
Happy Reading...
*****
Setelah bayangan hitam itu masuk semua ke dalam tubuh Mey, gadis itu melangkah menuju dapur. Gadis itu meraih pisau daging yang tajam dan membawanya keluar. Sesuatu yang mengejutkan Ratu Sanca terjadi, tiba-tiba gadis itu menoleh pada sang ratu ular.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Mey seraya mengacungkan pisau pada sang Ratu yang langsung terperanjat.
"Aduh, dia bisa melihatku, bagaimana ini?"
Sang ratu ular langsung menyeret tubuhnya menjauh. Ia berusaha kembali kepada Anta.
"Jangan lari!" seru Mey.
Ratu Sanca makin mempercepat gerakan merayapnya agar terhindar dari Mey. Ia masuk melalui celah pagar berusaha untuk keluar. Namun, gadis itu berhasil menangkap ekornya.
"Aaaaaaaa...!"
Ratu Sanca berteriak sekuat tenaga sampai Anta dapat mendengarnya.
"Ratu Sanca dalam masalah, Anta mau bantu dia," ucap gadis itu.
"Anta, elo enggak boleh pergi sama Ratu, tadi dia—"
"Anta enggak peduli, Anta mau nolong dia!" seru gadis itu menepis tangan Dion dan turun dari mobil.
Gadis itu langsung berlari menuju rumah Mey dan menemukan sang Ratu terjepit di celah pagar. Ujung ekornya terkena tebasan pisau itu.
"Mey, hentikan!" seru Anta.
"Dia, dia bukan Mey, dia dikuasai makhluk itu!" seru Ratu Sanca. Darah mengucur dari ekornya.
Dion ikut turun dari dalam mobil dan langsung menghampiri. Anta menyentuh lengan pemuda itu dan memberi penglihatan gaib pada pemuda itu.
"Da-darah siapa ini?" tanya Dion ketakutan.
"Ini darah Ratu Sanca tolong hentikan darahnya, ikat ekor Ratu atau tahan dengan apapun lah!" pinta Anta.
Dion langsung membuka jaket yang ia kenakan dan menghentikan pendarahan sang Ratu Sanca. Ratu ular itu terus mengerang kesakitan. Meski merasa takut dan jijik dengan sisik ular, pemuda itu berusaha untuk menolong, walaupun sesekali ia menutup mata kala menolong ular besar itu.
Mey yang dalam pengaruh Nyi Ageng itu berusaha membuka gerbang rumah tapi Anta langsung menahannya. Suara pisau daging itu beradu dengan besi pagar. Gadis itu benar-benar marah apalagi saat ia melihat Anta.
Wajah Mey tampak mengendus aroma tubuh dari Anta. Senyum menyeringai terpampang dari wajah gadis di hadapan Anta itu.
"Hmmm... Keturunan Ratu Kencana Ungu rupanya, pantas saja wangi tubuhmu sangat membuatku bersemangat," lirihnya dengan nada menyeramkan berat dan parau.
Suara kapak itu beradu dengan pagar dan berusaha melukai tangan Anta.
"Mey, kamu harus sadar! Jangan mau dikuasai makluk itu!" pekik Anta.
"Hahaha...."
Gadis di hadapan Anta makin tertawa dengan kencangnya.
Seorang penjaga komplek melintas dan melihat kegaduhan tersebut.
"Heh, ada apa ini?" tanya penjaga kompleks itu.
"Pak, tolongin temen saya, dia kesurupan!" seru Anta.
Dion masih berusaha menolong Ratu Sanca dan membopong ular besar itu ke dalam mobilnya.
"Lha, tuh bocah gotong apaan?" tanya pria itu.
"Pak, tolong saya dulu, tahan pintu gerbang ini!" pekik Anta berseru meminta pertolongan penjaga itu.
Pria itu langsung menolong Anta menahan pintu gerbang, akan tetapi tangannya malah tertebas oleh pisau daging di tangan Mey.
"Aargghhh....!"
Pria itu berteriak sekuat tenaga sampai penghuni sekitar mulai keluar dari rumah. Penjaga kompleks itu lantai tergeletak menahan sakit pada luka di pergelangan tangannya yang sudah tertebas. Pagar rumah Mey terdorong begitu saja karena dorongan gadis itu. Gadis yang masih dalam pengaruh jahat itu langsung mengarahkan pisau ke arah Anta.
Dion yang melihat itu langsung mencoba menolong Anta. Ia mendorong tubuh Mey sampai jatuh. Gadis yang masih dikuasai Nyi Ageng itu lantas kembali menyerang, ia menghunuskan pisau besar itu seraya berteriak.
"Darah manusia, aku ingin darah manusia segar, hiyaa....!"
Pisau daging yang mengarah ke arah Dion itu langsung terhalang oleh tubuh Anta yang tiba-tiba pasang badan. Gadis itu berusaha melindungi pemuda itu sampai perutnya terkena tebasan dan robek.
Para tetangga yang mulai berkerumun menatap penuh ketakutan. Akhirnya, satu orang pria berani menendang pisau besar itu sampai terlepas dari tangan Mey. Dua orang pria lainnya yang melihat gadis itu sudah tak bersenjata, memutuskan untuk menyerang gadis itu dan menahannya.
Mey menjerit dan berteriak sekuat tenaga mencoba lepas. Salah satu warga akhirnya mengambil langkah untuk mengikat gadis itu.
"Nta, elo harus kuat, elo pasti kuat. Tolong telepon ambulans sekarang!" teriak Dion pada warga sekitar.
Anta memegangi luka di perutnya dengan kedua tangannya. Darah segar bercucuran dari gadis itu.
"Anta! Elo harus kuat, jangan merem, elo harus terjaga!" teriak Dion. Uraian air mata membasahi pipi pemuda itu. Ia memeluk tubuh Anta yang tergeletak di aspal jalan kala itu.
"Mey, to-tolongin Mey, Kak..." lirih Anta seraya menoleh ke arah Mey yang sudah terikat dan masih berteriak-teriak itu.
"Gue enggak peduli, gue maunya tolong elo dulu!" pekik Dion.
Wajah gadis di pangkuannya itu kini tersenyum seraya mengusap air mata di pipi Dion dengan tangan mungilnya yang bersimbah darah.
***
Anan sengaja datang ke pasar malam demi menemui Dita. Dina terlihat mengikutinya dan menganggu pria itu.
"Aku kan calon istri kamu, wajarlah mau berduaan sama kamu," ucap Dina.
"Bodo amat! Gue belum setuju ya sama permintaan Nenek," sahut Anan.
"Baby, kamu kok gitu sih sama aku..." Dina menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal ke tanah.
"Oke kalau gitu ayo ikut gue!" ajak Anan.
"Mau kemana?" tanya Dina.
"Ke mobil gue!"
Dina terlihat tersenyum senang kala Anan membawanya menuju ke mobil pria itu. Namun sayangnya, sesampainya di dalam mobil, pria itu malah mengunci Dina di dalam mobil.
"Elo diem aja di sini, jangan ganggu gue!" seru Anan.
"Anan, lepasin aku!" seru Wina seraya menggedor kaca jendela mobil Anan.
"Heh, kalau jendela mobil gue pecah liatin aja gue bakal aduin ke nenek kalau elo cewek barbar!" ancam Anan.
Pria itu lalu pergi menuju stand buah milik Dita. Terlihat Tasya sudah membantu wanita itu bersama Pak Herdi dan Arya.
"Raja ke mana?" tanya Anan.
"Aku juga enggak tau, Anta juga belum datang, hapenya enggak aktif, jangan-jangan Anta sama Raja main sama hantu lagi," sahut Tasya.
"Emang enggak bareng sama elo pas ke sini?" tanya Anan.
"Tadi bilangnya mau mampir ke rumah Mey, nah aku pikir dia pergi sama Raja ke sana terus baru ke sini bareng-bareng," ucap Tasya.
"Apa? Tante bilang si Anta ke rumah Mey?" tanya Arya.
"Iya, emang enggak bilang sama kamu?" tanya Tasya.
"Enggak, aku samperin ke sana deh, Ayah pinjem mobil dong!" pinta Arya.
"Enggak boleh kamu belum punya SIM!" sahut Herdi dengan berseru.
"Yah, bentar doang, please..." rengek Arya.
"Enggak boleh! Naik ojek aja sana apa taxi online!" perintah Herdi.
"Huh... Ayah mah gitu," keluh Arya.
Tiba-tiba, Dita kehilangan kendali dan menjatuhkan mangkuk berisi potongan buah. Mangkuk beling itu jatuh pecah ke tanah dan isi dalam mangkuk itu berserakan.
"Dita, kamu enggak apa-apa? Bilang dong nanti aku kan bisa bantuin," ucap Anan yang langsung menghampiri wanita itu dan membantu membersihkan bekas tumpahan itu.
"Tangan aku licin," jawab Dita.
Akan tetapi, hati wanita itu mendadak merasakan sesuatu yang membuatnya sedih. Kegalauan langsung melanda dan membuat Dita terdiam.
"Ta, kamu kenapa?"
"Perasaan aku kok enggak enak ya, Nan," ucap Dita.
"Aw...!" pekik Anan saat ujung jari telunjuknya tertunduk pecahan mangkuk beling itu.
"Aduh, kamu hati-hati dong, Nan! Bentar ya aku ambil kotak P3K," ucap Dita.
"Kok, Arya jadi mikirin Anta terus ya?" gumam Arya.
"Ah, kamu mah tiap hari mikirin Anta, iya kan?" goda Tasya.
"Iya sih, Tante. Eh, bukan gitu maksudnya, tapi... udahlah aku berangkat dulu ya cari Anta," ucap Arya lalu bergegas pergi.
Dita dan Anan duduk di kursi samping stand buah miliknya. Wanita itu mengobati tangan Anan yang terluka.
"Beneran deh, perasaan aku kok enggak enak gini ya," gumam Dita saat mengobati luka di tangan Anan.
"Aku juga jadi kepikiran omongan kamu, coba aku telpon nenek dulu takut dia kenapa-kenapa," ucap Anan lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Nenek Darma.
Dita juga melakukan hal yang sama. Ia menghubungi Ibu Ari untuk memeriksa keadaan panti asuhan.
"Nenek baik-baik aja, kok," ucap Anan setelah menelepon neneknya.
"Aku juga telepon panti asuhan semuanya baik. Perasaan sedih apa ya ini?"
Dita mengetuk-ngetuk ujung ponsel di tangan itu ke dagunya.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Vie punya cerpen baru, yuk mampir
"Kutukan Lima Tahun" dan Bloody Honeymoon
Atau klik aja profil aku nanti nongol cerpen paling bawah, cuma komen dan love ya.
Follow IG : @vie_junaeni