
Happy Reading...
***
Mark keluar dari rumah sakit. Ia masih merasa sedih karena Jorji masih mengalami koma di rumah sakit. Setelah menjenguk dan memeriksa keadaan putri angkatnya itu, ia pergi ke toko kue untuk membuat kue kering setelah Tasya memberi tahu kalau roh Jorji ada di rumahnya. Dan jika Mark ingin bertemu dengan putrinya, ia harus bertemu dengan Anta sebagai perantara untuk saling melihat dengan putrinya. Malam nanti ia akan pergi ke rumah Tasya.
Pria itu tak sengaja menabrak bahu Dita yang juga sedang membeli bahan untuk kue.
"Hai, Ta! Sorry I didn't see you." (Maaf aku tak melihatmu).
"Hai, Mark. Enggak apa-apa, kok. Eh, gimana kamu udah sehat, kata Anta kamu kecelakaan?" tanya Dita seraya memeriksa plester yang masih melekat di dahi kiri pria itu.
"Aku udah baikan, kok."
Mark menyentuh tangan wanita itu yang baru saja dari dahinya cukup lama sampai Dita tersadar dan melepaskannya.
"Syukurlah kalau gitu."
"Tapi, Jorji masih koma," ucap Mark dengan nada sedih.
"Iya aku juga sedih dengernya, tapi Mark anak kamu itu ada sama Anta, dia gentayangan enggak bisa balik ke tubuhnya," ucap Dita.
"Iya, Tasya juga bilang, nanti malam aku mau ke rumahnya, makanya aku mau buat kue coklat buat dia dan Anta," sahut Mark.
"Wah, enak banget pastinya."
"Ta, mau temani aku makan siang?" tanya Mark.
"Ummm... boleh deh. Mau makan apa?"
"Kamu maunya makan apa?" tanya Mark lagi memastikan.
"Kan kamu yang mau ajak, aku ikut aja."
"Kalau kamu tidak suka, bagaimana?"
"Oke deh, kalau gitu makan di warteg mau, enggak?" tanya Dita.
"Warteg?" Mark mengernyitkan dahinya.
"Iya, warteg itu tempat makan yang punya segala menu sehari-hari masayarakat sini, tempatnya juga bersih, ada tempat duduk di halaman luar juga."
"Oke, aku mau cobain kalau gitu."
Sesampainya di Warteg Bahari Raya, Dita memesan nasi dengan telur sambal, kentang balado dan perkedel. Sementara Mark memesan ayam goreng dan sayur labu serta sambal. Dua gelas es teh manis juga melengkapi pesanan mereka.
"Gimana, rasanya enak kan?" tanya Dita.
"Ya, ini enak, kayak makanan kamu dulu," ucap Mark mengingat kebersamaannya dengan Dita kala di negaranya dulu.
"Hmmm... masa sih, aku suka masakin kamu, duh maaf ya aku belum bisa ingat kehidupan aku sebelumnya," ucap Dita.
"It's okay, nanti aku akan bantu kamu ingat."
Mark menatap wanita di hadapannya itu. Dalam hati pria itu berharap agar Dita tak mengingat kehidupan sebelumnya karena pasti wanita itu akan mencintai Anan seperti sebelumnya. Mark merasa mungkin saja kali ini dia bisa mendapatkan Dita.
"Kok ngeliatin aku kayak gitu?" tanya Dita.
"Kamu itu selalu cantik ya, meskipun tanpa make up," puji Mark.
"Hahaha... bisa aja, aku tetep pakai bedak kok sama lipstik tapi yang natural, kecuali kondangan hehehe..." sahut Dita.
"Senyum sama tawa kamu tuh, bener-bener ya."
"Kenapa emangnya? Kayak orang stress ya, hahaha," ucap Dita.
"Selalu buat cowok salah tingkah dan jatuh cinta," sahut Mark.
"Dih, bisa aja gombalnya, eh aku mau nambah ya, tunggu sini," ucap Dita.
"Tambah aja, Ta, aku yang traktir," sahut Mark.
"Enggak ah, aku bayar sendiri aja, aku makannya banyak lho," ucap Dita.
"Enggak apa, malahan kalau kamu kuat habisin semua makanan yang di etalase itu, aku tetep bayarin kamu kok," ucap Mark.
"Hehehe... ya enggak semua makanan aku habisin juga sih, ya udah tunggu bentar ya, aku mau nambah."
Dita masuk kembali ke dalam warung makan tersebut. Setelah itu, ia kembali menyantap makanan di meja yang sama dengan Mark sambil berbincang-bincang.
Di seberang jalan, mobil Anan berhenti karena lampu lalu lintas menyala merah. Ia yang sedang melihat sekeliling menangkap sosok Dita yang sedang makan bersama dengan Mark.
"Itu bukannya si Dita, waduh... Gue udah ngerasa aman si Herdi mau nikah sama Tasya eh ada lagi yang gangguin jodoh gue, enggak bisa dibiarin nih," gumam Anan.
Lampu lalu lintas sudah berwarna hijau ia juga belum beranjak sampai kendaraan di belakangnya menekan klakson berkali-kali.
"Woi, mata lu buta? Udah ijo bukannya jalan!" seru salah satu pengendara motor sambil menggebrak kap mobilnya.
"Mata lu tuh yang katarak! Kalau gue buat mana bisa gue bawa mobil!" seru Anan.
"Bang jalan, bang!" seru pengendara lainnya.
"Iya, bentar Pak."
"Enak banget nih kayaknya," tegur Anan menghampiri meja Mark dan Dita.
"Hmm... ada aja ya kalau gede banget gangguin kita makan," ucap Mark.
"Wah, ngajak ribut luh," sahut Anan.
"Anan! Kamu apa-apaan sih datang-datang langsung ngajak ribut gitu," ucap Dita dengan nada kesal.
"Kamu tau enggak aku ke sini mau ngapain?" tanya Anan pada Dita.
"Ya mana kita tau, ngarepin kamu datang juga enggak," sahut Mark.
"Eh diem ya, gue enggak ngomong sama elo!" Anan menarik kursi kosong di meja sebelah lalu duduk di samping Dita berhadapan.
"Ta, kamu tahu enggak kenapa aku ke sini?" tanya Anan.
"Enggak tau, mungkin mau makan juga di sini. Di sini tuh masakannya enak, aku aja sampai nambah terus," sahut Dita.
"Ya aku tau di sini masakannya enak, aku juga tau kamu makannya banyak, tapi bukan karena aku mau makan, aku udah kenyang."
"Terus kamu mau apa ke sini?" tanya Dita.
"Biasalah, Ta. Dia kan pengganggu jadi maunya gangguin kita," sahut Mark.
"Kita? Hahaha ngarep elo! Kita itu maksudnya elo sama ondel-ondel yang di sana, kan?" Anan mengejek Mark.
Pria itu hampir saja bangkit, tetapi Dita langsung mengarahkan tangannya untuk membuat Mark tenang.
"Udah deh Nan, langsung aja kamu mau apa ke sini?" tanya Dita.
"Aku jawab nih ya. Aku ke sini itu, ya mau jagain jodoh aku lah!" seru Anan.
"Jodoh kamu?" tanya Dita dengan polosnya.
"Iya jodoh aku, jodoh aku kan kamu!" Anan menaikkan alis matanya berkali-kali menggoda Dita. Wanita itu menatapnya tajam seraya menahan tawa.
"Pengen muntah dengernya," sahut Mark seraya menatap sinis Anan.
Padahal Dita dan Anan masih saling bertatapan.
"Ehm, ehm!" seru Mark.
Pria itu bangkit lalu membayar semua makanan pesanannya dan Dita hari itu.
"Udah selesai makannya? Ayo, aku antar pulang!" ajak Anan menarik tangan Dita masuk ke dalam mobilnya saat Mark sedang membayar di dalam.
"Tapi itu, itu si Mark gimana?"
"Tinggalin aja, dia bisa pulang sendiri ini," sahut Anan.
Mark yang baru saja selesai membayar, langsung terkejut saat mobil Anan sudah melaju pergi. Pria itu mendengus kesal. Rupanya tetap tak mudah mengharapkan sosok Dita di kehidupan baru wanita itu.
***
Malam itu, Mark pergi ke apartemen Tasya untuk bertemu dengan Jorji.
"Hai, Mark!" sapa Tasya yang membuka pintu rumahnya malam itu.
"Hai, Sya. I bring you chocholate cookies," ucapnya seraya menyerahkan paper bag berisi dua toilet kue kering. (aku membawakanmu kue kering rasa coklat.)
"Wah, terima kasih. Sini masuk, aku buatin kopi dulu," ucap Tasya.
Ia lalu memanggil Anta yang ada di kamar mandi. Saat Mark duduk di sofa, Jorji sedang memandangi pria itu seraya menangis. Ayah angkatnya itu sangat menyayanginya.
"Hai, Om Mark!" sapa Anta.
"Hai, Anta! Jadi, di mana Jorji?" tanya Mark.
"Ada di samping Om," tunjuk Anta ke arah samping Mark.
Pria itu menoleh mencari sesuatu untuk di sentuh tetapi tak bisa ia lakukan. Anta meraih tangan Mark dan memperlihatkan sosok Jorji yang sedang menangis. Gadis itu berusaha memeluknya tapi tak bisa. Tasya datang membawakan teh manis hangat untuk Mark. Ia langsung terharu melihat pertemuan Mark dan Jorji kala itu.
"Apa kita enggak bisa buat Jorji kembali ke tubuhnya, Nta?" bisik Tasya.
"Mungkin setelah si penabrak menyerahkan diri," sahut Anta.
"Jadi, kita harus bilang sama Mark kalau ayahnya Ria yang nabrak mereka?"
"Anta rasa sih begitu."
Bel pintu apartemen Tasya berbunyi, Anta melangkah membuka pintunya. Pak Herdi menatap seraya membawakan satu bungkus martabak manis di tangannya.
"Assalamualaikum, Tasya ada, Nta?" tanya Herdi.
"Waalaikumsalam, ada tuh di dalam sama Om Mark," jawab Anta.
"Apa? Mark?"
***
To be Continue...