
Happy Reading...
*****
Para pengikut Nyi Ageng mengikuti Nyonya Karina untuk menghadang Anta dan Arya.
"Halo, selamat datang di galeri antik milikku. Akhirnya kalian datang juga," ucap Karina.
"Maaf, saya ke sini cuma mau cari teman saya!" hardik Arya berusaha melindungi Anta dengan menarik gadis itu ke belakang punggungnya.
"Arya, itu bukannya Mamanya Ria," bisik Anta.
Arya menelisik ke arah wanita bertudung hitam itu tetapi wajahnya masih terlihat.
"Kayaknya iya deh," ucap Arya.
Nyonya Mia juga terperanjat kala melihat dua anak muda itu ia kenal. Kenapa bisa Nyonya Karina mengincar anak-anak ini, batinnya.
Mardi dan Sumi yang selesai membersihkan meja pemujaan tadi dari darah Lisna sudah kembali ke hadapan Karina.
"Nyonya, ada yang berhasil masuk ke ruang pemujaan, seorang pemuda dan gadis, tetapi tenang saja, dua orang itu sudah kami sekap," ucap Mardi yang datang melapor.
"Baguslah, mana tau saya butuh darah pemuda yang segar untuk tambahan," ucap Karina.
Arya dan Anta berusaha untuk mundur beberapa langkah dan berniat kabur, tetapi Harjuna dan seorang pria lainnya pengikut sekte sesat itu sudah menghadang keduanya.
"Kalian mau ke mana? Jangan buru-buru seperti itu, pesta kami saja belum dimulai," ucap Karina dengan senyum menyeringai.
"Ya, pesta apaan sih, emang dia mau ulang tahun?" tanya Anta dengan polosnya.
"Hush, kamu mah bercanda aja, perasaan aku enggak enak nih," sahut Arya.
"Tangkap anak itu dan bawa ke ruang pemujaan!" seru Karina pada Harjuna.
"Mardi, pastikan anak-anak muda di depan sana sudah pulang, dan jangan ada siapapun yang masuk ke rumah ini!" seru Karina pada pria itu.
"Baik, Nyonya."
Para penyembah Nyi Ageng yang jahat itu membawa Anta dan Arya masuk ke dalam kamar pemujaan. Tempat yang gelap dan lembab.
Harjuna mendorong Arya sampai jatuh ke lantai.
"Pemuda itu terkejut tatkala melihat Arga dan Ria yang sudah terikat dan tak sadarkan diri kala itu.
"Arga, Ria?" Anta berseru memanggil dua kawannya.
"Ria, Ria anaknya Mami, kamu ngapain di sini?" Mia langsung menghamburkan diri memeluk anaknya seraya mencoba membangunkan putrinya itu.
"Sudah hentikan, biarkan saja, kita fokus pada dua anak ini saja. Ini akan menyenangkan dan aku sudah menyukainya," ucap Nyonya Karina.
"Tapi, Nyonya... kau tak akan menyakiti anakku, kan?"
"Hmmm... bagaimana ya, kalau seandainya aku butuh darah segar miliknya, maka siapa tau aku bisa membutuhkannya." Karina tersenyum menyeringai.
"Tidak! Aku tidak akan biarkan itu terjadi, kau tak boleh menyentuh putriku bahkan untuk sehelai rambut pun!" tegas Mia.
"Sumi, urus dia!" seru Karina.
Sumi menarik Nyonya Mia dan mengurung wanita itu di sebuah ruangan. Wanita itu berusaha berteriak dan menggedor pintu berkali-kali.
"Ria, bangun Ria!" seru Mia dari dalam kamar tersebut.
Harjuna dan Mardi lalu mengikat Arya di kursi itu, sementara dua orang wanita mengikat Anta di meja persembahan itu. Semua yang ada di sana lalu berdiri memutari Anta. Mereka bersiap melakukan pemanggilan Nyi Ageng.
Mardi menyayat pergelangan tangan Arya dan membuat darah segar itu mengucur ke sebuah cawan emas yang ada di tangan Mardi.
"Aaarrggghh... Dasar kodok buntung!" pekik Arya kesakitan seraya memaki Mardi yang wajahnya mulai terlihat penuh dengan bintil-bintil berbau busuk.
"Kenapa? Kau takut ke padaku?" lirih Mardi di hadapan wajah Arya.
Cuih!
Arya meludah ke wajah pria tersebut dengan perasaan jijik.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Arya sampai membuat Anta menjerit melihatnya.
"Hentikan, jangan sakiti dia!" pekik Anta berteriak dan berusaha meronta agar terlepas dari ikatan di atas ranjang itu.
"Kau harusnya berterima kasih kepada kami, karena pemuda itu akan tiba lebih cepat menyusul ibunya yang sudah mati, iya kan Arya?" Karina menoleh pada Arya yang masih saja mengerang. Namun, perlahan-lahan tubuh pemuda itu mulai melemah.
"Nanti akan ada gilirannya untukmu, wahai Anta tersayang... hahahaha...." tawa Karina makin menggelegar.
"Kenapa pada diam? Ayo, kalian juga tertawa bersama saya!" seru Karina memerintahkan pada semua pengikut Nyi Ageng itu.
"Hahahaha....!"
Banyak tawa membahana terdengar di ruangan permukaan tersebut.
"Dasar Mardi sialan! Pasti gadia tadi bukan perawan, darahnya busuk dan membuat aku seperti ini, dasar gadia sial...!" teriak Sumi meratapi dirinya kala itu.
***
Tasya dan Herdi sampai ke galeri antik yang sudah sepi itu. Mereka bertemu dengan Anan dan Dita.
"Kalian kok cuma berdua, Anta sama Arya mana?" tanya Herdi.
"Nah, itu dia, kita udah muter-muter keliling galeri enggak ada itu anak-anak, gue enggak tau lagi kemana harus cari mereka, mana hape mereka enggak aktif lagi," jawab Anan.
Herdi lalu memastikan untuk menghubungi nomor Arya yang ternyata benar tidak aktif.
"Terus gimana, dong?" tanya Tasya.
"Aku ngerasa tuh kayaknya ada sesuatu yang Buat kita enggak bisa lihat ke dalam galeri deh, semacam pagar gaib gitu," ucap Dita.
"Oh, bentar." Tasya merogoh kalung pemberian ibu Aiko di sakunya lalu menyerahkannya kepada Dita.
"Ibu Aiko kasih ini buat kamu, dia dapat mimpi untuk menyerahkan kalung itu ke kamu," ucap Tasya.
"Kamu yakin ini akan baik-baik aja, kamu tau kan dulu Mami kayak apa," sahut Dita.
"Tapi sekarang kan ibu Aiko udah baik, kan? Enggak ada salahnya dipakai dulu, baik buruknya kita tanggung bersama ya," ucap Tasya.
Dita masih terlihat ragu, lalu ia menoleh ke arah Anan yang mencengkeram bahunya lembut lalu mengangguk.
"Coba aja pakai," pinta Anan.
Akhirnya Dita memakai kalung tersebut yang dibantu oleh Anan. Perlahan-lahan cahaya berwarna ungu datang memancar menghujani tubuh wanita itu. Bahkan ia kini bisa melihat dengan jelas ke dalam galeri yang sedari tadi diberi pagar gaib oleh Mardi.
"Kalian pada mundur dulu ya, aku akan hancurkan pembatas gaib itu," ucap Dita.
"Nah, aku suka nih kalau Ratu Kencana Ungu kembali ke Dita kayak gini," ucap Tasya.
"Ratu Kencana Ungu?" Anan dan Herdi menyahut bersamaan.
"Yes, benar, tepat, dan bingo! Inilah Ratu Kencana Ungu." Tasya menunjuk ke arah Dita dengan bangga.
Duaarrr... Duarrr... Cahaya ungu yang terpancar dari tenaga dalam Dita itu menghancurkan pembatas gaib yang menyelimuti galeri antik milik Nyonya Karina.
"Kita masuk sekarang!" ajak Dita.
"Oke, tunggu sebentar, aku ambil tongkat bisbol yang biasa aku bawa di mobil," ucap Tasya.
"Wuih, sangar juga si Tasya," sahut Herdi.
"Sekalian alat kejut listrik, Sya!" Dita berteriak pada wanita itu.
"Oke!"
Herdi menoleh pada Anan.
"Elo siap, Bro?" tanya Herdi.
"Gue selalu siap, mari selamatkan anak kita!" sahut Anan penuh dengan ketegasan dan keberanian.
Empat orang itu melangkah layaknya superhero yang bersiap menghadapi para musuh di medan laga. Anan bersiap dengan ikat pinggang miliknya yang baru saja ia lepas. Herdi bersiap dengan tongkat bisbol pemberian istrinya. Sementara Tasya bersiap dengan alat kejut listrik di tangannya.
"Kalian semua siap?" tanya Dita.
"SIAP!"
Kompak semuanya menjawab bersamaan.
Brug!
Ujung sepatu Tasya tersangkut di keset merah bertuliskan "welcome" sampai membuatnya terjatuh.
"Aduh... sayangku kamu enggak apa-apa?"
Herdi membantu wanitanya untuk berdiri.
"Lumayan sakit, lutut aku perih hehehe..."
Tasya bangkit dan kembali berdiri tegak lalu bersiap masuk ke dalam galeri lebih dalam.
"Mari, kita hantam mereka!" seru Tasya.
****
To be continue...
Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Ayo dong, mana votenya.🥰🥰🥰
Selamat menjalankan ibadah puasa.