Anta's Diary

Anta's Diary
Menikah Lagi



Happy Reading...


*****


Hari itu adalah hari pernikahan yang dipercepat akan berlangsung. Anan dan Herdi sedari habis subuh sudah siap dengan setelan jas pernikahan yang berwarna hitam dengan kemeja putih. Mereka makin gelisah mondar-mandir di hadapan cermin rumah mereka masing-masing. Suara ketukan pintu terdengar di pintu kamar Anan.


"Boleh saya masuk." Pinta Nenek dengan baju kebaya cantik warna hijau.


"Boleh, Nek." Jawab Anan dengan sopan.


"Kamu gugup?" tanya Nenek.


"Iyalah, Nek, gimana ini urusannya, aku takut salah, gimana dong, Nek?" tanya Anan sedikit panik akan tetapi sang nenek berusaha menenangkan dan memberikan beberapa wejangan pada Anan agar dapat sabar mengarungi bahtera rumah tangga.


"Ya udah kalau gitu ayo kita berangkat!" ajak nenek.


Sementara itu di rumah Herdi, Arya sudah bersiap dengan stelan jas yang tampak membuatnya makin tampan.


"Ayah kenapa, sih? Galau banget!" seru Arya.


"Ayah deg deg-an tau!" sahut Herdi.


"Lha, bagus dong!" seru Arya.


"Kok, bagus?"


"Itu tandanya Ayah masih hidup hehehe..." sahut Arya mencoba bercanda dengan sang ayah.


"Ah, kamu mah bercandain Ayah terus!"


"Ya udah, ayo kita jalan!" ajak Arya.


***


Mobil Tante Dewi yang dikendarai Andri menghampiri Dita di panti asuhan. Rupanya Aiko sudah berada di sana untuk merias Dita dengan keahliannya yang jago berdandan dan belajar merias diri.


"Wah, cantik banget si Dita seperti waktu dulu." Puji Tante dewi.


"Ini berkat Ibu Aiko, aku jadi makin cakep gini, hehehe."


"Jadi, udah siap belum, nih?" Tante Dewi memandangi Dita dengan takjub.


"Insha Allah udah, ayo kita berangkat!" ajak Dita.


"Kakak itu selalu keren kalau udah merias," icap Dewi menoleh takjub pada Aiko dan memujinya.


"Apa iya saya selalu bisa membuat orang cantik seperti ini?" tanya Aiko.


Dewi memeluk Aiko kala itu.


"Saya kangen sama Kakak yang seperti ini, terima kasih ya, Kak," ucap Dewi.


"Kok jadi gini, kenapa kamu malah buat saya terharu," ucap Aiko.


"Makasih ya, Kak."


"Aku boleh foto bareng sama kalian?" tanya Dita.


"Boleh lah yuk kita foto dulu." Tante Dewi mengeluarkan ponselnya.


Mereka pun asik ber-selfie ria bersama sebelum Andri memanggil mereka untuk bergegas.


"Bu Ari, semuanya udah siap, kan?" Bisik Tante Dewi pada wanita itu.


"Siap nyonya, begitu kalian pergi ke KUA nanti, saya sama anak-anak siapkan semuanya dengan sempurna," sahut Bu Ari dengan tersenyum.


"Bagus, makasih banyak ya Bu, saya ke KUA dulu nih anter Dita, doakan semuanya lancar amin..."


"Beres, Nyonya." Bu Ari tersenyum hangat.


"Waaaahhh cantik banget Bunda," ucap Raja yang melongo saat Dita keluar dari pintu depan.


"Iya, dong... Bunda nya siapa dulu nih."


"Bundanya aku, dong!" Raja memeluk Dita dengan erat.


"Udah yuk buruan jalan!" perintah Tante Dewi pada Andri.


"Siap, Bu Bos!" seru Andri lalu menyalakan mesin mobilnya dan mereka bergegas berlalu menuju kantor KUA.


***


Mereka sampai di sebuah kantor urusan agama wilayah kota, sebuah ruangan sudah disiapkan untuk pernikahan Anan dan Dita juga pernikahan Tasya dan Herdi.


"Untung aja dapet sepi, coba waktu kamu sama Anan nikah dulu, barengannya ada 20 pasangan yang mau nikah," ucap Dewi.


"Banyak amat, nikah masal apa pada doyan enggak sabar hehehe?" sahut Anan.


Seorang pria menggunakan pakaian batik sudah menyiapkan meja untuk penghulu. Dita dan Tasya. mengenakan kebaya putih dengan bordir bangau yang cantik. Mereka juga mengenakan kain batik yang senada dengan bawahan batik para tamu perempuan.


Anan dan Herdi sampai terkesima menganga memandang pasangannya masing-masing. Sampai Andri mengejutkannya dengan tepukan tangan di hadapan wajah mereka. Anan dan Herdi langsung tertawa dibuatnya.


"Yang mana yang mau nikah duluan?" tanya pak penghulu yang baru hadir ke ruangan itu.


"Saya pak, ini saya yang paling ganteng," sahut Anan yang langsung ditertawakan Tante Dewi dan mama Aiko.


"Saya dulu, Pak, saya juga ganteng!" sahut Herdi tak mau kalah.


"Ya udah suit dulu deh, nanti yang duluan maju ke hadapan saya!" seru Pak Penghulu itu.


"Harusnya Bapak yang ngalah," sahut Anan.


"Ya udah kita suit aja deh," ajak Anan akhirnya duit itu dimenangkan Anan.


Tasya tertawa sampai menenangkan Herdi kala itu.


"Jadi, kita mulai ya ijab kabulnya, ya." Pak penghulu menjabat tangan Anan dan melancarkan ucapan akad yang selalu diulang oleh Anan.


"Harusnya saya duluan, Nan," sahut Herdi.


"Sabar dong, ini gue lagi coba fokus nih."


Sahut Anan.


"Sabar Nan, tarik napas coba, terus tenang, terus ulang lagi, ya." Nenek Dharma menepuk bahu Anan.


"Ayo, kita ulang lagi ijabnya kalau enggak berhasil juga gantian sama dia!" ucap penghulu itu.


"Oke, Pak. Kali ini pasti berhasil," ucap Anan dengan yakinnya.


Dita hanya menahan tawanya karena sikap Anan yang seperti anak kecil selalu menggerutu kala itu persis seperti Anan yang sebelumnya.


Sampai akhirnya ijab kabul berhasil dan terucap kata "Sah...!" dari pak penghulu lalu dijawab secara bersamaan  dengan ucapan sah yang sama oleh semua yang hadir di sana. Anan langsung berjingkrak-jingkrak saking senangnya mencium tangan pak penghulu sambil berputar-putar. Dita tertawa melihat ke Anan.


"Sudah ya, Bapak masih mau menikahkan pengantin yang lain, ayo gantian!" seru pak penghulu menunjuk Pak Herdi..


Kali ini dengan satu kali ijab kabul, pria itu berhasil menghalalkan Tasya. Kedua pria itu lantas mengulurkan tangannya ke pasangan masing-Duh.


"Cie... Cium , cium, cium...!" seru Raja.


"Heh, masih bocah ingusan ngarep lihat yang kayak gitu!" sahut Tante Dewi menjewer telinga Raja.


"Kan sama ama yang di sinetron yang Mama lihat bareng aku," sahut Raja.


Dewi langsung membekap mulut anak itu agar yak melanjutkan ceritanya.


"Sekarang pada tukar cincin, tuh!" seru Andri menyerahkan kotak cincin pada Anan.


Setelah Anan dan Dita bertukar cincin gantian Herdi dan Tasya yang menoleh pada Arya meminta kotak cincin mereka. Arya dengan wajah senang mengacungkan kotak mersh berbahan beludru di tangannya. Ia lalu berlari menyerahkan kepada ayahnya tetapi dia terantuk batu dan menjatuhkan kotak tersebut. Sayangnya kotak itu terbuka dan satu cincinnya menggelinding ke selokan.


"Kok, sama persis sih sama yang dulu," ucap Dewi.


"Arya, kamu gimana sih, kamu harus cari di selokan sana sampai dapat!" seru Herdi.


"Sabar, Pak, enggak boleh gitu sama anak sendiri."


"Habisnya, aku kalah cepet terus dari Anan."


"Cie, gitu aja ngambek, udah tua, Bro!" ledek Anan.


"Sini Anta bantuin," ucap Anta.


"Enggak usah, aku harus bertanggung jawab karena ini," sahut Arya seraya menggulung lengan kemejanya sampai siku bersiap merogoh ke dalam selokan.


Arga yang sedari tadi sibuk merekam gambar dengan kamera videonya tak menyia-nyiakan adegan kelucuan Arya ini.


"Ketemu...!" Arya mengangkat benda itu ke atas.


"Bukan, Ya, coba liat deh!" sahut Anta.


"Eh, bukan ya, terus ini apa, ya?"


Arya mencium lingkaran besi di tangannya yang ternyata besi lingkaran dari gantungan kunci.


"Duh, bukan lagi, mana bau t*i, nih..." keluh Arya.


Anta, Arga dan Ria memandangi jijik melihat pemuda itu.


"Gimana Ya, dapat enggak?" tanya Herdi yang mulai kesal.


"Ketemu, nih." Arya menyerahkan cincin itu ke tangan sang ayah.


"Cuci dulu, Pak!" Pekik Tasya.


"Oh iya lupa, udah enggak sabar saya soalnya."


Herdi langsung berlari membersihkan cincin itu dengan air galon di dekat mereka.


Semua yang melihatnya langsung tertawa.


"Sekarang aku cium, nih!" ucap Herdi yang langsung mencium bibir Tasya di hadapan semuanya.


"Astagfirullah si Herdi, banyak bocah di bawah umur, woi!" bentak Dewi yang langsung menutup wajah Raja dengan tangannya.


"Tau nih, main nyosor aja!" seru Tasya menepis pria yang sudah menjadi suaminya itu.


"Duh, baru ini gue malu sama ayah gue sendiri, hadeh!" Arya menepuk dahinya sendiri.


"Hahaha... ternyata mirip ya kelakuannya sama elo!" sahut Arga meledek Arya.


*****


To be continue...


Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Ayo dong, mana votenya.🥰🥰🥰


Selamat menjalankan ibadah puasa.