apa-apa?" tanya Anan.
"Enggak apa-apa, makasih ya," sahut Dita.
Keduanya masih saling bertatapan.
"Anta, kamu enggak apa-apa?"
Arya mencoba menirukan ucapan Anan. Dita langsung melepaskan diri dari Anan ketika mendengar ledekan dari Arya.
Anta langsung mencubit pinggang Arya dengan kesal sambil melotot. Raja malah menertawai keduanya. Namun, tawa anak itu terhenti.
"Kak Anta," ucap Raja menarik ujung kaus sang kakak.
"Om itu, ummm... om itu enggak ada bayangannya di cermin," bisik Raja.
"Udah deh, bukan urusan kamu, bukan urusan kita, kematian itu cuma Allah yang tau, kamu tenang aja, anggap enggak akan terjadi apa-apa," bisik Anta.
Raja akhirnya mengangguk mengiyakan lalu melangkah masuk ke toko penjual kain batik. Setelah mendapatkan kamu batik dan kebaya batik, Anan memutuskan untuk mengajak semuanya mencicipi aneka kuliner di kawasan itu.
Saat sedang menyantap siomay terdengar kegaduhan dari beberapa kedai. Mereka mengatakan kalau baru saja kehilangan uang hasil penjualan hari itu. Wajah cemas, kebingungan, bahkan sedih dan menangis terlihat di beberapa pedagang.
"Jangan-jangan yang hantu tadi itu tuyul, Ta," ucap Anan.
"Ah, kamu jangan berburuk sangka dulu," sahut Dita.
"Lha, emang hantu tadi itu persis banget tau sama ciri-ciri tuyul, pake digendong segala," sahut Anan.
"Pada cerita apa, sih?" tanya Anta.
Dita akhirnya menceritakan pertemuannya dengan hantu kecil yang berada di gendongan pria yang mereka jumpai tadi. Anan curiga kalau hantu anak kecil yang digendong itu merupakan hantu tuyul yang suka mencuri uang secara gaib.
"Duh, serem juga ya, kasian para pedagang itu," gumam Anta.
Gadis itu menoleh ke arah sampingnya, ternyata Arya dan Raja sudah berkeliling menuju ke tempat arena permainan. Di bazar itu makin ramai pengunjung berdatangan. Raja dan Arya juga mencoba menikmati berbagai permainan yang menyenangkan di sana.
Arya bahkan bertekad membawa pulang boneka minnie mouse kesukaan Anta saat bermain lempar bola demi menjatuhkan kaleng, akan tetapi boneka itu tetap saja tak bisa jatuh meski sekuat tenaga ia melempar.
"Ah, payah nih Kak Arya," celetuk Raja.
"Gue curiga tuh pedagang curang nih, jangan-jangan ditempel kuat lagi tuh kaleng."
"Udahan aja, yuk cari permainan lain!" ajak Raja.
"Wah, elo main curang ya, Bang?"
Arya langsung membuat kehebohan dengan meneriaki si pemilik stand permainan yang berkumis dan berwajah sangar itu.
"Enak aja, kamu aja yang nggak bisa mainnya!" bentak si pemilik stand.
"Nih ya gue buktiin!"
Arya langsung melompat dan mencoba menggeser tumpukan kaleng dengan tanganya. Ternyata benar dugaan pemuda itu. Si pedagang berbuat curang demi meraup keuntungan. Adu mulut pun terjadi antara Arya dan pemilik stand.
Banyak pengunjung yang melihat kejadian tersebut. Apalagi beberapa di antaranya yang tadi sempat bermain juga merasa tertipu dan menyerang si pemilik stand permainan tersebut menuntut ganti rugi.
"Rasain loh, sana noh pada minta uangnya balik sama si curang itu!" seru Arya.
Anta langsung menarik tangan Arya yang masih ingin berkerumun meminta pertanggung jawaban si pemilik stand yanh curang tadi.
"Tunggu, Nta, gue mau minta ganti rugi," ucap Arya.
"Enggak usah ih, makin rame tuh pada heboh. Eh, si Raja ke mana?" tanya Anta mulai panik.
Anta dan Dita datang menghampiri Anta.
"Bunda sama Yanda lihat Raja, enggak?" tanya Anta.
"Lho, bukannya tadi si Raja lagi main sama nih bocah!"
Anan menunjuk ke arah Arya.
"Iya tadi emang sama saya, Om. Tapi pas saya berantem sama tuh orang saya enggak merhatiin Raja," jawab Arya.
"Duh, pake acar ngilang lagi tuh bocah, mana rame banget ini pengunjungnya," ucap Anta mulai panik.
"Tenang, jangan panik! Kita mencar aja, aku sama Anta cari Raja ke sama, kamu sama Arya cari Raja ke situ," ucap Dita.
"Enggak efektif, mending kamu sama aku ke sana, si Anta sama Arya ke situ," pinta Anan.
"Saya setuju sama Om, cakep...!" sahut Arya dengan wajah senangnya.
"Gue tau elo mau modus deketin Anta, kan?" bisik Anan menggoda pemuda itu.
"Hehehe... Om juga kan mau modus deketin Ibu Dita?" bisik Arya.
Keduanya saling melempar senyum kemudian mereka berpencar ke arah yang tadi disepakati.
****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni