Anta's Diary

Anta's Diary
Raja Mulai Cemas



Happy Reading...


******


"Lho, aku nggak bisa lihat bayangan dia di cermin ini," ucap Raja terluhat cemas kala berbalik badan menatap cermin hiasan dengan motif naga yang menempel di dinding toko tersebut.


"Apaan si, Ja, Kakak bisa lihat punggung ibu itu, kok," sahut Anta.


"Si Gina udah pergi, kan?" tanya Anan yang muncul dari tempat persembunyiannya.


"Udah barusan," sahut Anta.


"Kak, beneran aku enggak bisa lihat bayangan dia di cermin," ucap Raja menegaskan.


"Kamu kenapa, kok tiba-tiba mirip Imran pakai bilang enggak bisa lihat bayangan orang di cermin?" tanya Anan.


"Beneran, Yanda, aku enggak bohong," sahut Raja.


Anta teringat dengan cerita Raja mengenai kemampuan Imran yang bisa memprediksi kematian seseorang yang akan segera tiba kala ia tak bisa melihat bayangan orang tersebut di cermin. Namun, ia berusaha untuk menganggap semua hanya halusinasi adiknya.


"Kamu salah lihat kali, Ja, udah nggak usah dipikirin," ucap Anta menenangkan adiknya itu.


Tak lama kemudian datanglah Nenek Darma bersama Tasya membawakan es jeruk segar yang baru diperasnya dan juga lima piring nasi goreng.


"Pantesan lama, taunya buat nasi goreng," ucap Anan.


"Iya, habisnya kalian pasti lapar, lagipula Tasya jago masak juga rupanya, cocok nih jadi pasangan kamu," ucap Nenek Darma.


Tasya, Anta dan Raja yang baru saja menyeruput es jeruk itu langsung terbatuk-batuk bersamaan kala mendengar ucapan Nenek Darma barusan.


"Pada kenapa ya?" tanya Nenek Darma.


"Udah jangan didengerin, Nenek emang suka bercanda kayak gitu, setiap ketemu perempuan pasti dijodohin ke aku," sahut Anan.


"Eh, Nenek enggak gitu ya, buktinya Nenek enggak mau kamu berjodoh sama Gina, idih amit-amit jangan sampe. Tapi kalau sama Nak Tasya, Nenek setuju banget," ucap Nenek Darma.


"Aku enggak suka, aku enggak akan setuju kalau Nenek mau jodohin Yanda aku sama Tante Tasya!"


Raja tiba-tiba berteriak seraya membanting dasar gelasnya ke meja. Anak itu berlari ke luar toko. Tasya langsung mengejar bocah itu untuk menenangkannya.


"Maafin adik Anta ya, Nek, nanti ada saatnya Nenek pasti paham kenapa Raja bersikap seperti itu," ucap Anta dengan kedua mata berkaca-kaca.


Gadis itu lalu menundukkan kepala sejenak kemudian pergi menyusul Raja dan Tasya.


"Lho, memangnya ada yang salah dengan pembicaraan Nenek?"


Nenek Darma menepuk dada Anan dengan punggung tangannya. Anan akhirnya menceritakan mengenai kemiripan dirinya dengan ayah dari Anta dan Raja pada sang nenek. Akan tetapi, wanita paruh baya itu malah tertawa dan menganggap cerita cucunya itu hanyalah kekonyolan semata. Wanita itu tak percaya dengan reinkarnasi yang dijalani Anan.


***


Tasya menarik lengan Raja ia berusaha menenangkan kemarahan anak itu. Di belakang keduanya, sosok Anta hadir setelah menyusul mereka dengan berlari. Gadis itu terlihat kelelahan dan berusaha menstabilkan napasnya kembali.


"Ja, kamu harusnya jangan baper sama ucapan nenek-nenek, sumpah demi Tuhan, Tante Tasya enggak akan berusaha ambil Yanda kamu. Tante akan berusaha menyatukan Yanda sama Bunda kamu kembali," tegas Tasya.


"Tapi aku enggak suka dengernya, aku marah waktu nenek itu jodohin Tante sama Yanda," ucap Raja.


"Ja, duh... Anta capek, jangan pada lari lagi, hufh..."


Gadis itu berusaha menarik lengan Raja menahannya agar jangan lari lagi.


"Dengerin Tante Tasya, Kak Anta percaya sama dia, harusnya kamu nggak usah pusing sama pemikiran Nenek Darma," ucap Anta.


Mendadak kemudian, terlihat beberapa warga berlari melintas seraya berseru, "ada yang mati!"


Tasya menghentikan salah satunya untuk bertanya.


"Pak, ada apa kok rame begitu?" tanya Tasya.


"Ada yang mati, Neng, kerampokan."


Pria itu kembali berlari menuju tempat kejadian perkara. Tasya menoleh pada Anta dan Raja.


"Kita kembali ke rumah Nenek Darma, enggak usah ke sa—"


Anta dan Raja yang sangat penasaran langsung berlari meninggalkan Tasya.


"Na... rese banget ya pada, bikin gemes aja ini," ucap Tasya.


Ia langsung berlari menyusul Anta dan Raja.


Beberapa meter dari tempat Raja dan Anta tadi, terlihat kerumunan warga sedang mengamati sesuatu. Keduanya berusaha masuk ke dalam kerumunan tersebut sampai bisa melihat apa yang sedang para warga amati.


Sampai akhirnya, keduanya melihat sosok wanita yang tengah terbaring bersimbah darah. Di bagian tubuhnya terdapat beberapa tusukan benda tajam. Ada tusukan di dada, samping pinggang bahkan bagian perut yang terlihat menganga. Usus wanita itu mengintip ke luar dari permukaan kulitnya.


"Itu kan Tante Gina yang tadi di toko," ucap Anta.


"Enggak, enggak mungkin, enggak mungkin kejadian. Aku enggak mau kayak Imran, aku enggak mau!"


"Kamu kenapa, Ja?" tanya Tasya seraya memeluk erat Raja.


"Ibu itu meninggal, Ibu yang tadi bayangannya enggak bisa aku lihat di cermin. Aku takut Tante, aku takut seperti Imran, aku enggak mau tau tentang kematian seseorang!" pekik Raja seraya menangis.


Anta menghampiri adiknya, ia teringat dengan perkataan Raja di toko milik Anan tadi.


"Mungkin hanya kebetulan, Ja."


Anta mengusap kepala adiknya itu dengan penuh kasih sayang.


"Mana mungkin, Kak, Imran juga mengalami seperti ini, aku takut, Kak..."


"Udah, udah, udah, enggak usah dipikirin lagi ya. Kita pulang dan anggap enggak pernah terjadi segala penglihatan kamu tadi," ucap Tasya.


"Kita balik ke toko Yanda, ya? Duh, cape juga kalau balik ke sana, lagian kamu Ja larinya jauh banget sampai sini," ucap Anta.


Mereka akhirnya melangkah bersama kembali ke toko Anan karena Tasya meninggalkan mobilnya di sana begitu juga dengan tas dan isinya.


***


"Anan..."


Suara parau seorang wanita membuat Anan terkejut kala sedang merapikan bekas piring nasi goreng yang ia sudah santap habis. Sementara itu ia tinggalkan milik Tasya, Anta dan Raja lalu ditutup dengan tudung saji. Nenek Darma sudah berada di kamar mandi membersihkan diri.


"Anan..."


Suara itu terdengar lagi dan kini Anan bisa melihat sosok wanita yang sebenarnya ia sedang hindari.


"Hadeh, Ibu Gina ngagetin aja tau-tau muncul di situ," ucap Anan.


Wanita itu tersenyum pada Anan, tetapi ada yang aneh dirasakan oleh pria tersebut. Wajah Ibu Gina tampak pucat. Tercium bau busuk menyeruak ke hidung pria itu.


"Biasanya wangi parfum dia nyengat banget deh, ini kok rada bau busuk, ya?" tanya Anan pada diri sendiri itu dengan mengguman.


Anan menoleh kembali pada Gina yang masih berdiri di depan meja etalase tempat hasil olahan bandeng presto dijajakan.


"Mau pesen yang mana, Bu?" tanya Anan.


"Aku maunya kamu," ucap Gina.


"Hadeh... udah deh, Bu, jangan kebanyakan bercanda, saya mau pergi, nih," sahut Anan.


"Saya mau kamu, hihihi..."


"Kok, suaranya jadi kayak kuntilanak, eh tapi emang dia juga mirip kuntilanak sih, hahaha... ups, maaf Bu keceplosan," ucap Anan menoleh pada Gina yang tersenyum menyeringai.


Suara dering telepon berbunyi, Anan hendak meraih gagang telepon tersebut, tetapi Nenek Darma yang baru saja selesai mandi langsung meraih gagang tersebut.


"Apa? Kamu yang bener, Yul?"


Suara Nenek Darma terdengar terkejut sampai membuat Anan mendekat.


"Kenapa, Nek?" tanya Anan.


Nenek Darma selesai dengan pembicaraannya di telepon itu.


"Si Yuli kasih kabar kalau di depan toko dia ada yang dirampok sampai tewas," ucap Nenek Darma.


"Wah, mulai rawan nih daerah, bisa-bisanya masih sore gini ada rampok," ucap Anan.


"Kamu tau yang dirampok dan meninggal siapa?"


Anan menjawab dengan gelengan kepala.


"Mana aku tau, kan Nenek belum cerita," sahut Anan.


"Si Gina, yang selalu godain kamu itu," ucap Nenek.


"Astagfirullah...!"


Anan menoleh pada sosok Gina yang masih berdiri di depan etalase bandeng presto. Hantu wanita itu berbalik badan kemudian menatap Anan. Tubuh bagian depannya bersimbah darah. Apalagi bagian perutnya yang terdapat luka menganga dengan sedikit usus halus menyembul ke luar.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Novel baru aku di Noveltoon ya...


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni