Anta's Diary

Anta's Diary
Berkumpul Kembali



Jangan lupa bayar cerita ini dengan cara kumpulin poin buat VOTE ya ke Anta. terima kasih...


*******


Anta langsung menghampiri Arga. Pemuda itu merentangkan kedua tangannya di hadapan gadis cantik berkuncir satu itu. Ia berharap sang gadis akan memeluknya.


Plak!


Tamparan pelan mendarat di pipi kanan Arga.


"Kok, aku ditampar?" tanya Arga.


"Lagian, kamu enggak bilang-bilang kalau udah balik," seru Anta.


Mey juga ikut menghampiri Arga.


"Sini, aku aja yang peluk," ucap Mey.


"Nah gitu dong kayak Mey, apa kabar, Mey?" tanya Arga memeluk gadis itu sebentar.


Ia masih beralih menatap Anta dan berharap gadis itu akan memeluknya. Tadinya memang gadis itu akan memeluk Arga, tapi Arya langsung menghadang pelukan tersebut dan menggantikan Anta memeluk Arga.


"Ngapain elo peluk gue?" hardik Arga.


"Ucapan selama datang, dan selamat atas keberhasilannya ngalahin tim gue," ucap Arya.


"Siapa sih dia?" tunjuk Arga.


"Ini Dion, ketua osis di sini," ucap Mey.


"Oh, mentang-mentang ketua osis terus belagu gitu," ucap Arga.


"Mey, kamu dipanggil sama Ria, tuh di sana!" Anta menunjuk Ria, dia berbohong agar Mey pergi dari situ sebentar.


"Oke," jawab Mey lalu ia melangkah menghampiri Ria.


Arga meraih sebotol air mineral dan menenggak air tersebut.


"Sebenarnya ini Arya," ucap Anta menepuk punggung Arya.


"Bbbuuuaahhh!" semburan air mineral dalam botol itu menghujani wajah Arya dan Anta.


"Apa kamu bilang, dia Arya?" tunjuk Arga.


"Iya, dia Arya, nanti deh aku ceritain, ceritanya panjang banget, asal Mey jangan sampai tahu," bisik Anta.


Kedua mata Arga berkaca-berkaca mendengar penuturan Anta barusan. Ia menghampiri Arya dan menepuk pipi pria itu berkali-kali dan menatap tak percaya.


"Elo, Arya? Si rese itu?"


Arga langsung menarik tubuh Arya dan memeluknya erat seraya menangis. Setahun belakangan ini ia mengalami depresi akibat kematian Arya. Pria muda itu merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan Arya dan selalu dihantui rasa bersalah.


Sampai akhirnya ia mendapat pengobatan dan seorang psikiater dan membuatnya bangkit dari rasa bersalah sehingga Arga berani untuk kembali ke kota itu.


"Maafin gue, Ya, maafin gue," ucap Arga diiringi tangisan yang makin pecah.


Jojo dan Ferdian yang berpikir kalau akan ada perkelahian antara sosok Arga dan Dion itu langsung menghampiri. Tapi, mereka malah mendapati sosok keduanya saling menangis dan berpelukan.


Anta berkali-kali menyeka buliran bening yang membasahi pipinya. Rasanya tak sabar untuk menuliskan catatan hariannya hari itu kala melihat dirinya kembali bersama Arya dan Arga.


"Gimana, kalau kita makan bakso?" tanya Anta mencoba menawarkan.


"Boleh, nanti aku yang traktir," ucap Arga.


"Asik, ajak Mey sama Ria juga, ya?" pinta Anta.


"Oke, yuk!" Arga merangkul bahu Anta tapi langsung ditepis oleh Arya.


"Enggak usah pegang bisa, kan? Emang elo udah jompo yang kalau jalan minta ngerangkul sama dirangkul, hah?" sela Arya.


"Masih aja sewot, luh!" sahut Arga.


"Dion!" seru Fani.


Suaranya menggema saat memanggil pria itu.


"Kamu mau ke mana, aku ikut, ya?" pinta Fani.


"Ngapain sih ikut-ikut, gue mau ngumpul dulu sama temen gue," sahut Dion.


"Temen elo, temen elo yang mana? Jojo sama Ferdian aja di sana!" tunjuk Fani.


"Temen gue yang ini, jadi maaf ya jangan ikut!"


"Tapi, kita kan pacaran, udah dari sebulan yang lalu, lho," ucap Fani dengan tatapan manja dengan mengedip-ngedipkan kedua matanya. Ia menunjukkan sisi imut dari dirinya.


"Elo kenapa, cacingan?" tanya Arya.


"Mereka pacaran, Nta?" bisik Arga.


"Enggak tau, mungkin iya, mungkin enggak," jawab Anta.


Bisikan Arga pada Anta terdengar sampai ke telinga Arya yang langsung membuatnya kesal.


Anak muda itu langsung pergi meninggalkan Fani yang menatap kesal seraya tak lupa meraih tangan Anta.


"Woi, enak aja main gandeng!" seru Arga yang berlari kecil menyusul Arya dan Anta.


***


Malam itu, Tasya yang baru saja pulang dari belanja bulanan bersama Raja, mengalami kendala pada mesin mobilnya. Ia terpaksa menepi dan menghubungi mobil derek untuk datang membawa mobilnya.


Suara cekikikan terdengar tak jauh dari tempatnya berdiri. Kebetulan jalanan yang ia lalui lumayan sepi dan jarang kendaraan yang lalu lalang di sana.


"Hmmm... perasaan enggak enak, nih," gumam Tasya.


"Kayak ada yang ketawa, Tante ketawa ya barusan?" tanya Raja yang mengeluarkan sebagian kepalanya dari kaca jendela.


"Bukan Tante, mungkin penghuni deket sini," sahut Tasya.


Raja kemudian ke luar dari mobil sambil menggenggam game boy di tangannya.


"Kalau bukan Tante, berarti ada yang lain nih yang ketawa," ucap Raja.


Benar saja dugaan anak itu dan Tasya mengenai sosok lain karena tak jauh dari tempatnya berdiri melayang sosok hantu perempuan menggunakan daster lusuh. Saat hendak turun ke hadapan Tasya, hantu itu tak sengaja mendarat terlalu cepat sampai menabrak tiang listrik.


"Duh, padahal udah latihan terbang, masih aja nabrak," keluh hantu itu.


Awalnya Tasya dan Raja sudah bergidik ngeri melihat hantu perempuan tersebut, akan tetapi karena adegan pendaratan yang tak mulus barusan mampu membuat keduanya tertawa sampai terbahak-bahak.


"Hahaha... hantu kocak!" seru Raja sampai memegangi perutnya yang sakit.


Hantu perempuan itu menoleh, lalu ia tersenyum menyeringai. Dia melangkah perlahan maju menghampiri Tasya dan Raja. Wajah hantu itu pucat penuh guratan urat nadi yang menghitam. Permukaan wajah hantu itu juga terlihat retak.


Di bagian kedua matanya menghitam seperti mata panda.


Ia makin mendekat lalu berhenti tepat di hadapan Tasya. Tiba-tiba ia merogoh sesuatu dari bawah roknya. Sesuatu itu ia ambil menggunakan kedua tangannya. Terlihat gumpalan darah merah atau seperti daging segar dengan sesuatu menyerupai tali pusar itu ia tarik paksa. Seonggok daging penuh darah itu menggeliat. Semakin dipandang semakin jelas kalau sesuatu yang ada di tangan hantu perempuan itu menyerupai bayi manusia.


Dan benar saja ternyata sesuatu yang dipegang hantu iu merupakan seonggok bayi yang belum sempurna. Ari-ari dan tali pusar masih menyambung ke tubuh si hantu perempuan pada bagian bawahnya.


"Aaaaaaaa jauhkan itu dariku...!" pekik Tasya berusaha berteriak sekuat tenaganya lalu bersembunyi di belakang Raja.


"Kok, malah ngumpet di belakang aku, sih?" keluh Raja.


"Apa kau mau melihat anakku?" tanya hantu perempuan itu dengan senyum menyeringai.


"Enggak mau ih serem!" sahut Tasya.


"Hihihihi... bukankah anakku terlihat menggemaskan, bukan?"


Hantu itu masih menyodorkan gumpalan daging menyerupai bayi yang belum sempurna wujudnya itu ke arah Raja.


"Tunggu sebentar," ucap Raja.


Anak itu melangkah menuju mobil dan meraih scarf milik Tasya.


"Ja, itu mau diapain?" tanya Tasya.


"Kasian Tante, adek bayinya kedinginan gitu nanti, buat dia aja, ya," ucap Raja menyerahkan kain scarf itu menutupi si bayi yang berada di tangan hantu perempuan itu.


"Lagian, Tante, udah malam tau, enggak baik bawa bayi enggak pakai baju gitu, nanti masuk angin, lho. Mending Tante pulang!" ucap Raja.


Hantu wanita itu menatap tak percaya. Tugasnya malam itu adalah menakuti manusia, tapi manusia yang sedang ia takuti itu malah terlihat biasa saja.


"Tapi, ini memang pekerjaan saya," ucap hantu perempuan itu.


"Wah, parah! Kaya pengemis atau pengamen nakal yang suka bawa anak kecil aja pas lagi ngemis biar banyak yang kasian, ini tindakan tidak terpuji, eksplorasi anak namanya," ucap Raja.


"Ja, eksploitasi anak," sahut Tasya menepuk bahu anak laki-laki itu.


"Oh iya, itu namanya, kasian kan, masa masih kecil udah diajak kerja, mana kerjanya nakutin orang lagi, mending Tante pulang dulu, dedek bayinya taruh rumah!" ucap Raja.


Hantu perempuan itu masih menatap Raja dengan heran. Akan tetapi karena anak itu terus mendorong dia untuk pergi. Ia malah menurut dan melangkah pergi menjauh membawa bayinya.


"Hati-hati ya, Tante, kalau belum bisa terbang banget mending jalan kaki," ucap Raja.


Hantu perempuan itu menganggukkan kepalanya mengiyakan lalu tak lama kemudian menghilang.


Tin... Tin!


Suara klakson mobil terdengar menghampiri Tasya dan Raja.


******


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni


Dan mampir juga ke novelku lainnya.