
Cara vote Noveltoon versi baru.
aku bakalan giveaway buku novel WITH GHOST. Caranya tonton Live IG aku ya, segera...
Happy Reading.
"Woi, Jin Kambing Bandot! Berani elo sentuh Anta, bersiap hadapi kemarahan gue!" seru Arya dari atas dahan pohon tersebut.
"Hahaha... bagaimana caramu melawanku, Cong, turun aja kamu enggak bisa," ucap makhluk itu menghina Arya.
Tiba-tiba, sebuah lingkaran dengan cahaya ungu terpancar dari bawah pohon besar tempat Arya berada. Seorang wanita cantik muncul dengan gaun kerajaan ala Inggris berwarna ungu.
"Bundaaaaa!"
Anta berteriak seraya menghampiri Dita, gadis itu langsung memeluknya.
"Kamu ngapain sih sampai ke sini, banyak banget suara hati yang manggil Bunda supaya cepat datang ke sini," tutur sang Ratu Kencana Ungu.
"Emang iya, Bunda jangan kepedean, deh!" sahut Anta.
"Iya, selain suara hati kamu, tuh Tante Tasya, si Arya, si Arga, bahkan Tante Dewi yang lagi pingsan juga dalam hatinya tadi mikirin Bunda supaya datang," ucap Dita seraya mengusap rambut hitam lurus nan halus milik putri cantiknya itu.
"Yanda dataaaaaaang!"
Suara Anan terdengar dari kejauhan sambil berlari kencang dan...
BRUG!
Saking kencangnya ia berlari tanpa melihat sekeliling saat ke luar dari lingkaran cahaya ungu itu, ia menabrak pohon besar sampai menjatuhkan Arya. Suara dentuman terdengar menghantam tanah tepat di samping Anan.
"Waduh, siapa nih yang jemur guling di sini?"
Anan menyentuh sosok pocong Arya dengan ujung kakinya. Tubuh Arya berbalik, ia menatap Anan dengan kesal.
"Ini aku, Om," ucap Arya.
"What!" pekik Anan.
"Ngapain tiduran di atas pohon?" tanya Anan lagi.
"Saya kelempar, Om, bukan tiduran. Tolongin saya berdiri, dong!" pinta Arya.
Anan akhirnya luluh dan berusaha mengangkat tubuh Arya. Akan tetapi, ia terpeleset sampai jatuh di atas tubuh pocong itu.
"Aduh!" teriak Arya.
"Sorry, maaf ya, gue kepeleset," ucap Anan.
Suami Dita yang tampan menawan itu kembali menolong Arya. Ia coba angkat tubuh pocong itu dan membuatnya berdiri.
"Berat banget, luh, udah jadi pocong padahal, emang makannya banyak, ya?" tanya Anan seraya menepuk punggung Arya.
"Duh, perasaan yang suka bikin saya sakit cuma Anta dan para setan, ini ayahnya lebih sakit pukulannya," gumam Arya.
"Ah, cengeng luh jadi anak laki, yang kuat dong! Duku waktu gue jadi pocong gue kuat lho, gue termasuk pocong membanggakan, dan pastinya gue pocong paling tampan pada masanya. Elo mah... masih kalah jauh!"
Anan mencibir Arya seraya tertawa. Entah kenapa membuat anak itu kesal sangat menyenangkan baginya. Sementara itu, Dita dan Anta juga tak kuasa menahan tawa. Mereka berdua langsung terpingkal-pingkal.
"Sejak kapan Yanda jadi pelawak kaya gini, Bunda?" tanya Anta sambil tertawa.
"Sejak main aplikasi pletok, hahaha..." sahut Dita.
"Idih, udah di alam sana masih aja tambah gaul kayak di alam sini," ucap Anta.
"Iya, dong!" sahut Anan.
Anta lalu menelisik gaun yang ibundanya pakai dari ujung kepala sampai kaki.
"Bunda pakai apa, sih?" tanya Anta.
"Pakai gaun lah, masa karung goni," sahut Dita.
"Iya Anta juga tau ini gaun, tapi kok kayak gini pakaiannya?" tanya Anta lagi.
"Oh, ini harus dipakai, hadiah dari Ratu di negara Eropa," jawab Dita dengan bangga.
"Hah, Bunda ketemu ratu sana, manusia sana minta tolong sama Bunda?" tanya Anta dengan kedua mata penuh antusias.
"Bukan, ketemu hantunya terus bawain Bunda hadiah ini, cantik kan?" tanya Dita seraya berputar-putar mengelilingi Anta sambil tersenyum senang.
Anan memeluk Dita dari belakang kemudian memberinya sebuah kecupan di pucuk kepala sang Ratu.
"Tuh, Yanda bisa banget ya buat hati Bunda klepek-klepek," ucap Dita.
"Hehehe... Anta suka lihat Yanda sama Bunda seperti ini, Anta sayang sama Yanda sama Bunda."
Anta memeluk kedua orang tuanya.
"Sssttt... maaf nih ya, bukannya mau ganggu,tapi sih emang bakal ganggu, tapi saya harus ganggu, jadi—"
"Elo mau ngomong apa, mau ganggu apa?" tanya Anan langsung menghentikan ucapan Arya.
"Hehehe, begini Om, itu Jin yang itu mau diapain, dari tadi cuma bengong ngeliatin kita mana enggak gerak-gerak lagi," tunjuk Arya ke arah Jin Tanduk.
"Oh, dia itu sedang kuberi pelajaran agar tak bergerak sedikitpun. Kalian kewalahan kan menghadapi dia?" tanya Dita melepas pelukan Anta.
"Iya, Bunda, nyebelin tuh Jin, masa dia mau makan Papa Andri," ucap Anta mengadu.
"Hmmm... masih juga makan manusia ya, enaknya kita apain Yanda?" tanya Dita.
"Tapi Bunda, emang ini wilayah kita?" tanya Anan seraya mengamati sekelilingnya.
"Oh iya ya, kira-kira ini wilayah siapa, ah sudahlah nanti kita cari tau, yang penting kita kasih pelajaran dulu tuh Jin," ucap Dita.
"Oke, kita hantam dia!" seru Anan menghampiri Jin Tanduk.
"Kalian di sini dulu, ya," ucap Dita pada Anta.
Gadis itu menganggukan kepala mengiyakan perintah ibundanya.
"Wah, bakalan seru nih, kalau Yanda sama Bunda elu kasih Jin itu pelajaran," ucap Arya yang berdiri di samping Anta.
"Iya dong, bakal tinju-tujuan," sahut Anta.
"Gue mau tuh Jin dilempar ke pohon kayak gue," sahut Arya penuh antusias.
Namun, kedua anak muda itu tiba-tiba terperanjat. Betapa terkejutnya mereka kala melihat kelakuan Dita dan Anan pada Jin Tanduk tersebut.
"Kamu duduk yang bener, simak pelajaran dari kita," ucap Dita.
Sang Ratu membuat makhluk menyeramkan itu duduk bersila. Kedua mata Jin itu menatap sesuatu yang dikeluarkan oleh Dita secara ajaib. Sebuah papan tulis bergambar bahan makanan sayuran terpampang di sana.
"Nah, elo simak tuh baik-baik, jangan makan daging mulu apalagi daging manusia!" seru Anan menoyor kepala belakang Jin Tanduk.
Makhluk itu menganggukkan kepala menjawab perintah Anan.
Saat Dita menerangkan mengenai jenis makanan sayuran itu, Anan tak henti-hentinya menyentuh tanduk di kepala Jin tersebut. Sesekali ia memainkan tanduk tersebut sambil tertawa.
"Bunda sama Yanda elo ngapain, sih, kok enggak mulai perang?" tanya Arya.
"Kayaknya ini yang dimaksud Bunda sama Yanda memberi pelajaran deh ke Jin itu," ucap Anta seraya menepuk dahinya sendiri.
Ia tak percaya dengan apa yang dia lihat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sementara itu di luar pagar gaib sana, Tasya dan Arga mengamati kedatangan Anan dan Dita dengan senyum bahagia. Meskipun mereka masih tak mengerti kenapa Dita malah memperlihatkan gambar sayur-sayuran di papan tulis yang berada di hadapan Jin Tanduk.
"Tante Dita kok main guru-guruan sama tuh Jin, kok bisa, ya?" tanya Arga.
"Saya juga bingung si Dita ngapain coba mana pakai baju kayak nenek-nenek zaman Belanda gitu," sahut Tasya.
"Idih parah, temen sendiri dikatain nenek-nenek, cantik tau itu, Tante Dita," sahut Arga.
Sahid yang sedari tadi mendekat dan berdiri di belakang Arga tak sengaja mendengar nama Dita dari bibir putra satu-satunya itu.
"Kamu bilang apa tadi, Ga, ada Dita?" tanya Sahid.
****
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni