
Happy Reading...
******
Di kantin.
"Kurang ajar dia berani godain kamu, Nta!" seru Arya.
"Emangnya kamu kenal sama cowok tadi sampai kayaknya takut sama kamu?" tanya Anta.
"Hehehe, aku pernah suruh si Lee sama Tante wewe gombel godain dia pas malam-malam. Mereka mau palak aku ceritanya tapi nggak jadi," jawab Arya
***
Suatu malam di malam minggu, Arya baru saja pulang dari mini market membeli susu untuk adik kembarnya. Tiga orang pemuda menghadang Arya kala itu.
"Elo, anak SMA Satu Jiwa, kan? Adek kelas gue?" tanya Fandi.
"Wuidih, gue terkenal juga ke kalangan cowok ya, apa jangan-jangan kalian penyuka sesama jenis? Idih, geli gue bayanginnya!" Arya mencoba melangkah menuju parkiran motor dekat tamat seberang mini market.
"Heh, kutu kupret! Ngaco elo kalau ngomong! Sini, bagi duit!" Fandi mengulurkan tangannya pada Arya dengan cara memaksa.
"Bagi duit? Elo ngemis sama gue?" ledek Arya.
"Wah, ngajak ribut ini anak! Hajar dia gais!" perintah Fandi.
Dua rekan Fandi tertawa menyeringai dan hendak memukul Arya. Akan tetapi, di pohon besar dalam taman, genderuwo Lee dan Tante Wewe sedang bercanda dan saling menyuapi bubur ayam satu sama lain. Kedua makhluk gaib itu mendengar kegaduhan yang melibatkan Arya.
"Lho, itu kan si Arya," tunjuk Lee.
"Kamu kenal sama dia, Lee?" tanya Wewe.
"Itu pacarnya Anta, temen aku. Aku harus turun tolong dia," ucap Lee.
"Aku ikut kalau gitu," ucap Wewe mengikuti Lee.
Arya menoleh ke arah Lee dan Wee.
"Nah, kalau begini kita seimbang, tiga lawan tiga," ucap Arya.
"Udah gila ini anak, kita yang bertiga, elo yang sendiri," ucap Fandi mencibir Arya.
"Yee ... kata siapa gue sendiri? Mau gue kenalin temen-temen gue?" tantang Arya menghampiri Lee dan Wewe.
"Udah hajar aja, kalau perlu itu barang belanjaannya kita acak-acak," ucap Fandi.
"Kalian punya kekuatan buat menampakkan diri, kan?" tanya Arya.
"Punya dong, kan Silla udah ngajarin kita," sahut Lee.
Fandi hendak memukul ke wajah Arya, tetapi tangan Lee langsung menahan tinju pemuda itu. Sosok itu mendorong tubuh Fandi jatuh ke rerumputan. Dua rekannya langsung menolong pemuda itu untuk bangkit.
"Duh, kok tangan gue berat, sih? Terus kayak ada yang dorong gue gitu, kalian liat nggak?" tanya Fandi.
"Hebat kan gue, siapa dulu temen gue ... Oke, please welcome di sebelah kanan ada Lee dan di sebelah kiri ada Tante Wewe!"
Genderuwo Lee dan hantu Wewe Gombel itu muncul. Mendadak kemudian, dua makhluk gaib itu sukses membuat Fandi dan dua temannya lari tunggang langgang.
"Sukurin, luh!" seru Arya.
Pemuda itu berterima kasih pada Wewe dan Lee. Tiba-tiba, seorang pria menabrak Arya tak sengaja.
"Maaf ya, Nak, saya nggak sengaja," ucap pria itu seraya berlalu menuju mobil corolla miliknya.
"Kayak pernah lihat, deh, tapi di mana ya?" gumam Wewe saat melihat pria itu.
"Ah, masa sih? Emang kamu pernah lihat di mana?" tanya Lee.
"Makanya itu aku lupa jadinya nggak ingat," sahut Wewe.
"Ah, sama aja! Eh, bajunya Tante Wewe cakep lho, dasted batik gitu jadi ketutup itunya, hehehe." Arya menunjuk bagian dada hantu itu yang sudah tertutup.
"Bagus, ya? Ini hadiah dari Bunda Dita," ucap Wewe.
Kaki kiri Arya tiba-tiba menginjak sesuatu, dompet pria yang menabraknya tadi terjatuh.
"Ini dompet siapa, ya?" gumam Arya seraya melihat identitas pemilik dompet.
"Aji Susanto, oh ini dompet yang nabrak gue tadi," lirih Arya.
"Aku ingat pernah liat di mana, aku pernah liat dia bawa anak perempuan kecil yang pernah aku culik dulu, hehehe," ucap Wewe.
*****
Jangan lupa favorit, like, komentar dan vote. Follow akun Vie juga, terima kasih.