
Ayo, kumpulkan poin kalian buat
VOTE, bayar ceritaku dengan poin kalian udah seneng banget lho buat Vie.
Terima kasih…
*******
“Ya, maaf. Habisnya gue takut, Ja, kita udah kayak liat para zombie yang badannya enggak lengkap gitu juga lagi,” ucap Arya.
“Sekarang tunjukin sama Tante tadi
pohon besarnya di mana?” tanya Tasya.
“Tuh, ke arah sana dekat danau!”
tunjuk Raja ke arah sebelah kanannya.
Para karyawan taman hiburan sudah
mulai ke luar dari area tersebut sehingga hanya tinggal mereka bertiga dan penjaga taman alias satpam.
“Satpam tadi ke mana?” tanya Tasya.
“Enggak tau, katanya mau ke kamar
mandi,” jawab Raja.
“Ngerasa enggak sih, kalau ada yang
aneh,” bisik Arya.
“Aneh gimana?” Tasya menoleh pada
pemuda itu.
“Suasana taman hiburannya kenapa
berubah, lihat deh!”
Tak ada lagi wahana permainan yang
terlihat seperti tadi kecuali bangunan restoran dan kebun kosong disertai sebuah danau yang
mereka lihat.
“Kok, berubah kayak gini, ya?”
gumam Tasya.
Sejurus kemudian, datang sepasang
kekasih yang terlibat adu mulut mendatangi tepi danau.
“Itu kan, Kakak hantu yang tadi aku
temui dekat pohon besar,” ucap Raja.
“Jadi, mereka hantu, Ja?” tanya
Tasya.
“Coba perhatiin, kayaknya mereka
enggak lihat kita deh,” tunjuk Arya.
Tasya menatap ke arah pasangan
tersebut, ia mengamati sosok pria yang berada di hadapan hantu perempuan
bernama Sherly itu.
“Kok, kayak pernah lihat di mana
gitu, ya?” gumam Tasya.
Tasya dan lainnya kembali menyimak
adegan pertengkaran di hadapan mereka. Raja yang lelah sampai duduk di atas
rerumputan mengamati. Arya ikut duduk di sampingnya.
"Kita enggak apa-apa nih ngeliatin orang berantem kayak nonton bioskop gini?" tanya Arya.
"Ssstt... udah simak aja!" tegas Tasya.
“Aku enggak mau tangung jawab, ya,
bisa jadi kan anak di kandungan kamu itu hasil dari banyak pria,” seru si pria.
“Kurang ajar kamu, Mas!”
Plak!
Sherly menampar si pria tersebut
dengan tamparan yang keras.
“Dasar perempuan sial, aku tau kamu
sering jalan sama karyawan sini bukan sama aku aja,” seru si pria.
“Aku memang sering jalan sama
mereka, sering pulang bareng, tapi aku enggak tidur sama mereka, ini anak kamu,
Mas!” pekik Sherly.
“Aku enggak percaya, gugurin aja
kandungin kamu itu!”
Si pria melempar sejumlah uang ke wajah
Sherly yang makin menangis saat terkena pukulan lembaran kertas uang itu.
“Heru! Aku akan ingat perbuatanmu
ini!” pekik Sherly yang duduk berlutut seraya menangis itu.
Gadis itu sangat terpuruk mendapat
perlakuan buruk dari si pria, lalu gadis itu menghilang dari hadapan Tasya dan
lainnya.
“Tante kenal sama tuh cowok, Tante pernah
lihat tapi lupa di mana, siapa tadi namanya?”
Tasya menoleh pada Arya dan Raja.
“Heri, apa Heru tadi namanya, ya?” Raja
menoleh pada Arya.
“Heru, namanya Heru,” jawab Arya.
“Nah, Tante ingat, dia itu teman
ayah kamu waktu Tante jemput Anta di sekolah,” tegas Tasya.
“Temannya ayah, berarti ayah saya
kenal sama dia, Tante?” tanya Arya.
Tasya mengangguk meskipun masih ada
keraguan dan ketidakpastian terpancar di wajahnya.
“Eh, Kakak itu balik lagi,” seru Raja menunjuk Sherly yang tiba-tiba muncul kembali.
Sherly kembali dengan membawa tali
tambang menuju pohon besar dekat danau. Ia naik ke pohon besar itu dan membuat
simpul tali di sana dan bersiap untuk menjerat lehernya sendiri.
Tasya yang panik langsung menarik
tangan Arya dan Raja, “ayo, kita tolong dia, buruan!”
“Tunggu, jangan lakukan itu! Kita
bisa bicarakan baik-baik, kamu masih muda, nanti kalau kamu bunuh diri udah
tuanya mau jadi apa,” seru Tasya mencoba menahan kaki Sherly.
Tiba-tiba, sosok Sherly yang
sudah tergantung dengan bekas jeratan mengerikan di lehernya langsung muncul di
hadapan Tasya mengejutkan wanita itu sampai jatuh tersungkur ke belakang.
“Astagfirullah…” pekik Tasya.
Arya dan Raja mencoba membangunkan
tubuh Tasya yang terjatuh di tanah itu.
“Lagian Tante, orang udah mati
bunuh diri masih dipikirin udah tuanya mau jadi apa,” keluh Raja.
“Apa kau mau menemaniku di sini?”
tanya hantu Sherly dengan suara parau dan menyeramkan.
“Enggak, enggak usah, saya masih
mau hidup bahagia, saya masih punya cita-cita pengen punya kontrakan seratus pintu,” jawab
Tasya.
“Wuih, bakal tajir tuh, Tante,”
sahut Raja.
“Kamu anak yang tadi ‘kan?”
Sherly menepuk bahu Raja.
“Hidih belatungnya lompat di tangan
aku, idih geli,” sahut Raja langsung berjingkrak-jingkrak ketakutan kalau ada
belatung menempel di tubuhnya.
“Nah, berarti ini yang nemuin
hapenya Anta, mana hape keponakan saya?” pinta Tasya.
“Oh, tak semudah itu, aku tadi mau
minta es krim sama anak ini,” tunjuk Sherly.
“Astaga, duit Raja habis tadi
dipalakin para hantu sini yang minta es krim sama aku, minta Tante Tasya aja,
tuh!”ucap Raja yang bersembunyi di belakang punggung Tasya.
“Cariin es krim, Ya!” ucap Tasya
gantian menoleh pada Arya.
aja besok gue kasih es krim yang ukuran satu liter, gue taro di pohon rumah elo
ini, gimana, kak?” tanya Arya menawarkan.
“Hmmm, tapi janji ya, kalau kamu
bohong, aku bakal gentayangin kamu,” ancam Sherly.
“Jiah, gue juga aslinya gentayangan, ini aja masuk ke tubuh manusia enggak bisa keluar, lagian elo tuh
harusnya gentayangin cowok tadi,” seru Arya.
“Huaaa… aku enggak bisa gentayangin
dia, aku sayang banget sama dia, huaaaa….”
Hantu Sherly langsung duduk di
tanah dan merengek layaknya anak kecil yang meminta permen.
“Ckckckck… lemah banget otak kamu,
masih banyak cowok di dunia ini bukan dia doang, kalau aja kamu enggak bunuh
diri, kamu bisa laporin tuh cowok ke polisi buat tanggung jawab, biar jera
sekalian, bukannya malah nyerah bunuh diri, ya enak tuh cowok dong malah bisa
bebas dari tanggung jawab,” ucap Tasya.
“Huaaa… aku makin nyesel dengernya,
huhuhuhu....”
“Nasi udah jadi bubur,” ucap Arya.
“Udah basi juga malah,” sahut Raja.
“Udah enggak enak tuh berlendir,
benyek juga,” sahut Arya lagi.
“Pada ngomong apa, sih?” seru Tasya
melirik tajam pada dua pria muda di sampingnya itu.
Raja dan Arya langsung diam dan saling menabrakkan bahu dan mendorong satu sama lain.
“Udah gini ya, siapa nama kamu?”
tanya Tasya.
“Sherly.”
“Sherly, mana hape keponakan saya,
terus kamu lihat enggak dia ada di mana?” tanya Tasya.
“Sebentar, saya ambilkan,” ucap
Sherly.
Tak lama kemudian, ia kembali
membawa tas ungu milik Anta dan menyerahkannya pada Tasya.
“Nih, wajahnya kayak gini,” ucap
Tasya memperlihatkan foto Anta dari layar ponsel gadis itu.
“Enggak lihat,” jawab Sherly.
“Duh, udah lama ngobrol di sini,
sampai masuk alam gaib gini, eh dia bilang enggak tau soal Anta,” keluh Tasya.
“Jangan-jangan Kak Anta masuk ke
danau, tadi Raja lihat anak kecil wajahnya di permukaan danau,” ucap Raja.
“Jangan ke sana! Kalau makhluk itu
lapar, ia bisa menyantap kamu,” cegah Sherly.
“Makluk apalagi in, monster apa
hantu?” tanya Tasya.
“Iblis jahat pemakan anak kecil,”
ucap Sherly.
“Maksudnya?”
“Pembangunan taman bermain ini
memakai beberapa bagian tubuh anak-anak, lalu sisa tubuh mereka di buang ke
danau itu untuk di makan iblis penunggu danau,” ucap Sherly.
“Jadi bener kan, Om Hartono pemilik
taman hiburan ini memakai tumbal anak-anak seperti yang dibicarakan Nenek
Lampir Hyena waktu itu,” ucap Arya.
“Berarti Kak Anta di makan monster
itu dong!” seru Raja.
“Raja, kalau ngomong jangan
sembarangan!” sahut Tasya menepuk bahu Raja.
“Tapi, hari ini tak ada anak yang
masuk ke danau, tak ada tumbal,” ucap Sherly.
“Berarti Anta enggak ada di dalam
danau, coba kita keliling cari Anta, yuk!” ajak Arya.
“Kita berpencar, bagaimana?” tanya
Tasya.
“Saya sama Raja, Tante sama hantu itu,”
ucap Arya.
“Hmmm… kok aku yang enggak enak
dapat jatahnya,” sahut Tasya.
“Daripada mencar sendiri-sendiri,
atau bareng anak-anak kayak zombie itu, mau?” tanya Arya.
“Enggak usah, deh, ayo Sherly,
temenin cari Anta!” ajak Tasya menarik lengan Sherly dan membuat hantu itu
terkejut.
“Kok, bisa sentuh saya?” tanya
Sherly.
“Aku, mereka dan Anta, bisa sentuh
kamu, jadi kamu jangan heran, kita udah biasa temenan sama sebangsa kamu, yang
musuhan juga ada, sih. Udah sekarang, ayo ikut temenin!” ajak Tasya.
Mereka kembali ke alam sebelumnya.
Lingkungan sekitar mereka itu telah kembali menjadi taman hiburan seperti tadi.
Akan tetapi, saat mereka kembali, mereka menemukan tubuh sang penjaga taman
hiburan sudah terbaring di tanah tak sadarkan diri.
“Dia mati apa pingsan, Kak?” tanya
Raja mendorong lengan Arya untuk maju menghampiri tubuh penjaga itu.
“Kok gue, sih, yang ngecek, elo
yang mudaan maju lah buat ngecek,” ucap Arya.
“Lah, di mana-mana yang tuaan
melindungi yang muda dan maju duluan, makanya Kak Arya duluan yang cek!” pinta
Raja.
“Lama nih, pada ribut aja bisanya,”
ucap Tasya langsung maju mengecek tubuh penjaga itu.
“Masih hidup dia, paling pingsan
ketemu hantu, bantuin bopong pinggirin ke sana!” seru Tasya.
Setelah menepikan si penjaga, Tasya
dan Sherly melangkah ke kanan sementara Raja dan Arya ke kiri untuk mencari
Anta. Mereka berseru memanggil nama Anta berkali-kali agar terdengar.
“Kak Arya, kaki Raja kok berasa
berat, ya?” ucap Raja yang menarik lengan Arya agar menghentikan langkahnya
sejenak.
“Kenapa lagi, sih?” tanya Arya
menoleh pada Raja dengan tatapan kesal.
“Kaki aku berat, ini ada apanya,”
ucap Raja.
Arya menelisik ke tubuh bagian
bawah anak itu.
“Ja, i-itu, itu…”
*******
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni
Dan mampir juga ke novelku lainnya.