Anta's Diary

Anta's Diary
Di Dalam Butik Mall



Happy Reading...


*****


Setelah mengantarkan cincin milik Roni ke calon istrinya, Anta diantar pulang oleh Dion. Ponsel gadis itu berdering.


"Siapa, Nta?" tanya Dion.


"Arya."


Dion terdiam seketika kala gadis itu menerima sambungan telepon dari Arya. Ia menekan tombol loud speaker.


"Anta, kok lu ninggalin gue?" seru Arya dari seberang sana.


"Hehehe, habisnya Arya masih tidur tadi Kak Dion ngajak pagi-pagi antar cincinnya," sahut Anta.


"Sekarang di mana?" tanya Arya.


"Di mana ya ini, pokoknya di jalan."


"Nyalain GPS-nya nanti gue ke sana!" sambungan telepon itu berakhir.


Dion menoleh ke Anta.


"Aku mau ngajak kamu nonton, terus makan, ya pokoknya jalan-jalan deh, kan bentar lagi aku bakalan pergi dari sini," ucap Dion.


Anta mengamati wajah pemuda itu yang terlihat muram.


"Ya udah kalau begitu," sahut Anta.


Wajah pemuda itu berubah menjadi tersenyum. Ia lalu melajukan mobilnya ke Mall Kota. Sesampainya di sana, keduanya bertemu dengan Lisna dan Fani.


"Gue udah seneng banget liat Dion, eh di belakang dia Ada kunyuk yang ngikutin," cibir Fani kala melihat keduanya sedang berjalan dari parkiran ke arah dalam mall.


"Udah sih, enggak usah berurusan sama dia," bisik Lisna.


"Ah, gue enggak peduli, apalagi sebentar lagi si Dion mau pergi ke luar negeri, makin susah aja gue gapai," ucap Fani.


"Hai, Dion!" sapa Fani.


"Hai!" Dion langsung menggenggam tangan Anta.


"Berat saingan kamu Fan, udah deh jangan ganggu, kita fokus belanja aja yuk!" ajak Lisna.


Fani menatapnya tajam dan membuat Lisna menunduk.


"Kalian pacaran?" tanya Fani dengan raut wajah sinis.


"Iya. Ayo kita masuk, Nta!" ajak Dion. Gadis itu hanya terdiam dan menatap tak percaya. Sesekali ia menoleh ke arah Fani dan Lisna.


"Awas lho, gue kerjain elo di sini," ucap Fani.


Anta menoleh kepada pocong wanita yang tersenyum kepadanya. Ia sedang bersama hantu pria yang sebulan lalu bunuh diri. Kepalanya miring ke kanan karena lehernya patah. Gadis itu sampai ikut memiringkan kepalanya saat tersenyum ke arah dua hantu itu.


"Kenapa kepalanya miring-miring gitu?" tanya Dion.


"Hehehe... itu si hantu pocong yang ada di mall ini dia udah move on punya pacar baru," sahut Anta seraya tertawa.


"Cuma kamu kayaknya yang ketemu hantu malah ketawa," sahut Dion.


Pemuda itu membawa Anta masuk ke dalam sebuah butik pakaian anak remaja.


"Kok, ke sini? Mau ngapain emangnya?" Gadis itu menahan tangan Dion agar jangan masuk ke dalam.


"Aku mau kamu pakai baju yang di patung itu, lucu banget kan," ucap Dion.


"Tapi Anta enggak bawa uang, lagian baju begitu aja lima ratus ribu, sayang ah ngeluarin duitnya."


"Aku yang beliin kamu kok, anggap aja gadis dari aku. Kamu inget kaus yang kamu kasih buat aku? Ini lagi aku pakai," ucap Dion memperlihatkan kaus yang ia pakai.


"Tapi enggak sebanding harganya sama hadiah Anta."


"Udah sih kamu tinggal pakai aja, kamu harus turutin aku, kalau enggak mau marah nih," ucap Dion.


"Hmmm... ya udah deh, Anta cobain dulu."


Tak lama kemudian, gadis itu keluar dari kamar ganti pakaian dalam butik itu. Gadis itu memakai atasan warna merah muda yang dipadu padankan dengan bawahan rok plisket sepanjang lutut berwarna senada. Di bagian pinggang dipakaikan ikat pinggang berwarna putih yang membuat gadis itu tampak cantik dan trendi.


"Anta risih nih pakai rok kayak gini," ucap Anta.


Tak ada jawaban dari Dion selain tatapan penuh terpesona melihat gadis yang tampil cantik di hadapannya.


"Kak Dion, Anta lagi ngomong!" seru gadis itu seraya menepuk kedua tangannya di hadapan wajah pemuda itu.


"Eh, Anta cantik banget!" sahut Dion.


"Anta emang cantik kok, masa ganteng, hehehe..."


"Cocok banget deh kamu pakai baju pilihan saya, gimana jadi ambil yang ini?" tanya salah satu pramuniaga itu.


"Oke, ambil yang ini. Nanti pas pesta perpisahan aku kamu harus datang pakai baju ini, ya," pinta Dion.


"Oke, tapi sepatunya pakai sepatu skets ya, Anta sakit kakinya kalau pakai hak tinggi," ucap gadis itu.


"Hmmm... sebenarnya lebih cantik pakai sepatu hak tinggi, terus rambutnya dibuat seperti ikal berombak tapi tetap digerai, nanti pakai make up warna senada rada pink gitu," sahut pramuniaga itu mencoba menimpali.


"Hah, si Mbak- nya pakai diarahin segala, makin ribet Anta mencernanya. Ya udah kalau gitu Anta ganti baju dulu," ucap Anta.


Saat Anta berada di dalam ruang ganti, Dion memanggil wanita pramuniaga tadi.


"Mbak, di sini jual sepatu hak tinggi yang cocok sama gaun tadi?" tanya Dion.


"Oh, kalau sepatu ada di toko sebelah, Mas."


"Ummm... gimana ya?"


"Saya lebihan bayarnya, tenang aja," sahut Dion.


"Wah, kalau kayak gitu sih beres, tunggu sebentar ya, Mas."


"Jangan panggil saya, Mas, saya baru 18 tahun, Mbak."


"Aduh, brondong tajir ini mah, saya panggil apa dong?"


"Panggil adek aja enggak apa," sahut Dion.


"Oke ganteng, tunggu sini ya," ucapnya seraya mencolek dagu Dion.


"Ih... Kalau Anta yang colek gue kayak gitu sih gue girang, kalau dia mah gue geli," gumam Dion.


"Colek-colek gimana?" tanya Anta yang baru saja keluar dari ruang ganti itu.


"Eng-enggak kok, bukan apa-apa." Dion menyeka bulir keringat di dahinya.


Salah satu pramuniaga wanita datang mencari temannya yang tadi Dion perintahkan untuk mencari sepatu bagi Anta.


"Lho, si Mita temen saya di sini mana?" tanya pramuniaga itu.


"Tadi saya minta tolong ke toko sebelah, Mbak," jawab Dion.


Namun, Anta melihat keanehan pada wanita di hadapannya itu. Ada sosok hantu pria berwajah pucat yang mengikuti wanita tersebut. Lidahnya terjulur keluar dan ada bekas jeratan di leher hantu tersebut.


"Kalian ngerasa hawanya panas banget enggak sih?" tanya wanita tersebut.


"Enggak kok, malahan AC di dalam butik ini berasa dinginnya," ucap Dion.


"Kok aku gerah banget ya?" ujarnya seraya mengibas-ngibaskan tangan di hadapan wajahnya.


Anta masih terdiam dan mengamati sosok hantu pria di belakang wanita itu.


"Wina, ini biar gue aja yang layani ya," ucap wanita pramuniaga tadi seraya membawa kotak sepatu di tangannya.


"Oke, gue pikir elo ngabur kemana. Duh, kanada banget enggak sih, gue gerah banget. Gue ke sana dulu ya," ucap wanita bernama Wina itu lalu bergerak ke sudut ruangan merapikan pakaian di sana.


Anta masih mengamati dengan saksama sosok hantu pria tersebut yang terus saja mengikuti wanita bernama Wina. Hantu itu menyeret langkahnya dan selalu berada di belakang wanita itu.


"Anta, kamu liat apa sih?" tanya Dion.


"Sini ikut Anta!" Gadis itu menggandeng tangan Dion lalu menyentuh bahu hantu tersebut. Hantu itu menoleh dan langsung membuat Dion berteriak.


"Eh, ada apa ini?" tanya Wina.


"Anta, itu barusan apaan serem banget," ucap Dion dengan tubuh gemetar dia sangat ketakutan.


"Mbak, ngerasa gerah terus ya?" tanya Anta.


"Terus kenapa emangnya?"


"Sini Anta pinjem tangannya," ucap Anta.


Gadis itu memperlihatkan sosok hantu pria yang dari tadi mengikuti Wina.


"Jo-jo-johan, kamu kan..."


Wina jatuh tak sadarkan diri kemudian. Anta dan Dion segera menolong pramuniaga itu.


"Ada apaan sih, kok si Wina pingsan gitu?" tanya Mita, pramuniaga satunya.


"Nanti aja jelasinnya, Anta minta minyak kayu putih ada, buat bikin Mbak ini siuman," ucap Anta.


"Ada, bentar ya."


Wina direbahkan di sofa tanpa sandaran yang biasa digunakan oleh tamu. Setelah menghirup aroma minyak kayu putih, akhirnya wanita itu sadar. Ia lalu menoleh ke kanan dan ke kiri juga ke sekeliling ruangan.


"Tadi aku lihat—"


"Dia masih ada di samping Mbak, kok," ucap Anta.


"Huhuhu..." Wina langsung menangis histeris.


"Win, elo kenapa?" tanya Mita.


"Gue lihat Johan dan katanya dia ada di samping aku sekarang," ucap Wina.


"Di samping elo kan gue, waduh berarti gue dudukan si Johan dong," ucap Mita yang memang sedari tadi duduk di pangkuan hantu pria itu.


Mita langsung berpindah tempat.


"Tuh hantu diem aja didudukin, mentang-mentang cewek yang dudukin dia," bisik Dion masih ketakutan bersembunyi di belakang punggung Anta.


"Yang bikin Mbak gerah tuh karena dari tadi hantu itu ngikutin mbak terus," ucap Anta.


"Nah lho, cinta mati si Johan sama elu tuh, Win," sahut Mita.


"Huhuhu... terus gimana dong, gimana caranya gue buat dia pergi dari gue?" tanya Wina dengan paniknya.


*****


To be continue...


Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Kalau masih versi lama nanti enggak dihitung.


Selamat menjalankan ibadah puasa.