
Happy Reading
*****
Dita bertemu dengan Anta di Sekolah. Ia langsung menarik lengan gadis itu dan menceritakan pertemuannya dengan hantu Lala.
"Ummm... oke deh nanti Anta ke rumah Ibu, tapi ada yang harus Anta selesaikan dulu," ucap gadis itu.
"Apaan, Nta?" tanya Dita.
"Tau hantu lumpur yang waktu itu?"
Dita mengangguk menjawab pertanyaan Anta.
"Nah, ternyata dia itu istrinya Dokter Iman, dia mau minta tolong buat sampaikan sesuatu ke dokter itu, tapi tadi pas Anta ke UKS katanya dia sakit jadi enggak masuk," ucap Anta.
"Terus gimana dong?"
"Anta mau ke rumahnya, buat kasih tau kejadian ini," ucap Anta.
"Lha, terus kamu kapan ke rumah aku?" tanya Dita.
"Nanti, Anta usahakan pulang dari rumah Dokter Iman, mampir ke rumah Bunda, eh Ibu."
"Ya udah, kamu hati-hati, ya," ucap Dita.
Anta mencium punggung tangan wanita itu lalu pamit. Dita merasa tersebut dengan perlakuan barusan. Wanita yang memakai pakaian batik itu kembali ke ruangannya untuk mengambil tas, tetapi ia langsung terkejut kala melihat si hantu lumpur berdiri di hadapannya.
"Astagfirullah, jantung aku untung nggak copot, ngapain sih ngagetin aja?"
Dita bertanya seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Hantu itu lalu memeluk Dita.
"Kamu, kamu ngapain masih di sini? Anta lagi mau ke rumah kamu tuh," ucap Dita ketakutan.
"Terima kasih," ucap hantu itu lalu menghilang.
"Kok, makasih sama aku, sih?" gumam Dita.
***
Anta hendak menuju ke rumah Dokter Iman. Gadis itu awalnya mengajak Arga untuk memberitahukan pada Dokter Iman perihal hantu lumpur tersebut, tetapi karena Arya mencuri dengar, gadis itu akhirnya membiarkan Arya ikut serta. Mey yang mendengar hal itu juga turut ikut serta.
"Ria sakit, Ga, dia enggak masuk," ucap Anta menuju halte busway.
Gadis itu sudah izin pada Tasya untuk pulang lebih lambat.
"Terus, kenapa bilang sama aku?" tanya Arga.
"Ya kali mau nengok sekalian ke rumahnya," ucap Anta.
"Boleh, tuh, kita nengokin Ria," sahut Arya yang sebenarnya semangat menjodohkan Arga dan Ria.
"Kayaknya alamat Dokter Iman sama Ria deket, deh," sahut Mey.
"Nah, boleh tuh nengokin."
Arya menjentikan dua jarinya di hadapan wajah Arga.
"Tapi, nanti jangan lama-lama ya, Anta udah janji sama Ibu Dita mau ke rumahnya, panti asuhan ceria itu," ucap Anta.
"Gue ikut," sahut Arya.
"Aku juga ikut," sahut Arga.
"Hmmm... Mey mau ikut juga?"
Anta langsung menoleh pada Mey dan bertanya. Gadis itu tersenyum dan menjawab dengan anggukan.
"Eh, tapi ini malam jumat, kan?" tanya Mey.
"Iya, emangnya kenapa?" tanya Arya.
"Duh, aku enggak bisa ikut, dari rumah Ria aku harus pulang ada perlu, Arya temani aku pulang, ya," pinta Mey.
"Wah, kan gue bilang gue mau ikut Anta," ucap Arya.
"Udah anterin dia aja, Ya, kan Anta ada gue yang jagain," sahut Arga.
"Enak aja, nanti gue cariin taxi buat Mey aja, gue yang bayar pake duit pay gue di aplikasi masih banyak nih," sahut Arya.
"Sombong amat," sahut Anta.
Mey masih terdiam menatap Arya saat masuk ke dalam busway tersebut. Wajahnya terlihat mengisyaratkan kekecewaan kala terus mendengar kalau pemuda yang ia sukai itu selalu saja mementingkan Anta.
Arga mempersilahkan kedua gadis itu duduk sementara dia dan Arya berdiri di hadapan kedua gadis itu. Seorang pria terlihat iseng mengambil gambar bagian tubuh bawah Anta dan Mey yang memakai rok sekolah itu.
Arya melirik ke arah pria berusia 45 tahun dan memiliki kumis itu. Ia meraih ponsel di tangan pria itu dengan paksa.
"Eh, jangan kurang aja ya!" hardik pria itu.
"Elo yang kurang ajar, bisa-bisanya elo ngintipin rok anak sekolah terus difoto," bentak Arya.
"Wah, kurang ajar nih si Bapak, belum pernah ngerasain sepatu Anta masuk mulut, ya?"
Anta mengancam pria tersebut.
"Pak, silakan ikut saya kita turun dari mobil ini ke kantor polisi," ucap Arga.
"Heh, sembarangan aja kalau ngomong, sini kembalikan hape saya!"
"Enggak bisa, nanti bakalan situ hapus buat menghilangkan bukti, ya kan?" ledek Arya yang mengamankan ponsel itu agar tak terjangkau oleh si pria kurang ajar tersebut.
Hantu lumpur yang hendak ditolong Anta muncul di samping Mey dan mengejutkan gadis itu. Arga sempat melihat kejadian tersebut.
Kok, Mey bisa lihat hantu, ya, apa dia emang udah bisa lihat hantu.
Arga masih mengamati Mey yang berusaha menghindari tetesan lumpur si hantu. Akan tetapi tetesan lumpur itu hanya akan dirasakan oleh manusia yang dapat melihatnya saja.
"Nta, Tante lumpur tuh," bisik Arya yang melihat kedatangan hantu lumpur.
"Nah, kebetulan, tolong gangguin dia," ucap Anta.
Hantu lumpur itu tersenyum kemudian bangkit. Saat busway itu sedang berhenti di pemberhentian selanjutnya, si pria brengsek itu meraih ponsel di tangan Arya tiba-tiba, lalu ia mendorong para anak muda di hadapannya itu. Pria itu segera menuju pintu ke luar dan berlari.
"Woi!"
Arya berusaha mengejar, sementara Arga sigap menolong Anta dan melindungi gadis itu agar kepalanya tidak membentur kursi saat jatuh.
"Kamu enggak apa-apa kan, Nta?" tanya Arga.
"Anta enggak apa-apa, makasih, Ya, eh Ga."
"Kita turun sini, tuh Arya ngejar Bapak tadi!" seru Mey.
Arga dan Anta langsung mengikuti gadis itu turun. Sementara para penumpang hanya sekedar memandang dan mengamati adegan barusan. Entah karena mereka tak peduli atau terlalu penat dan lelah dengan kegiatan mereka hari itu.
Hantu lumpur langsung menolong Arya dan menghentikan si pria brengsek tersebut. Ia menghadang kaki si pria brengsek saat menuruni tangga. Pria itu tersungkur sampai hidungnya mengeluarkan darah segar. Kaki kiri pria itu juga terkilir sehingga Ia tak bisa bangkit untuk berdiri.
"Sukurin, luh!"
Arya meraih ponsel pria itu yang ternyata layarnya pecah saat terlepas dari tangan pemiliknya.
"Yah, enggak ada bukti buat bawa elo ke polisi," ucap Arya.
"Udah, Ya, biarin aja, toh dia udah ngerasain balasannya ini," ucap Anta yang baru sampai setelah pengejaran tadi.
"Ya udah, biar sekalian gue banting aja!"
Arya melempar ponsel itu ke konblok dan menginjaknya. Si pria brengsek itu hanya melihat dengan pasrah meski ia menatap dengan penuh sinis. Dalam hati pria itu akan mengingat ke empat sekawan di hadapannya itu untuk membalas dendam.
"Dah, kita ke rumah Dokter Iman aja, yuk! Ntar keburu kesorean, belum lagi mau ke panti asuhan," ajak Arga.
Ke empat sekawan itu lalu beranjak menuju rumah Dokter Iman dengan menggunakan angkot.
"Kenapa enggak naik taxi online aja, sih?" tanya Arya yang terhimpit dan tersudut oleh wanita bertubuh gemuk di dalam angkot itu.
"Kayaknya enggak muat mobil, sama aja sih sama naik angkot, tapi lebih murah," sahut Anta yang duduk di hadapan Arya dan berada di antara Mey dan Arga..
"Sempit tau!" keluh Arya seraya melirik ibu bertubuh gemuk di sampingnya.
Ibu itu tau tatapan sinis Arya, ia sengaja menyikut bahu Arya saat angkot tersebut berhenti mendadak karena ada penumpang yang mau turun.
Pemuda itu sampai jatuh tersungkur dan menenggelamkan wajahnya di atas rok Anta.
"Ih, Arya mah..." seru Anta merasa risih.
Tangan Arya dengan reflek berusaha mencari pegangan saat bangkit sampai menyentuh bagian sensitif milik Arga yang duduk di samping Anta.
"Aduh...!" pekik Arga.
"Sorry, Ga, nggak sengaja gue, ngilu ya?"
Arya meringis meledek Arga saat kembali ke kursinya.
Anta dan Mey menoleh pada Arga yang mencoba menahan sakit dan tak mau menoleh pada para gadis itu karena ia merasa malu.
"Kampret luh, Ya!"
Arga menatap Arya dengan tatapan sinis seraya menahan ngilu yang menjalar.
******
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni