
Note : Harap bijak menyikapi jalan cerita ya.
Happy Reading...
*****
"Minggir kamu! Mama sudah bilang kalau wanita ini akan membuat kita dalam masalah!" Nyonya Linda berteriak pada Aji yang sudah mengendalikan dirinya.
"Lepaskan Mani, Ma ... aku mohon ...."
"Jamin, jangan biarkan Aji keluar. Kau bawa wanita ini ke dapur singkong!" serunya.
Nyonya Linda menyiapkan oven yang biasa dipakai untuk membuat keripik singkong panggang khas miliknya. Putranya membopong tubuh Mani dan melangkah di belakang ibunya.
"Masukkan dia ke oven! Kita akan membakar sebagian rumah ini dan menganggap ini semua kecelakaan. Kita akan pindah ke dekat kebun singkong dan meninggalkan rumah besar ini!" ucap Nyonya Linda.
"Baik, sayangku!" Jamin meletakkan tubuh Mani dengan posisi meringkuk dalam oven produksi yang cukup besar.
Dia menyaksikan tubuh Mani terpanggang. Aji berusaha untuk keluar dan menyelamatkan Mani, tetapi dia tak dapat mengendalikan tubuhnya sendiri. Sementara sosok Ari malah tertawa melihat wanita itu hangus terpanggang.
***
Dita dan Anta kembali dari dimensi waktu dengan kedua tangan saling berpegangan. Mereka tak tau apa yang terjadi pada Aji dan ibunya setelah Mani meninggal. Mereka hanya mendapatkan gambaran dari penglihatan Maji ketika wanita itu masih hidup.
"Anta pernah lihat suaminya dia Bunda," ucap Anta.
"Kamu pernah bertemu suami saya?" tanya Mani.
"Arya, sini deh!" Anta mengibaskan tangannya agar Arya mau mendekat.
"Kenapa, Nta?" tanya Arya.
"Kamu ingat bapak yang dompetnya kamu kembaliin, nggak? Bapak yang kita temui di rumahnya si Mike?" tanya Anta.
"Aku masih inget, memangnya kenapa?"
"Dia suaminya tante ini, dia dan ibunya terlibat pembunuhan tante ini," ucap Anta seraya menunjuk hantu Mani.
"Apa? Gila! Dia pembunuh?" Arya sampai berseru.
"Ari yang katanya suka anak kecil, sama Jamin yang suka sama ibunya Aji," jawab Mani.
Arya yang mendengar hal tersebut malah menggaruk-garuk kepala tak mengerti.
"Dua orang dalam tubuhnya? Maksudnya gimana, sih?" tanya Arya.
"Nanti kira cari tau lebih lanjut lagi, yang jelas Anta makin yakin buat ke rumah Mike nanti malam, karena mereka berurusan dengan orang yang sakit jiwa, semacam punya kepribadian ganda gitu," ucap Anta.
"Oh, jadi kamu mau ngajak aku pergi itu ke rumah Mike? Aku pikir kamu mau ajak aku kencan ke pasar malam gitu apa nonton," sungut Arya.
"Kalau kamu nggak mau anterin Anta, ya udah Anta mau minta anterin Arga sama Ria, tuh mereka baru pulang." Anta menghampiri mobil Arga yang baru menepi di halaman rumahnya.
"Eh, nggak bisa gitu dong! Maksud aku kamu jangan datang ke rumah Mike!" Arya berlari menyusul Anta.
Ratu Sanca ikut mendekat dengan dua bayi serta Raja yang berada di atas tubuhnya. Kedua bayi itu berpegangan dengan erat pada Raja kala tubuh ular tersebut menyeret perutnya menuju Dita.
"Apa yang kalian lihat? Kenapa wajahmu ketakutan seperti itu?" tanya Ratu Sanca.
"Aku takut bukan karena melihat pembunuh dan kematian hantu ini, tetapi salah satu pelaku menyebut Nyi Ageng. Dia belum musnah dan bahkan makin menghadirkan banyak pengikut yang tersebar di mana-mana," ucap Dita dengan cemas.
"Nyi Ageng itu siapa sih, Bunda?" tanya Raja.
"Dia iblis yang harus kita musnahkan, tetapi Bunda nggak tau cara memusnahkan dia bagaimana. Dulu saja saat memusnahkan Ratu Masako, Bunda dan Yanda harus mengorbankan nyawa demi kamu."
"Aku nggak mau Yanda sama Bunda pergi! Aku nggak mau kita berurusan sama iblis itu!" seru Raja.
"Iya, sayang ... kita tak akan berurusan dengan iblis itu. Kamu bawa Dira ya ke dalam, Mami tolong bawa Adam ke dalam," ucap Dita mencoba berbohong pada Raja.
"Kita tak akan bisa menghindari Nyi Ageng, tantemu itu sudah membuat perjanjian terikat dengannya, iya kan?" tanya Ratu Sanca.
"Iya, dia hamil karena pemberian Nyi Ageng," lirih Dita.
*****
To be continue....