
Kumpulin poinnya dan jangan lupa Vote ya...
Happy Reading...
******
"Ciaaatttt... Uli datang...!" pekik Pocong Uli yang baru saja tiba menembus pintu seraya melompat dengan kencang sampai menginjak bagian sensitif milik Ardi.
"Aduh...!" pekik Ardi kesakitan seraya memegangi junior miliknya.
"Waduh... perlu gue tambahin enggak nih, gue injek lagi gitu?" tanya Uli pada Silla.
"Cukup, kasian juga, tolongin Anta sama Raja di dalam kamar mandi!" seru Silla.
"Cuy, tangan gue keiket, gimana dong?"
"Keluarin dikit tuh tangan kan bisa," ucap Silla.
"Kok, perasaan ada yang injek jagoan gue, tapi gue enggak liat apa-apa," keluh Ardi seraya menahan sakit dan nyeri seraya menoleh ke Delima yang ketakutan berusaha menjauhinya.
Ceklek.
Pocong Uli berhasil juga membuka pintu kamar mandi itu karena kunci pintu itu masih tergantung di luar. Berhubung susah menggunakan tangan akhirnya ia gunakan gigi.
"Om Uli," ucap Anta.
"Ayo buruan keluar!"
Ardi makin menatap pintu yang terbuka sendiri itu dengan heran.
"Lho, kok bisa kebuka sendiri?" gumam Ardi.
"Itu diapain, Om?" bisik Anta.
"Gue injek burungnya hahaha, gak sengaja sih tadi pas nginjek," sahut Uli.
"Aduh, sakit tuh!" sahut Raja.
"Eh, tangannya tambah banyak darahnya!" tunjuk Anta mulai terlihat panik.
"Cepat kalian bawa Raja ke rumah sakit aku takut kena urat nadinya," seru Silla.
"Gue pegangin nih cowok, kalian cepat pergi sana!" sahut Uli yang langsung bersama Silla menjaga Ardi agar tak bisa bergerak.
"Ini kenapa sama badan gue kok enggak bisa gerak gini?" keluh Ardi.
"Delima, kamu ngapain masih di situ, sana sama Anta lapor polisi kasih tau soal Ardi," pinta Silla.
"Kok, gue denger suara Silla?" gumam Ardi.
"Ini emang aku Ardi, kamu yang aku kenal tuh baik hati kenapa jadi jahat gini sama Delima?" tanya Silla.
Pria itu langsung tampak ketakutan. Ia masih tak bisa menemukan sosok Silla yang hanya suaranya saja yang terdengar.
"Gue pasti berhalusinasi, gue pasti salah denger, tidaaaakkkk...!" teriak Ardi.
Anta bergegas bersama Delima membawa Anta menuju ke rumah sakit.
"Heh, yang lainnya mana?" tegur Kelly ketika ia baru sampai di lantai tersebut.
"Masih di dalam ruangan sana," jawab Anta.
"Oke, gue kesana dulu, urusan gue belum kelar sama Silla, nih." Kelly bergegas menuju ruang milik Delima tadi.
"Itu si Tante itu mau balas dendam sama Tante Silla?" tanya Raja.
"Iya, lucu ya hantu dendam sama hantu, dasar hantu yang aneh," ucap Anta.
"Pada liat apa, sih?" tanya Delima.
"Liat Tante Kelly," sahut Raja.
"Hah, Kelly? Duh, buruan yuk aku ngeri kalau ketemu dia."
Ketiganya bergegas menuju ke tempat parkir tetapi sayangnya Delima tak punya mobil dan mobil perusahaan yang sering ia pinjam malah sedang tak berada di sana.
Tin... Tin...
Mobil sedan putih itu berhenti di hadapan Anta dan lainnya. Kaca mobil itu terbuka memperlihatkan sosok pria yang mereka kenal.
"Pak Herdi?" cicit Anta masih dengan raut wajah agak takut.
"Kenapa dengan Raja?" tanyanya.
"Berdarah, Om," sahut Raja menunjukkan lengannya.
"Maaf, bisa nanti aja tanyanya, boleh minta tolong antar anak ini ke rumah sakit?" tanya Delima.
"Cepat masuk!" titah pria dalam mobil itu memberi perintah.
Setelah saling memandang dengan Raja, Anta akhirnya setuju dan masuk ke dalam mobil tersebut bersama Delima. Mereka menuju rumah sakit. Pak Herdi menyerahkan ponsel pada Anta.
"Telepon Mama kamu!" perintah pria itu.
"Anta enggak berani, Om, nanti diomelin," sahut Anta.
"Iya, Raja juga takut," sahut Raja.
"Kalian kabur apa gimana, sih?" tanya Pak Herdi seraya fokus menyetir.
"Ummm... sebenarnya Anta tadi pergi cari Raja," jawab Anta.
"Jadi, Raja kabur?"
"Enggak, aku enggak kabur aku mau nolongin Tante Delima sama Tante Silla," sahut Raja membela diri.
"Nolongin gimana?" Pak Herdi masih bertanya ingin tahu.
"Saya mau dibunuh, Pak, tapi berkat anak ini saya selamat, dan saya mau lapor polisi setelah antar mereka ke rumah sakit," sahut Delima.
Pria yang duduk di kursi depan seraya menyetir itu masih tak mengerti, akan tetapi mobil itu telah sampai di depan sebuah rumah sakit bertuliskan Rumah Sakit Harapan. Seorang suster perempuan dan laki-laki menyambut Raja, darah anak itu masih saja menetes dari anak laki-laki itu. Raja segera dilarikan ke sebuah lorong menuju ke instalasi gawat darurat.
"Ada yang aneh?" gumam Anta.
"Aneh gimana, Nta?" tanya Delima.
"Kok, sepertinya tempat ini bau busuk gimana gitu?" tanya Anta seraya menoleh ke kanan dan kirinya.
"Ayo, masuk! Kita lihat kondisi Raja," ucap Pak Herdi setelah kembali dari memarkirkan kendaraannya.
Ketiga orang itu masuk ke dalam rumah sakit menyusuri koridor menuju ruangan yang di depan pintunya bertuliskan 'instalasi gawat darurat' itu.
"Kok sepi, ya?" gumam Delima seraya memeluk dirinya sendiri. Bulu kuduk gadis itu mulai meremang.
Udara di sekitar terasa dingin seolah menusuk tulang. Embusan angin kencang tiba-tiba menerpa wajah Anta dan menyibak rambutnya seketika.
"Beuh, kenceng banget anginnya," lirih Anta.
Tiba-tiba langkah pria yang berjalan di depan Anta terhenti. Membuat gadis itu juga menghentikan langkahnya secara spontan sampai menabrak punggung Pak Herdi. Begitu juga dengan Delima yang menabrak tubuh bagian belakang milik Anta.
"Om, kenapa kok berhenti, sih?" tanya Anta.
"Kok, ruangannya berubah tadi kan ada bacaan IGD, nah sekarang udah enggak ada jadi tanah—" ucapan pria itu terhenti.
Anta dan Delima melongok ke arah depan pria itu dan kedua mata mereka terbelalak.
"Kamu bawa kita ke mana, nih?" tanya Delima.
"Iya, Om kok rumah sakitnya jadi gini?" Anta ikut bertanya.
"Ini kan tanah kuburan, Nta, berarti tadi dua suster yang bawa Raja ke dalam, jangan-jangan..."
"Setan!" sahut Anta dan Delima bersamaan.
"Wah, enggak bisa dibiarin nih, kita harus cari Raja kalau perlu gali satu-satu kuburannya," sahut Anta dia mulai bergegas menuju makam dan menelitinya satu persatu.
Pak Herdi masih berdiri di tempatnya karena bingung harus melakukan apa, sementara Delima yang ketakutan hanya meringkuk dan mulai menangis.
******
To be continue...
Follow IG ku ya @vie_junaeni
Mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
- Diculik Cinta