
Happy Reading...
*****
Para mayat hidup lebih banyak jumlahnya dari rombongan Anta, mereka semakin tersudut di samping mobil Tasya.
"Gimana ini Yanda?" tanya Dita.
"Cuma kekuatan Bunda yang bisa nolong, tapi Bunda lemah kelaparan, ya gimana dong?"
"Duh, Anta capek nih, yang lain juga capek, mereka udah kebelah sampe ada yang patah tulang dan kulit mengelupas gitu tapi masih kuat aja coba, kita mau bertahan bagaimana ini?" tanya Anta dengan nada cemas.
"Iya gue capek banget, mana udah gue lemparin sepatu gue sampai nancep di kepala yang itu tetep aja hidup coba, enggak mati-mati," sahut Arya.
"Terus, gimana dong ini?" tanya Tasya mulai terlihat panik juga.
Semua saling berpandangan. Arga merapat pada Sahid. Arya juga memeluk ayahnya. Begitu juga dengan Anta dan Raja yang memeluk ayah dan ibunya.
"Kalian bikin baper, terus aku pelukan sama siapa?" tanya Tasya sambil menangis.
"Sama saya boleh, Sya," jawab Herdi.
Arya langsung menoleh pada ayahnya.
"Sejak kapan Ayah mulai modusin Tante Tasya?" tanyanya.
"Sejak sekarang, kapan lagi," jawab Herdi.
"Huaaaa... sini aku mau peluk juga," ucap Tasya menghampiri Herdi.
Arya menoleh pada Anta.
"Apa, elo mau berani- berani peluk anak gue?" bentak Anan.
"Enggak, Om, enggak berani."
Tiba-tiba suara bergemuruh terdengar di permukaan tanah.
"Suara apa itu?" tanya Anan.
"Tante, Sus, itu Tante Sus!" tunjuk Raja.
Satu kejauhan datang rombongan hantu korban kekejaman suku Ro. Banyak kepala menggelinding di permukaan tanah itu menuju ke arah mayat hidup. Ada juga para hantu lainnya yang tanpa kepala, ada juga yang tanpa kaki, ada juga tanpa lengan dan ada juga beberapa di antaranya anak kecil. Lebih mengejutkan lagi, Jin Tanduk juga datang bersama rekan sesama Jin penunggu desa itu lainnya.
"Ayo, sudah saatnya kita balik melawan suku sesat ini, mereka harus dimusnahkan!" seru hantu Susanti seraya mengangkat kepalan tangannya penuh semangat.
"Gue harus bergabung dengan para hantu itu. Ayo kita hajar mereka, Desti datang.... eh salah Desta datang...!" seru Desta yang suara lembutnya berubah menjadi suara pria yang lebih berat membahana.
"Ayo teman-teman jangan mau kalah, kita bantu Ratu dan Raja kencana Ungu!" Seru Jin Tanduk.
Para hantu dan Jin tersebut langsung menghantam para mayat hidup. Mereka berkali-kali menghajar mereka. Ada juga yang menggunakan kuku tajam untuk merobek bahkan memisahkan para mayat hidup.
"Sumpah keren banget, ini lebih keren dari film," ucap Raja dengan wajah senang dan penuh antusias.
"Ini bocah ya, orang mengerikan dan serem kayak gini dibilang keren," ucap Tasya menoyor kepala Raja.
Sementara Dita menangis di pelukan Anan.
"Kok, Bunda nangis?" tanya Anan.
"Bunda terharu sama Jin Tanduk, baru diajarin jadi vegetarian yang baik eh malah balas budi kayak gini, hiks hiks...." jawab Dita.
Hantu kepala menggelinding sampai ke kaki Raja karena ditendang salah satu Jin yang sedang bertarung dengan mayat hidup.
"Wuih keren banget perjuangan kamu, Om, cuma modal kepala masih bisa bertarung," ucap Raja berjongkok dan menyapa hantu kepala buntung tersebut.
"Iya, dong! Perjuangan sampai akhir!" seru hantu kepala itu.
"Terus cara Om berjuang bagaimana?" tanya Raja penasaran.
"Ya pakai gigi, dong, aaarrrr!"
Hantu kepala itu menunjukkan giginya yang tajam lalu kembali ke arena pertarungan lagi. Raja bersorak mendukung si hantu kepala itu dengan penuh semangat.
"Gimana kalau kita masuk ke dalam mobil terus kabur?" tanya Sahid memberi saran.
"Ide bagus," ucap Tasya.
Akhirnya, Tasya, Sahid, Arya, dan Arga masuk ke dalam mobil. Namun, Anta dan Arya serta ayah bundanya masih mengamati adegan seru tersebut.
"Ih... nyebelin banget sih, bukannya pada masuk mobil!" seru Tasya.
Arya dan Arga yang melihat satu mayat hidup mendekati Anta langsung sigap turun dari mobil.
"Hei, kalian mau kemana?" tanya Herdi dengan suara nyaring. Pria itu turun dari mobil untuk menarik kembali kedua orang tadi.
Sayangnya Arya terjatuh saat mendekati Anta, dan Arga yang lebih dulu menyelamatkan Anta. Akan tetapi anak muda itu tertangkap oleh si mayat hidup dan hampir digigit pergelangan tangannya.
"Arga, awas!" pekik Sahid memberi peringatan.
Untung saja Pak Herdi dengan sigap menarik Arga dan meninju sosok mayat hidup itu. Ia lalu berseru pada anak muda itu untuk segera masuk dengan mendorong punggung anak muda itu.
"Hei, kalian semua ayo masuk, masih mau nonton aja itu pertarungan?" tanya Pak Herdi seraya menarik lengan Anta agar ikut masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di gerbang masuk desa tersebut, Tasya menghentikan kendaraannya secara tiba-tiba. Para penumpang mobil yang kesempitan itu langsung terkejut dan saling berhimpitan.
Anan duduk di depan bersama Raja di samping Tasya. Anta, Dita dan Herdi berada di kursi tengah. Sementara Sahid, Arya dan Arga di kursi belakang yang sempit.
"Tante kalau mau berhenti bilang dong, jangan dadakan gini!" seru Arya mengeluh dari kursi belakang.
"Sadar enggak kalau ada yang kurang?" tanya Tasya tak peduli dengan seruan Arya barusan.
"Apa yang ketinggalan?" tanya Dita.
"Kalau yang ketinggalan cuma ponsel apa dompet, lupain aja nanti bikin lagi," sahut Anan.
"Yang ketinggalan itu, Andri sama Tante Dewi!" seru Tasya.
"Astagfirullah... Mama Dewi sama Papa Andri emangnya ke mana, Yanda, Bunda, tadi kan sama kalian?" tanya Anta.
"Tadi, tadi dikejar sama Martha, kok sampe lupa gini, ya?" keluh Dita.
"Coba telepon, nyambung enggak?" tanya Anan memberi perintah pada Tasya.
"Coba ya aku telepon Tante Dewi," ucapnya.
Tasya mengeluarkan ponsel dari dalam tas hitam dari kulit sintesis warna hitam.
"Halo, siapa ini?"
Suara wanita terdengar dari ponsel Tante Dewi dan itu bukan si pemilik ponsel.
"Ini, siapa ya? Bukannya ini hape Tante saya?" tanya Tasya.
"Ini Sus," jawabnya.
"Sus?" tanya Tasya.
"Oh, Tante Susanti itu pemimpin hantu wanita tadi," sahut Raja.
"Oh gitu, halo Mbak Sus bisa angkat hape itu emang ada di mana?" tanya Tasya.
"Ada di dalam mobil."
"Orang yang punya mobil, tau enggak ke mana?" tanya Tasya lagi.
"Enggak tau, eh bagaimana kondisi kalian, baik kan?" tanya Susanti dari seberang sana.
"Baik, bagaimana kondisi di sana?"
"Oh, beres... kita menang dong lawan mayat hidup itu," jawabnya dengan nada penuh kemenangan.
"Wah, selamat ya... Nanti kalau ketemu Tante saya sama suaminya, tolong kasih tau, ya," pinta Tasya.
"Siap, ini handphone aku kantongin," ucap Susanti.
Tasya langsung menceritakan pembicaraannya dengan hantu Susanti.
"Baru ini saya lihat manusia telepon -teleponan sama setan," lirih Herdi.
"Kalau sering-sering berada dekat dengan keluarga ini, kita bakalan takjub terus dengan dunia mereka," sahut Sahid.
"Jadi gimana nih, Yanda, kita balik gitu cari Tante Dewi sama Andri?" tanya Dita.
"Hmmm... mau enggak mau," jawab Anan.
Tasya menganggukan kepalanya mengiyakan, begitu juga dengan yang lainnya. Mereka setuju untuk kembali mencari Andri dan Tante Dewi.
"Kita buat senjata dadakan, kalau ketemu dahan pohon ambil terus dibuat runcing pakai pisau lipat ini, siapa tau masih ada mayat hidup kayak tadi," ucap Pak Herdi.
"Lho, Ayah nemu pisau lipat di mana?" tanya Arya.
"Nih, di kotak perkakas dalam mobil," jawab Herdi.
Ia menginjak kotak perkakas milik Doni yang berada di bawah kursi dalam mobil.
"Kenapa enggak tau dari tadi ya kalau ada alat perkakas di sini," ucap Arga.
Akhirnya setiap mereka menemukan dahan, Tasya menghentikan mobilnya.
"Tapi, desa ini enggak ada manusianya, ya?" gumam Anta.
"Karena kita masuk ke alam lain, Nta," jawab Dita.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni