
Happy Reading...
*****
Arya langsung menerjang Arga dan memiting pemuda di hadapannya itu. Keduanya saling berbalas tawa saat melakukannya.
"Cie... romantis banget, sih!" celetuk Anta yang tiba-tiba hadir di belakang kedua pemuda itu.
Arga dan Arya langsung melepaskan diri dan berusaha bersikap sok cool.
"Kok, cepet banget elo udah ada di sini aja?" tanya Arya menunjuk gadis itu.
"Emang kenapa, sih? Udah yuk jalan!" ajak Anta melangkah menuju mobil milik Arga.
Ketiganya memasuki mobil tersebut.
"Elo bau asem tau, belom mandi ya?"
Arya masih saja menganggu gadis itu.
"Anta mandi kok, secara cepat hahaha...!"
"Udah sih, Ya, orang udah cantik gitu, kok," sahut Arga memuji Anta.
"Huh, modus aja luh, ayo jalan!"
Arya yang duduk di kursi depan di samping Arga itu menepuk bahu pemuda yang berada di depan setir mobil itu.
"Oke, kita ke Hotel Nirvana, kan?" tanya Arga.
"Kata Tante Tasya sih gitu, di lantai sepuluh, kamar nomor 1003," ucap Anta seraya mengecek pesan Tasya di layar ponselnya.
***
Mobil yang dikemudikan Arga sampai di depan lobby Hotel Nirvana yang terletak di pinggiran kota. Ketiga anak muda itu turun dan masuk ke dalam hotel tersebut.
Sayangnya, Lisna yang baru saja ke luar dari dalam hotel berada di dalam mobil hitam bersama pemuda bernama Ian itu melihat Anta dan kedua pemuda itu sebelum masuk ke dalam hotel.
"Itu kan si Anta temennya Ria, ngapain dia sama dua orang cowok itu, perasaan mereka juga sekolaj di tempat gue deh. Wah, parah nih cewek jangan-jangan mereka mau gantian pake si Anta, harus gue abadikan nih," ucap Lisna.
Gadis itu mengeluarkan ponsel dari dalam tas dan mengambil gambar Anta yang bersama Arga dan Arya di depan lobby Hotel Nirvana sebelum ketiga anak muda itu masuk ke dalam.
"Kamu ngapain, Na?" tanya Ian.
"Enggak, aku cuma foto hotel aja, yuk pulang aku nanti dicariin sama nyokap," sahutnya.
Mobil sedan hitam itu melaju meninggalkan hotel.
Di dalam hotel, petugas hotel awalnya tak memperbolehkan ketiga anak muda yang masih di bawah 17 tahun itu untuk masuk. Namun, Anta segera menghubungi Tasya untuk memastikan mereka dapat masuk. Akhirnya sang petugas yang ternyata sudah mengenal Tasya itu mengerti.
Petugas hotel itu mengantar Anta dan lainnya ke kamar yang sudah Tasya pesan.
"Memangnya ada acara apa sih, sampai Tasya sewa kamar hotel gini?" tanya si petugas pada Anta saat menunggu di depan pintu lift.
"Mau ada acara kejutan ulang tahun," jawab Anta.
"Kok enggak bawa kue ulang tahun?" tanyanya lagi.
"Mas, jangan kepo kepo amat lah, harga privacy orang, ini bukan ranah Mas!" hardik Arya.
"Ya, cuma tanya doang enggak boleh," ucapnya lalu terdiam.
Tring.
Pintu lift terbuka, petugas hotel itu mempersilakan ketiganya untuk masuk. Hantu nenek dengan daster bunga compang- camping penuh dengan noda darah berdiri di dalam lift. Wajah pucatnya menyeringai membuat Arya bergidik ngeri dan tak juga melangkah masuk.
"Udah masuk, Ya!" ajak Arga.
"Kenapa, Dek, takut naik lift?" tanya petugas hotel itu.
"Enggak, Mas, cuma..."
"To, dipanggil sama Bos!" seru petugas satunya kepada pria di dalam lift.
"Waduh, kalian ke kamar sendiri ya, maaf saya enggak bisa antar, soalnya kalau enggak ketemu sama Bos, nanti saya enggak bisa pinjem duit. Ini kuncinya," ucap pria itu seraya menyerahkan kunci kamar nomor 1003 ke telapak tangan Anta.
Pria itu bergegas pergi.
"Ayo, Ya!" ajak Arga menarik Arya.
Anta yang sudah berada di dalam berusaha bergeser menghindari hantu nenek itu.
"Kalian dapat melihat saya?" tanya hantu nenek itu karena mendapati Anta, Arya dan Arga menatap ke arahnya.
"Bisa, Nek," jawab Anta.
"Kau tak takut kepadaku?" tanya hantu itu lagi.
"Anta sih enggak takut," jawab gadis itu tegas.
"Elo dipanggil, Ga, tuh sama nenek elo ditanyain, mungkin suruh salim," ucap Arya menyikut lengan Arga.
"Dih, untuk saat ini gue rela deh ngalah, biar elo aja yang dibilang ganteng, gue ngaku jelek kaga apa-apa," sahut Arga.
"Hahaha... kalian lucu banget sih," tunjuk Anta seraya tertawa sampai menahan sakit di perutnya. Arga dan Arya bergantian saling dorong ke arah hantu nenek itu.
Bagaimana tak takut hantu nenek itu wajahnya tak mempunyai kulit. Terlihat daging yang menyeruak dengan darah bercampur nanah di bagian pipi yang makin menimbulkan bau anyir nan busuk. Tangan keriputnya yang kulitnya juga mengelupas melingkar berusaha menjangkau Arga dan Arya.
"Nenek udah lama di sini?" tanya Anta.
"Sudah 20 tahun, kalian mau tolong nenek?" tanya hantu itu.
Hantu nenek itu tersenyum memperlihatkan gusinya yang berdarah tanpa gigi.
"Mau minta tolong apa, Nek?" tanya Anta.
"Duh, si Anta pake nawarin pertolongan lagi, mana ini lift nyampenya lama banget," keluh Arya.
"Iya dong lama sampainya, kan sengaja saya tahan, ucap nenek itu seraya tertawa.
Anta makin tertawa melihat gusi nenek itu. Sementara Arya dan Arga menahan mual berusaha menjauhi hantu nenek itu.
"Duh ganteng banget sih kamu jadi mau cium," ucap hantu nenek itu mencolek pipi Arya.
"Idih... wangi banget sih nek? sampai puyeng saya nih," ucap Arya.
"Kalian bisa tolong nenek, dan keluar dari sini, tapi ada syaratnya," ucap nenek itu.
"Wah, ternyata nenek ini pake syarat-syarat, apa nek syaratnya?" tanya Anta.
"Salah satu dari anak ini harus menggendong saya," pintanya sambil menunjuk ke arah Arya dan Arga.
"Idih gue geli, elo aja Ga yang gendong dia!" seru Arya mendorong punggung Arga.
"Ogah, elo aja yang gendong!"
Arga berpindah tempat langsung ke belakang Arya.
"Udah sih turutin permintaan orang tua!" seru Anta.
"Elo aja, Nta, yang gendong!"
Arya menatap Anta tajam.
"Kalau nenek ini mau sama Anta ya udah sini Anta gendong," ucap Anta.
"Enggak mau, nenek maunya sama mereka!" sahut hantu nenek menunjuk Arya dan Arga.
"Tuh kan enggak mau, udah deh suit yang kalah gendong nenek!" pinta Anta.
"Ayo suit, batu gunting kertas!" seru Arga langsung menarik tangan Arya.
"Ya udah, tiga kali kesempatan, ya," ucap Arya.
Akhirnya suit itu dimenangkan oleh Arga yang langsung bersorak. Lutut Arya langsung terasa lemas kala harus menggendong nenek itu. Hantu itu langsung menempel di belakang tubuh Arya dan naik ke punggung pemuda itu.
"Emang mau digendong sampai mana?" tanya Arya.
"Sampai kamar yang kalian tuju, soalnya nenek kangen sama kakek dulu dia sering gendong nenek," ucapnya.
Pintu lift lalu terbuka di lantai sepuluh itu.
"Duh, turun dulu, Nek, saya belum siap," ucap Arya mencoba mencari alasan karena hidungnya sudah tak tahan menghirup anyir darah yang busuk dari tubuh hantu itu.
Anta dan Arga dengan puas menertawai Arya lalu ke luar dari lift tersebut. Hantu nenek itu turun dari punggung Arya. Pemuda itu langsung berlari ke luar.
"Nek, gendong sama yang lain aja!" seru Arya.
Ternyata hantu nenek itu tak dapat ke luar dari lift kecuali ada yang menggendong dia dan membawanya ke luar. Pintu lift itu tertutup.
"Parah elo, Ya!"
Arga menepuk punggung Arya.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni