
Happy Reading...
*****
"Hentikan...!"
Anji terlihat meraung kesakitan di sudut ruangan kelas. Para anak yang mengalami kesurupan langsung dibawa ke musala sekolah. Sementara Raja, Robi, Pak Harun, guru olahraga dan Anji masih berada di ruang kelas. Penjaga sekolah mengamankan depan kelas agar anak-anak yang heboh ingin melihat tak bisa mendekat lebih jauh lagi.
"Bi, bantuin aku ambil topi ini!" seru Raja.
Pak Harun tau ada yang aneh dengan topi itu, ia berusaha meraih topi tersebut dari kepala Anji yang tak kunjung juga lepas. Robi dan guru olahraga berserta Raja memegangi tubuh Anji yang masih meronta itu.
Mendadak kemudian kepulan asap hitam ke luar dari tubuh Anji. Wujud makhluk halus itu menunjukkan sosok seramnya. Pak Harun melantunkan beberapa ayat suci Al Quran hingga membuat sosok jin jahat itu merasa panas dan terbakar.
Mereka melihat semakin lama tubuh makhluk itu semakin terbakar api hingga akhirnya ia lanjut menjadi asap lalu menghilang. Semua siswa yang tadinya kesurupan langsung sadar dan sembuh dengan sendirinya. Meskipun tubuh mereka lelah dan tampak lebam karena menghantam apapun di sekitarnya. Pak Harun meraih topi tersebut dan membakarnya.
"Ini pasti ulah para hantu penunggu kebun belakang, Pak," ucap Pak Agus guru olahraga sekolahnya Raja.
"Bukan, Pak! Mereka enggak ganggu kok, mereka baik mereka juga punya sekolah hantu di kebun belakang itu," ucap Raja yang langsung ditertawakan Pak Agus dan Robi.
Pak Harun juga tersenyum pada Raja, tetapi dia tau yang dikatakan anak itu benar. Jin pengganggu tadi berasal dari topi yang dipakai Anji, dan itu bukan berasal dari Jin yang ada di belakang sekolah.
"Pokoknya saya akan bilang salam kepala sekolah buat panggil orang pinter biar usir para hantu," ucap Pak Agus.
"Jadi, semua anak yang juara satu di tiap kelas nanti dikumpulkan gitu, Pak, buat usir hantu?" tanya Robi dengan wajah polosnya.
"Kalau enggak ngerti diem aja, Bi!" bisik Raja.
"Jangan seperti itu, cukup lakukan tahlilan untuk mendoakan para arwah tersesat agar kembali tenang di sana, lagipula jika kita tak mengganggu, mereka juga enggak ganggu," ucap Pak Harun.
"Lho, buktinya mereka buat para murid kesurupan," sanggah Pak Agus.
"Itu Jin jahat dari topi anak ini yang saya bakar tadi, memangnya dia dapat dari mana?" tanya Pak Harun pada Robi.
Anak itu sedang memangku tubuh Anji yang tak sadarkan diri.
"Di belakang rumah saya, Pak, di deket kebun duren," jawab Robi.
"Hmmm... suruh mama kamu berdoa, mohon perlindungan sama Allah supaya enggak ada jin jahat yang masuk rumah nantinya," pinta Pak Harun.
"Bikin selamatan kayak tahlilan di sekolah nanti gitu, Pak?" tanya Robi.
"Kalau orang tua kamu mampu, silakan. Azan dzuhur sudah terdengar, mari solat berjamaah!" ajaknya.
Raja tersenyum kagum pada Pak Harun, tetapi sesuatu mengganggunya dan membuatnya tersentak kala melihat bayangan guru agama yang baik hati itu tak muncul di pantulan jendela kelas saat dia melangkah menuju musala.
"Pak, saya boleh bicara sama Bapak?" tanya Raja.
"Soal kemampuan kamu lihat hantu? Saya udah tau lama kok, saya bisa lihat kamu itu anak yang berbeda dan spesial," ucapnya seraya tersenyum hangat pada Raja.
"Bapak tau tentang saya rupanya, tapi ada lagi yang saya mau bicarakan," ucap Raja.
Kemudian anak itu menceritakan tentang kemampuannya yang dapat memprediksi kematian seseorang yang akan datang lebih dekat jika ia yak dapat melihat bayangan orang tersebut di cermin. Pak Harun mengangguk saat menanggapi seraya tersenyum pada Raja.
"Saya enggak lihat bayangan Bapak di cermin," ucap Raja menundukkan kepala dan tak terasa mengeluarkan air mata.
"Raja, takdir kematian seseorang itu sudah ditentukan sama Allah, kapanpun di manapun dalam keadaan apapun. Kalau waktunya sudah habis di dunia ini ya udah habis, pulang ke tempat ilahi, enggak bisa dicegah," ucap pria berwajah hangat dan teduh itu.
"Tapi aku nggak suka dikasih lihat kayak gini kalau aku enggak bisa mencegah kematian orang itu, aku enggak suka huhuhu...!"
Raja memeluk Pak Harun seketika sambil menangis. Pria paruh baya itu menepuk punggung anak tersebut.
"Bapak yakin Raja anak yang kuat, anak yang hebat, serahkan semua sama Allah, Ja."
Robi menarik lengan Anji yang sudah sadar menuju musala. Mereka melihat temannya sedang memeluk guru agama sambil menangis.
"Raja kenapa, Bi?" tanya Anji yang tubuhnya masih terasa lemas dan mencoba bertahan dengan menggandeng lengan Robi saat berjalan.
"Jangan-jangan si Raja kesurupan lagi, hiiyyy..." jawab Robi.
"Masa kesurupan nangis gitu kayak mau pisah, emangnya Pak guru agama itu mau pindah sekolah, ya?" tanya Anji.
"Enggak tau!" sahut Robi.
Keduanya menghampiri Raja. Anak itu menyeka air matanya dan melepas pelukannya dari Pak Harun.
"Ayo, kita salat jamaah!" ajak Pak Harun.
Ketiga anak itu mengikuti langkah guru agama. Beberapa murid lainnya dan beberapa guru pria menuju musala dan hendak melaksanakan salat dzuhur berjamaah.
"Enggak tau, aku lagi ngerasa sedih aja," ucap Raja.
"Kenapa sedih, gara-gara aku, ya?" tanya Anji.
"Bukan, Nji, udah ikamah tuh ayo mulai salatnya," ucap Raja.
Salat dzuhur Raja beserta lainnya itu dipimpin oleh Pak Harun sebagai imam. Namun, saat berada di sujud ke dua sebelum tahiyat akhir, sang imam tak mau mengucap Allahu Akbar. Akhirnya Pak Agus mendangakkan kepala dan mengecek keadaan sang imam.
Pak Agus menyentuh pundak Pak Harun yang langsung tergeletak tak bernyawa. Ia mengembuskan napas terakhirnya kala itu saat menjadi imam di sekolah. Raja dan yang lainnya langsung menangis menghampiri tubuh Pak Harun.
***
Sore itu kala berada di pasar tradisional, Anta yang sedang bersama Tasya bertemu dengan Dita.
"Bunda...!"
Anta langsung memeluk Dita dengan erat, sesuatu yang mulai wanita itu biasa dapatkan dan rasakan dari gadis itu.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Dita.
"Nemenin Tante Tasya mau bikin soto ayam kan di pasar ini kalau sore masih buka," ucap Anta.
"Hai, Ta!" sapa Tasya.
"Halo, kamu mau masak soto ayam?" tanya Dita.
"Iya, kamu mau cobain? Main yuk ke rumah!" ajak Tasya.
"Aku mulai sibuk mengurus panti asuhan, penyelidikan polisi sudah menemui titik terang. Aku belum bilang ya kalau kemarin itu Bibi Desi dan dua anak buahnya ditangkap," ucap Dita.
"Belum," jawab Tasya dan Anta bersamaan.
"Nah, sekarang aku bilang, terus yang mengurus 12 anak panti itu sekarang aku, mungkin aku akan keluar dari pekerjaan di sekolah karena mulai konsentrasi mengurus anak-anak," ucap Dita.
"Yah, berarti Anta bakalan enggak ketemu sama Bunda," sahut Anta.
"Bisa kok, kamu kan bisa main ke panti. Kalau mau kamu sama yang lain jadi guru buat anak-anak yang belajar baca tulis hitung, gimana?"
"Hmm... boleh juga."
"Terus sekarang mereka sama siapa?" tanya Tasya.
"Ada dua anak yang udah mulai besar berusia 13 tahun lah, bisa jagain adik-adiknya, yang paling kecil juga umur lima tahun, jadi udah Aku wanti-wanti jagain, terus juga tadi kebetulan ada perempuan, kayak turis asing gitu yang tersesat baru datang dari kampung, dia enggak tau arah karena tas serta dompet hilang dicuri," ucap Dita.
"Perempuan muda apa tua?" tanya Anta.
"Sekitar umur 45 tahunan, emang kenapa, Nta?" tanya Dita.
"Enggak kenapa-napa sih, cuma penasaran aja," ucap Anta.
"Tadi kalau enggak salah namanya, Aiko."
"Hah, Aiko? Dari Jepang?" tanya Tasya terperanjat.
"Kayaknya sih iya dari Jepang, kamu kenal?" tanya Dita.
"Tante Tasya kenal sama yang namanya Kiko?" tanya Anta.
"Aiko, bukan kiko, itu mah jajanan si Raja!"
Tasya masih menggigiti ujung kuku tangannya.
"Semoga bukan Aiko yang itu," gumam Tasya.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni