
Seorang anak perempuan bernama Mikha baru saja pulang sekolah dia melewati kebun singkong. Suasana saat itu sudah terlihat gelap karena sedang mendung jika melihat bagaimana batang batang pohon singkong itu patah dan membuat perjalanan semakin sulit karena seorang pria sedang mencabuti singkong tersebut.
"Semoga aku tidak mengejutkanmu," kata pria itu.
Tentu saja Mikha merasa terkejut kala mendengar suara berat pria itu.
"Bagaimana kabar orangtuamu?" tanya pria itu.
"Baik," kata Mikha.
Angin berembus lebih kencang sampai membuat rambut hitam gadis berusia sepuluh tahun itu berkibas. Mikha duduk di kelas enam, sekolah yang sama dengan yang ditempati oleh Raja.
"Aku baru membuat sesuatu di sini. Kau mau melihatnya?" tanyanya.
"Aku mulai merasa dingin, dan aku mau sekalian di rumah sebelum gelap," ujar Mikha.
"Sekarang memang sudah gelap, Mikha. Kenapa pula kau pulang terlalu sore?" tanya pria itu.
"Ummm... aku habis kerja kelompok membuat rangkaian listrik paralel."
"Kamu mau ke rumahku sebentar? Lihat tuh sudah mulai gerimis."
Harusnya Mikha menolak dan memiliki untuk pergi, tetapi sayangnya gadis itu malah menurut karena mengenal pria itu.
"Aku sudah membuat tempat persembunyian kecil," kata pria itu.
"Aku nggak bisa lihat apapun," kata Mikha.
Pria itu menatap gadis kecil itu dengan pandangan aneh. Bahkan pria itu mulai memandangi tubuh si gadis penuh gairah.
"Kamu harus lihat lebih cermat, Mikha. Cobalah sekali lagi," katanya.
Pria itu lalu berjongkok dan mengetuk tanah.
"Apa itu?" tanya Mikha.
Gadis itu malah menghentakkan kaki ke tanah di dekatnya.
"Itu kayu untuk menahan pintu masuk agar tidak runtuh," ucap pria itu.
"Apa sih itu?"
"Kemari, lihatlah!"
Agak sulit untuk masuk ke dalam, mereka harus membungkuk untuk memasuki lubang itu. Mikha begitu kagum kala melihat sebuah cerobong asap yang akan mengisap keluar asap seandainya pria itu menyalakan api di dalam sana.
"Ini keren banget," ucap Mikha meskipun ia nyaris tak bisa berdiri tegak.
Pria itu lantas duduk di sebuah kursi di sana.
"Lihat-lihatlah dulu, rumah persembunyian yang aku buat bagus, kan?" tanyanya.
"Apa kamu mau minum sesuatu?" tanyanya.
"Aku mau pulang saja," jawab Mikha.
"Bersikaplah sopan dan minumlah fanta ini, seperti anak-anak yang lain yang sering ke sini," katanya.
"Anak-anak yang mana?" tanya Mikha.
"Kan tadi aku bilang aku membangun tempat ini untuk persembunyian. Nah, karena banyak anak tetangga sekitar yang sering ke sini, jadi aku pikir aku membuat ruang kelab saja, bagaimana?"
Mikha hanya mengangkat kedua bahunya. Ia mulai merasa kalau pria itu berbohong. Pria itu sangat kesepian karena tinggal sendiri. Laki-laki itu tidak pernah menikah dan asik dengan dunianya sendiri.
"Mikha, apa kau tidak kepanasan? Kenapa jaketnya nggak dibuka?"
Mikha merasakan pertanyaan itu ada benarnya karena hawa panas yang mulai menyeruak. Gadis itu akhirnya meminum seteguk kaleng soda.
"Sebaiknya aku pulang," ucap Mikha.
Pria itu bangkit berdiri dan membungkuk di dekat anak tangga menuju ke luar.
"Hmmm... kenapa kamu berpikir kau bisa pergi dari sini?"
"Mikha harus pulang, aku benar-benar harus pulang!"
"Lepaskan pakaianmu!"
"Apa?"
"Lepaskan pakaianmu!" Pria itu mengulangi pertanyaannya.
"Aku mau memeriksa apa kau masih perawan." Pria itu mulai melukiskan tawa yang menyeringai.
"Apa maksud Anda? A-aku, aku masih perawan, kok."
"Aku hanya mau memastikan. Orangtuamu nanti pasti akan berterima kasih kepadaku."
"Orangtuaku?"
"Ya, mereka hanya ingin gadis baik-baik,oleh karena itu aku ingin membuktikannya."
"Maaf, tolong lepasin aku, kumohon biarkan aku pergi." Mikha tak dapat lagi membendung air matanya.
"Kamu tak bisa ke mana-mana lagi, Mikha. Kau milikku sekarang."
******
To be continue...