
Happy Reading...
******
Anta melihat sosok anak perempuan yang kehilangan satu bola mata. Rongga mata sebelah kanan itu masih mengucurkan darah dan nanah. Ia melambaikan tangan pada gadis itu. Anak perempuan itu juga kehilangan kaki sebelah kirinya dari pangkal paha.
"Tante, bisa berhenti di sini, lihat anak itu!" tunjuk Anta.
Semua yang berada di dalam mobil menatap ke arah hantu tersebut. Hantu anak kecil itu menunjuk ke arah jalan setapak di antara dua pohon besar.
"Sepertinya, dia ingin kita ke sana," ucap Dita.
"Ayo kita ikuti!" ajak Anan.
Semuanya bersiap dengan senjata masing-masing seadanya yang baru dibuat Pak Herdi dan para pria lainnya. Mereka turun dari mobil.
"Raja sama Tante Tasya aja, tunggu mobil di sini!" pinta Dita.
"Yah, Bunda, aku kan mau ikut," rengek Raja.
Anan menatap tajam pada anaknya. Raja akhirnya menurut. Kemudian, yang lainnya pergi mengikuti hantu anak perempuan tadi. Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah mata air. Air danau tersebut terlihat hitam.
Mereka melihat tubuh Andri dan Tante Dewi yang terikat di sebuah pohon. Mereka di ikat di pohon yang berseberangan. Pria yang mereka lihat itu berusaha membuka ikatan.
"Kita bagi tugas, ada yang bebasin Andri ada juga yang bebasin Tante Dewi," ucap Anan.
Herdi mengangguk menyetujui begitu juga dengan Sahid. Namun, sebelum mereka mulai membebaskan terlihat buih di air dalam danau. Sosok besar berkaki kambing berkepala manusia dan memiliki tanduk itu muncul dari dalam danau. Di belakangnya beberapa manusia tanpa penutup bagian atas hanya memakai bawahan daun besar menyerupai rok itu juga muncul.
"Haduh, Itu bukannya Iblis Ro?" tanya Dita.
"Iya, gawat nih!" sahut Anan.
"Kalian berjaga awasi iblis itu, kita bebaskan Andri dan Tante Dewi," ucap Pak Herdi.
Ia bersama Arga membebaskan Andri, sementara Sahid dan Arya pergi menuju Tante Dewi. Terlihat Martha menyambut kedatangan Iblis Ro dengan bahagia.
"Wahai sang raja kegelapan, aku ingin pria itu jadi milikku dan yang wanita itu persembahanku," ucap Martha.
Iblis Ro tertawa bahagia. Akan tetapi perlahan-lahan senyumnya menyeringai. Iblis besar itu meraih tubuh Martha. Lalu, ia membelah wanita itu menjadi dua bagian. Wajah iblis itu bermandikan darah segar. Pandangannya kini mengarah pada Dita dan Anan.
"Aaaaa..." pekik Anta sembari menutup mata dengan tangannya. Pemandangan yang sungguh kejam yang pernah ia lihat sebelumnya kini terpampang nyata lagi.
Dita dan Anan saling bertatapan, keduanya panik dan tak tahu harus berbuat apa.
"Serahkan anak itu!" ucap iblis Ro dengan suara menggema menggetarkan sekelilingnya.
Dia masih ingat dengan Anta. Iblis itu bahkan menoleh pada Arya dan Arga.
"Dia mau saya ya, Om?" tanya Arya pada Sahid.
"Iya, seperti dulu lagi, ada kemungkinan dia masih ingat sama Anta dan Arga, dia masih ingin darah kalian," ucap Sahid.
"Terus gimana ini?" tanya Arya mulai panik.
Sahid mencoba menenangkan Arya dengan mereka bahu pemuda itu. Begitu juga dengan Pak Herdi yang mencoba melindungi Arga.
"Kita bisa Yanda, aku tadi udah makan roti di mobil sama cemilan Anta, aku punya kekuatan buat ngelawan Iblis Ro," ucap Dita.
"Dengan sekuat tenaga yang kita punya?" tanya Anan.
Dita menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku juga akan melakukan apapun demi melindungi orang-orang ini," ucap Anan.
"Meskipun kita bisa menghilang seperti Ratu Kencana Ungu sebelumnya?"
"Ya, selama aku bersama kamu, apapun aku hadapi, demi anak-anak kita juga."
Pria itu menatap penuh cinta wajah cantik sang Ratu.
Iblis berukuran besar itu berjalan menghampiri Anan dan Dita. Dentuman besar tercipta dan menggetarkan tanah sekitar. Setelah Andri dan Tante Dewi bebas. Anan memerintah semuanya untuk kembali ke mobil.
Andri membopong istrinya yang tak sadarkan diri dan pergi lebih dulu ke mobil Tasya atas perintah Anan. Anta terus saja berteriak tak ingin meninggalkan kedua orang tuanya yang siap berkorban kembali. Hanya saja kali ini mereka akan hilang selamanya.
"Arya, Arga, tolong kalian jagain Anta, jangan sampai putri cantik gue tersakiti," ucap Anan.
"Anta juga jagain Tante Tasya sama Raja, ya," ucap Dita seraya tersenyum.
Arya yang menjawab dengan anggukan langsung menarik lengan Anta begitu juga dengan Arga. Semuanya berlari meninggalkan kawasan mata air tersebut.
"Pasti ada cara lain, Anta engga yakin mereka bisa menghadapi dia," ucap Anta.
Anta tak lagi bisa berbalik karena Pak Herdi sudah menahannya. Para manusia suku Ro yang melihat ke arah mereka langsung mendekat.
"Aaargghhh tidak...!!!" pekik Dita.
Suara teriakan Dita terdengar sampai membuat Anta menoleh dan ingin kembali. Entah kenapa melihat gadis itu sangat tersiksa mendengar teriakan orang tuanya yang sedang melawan Iblis Ro membuat Arya memutuskan untuk ke luar dari tubuh Dion. Kejadian di rumah Jin Tanduk sebenarnya sudah membuatnya bisa ke luar dari tubuh itu tetapi dia merasa egois. Dia ingin tetap menjadi manusia.
"Gue pamit, Nta, nanti elo panggil Dion buat masuk ke dalam tubuhnya," ucap Arya.
Pak Herdi langsung menghampiri anaknya tersebut.
"Apa kamu bilang, Ya?"
"Ayah, aku bakal jagain kalian," ucap Arya.
Anak muda itu menoleh pada Arga lalu tersenyum sebelum muncul sebagai sosok pocong.
"Tidak....!" Anta berteriak sambil menangis kala melihat Arya pergi membantu Anan dan Dita.
Arga menyeka air matanya lalu menarik lengan Anta. Mereka berusaha berlari menjauh dari iblis besar dan jahat itu serta pasukannya. Tepat di belakang anak muda itu salah satu suku Ro menarik pakaian belakangnya sampai membuatnya jatuh.
Herdi langsung menolong Arga dan memberikan Anta pada Sahid agar segera masuk ke dalam mobil Tasya.
"Jangan lihat kebelakang!" ucap Herdi dengan tegas.
"Tapi, Bunda aku, Yanda aku sama Arya," ucap Anta.
"Kita udah enggak bisa menolong mereka lagi, ayo lari lebih cepat!" Anan menarik lengan Dita mengajaknya berlari lebih cepat.
Tiba-tiba bunyi dentuman besar terdengar. Terlihat ledakan di dalam hutan tersebut. Anan dan Dita yang dibantu Arya berhasil memusnahkan Iblis Ro dan pasukannya.
Tasya melajukan mobil yang dia kendarai lebih cepat. Meskipun sambil menangis, ia harus tetap fokus dan pergi dari desa itu. Akan tetapi, di hadapan mobil tersebut tiba-tiba berdiri seorang pria tua mengenakan jubah serba putih. Terlihat jenggot panjang yang berwarna putih menyapu jalan begitu juga dengan rambut kakek tua itu yang panjang dan berwarna putih.
Tasya menekan pedal rem secara mendadak.
****
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni