Anta's Diary

Anta's Diary
Hantu Lala



Jangan lupa bayar cerita ini pakai poin kalian buat VOTE ya, terima kasih...


*******


"Oke, bawa perempuan itu besok jam tujuh malam, ya, nanti saya siapkan ruang operasinya," ucap perempuan itu.


"Baik, Bu, terima kasih."


Keesokan harinya Heru membawa Lala menuju panti asuhan Anak Ceria. Tanpa perasaan curiga gadis itu sangat menikmati hari itu. Ia merasa pria di sampingnya ini sangat menyukainya meski usia mereka terpaut sangat jauh, tapi dia yakin kalau pria ini akan menjadi suami yang baik baginya.


Padahal, Heru sendiri sudah mempunyai keluarga yang lengkap. Satu orang istri dan tiga orang anak. Namun, karena paras tampan guru matematika tersebut yang selalu tampak awet muda dan terlihat keren, pria itu dapat membuat siapapun dirayunya terpesona.


Ada kekuatan yang pria itu gunakan dari cincin bermata hijau yang ada di tangannya. Acap kali ia menggunakan kekuatan cincin itu untuk membuat korbannya bertekuk lutut dan jatuh pada panah cintanya.


"Kamu lapar enggak, La?" tanya Heru seraya memberi kecupan pada punggung tangan gadis itu.


"Aku lapar, Pak, kita makan dulu, ya," pinta Lala dengan raut wajah manja dan terlihat menggemaskan.


"Baiklah, mau makan apa?" tanya pria itu lagi.


"Bubur ayam," jawab gadis itu.


"Oke, kita makan bubur ayam dulu," ucap pria itu seraya menyetir dan tangan satunya kini berpindah ke permukaan perut gadis itu dan mengusap perut Lala.


Setelah menuruti kemauan sang gadis, pria itu melajukan mobilnya menuju ke panti asuhan. Raut wajah Lala tampak berbeda, ia bingung kenapa harus melewati jalanan sepi seperti itu. Tak ada tanda bagian kesehatan yang terpanjang di depan bangunan. Dia hanya menemukan pelang besi bertuliskan Pan Asuhan.


Sesampainya di sana, Ibu Desi dan dua orang asistennya sudah menunggu. Senyum manis menghias wajah para wanita yang menyambut Lala itu saat mobil milik Heru menepi dan terparkir sempurna.


"Halo, selamat malam!" sapa Ibu Desi.


"Selamat malam, apa kabar, Bu?"


Heru balik menyapa dan menjabat tangan wanita itu.


"Baik, senang bertemu Anda kembali," ucap Ibu Desi lalu melirik ke arah Lala.


"Ah, bisa aja, Bu."


"Kamu tuh ya, enggak ada bosen-bosennya melakukan ini pada para perempuan, coba tuh!" ucap wanita itu seraya menoleh kembali ke arah Lala dan terkejut dengan seragam yang digunakan gadis itu.


"Ini kenapa masih sekolah?" bisik Ibu Desi saat melihat gadis yang dibawa Heru ini masih memakai seragam kemeja putih dan rok abu-abu.


"Anu, Bu, umm... maaf saya khilaf, habisnya dia lugu banget, mana bentuk tubuhnya itu menggoda hehehe," ucap Heru balas berbisik.


"Halah, kamu emang dari kecil dulu udah ada bakat mata keranjang," balas Bu Desi.


"Halo, nama saya Lala, apa Ibu seorang Bidan di sini?" tanya Lala setelah merasa risih melihat Heru dan Ibu Desi saling berbisik. Gadis itu mengulurkan tangannya pada Ibu Desi.


"Kabar saya baik, Bu, jadi apa bisa kita periksa kandungan saya sekarang?" tanya Lala yang mulai risih melihat Heru dan Ibu Desi terlihat akrab di hadapannya.


"Oh, tentu saja, mari silahkan masuk, biar para asisten saya siapkan kamar dulu," ucap Ibu Desi.


Tanpa rasa curiga sedikitpun Lala mengikuti langkah wanita itu. Di belakangnya sosok Heru mengikuti langkah gadis itu. Sesekali ia berkeringat menahan kegelisahan. Sudah tiga kali ia melakukan ini. Ia mengantar para korban mesumnya untuk melakukan aborsi.


Namun, baru kali ini korban yang satu ini tidak tau kalau akan melakukan tindakan keji itu karena dua sebelumnya mau dibujuk untuk menghilangkan janin dalam perut mereka. Akan tetapi, Lala tidak akan pernah mau melakukan tindakan keji itu secara sukarela. Menurut gadis itu, bayi yang ada dalam kandungannya itu akan membuatnya mendapatkan seorang Heru. Ia tak peduli meski harus merebut pria itu dari keluarga sahnya.


Lala sampai di sebuah ruangan. Ibu Desi mempersilahkan gadis itu untuk berbaring di atas ranjang. Lalu, wanita itu menyiapkan sebuah suntikan yang berisi obat bius untuk gadis itu


"Lho, kenapa enggak ada alat USG, aku pikir aku mau di USG, dan itu suntikan untuk apa?" tanya Lala yang mendaratkan bokongnya di atas ranjang. Dalam posisi masih duduk, gadis itu mencoba mengamati sekeliling dalam ruangan itu.


"Dia belum tau, ya?" Ibu Desi menoleh pada Heru.


Pria itu menjawab dengan gelengan kepala. Heru mendekati Lala dan memeluknya dengan erat untuk terakhir kali.


"Bapak, ada apa ini?" tanya Lala lagi.


"Maafkan Bapak, ya, Bapak terpaksa melakukan ini, demi kebaikan kita semua," ucap Heru seraya melepaskan pelukan dari Lala lalu memberi kecupan di dahi gadis itu. Heru melangkah pergi meninggalkan Lala. Ia tak mengindahkan teriakan Lala yang memanggil namanya berkali-kali.


"Pak, Pak Heru mau ke mana? Aku mau diapain ini?" teriak Lala berusaha untuk turun dari ranjang.


Akan tetapi, dua orang asisten Ibu Desi sudah sigap mencengkeram tangan Lala. Mereka menahan gadis itu agar tak bergerak. Wanita paruh baya itu menyuntikkan obat bius tadi pada Lala.


"Apa yang mau ibu lakukan pada saya?" tanya Lala dengan nada panik.


"Tenang aja, ini enggak akan sakit, kok," ucap wanita itu tersenyum memandang Lala yang dalam sepuluh detik kemudian tak sadarkan diri.


"Dasar si Heru, ini udah ketiga kalinya dia buat ulah seperti ini," gumam Ibu Desi melirik tajam ke arah pria itu yang sudah melangkah dan terlihat di jendela ruangan itu.


Pria itu meninggalkan gadis itu begitu saja sambil bersenandung. Saat ia masuk ke dalam mobilnya, ia melihat iblis perempuan penunggu sumur tua.


"Aku membawa makanan untukmu, nikmatilah," lirihnya. Lalu, mobil itu melaju pergi meninggalkan panti asuhan tersebut.


Pria itu kembali bersenandung seraya fokus menyetir. Dia benar-benar tak menyesali perbuatannya tersebut.


*****


To be continue...


Follow IG ku ya @vie_junaeni


Mampir juga ke Novelku lainnya.