Anta's Diary

Anta's Diary
Mencari Anta (Part 2)



Ayo, kumpulkan poin kalian buat


VOTE, bayar ceritaku dengan poin kalian udah seneng banget lho buat Vie.


 Terima kasih…


*******


“Ya, maaf. Habisnya gue takut, Ja, kita udah kayak liat para zombie yang badannya enggak lengkap gitu juga lagi,” ucap Arya.


“Sekarang tunjukin sama Tante tadi


pohon besarnya di mana?” tanya Tasya.


“Tuh, ke arah sana dekat danau!”


tunjuk Raja ke arah sebelah kanannya.


Para karyawan taman hiburan sudah


mulai ke luar dari area tersebut sehingga hanya tinggal mereka bertiga dan penjaga taman alias satpam.


“Satpam tadi ke mana?” tanya Tasya.


“Enggak tau, katanya mau ke kamar


mandi,” jawab Raja.


“Ngerasa enggak sih, kalau ada yang


aneh,” bisik Arya.


“Aneh gimana?” Tasya menoleh pada


pemuda itu.


“Suasana taman hiburannya kenapa


berubah, lihat deh!”


Tak ada lagi wahana permainan yang


terlihat seperti tadi kecuali bangunan restoran dan kebun kosong disertai sebuah danau yang


mereka lihat.


“Kok, berubah kayak gini, ya?”


gumam Tasya.


Sejurus kemudian, datang sepasang


kekasih yang terlibat adu mulut mendatangi tepi danau.


“Itu kan, Kakak hantu yang tadi aku


temui dekat pohon besar,” ucap Raja.


“Jadi, mereka hantu, Ja?” tanya


Tasya.


“Coba perhatiin, kayaknya mereka


enggak lihat kita deh,” tunjuk Arya.


Tasya menatap ke arah pasangan


tersebut, ia mengamati sosok pria yang berada di hadapan hantu perempuan


bernama Sherly itu.


“Kok, kayak pernah lihat di mana


gitu, ya?” gumam Tasya.


Tasya dan lainnya kembali menyimak


adegan pertengkaran di hadapan mereka. Raja yang lelah sampai duduk di atas


rerumputan mengamati. Arya ikut duduk di sampingnya.


"Kita enggak apa-apa nih ngeliatin orang berantem kayak nonton bioskop gini?" tanya Arya.


"Ssstt... udah simak aja!" tegas Tasya.


“Aku enggak mau tangung jawab, ya,


bisa jadi kan anak di kandungan kamu itu hasil dari banyak pria,” seru si pria.


“Kurang ajar kamu, Mas!”


Plak!


Sherly menampar si pria tersebut


dengan tamparan yang keras.


“Dasar perempuan sial, aku tau kamu


sering jalan sama karyawan sini bukan sama aku aja,” seru si pria.


“Aku memang sering jalan sama


mereka, sering pulang bareng, tapi aku enggak tidur sama mereka, ini anak kamu,


Mas!” pekik Sherly.


“Aku enggak percaya, gugurin aja


kandungin kamu itu!”


Si pria melempar sejumlah uang ke wajah


Sherly yang makin menangis saat terkena pukulan lembaran kertas uang itu.


“Heru! Aku akan ingat perbuatanmu


ini!” pekik Sherly yang duduk berlutut seraya menangis itu.


Gadis itu sangat terpuruk mendapat


perlakuan buruk dari si pria, lalu gadis itu menghilang dari hadapan Tasya dan


lainnya.


“Tante kenal sama tuh cowok, Tante pernah


lihat tapi lupa di mana, siapa tadi namanya?”


Tasya menoleh pada Arya dan Raja.


“Heri, apa Heru tadi namanya, ya?” Raja


menoleh pada Arya.


“Heru, namanya Heru,” jawab Arya.


“Nah, Tante ingat, dia itu teman


ayah kamu waktu Tante jemput Anta di sekolah,” tegas Tasya.


“Temannya ayah, berarti ayah saya


kenal sama dia, Tante?” tanya Arya.


Tasya mengangguk meskipun masih ada


keraguan dan ketidakpastian terpancar di wajahnya.


“Eh, Kakak itu balik lagi,” seru Raja menunjuk Sherly yang tiba-tiba muncul kembali.


Sherly kembali dengan membawa tali


tambang menuju pohon besar dekat danau. Ia naik ke pohon besar itu dan membuat


simpul tali di sana dan bersiap untuk menjerat lehernya sendiri.


Tasya yang panik langsung menarik


tangan Arya dan Raja, “ayo, kita tolong dia, buruan!”


“Tunggu, jangan lakukan itu! Kita


bisa bicarakan baik-baik, kamu masih muda, nanti kalau kamu bunuh diri udah


tuanya mau jadi apa,” seru Tasya mencoba menahan kaki Sherly.


Tiba-tiba, sosok Sherly yang


sudah tergantung dengan bekas jeratan mengerikan di lehernya langsung muncul di


hadapan Tasya mengejutkan wanita itu sampai jatuh tersungkur ke belakang.


“Astagfirullah…” pekik Tasya.


Arya dan Raja mencoba membangunkan


tubuh Tasya yang terjatuh di tanah itu.


“Lagian Tante, orang udah mati


bunuh diri masih dipikirin udah tuanya mau jadi apa,” keluh Raja.


“Apa kau mau menemaniku di sini?”


tanya hantu Sherly dengan suara parau dan menyeramkan.


“Enggak, enggak usah, saya masih


mau hidup bahagia, saya masih punya cita-cita pengen punya kontrakan seratus pintu,” jawab


Tasya.


“Wuih, bakal tajir tuh, Tante,”


sahut Raja.


“Kamu anak yang tadi ‘kan?”


Sherly menepuk bahu Raja.


“Hidih belatungnya lompat di tangan


aku, idih geli,” sahut Raja langsung berjingkrak-jingkrak ketakutan kalau ada


belatung menempel di tubuhnya.


“Nah, berarti ini yang nemuin


hapenya Anta, mana hape keponakan saya?” pinta Tasya.


“Oh, tak semudah itu, aku tadi mau


minta es krim sama anak ini,” tunjuk Sherly.


“Astaga, duit Raja habis tadi


dipalakin para hantu sini yang minta es krim sama aku, minta Tante Tasya aja,


tuh!”ucap Raja yang bersembunyi di belakang punggung Tasya.


“Cariin es krim, Ya!” ucap Tasya


gantian menoleh pada Arya.


aja besok gue kasih es krim yang ukuran satu liter, gue taro di pohon rumah elo


ini, gimana, kak?” tanya Arya menawarkan.


“Hmmm, tapi janji ya, kalau kamu


bohong, aku bakal gentayangin kamu,” ancam Sherly.


“Jiah, gue juga aslinya gentayangan, ini aja masuk ke tubuh manusia enggak bisa keluar, lagian elo tuh


harusnya gentayangin cowok tadi,” seru Arya.


“Huaaa… aku enggak bisa gentayangin


dia, aku sayang banget sama dia, huaaaa….”


Hantu Sherly langsung duduk di


tanah dan merengek layaknya anak kecil yang meminta permen.


“Ckckckck… lemah banget otak kamu,


masih banyak cowok di dunia ini bukan dia doang, kalau aja kamu enggak bunuh


diri, kamu bisa laporin tuh cowok ke polisi buat tanggung jawab, biar jera


sekalian, bukannya malah nyerah bunuh diri, ya enak tuh cowok dong malah bisa


bebas dari tanggung jawab,” ucap Tasya.


“Huaaa… aku makin nyesel dengernya,


huhuhuhu....”


“Nasi udah jadi bubur,” ucap Arya.


“Udah basi juga malah,” sahut Raja.


“Udah enggak enak tuh berlendir,


benyek juga,” sahut Arya lagi.


“Pada ngomong apa, sih?” seru Tasya


melirik tajam pada dua pria muda di sampingnya itu.


Raja dan Arya langsung diam dan saling menabrakkan bahu dan mendorong satu sama lain.


“Udah gini ya, siapa nama kamu?”


tanya Tasya.


“Sherly.”


“Sherly, mana hape keponakan saya,


terus kamu lihat enggak dia ada di mana?” tanya Tasya.


“Sebentar, saya ambilkan,” ucap


Sherly.


Tak lama kemudian, ia kembali


membawa tas ungu milik Anta dan menyerahkannya pada Tasya.


“Nih, wajahnya kayak gini,” ucap


Tasya memperlihatkan foto Anta dari layar ponsel gadis itu.


“Enggak lihat,” jawab Sherly.


“Duh, udah lama ngobrol di sini,


sampai masuk alam gaib gini, eh dia bilang enggak tau soal Anta,” keluh Tasya.


“Jangan-jangan Kak Anta masuk ke


danau, tadi Raja lihat anak kecil wajahnya di permukaan danau,” ucap Raja.


“Jangan ke sana! Kalau makhluk itu


lapar, ia bisa menyantap kamu,” cegah Sherly.


“Makluk apalagi in, monster apa


hantu?” tanya Tasya.


“Iblis jahat pemakan anak kecil,”


ucap Sherly.


“Maksudnya?”


“Pembangunan taman bermain ini


memakai beberapa bagian tubuh anak-anak, lalu sisa tubuh mereka di buang ke


danau itu untuk di makan iblis penunggu danau,” ucap Sherly.


“Jadi bener kan, Om Hartono pemilik


taman hiburan ini memakai tumbal anak-anak seperti yang dibicarakan Nenek


Lampir Hyena waktu itu,” ucap Arya.


“Berarti Kak Anta di makan monster


itu dong!” seru Raja.


“Raja, kalau ngomong jangan


sembarangan!” sahut Tasya menepuk bahu Raja.


“Tapi, hari ini tak ada anak yang


masuk ke danau, tak ada tumbal,” ucap Sherly.


“Berarti Anta enggak ada di dalam


danau, coba kita keliling cari Anta, yuk!” ajak Arya.


“Kita berpencar, bagaimana?” tanya


Tasya.


“Saya sama Raja, Tante sama hantu itu,”


ucap Arya.


“Hmmm… kok aku yang enggak enak


dapat jatahnya,” sahut Tasya.


“Daripada mencar sendiri-sendiri,


atau bareng anak-anak kayak zombie itu, mau?” tanya Arya.


“Enggak usah, deh, ayo Sherly,


temenin cari Anta!” ajak Tasya menarik lengan Sherly dan membuat hantu itu


terkejut.


“Kok, bisa sentuh saya?” tanya


Sherly.


“Aku, mereka dan Anta, bisa sentuh


kamu, jadi kamu jangan heran, kita udah biasa temenan sama sebangsa kamu, yang


musuhan juga ada, sih. Udah sekarang, ayo ikut temenin!” ajak Tasya.


Mereka kembali ke alam sebelumnya.


Lingkungan sekitar mereka itu telah kembali menjadi taman hiburan seperti tadi.


Akan tetapi, saat mereka kembali, mereka menemukan tubuh sang penjaga taman


hiburan sudah terbaring di tanah tak sadarkan diri.


“Dia mati apa pingsan, Kak?” tanya


Raja mendorong lengan Arya untuk maju menghampiri tubuh penjaga itu.


“Kok gue, sih, yang ngecek, elo


yang mudaan maju lah buat ngecek,” ucap Arya.


“Lah, di mana-mana yang tuaan


melindungi yang muda dan maju duluan, makanya Kak Arya duluan yang cek!” pinta


Raja.


“Lama nih, pada ribut aja bisanya,”


ucap Tasya langsung maju mengecek tubuh penjaga itu.


“Masih hidup dia, paling pingsan


ketemu hantu, bantuin bopong pinggirin ke sana!” seru Tasya.


Setelah menepikan si penjaga, Tasya


dan Sherly melangkah ke kanan sementara Raja dan Arya ke kiri untuk mencari


Anta. Mereka berseru memanggil nama Anta berkali-kali agar terdengar.


“Kak Arya, kaki Raja kok berasa


berat, ya?” ucap Raja yang menarik lengan Arya agar menghentikan langkahnya


sejenak.


“Kenapa lagi, sih?” tanya Arya


menoleh pada Raja dengan tatapan kesal.


“Kaki aku berat, ini ada apanya,”


ucap Raja.


Arya menelisik ke tubuh bagian


bawah anak itu.


“Ja, i-itu, itu…”


*******


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni


Dan mampir juga ke novelku lainnya.