
Happy Reading...
******
"Ciluk... Baaaaaaa!"
Hantu Nunik sudah menyambut Arya dengan mengejutkan anak muda itu dari balik pagar.
"Sompret!"
Arya yang terkejut sampai terjatuh mendaratkan bokongnya di hadapan Anta.
"Kenapa, Ya?" tanya Anta.
"Lagi main, ya gue jatoh lha, gara-gara tuh setan!" seru Arya bersungut-sungut kesal.
"Setan mana?" tanya Anta lagi.
"Naik sendiri situ!" perintah Arya.
"Ayo, Nta, naik ke punggung gue!" ucap Dion memberi tawaran sambil membungkuk di hadapan Anta.
"Oke, Anta naik, ya," ucap gadis itu.
Arya langsung menarik lengan Anta dan menatap Dion dengan tatapan tajam.
"Dia kan hologram nanti elo jatoh, naik ke gue aja!" tegas Arya meledek Dion dengan tatapan sinis sambil tersenyum.
"Sial, kena lagi aja gue dikatain hologram!" keluh Dion.
Akhirnya, Anta naik ke punggung Arya untuk memanjat pagar tersebut. Hantu Nunik kembali mengejutkan dengan cilukba. Akan tetapi, kali ini dia melakukannya sembari melepas dua bola matanya.
"Tante, ngagetin aja nih! Enggak boleh gitu, nanti kalau Anta kaget terus jantung Anta pindah tempat gimana?"
Gadis itu menatap kesal ke arah hantu Nunik yang tersenyum sambil memasang bola matanya kembali.
"Lagian pada ngapain sih kalian lewat sini?" tanya hantu Nunik.
"Mau cari Raja, ada di sini enggak?" tanya Anta.
"Raja, Raja adik kamu itu?"
"Iya, ada enggak? Soalnya Raja diculik, udah gitu diculiknya barengan sama Om Herdi," ucap Anta.
"Nta, udah belum, berat nih?" protes Arya.
"Heh, sembarangan kalau ngomong, mentang-mentang Anta banyak makan, tapi Anta enggak berat tau!" Anta gantian protes.
Dion mengamati keduanya sambil tertawa.
"Aku enggak lihat ada siapapun manusia di sini kecuali satpam sama kalian," ucap Nunik.
"Waduh, berarti Raja enggak ada di sini dong?" tanya Anta.
Hantu Nunik mengangkat kedua tangannya sejajar bahu. Di belakangnya berdiri hantu Sherly menyapa Anta.
"Hai, Anta, kok nangkring di situ?" tanya Sherly.
"Aku cari Raja, tapi kata Tante Nunik enggak ada," jawab Anta.
"Iya enggak ada manusia yang dibawa ke sini, buat tumbal danau juga enggak ada," ucap Sherly.
"Turun Anta, pegel gue!" keluh Arya berseru.
"Iya, bawel!"
Anta menuruni punggung Arya dan menepuk punggung pemuda itu dengan keras untuk membersihkan bekas sandalnya sampai Arya terbatuk-batuk.
"Raja enggak ada di sini, jadi bukan di sini temoat dia disekap. Iya kalau emang Hartono yang culik kalau bukan dia gimana?" tanya Anta pada Arya yang masih mencoba mengusap punggungnya sendiri dengan susah.
"Terus sekarang gimana?" tanya Arya.
"Kita lapor sama Tante Tasya," ucap Anta.
Gadis itu melangkah menuju mobil Tasya diikuti Dion dan Arya di belakangnya. Saat sampai di mobil Tasya, gadis itu melihat sang Tante sedang meringkuk menutupi tubuhnya dengan jaket.
"Tante, tante kenapa?" tanya Anta seraya mengetuk kaca jendela mobil itu.
"Ah, sukurlah... kirain para hantu tadi," ucap Tasya.
Ia membuka pintu mobil untuk para anak muda itu.
"Terus gimana, ketemu Raja sama Pak Herdi?" tanya Tasya.
"Enggak ketemu, kata Tante Nunik sama Sherly enggak ada manusia yang dibawa ke dalam sana," jawab Anta.
"Hmmmn jadi bukan di sini tempatnya, ya udah kita pulang dulu istirahat udah malam banget soalnya, besok kita mulai pencarian lagi," ucap Tasya.
Anta menoleh pada Arya yang akhirnya menganggukkan kepalanya setuju dengan saran dari Tasya. Mereka kembali menuju Apartemen Emas.
***
Sesuatu mencolek pipi Raja sampai membangunkan anak itu.
"Masih ngantuk Mama Dewi, lima menit lagi bangunnya," ucap Raja.
"Iya, Raja bangun, tapi mau nasi goreng kornet," ucap Raja.
Ia membuka kedua matanya dan perlahan tersadar kalau ia tidak sedang berada di rumah. Kedua mata anak itu mengerjap-ngerjap dan mulai mengumpulkan kesadaran saat melihat sekelilingnya.
"Waduh, kirain aku di rumah, baru inget kalau aku diculik," gumam Raja.
Sosok yang tadi mencolek pipinya kembali hadir kali ini duduk di samping Raja yang masih terbaring.
"Bau apa nih?" tanya Raja perlahan menoleh ke arah sosok wanita yang memakai daster lusuh.
Rambut wanita itu tampak kusut, mengembang dan berantakan. Wajahnya tak terlihat karena tertutup rambut berantakan itu. Perlahan sosok hantu wanita itu menoleh pada Raja seraya tertawa cekikikan.
"Nah, kebetulan ada Tante Kunti, bukain ikatan aku dong!" pinta Raja yang mencoba mengubah posisi berbaringnya jadi duduk dan mengarahkan kedua tangannya yang terikat.
"Kamu, enggak takut sama saya, hihihihi...?" tanya sosok hantu itu.
"Enggak, biasa aja, paling juga pas muka Tante kelihatan nanti pucat, matanya hitam, apa mukanya penuh darah sama belatung, ya kan?" sahut Raja.
"Wah, kau benar-benar menantangku, ya..."
Sosok hantu itu membuka rambut yang menutup wajahnya perlahan.
"Ciluk... ba... tuh kan pucat," ucap Raja.
"Hihihihi... kau benar-benar tak takut kepadaku, kalau ini bagaimana?"
Hantu itu menunjukkan punggungnya yang bolong. Terlihat tulang rusuk penuh darah dan belatung yang menggeliat dari dalam punggungnya yang berongga itu.
"Waaaaa... kalau belatung mah aku geli!" pekik Raja mencoba menyeret bokongnya menjauh dari hantu itu.
"Hihihihi... kau takut kan?"
"Iya takut, tapi takut sama belatungnya, hiiiii...." jawab Raja.
"Hahaha... sini ku buka ikatanmu, karena tadi ternyata aku dapat menyentuhmu, ku pikir aku tak bisa menyentuhmu," ucap hantu itu.
"Ummm... Tapi jangan sampai belatungnya jatoh ke tangan aku ya, Tante," pinta Raja yang perlahan menyodorkan kedua tangannya yang diikat.
Hantu perempuan itu membuka ikatan tangan Raja sambil tertawa menyeramkan khas kuntilanalak.
"Kenapa sih dikit-dikit ketawa?" tanya Raja dengan celotehan dadakan yang dia tak pikir dulu.
"Hihihi... Emang bawaan aku kayak gini, maunya ketawa mulu hihihihi...." jawabnya.
"Wah, baek-baek bablas stress entar, lho," ucap Raja.
Ikatan tangannya akhirnya terbuka. Ia mengusap pergelangan yang sakit karena lama juga terikat. Ia tiupkan permukaan kulit yang terasa perih itu.
"Makasih ya Tante, namaku Raja, nama Tante siapa?" tanya Raja mengulurkan tangan kanannya.
"Nama saya, Sus..."
"Wah, Tante artis ya, namanya Suzana?" tanya Raja mulai antusias.
Ia teringat film horor yang ditonton bersama kedua orang tua angkatnya. Akan tetapi, saat ia menonton film horor yang dibintangi artis cantik suzana itu, bukannya takut ia malah tertawa sampai perutnya sakit. Sementara Mama Dewi dan Papa Andri saling berpelukan ketakutan.
"Tante artis, kan?" tanya Raja lagi.
"Huaaaa aku jadi sedih, aku cuma bisa jadi artis cadangan, hiks hiks..."
Hantu itu menangis saat Raja menanyakan soal artis itu.
"Lho, bukannya Tante artis utama, ya?"
"Artis utama yang mana? Saya selalu jadi cadangan, itu juga peran hantu terus, hihihihi...."
"Wah, keren... udah jadi hantu aja masih bisa main film," ucap Raja.
"Bukan gitu, aku waktu masih manusia memang suka ambil peran hantu, sampai akhirnya aku mati jatuh dari apartemen setengah jadi terus punggung aku nancap di tombak properti makanya bolong gini," jawabnya menunjukkan punggung penuh belatung itu lagi.
"Idih jauh-jauh, aku geli! Lagian, Tante bukannya hantu Suzana?" tanya Raja.
"Nama saya, Sus, Susanti," jawabnya.
"Oh, kirain Suzana, tragis juga ya matinya pas main film jadi hantu eh ujung-ujungnya hantu beneran, hehehe..." ucap Raja terkekeh.
Raja lalu menoleh ke arah Pak Herdi yang masih terikat di kursi kayu. Pria itu sangat pulas sampai kepalanya mendangak. Ia juga terdengar mendengkur. Dari sudut bibirnya sudah menetes air liur yang tak terasa keluar sampai ke kerah pakaiannya.
"Idih, udah tua tidurnya ngorok, ngiler lagi," gumam Raja.
******
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni