Anta's Diary

Anta's Diary
Jenglot



Happy Reading...


*****


Malam itu, Anta merencanakan sesuatu untuk pergi ke rumah Mey. Ia membawa Ratu Sanca ikut serta. Makhluk itu mengubah bentuknya menjadi boneka luar yang Anta bawa dalam sebuah tas berbahan kanvas. Saat di perjalanan ia bertemu dengan Dion yang hampir menabraknya ketika menyeberang.


"Elo tuh ya, punya nyawa berapa sih, ngagetin gue mulu, hampir aja gue tabrak elo!" hardik Dion.


"Ye, si Kakak kalau nyetir yang bener, pasti melamun deh sampai mau nabrak Anta," ucap Anta menoleh pada pria di dalam mobil tersebut.


"Gue lagi mikirin elo eh malah elo muncul di sini," sahut Dion.


"Dih, enggak jelas!"


"Mau ke mana? Ayo, gue anter!" ajak Dion.


"Enggak mau ah, ini rahasia soalnya, Anta enggak mau Kak Dion terlibat," ucap Dion.


"Sudahlah naik aja!"


"Naik aja, Nta, pegel juga kan jalan sambil bawa aku," sahut Ratu Sanca dari dalam tas.


"Ummm... Iya sih pegel juga, ya udah deh Anta ikut."


Gadis itu naik ke dalam mobil milik Dion.


"Elo bawa apa?" tanya Dion melirik pada tas kanvas yang Anta bawa.


"Bawa Ratu— eh, boneka maksudnya," jawab Anta.


"Coba lihat, masa boneka luar gitu enggak ada yang keren dikit apa kayak boneka beruang apa panda gitu," ucap Dion.


"Ini keren kok," jawab Anta.


"Jelek mana warna kulitnya aneh gitu," sahut Dion.


"Boleh enggak kalau anak ini aku gigit," celetuk sang ratu sampai membuat gadis itu tertawa.


"Eh, ada yang ngomong deh, apa jangan-jangan hantu?" tanya Dion.


"Hahaha... mau lihat enggak boneka Anta bisa berubah jadi apa, tapi minggir dulu," ucap Anta timbul rasa usil dalam hatinya.


Gadis itu meletakkan Ratu Sanca di kursi belakang. Dion yang penasaran akhirnya menepikan mobilnya di pinggir bahu jalan. Anta menarik tangan Dion seketika. Detak jantung pemuda itu malah berdetak lebih cepat.


"Duh, elo mau ngapain, Nta?" lirihnya tersipu malu karena berpikir yang tidak-tidak mendapat perlakuan tersebut.


"Perkenalkan, Ratu Sanca!"


Anta membuat Dion menoleh ke kursi belakang dalam mobilnya.


"Waaaa... awas Anta ada ular besar banget kayak gini!"


Dion berteriak dengan panik dan hendak keluar dari mobil tapi ekor sang ratu sudah melilit lehernya.


"Kamu tadi bilang warna kulitku aneh, iya kan?"


Ratu Sanca bersuara menyeramkan menakuti Dion.


"Eng-enggak, kok, salah denger kali," sahut Dion.


"Hahaha... Iya tadi Kak Dion bilang gitu," sahut Anta.


"Kamu enggak bilang kalau boneka kamu ini nisa hidup kayak gini, sih," ucap Dion melirik pada Anta yang masih saja tertawa.


"Nah, makanya jangan ngomong macem-macem tentangku, ayo anak ganteng lanjutin lagi nyetirnya!"


"I-i-iya, Bu Uler," sahut Dion.


"Ratu Sanca, panggil aku Ratu Sanca, jangan sembarangan sebut!" bentaknya.


"Iya Ratu."


Dion masih melirik kesal pada Anta yang malah memberikan senyum meringis padanya.


***


Di apartemen Emas, rumah Raja. Anak itu masih berjuang menghadapi serangan makhluk mungil menyeramkan di dalam rumahnya itu. Rasa perih dan kesakitan menjalar di kaki anak itu.


"Aku harus cari Tante Silla," ucap Raja mencoba melangkah menuju ke luar apartemen.


Makhluk itu kembali mengikuti dan mengigit kaki Raja kembali.


"Aargghhh... Tante Silla tolongin aku...!" pekik Raja.


Silla yang baru saja sampai langsung menarik makhluk mini itu dari kaki Raja.


"Aduh, sakit...!" teriak Raja.


"Lho, kenapa kamu bisa ketempelan sama dia, sih?" tanya Silla.


"Aku enggak tau, dia ngikut aku terus dari tadi," jawab Raja yang sedang meniup luka di kakinya itu.


Silla berusaha mencengkeram sosok mini itu dan menahannya. Ia lalu meraih tali skipping milik Tante Dewi untuk mengikat makhluk itu dengan kencang. Namun, kekuatan makhluk itu sangat besar sampai hantu perempuan itu berguling ke luar menuju koridor.


"Silla kamu ngapain?" tanya Tomo.


"Bantuin aku dong, kuat banget ini boneka," ucap Silla.


Tomo langsung bergegas membantu Silla sampai bola matanya menggelinding ke luar karena ia sampai mengejan mengerahkan kekuatannya. Bila mata itu menggelinding ke arah tangga dan jatuh di kaki hantu Susi yang hendak naik.


"Perasaan ini punya si Tomo," gumam Silla.


Teriakan Tomo terdengar bersamaan dengan teriakan Silla.


"Jangan lepasin, Mo, pegangin yang kuat!" seru Silla.


"Justru harus dijepit gini biar enggak bergerak," sahut Silla.


Raut wajah hantu Susi mulai berubah. Rasa penasaran langsung menyeruak dan membuatnya melangkah cepat bergegas.


"Mereka ngapain, sih? Duh, enggak bisa aku biarkan ini, mereka pasti berkhianat, berbuat macem-macem di belakang aku," gumam Susi dengan raut wajah yang sangat kesal saat melangkah.


Betapa terkejutnya ia kala melihat Silla dan Tomo sedang berbaring miring dengan wajah saling berhadapan kala itu. Susi langsung menarik tangan kekasihnya dengan teriakan kesal.


"Aaaaa... Tomo jahat! Berani-beraninya kamu ada main sama Silla, Silla juga jahat! Katanya enggak suka sama Tomo tapi kalau aku enggak ada diembat juga," pekik Susi.


"Aduh, sayangku... kamu jangan asal tuduh gitu dong, liat tuh Silla lagi megang apa!" seru Tomo.


Susi lalu mengamati sosok mini di tangan Silla yang sudah terikat tapi masih mencoba bergerak.


"Hah, itu kan jenglot!" pekik Susi.


"Apaan, Yang? Jengkol?"


"Jenglot baby sayangku, eh ini tadi bola mata kamu copot, sini aku pasangin!" ucap Susi yang langsung memasangkan bola mata itu lagi pada Tomo.


"Woi, bisa enggak romantisnya nanti aja, bantuin ini dulu, pegangin!" seru Silla.


"Oh iya beib, ayo bantuin!" ajak Susi.


Keduanya langsung memegangi sosok mini tersebut. Susi lalu menginjak makhluk itu sampai diam. Bahkan ia menduduki makhluk itu dengan bokongnya.


"Sukurin, enak kan akundudukin biar sesak napas," ucap Susi.


Makhluk mini itu kemudian berhenti bergerak. Ia terdiam karena tak bisa menandingi kekuatan Susi yang usut punya usut sang nenek merupakan pemburu jenglot pada masa neneknya Susi masih hidup.


Silla lalu bergegas menyelamatkan Raja. Ia membawa tubuh anak itu duduk di sofa. Lalu, ia meraih botol berisi obat alkohol 70 persen dan juga betadine serta kapas.


"Perih, Tante, enggak mau pakai itu!" ucap Raja.


"Harus pakai ini, daripada infeksi," ucap Silla.


"Ini apa sih, Beb?" tanya Tomo.


"Ini tuh namanya Jenglot, dia dipercaya sebagai makhluk mistis dan dianggap sebagai pusaka mistis yang banyak diburu kolektor benda bertuah. Kayaknya ukuran ini Jenglot 12 centimeter deh. Terus katanya bisa mendatangkan rizki dan menjaga keselamatan pemiliknya dari hal-hal gaib," ucap Susi seraya mengamati makhluk itu dengan saksama.


"Semacam buat pesugihan?" tanya Silla.


"Ya, bisa dibilang begitu," jawab Susi.


Dia melanjutkan penuturannya kemudian.


"Nah, untuk memerintahkan jenglot diperlukan ritual khusus dan sesajen untuk mendatangkan roh yang ada di tubuh jenglot tersebut. Jenglot biasanya sangat tertarik dengan darah manusia lho terutama yang golongan O sebagai sesajen untuk di minum. Apabila permintaannya tersebut dituruti maka jenglot akan melakukan apa yang majikannya perintahkan."


"Darah aku kan O," jawab Raja.


"Makanya dia ngikutin kamu dan mau menghisap darah kamu," ucap Susi.


"Tapi kenapa harus aku?" tanya Raja.


"Entahlah, mungkin emang dia pilih kamu, Ja, emang kamu ketemu ini jenglot di mana?" tanya Susi.


"Di pasar, di bawah meja tukang daging," jawab Raja.


"Wah, jangan-jangan itu penjual daging yang punya ini jenglot," ucap Tomo.


"Kok, kamu bisa menghentikan makhluk itu?" tanya Silla setelah mengobati luka pada Raja.


"Karena nenek aku dulunya pemburu jenglot kayak gini. Eh, lama-lama lucu banget ih, dipakein baju barbie bekas mainan Anta yang ada di kolong ranjang muat kali, ya," ucap Susi.


"Astaga bebi masa makhluk nyeremin gitu dipakein baju barbie, hiiyy...." sahut Tomo.


"Lucu beb, biar dia jinak, hahaha..."


"Nanti kalau si pemiliknya cari gimana?" tanya Raja.


"Enggak bakal balik, kan sama aku, palingan nanti si pemiliknya kenapa-kenapa," sahut Susi.


"Makasih ya Tante Silla, Tante Susi, Om Tomo, kalian udah nolongin aku," ucap Raja.


"Sama-sama, Ja, tapi kayaknya kamu harus ke rumah sakit deh, daging kamu sobek gitu," ucap Silla.


"Iya, biar enggak infeksi," sahut Tomo.


"Aku antar aja, yuk, aku temenin ke rumah sakit tempat Mama kamu itu, gimana?" tanya Silla.


"Ya udah, aku ngeri kalau infeksi terus bernanah, terus ada belatungnya kayak matanya Om Tomo," sahut Raja menunjuk Tomo.


"Yee si Raja, ini lucu tau gemesin gitu kalau belatungnya lagi cilukba sama aku, yuk ah beb, kita ke kamarnya Anta di rumah depan!" ajak Silla.


"Oke,sayangku."


Silla kemudian menemani Raja memesan taxi online dari ponsel anak itu. Nantinya ia akan meminta tagihan pada Mama Dewi sesampainya di rumah sakit. Saat mobil taxi online yang Raja pesan tiba, anak itu langsung membuka pintu di kursi belakang. Sesuatu dalam balutan kafan putih yang tergeletak di kursi mobil itu mengejutkan anak itu.


"Pak, itu apa?" tanya Raja.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Novel baru aku di Noveltoon ya...


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni