
Happy Reading...
****
Arya memberitahukan pada Arga dan membuat keisengan dengan melemparkan popcorn ke arah pasangan nakal itu. Ketika pasangan itu menoleh, anak muda itu pura-pura pasang wajah fokus ke arah layar.
"Ya, iseng banget sih, oh iya nanti makan malam bareng, ya?" bisik Mey.
Entah kenapa pikiran Arya ingin menolak tetapi kepalanya malah mengangguk mengiyakan. Mey tersenyum manis pada anak muda itu.
Setelah film tersebut selesai, Dion memutuskan untuk mengajak Anta makan di kafe 90's Love. Ia masih ingin menagih janji untuk menanyakan perihal yang gadis itu ingin bicarakan. Arga dan Ria memutuskan untuk ikut.
"Arya tumben enggak ikut sama Anta?" tanya gadis itu.
"Enggak tau ya, padahal hati gue pengen ikut sama elo, tapi gue nurut sama Mey mau diajak dia makan malam di rumahnya," jawab Arya.
"Hmmm... ya udah sana, hati-hati ya," ucap Anta.
"Serius, Nta, elo ngebiarin gue ikut sama Mey?" Arya menahan tangan gadis itu.
"Ya terus harus gimana, kamu udah janji kan sama Mey?" tanya Anta.
"Iya sih."
"Oke, have fun sana!"
Anta menarik tangannya dari Arya lalu menepuk bahu anak muda itu seraya tersenyum. Gadis itu melangkah masuk menuju mobil Dion bersama Ria dan Arga. Mey melambaikan tangannya seraya tersenyum senang.
"Mey bahagia banget tuh, bisa berdua sama Arya," celetuk Ria.
"Tapi aku ngerasa aneh lho, tumben banget Arya mau diajak sama Mey," sahut Arga.
"Perasaan kamu aja kali, Ga," ucap Anta.
Mobil Dion akhirnya melaju pergi menuju kafe.
***
Ketukan pintu apartemen Tante Dewi terdengar.
"Duh, siapa sih ganggu banget, aku kan lagi main game," ucap Raja.
"Paling penggemar kamu yang mau nengokin kamu, banyak banget udah tiga cewek datengin kamu kan bawa buah sama kue," ucap Dewi.
"Suruh pulang aja Ma, bilang aja aku enggak mau diganggu," ucap Raja.
"Oke lah kalau gitu, Mama buka pintu dulu," ucap wanita itu lalu melangkah menuju pintu utama.
Tak lama kemudian, Mama Dewi datang dengan membawa parcel buah di tangannya.
"Tuh kan cewek mau nengok kamu, tapi mama bilang kamu lagi tidur, tadi namanya siapa ha, ummm... kalau enggak salah Angel," ucap Dewi.
"Apa? Angel? Kok, Mama enggak bilang?"
Raja langsung menaruh stik game dan bangkit. Ia mencoba menyusul Angel yang semoga saja belum jauh.
"Ada apa dengan Angel, sampe segitunya dikejar ckckckc dasar bocah!" gumam Dewi.
Raja menuju pintu lift sayangnya Angel sudah masuk ke dalam dan turun di lift tersebut.
"Duh, capek deh harus turun tangga semoga keburu."
Raja langsung masuk pintu tangga darurat dan menuruni anak tangga. Terlihat Tomo dan Susi sedang bercumbu di anak tangga. Dengan entengnya, anak itu melangkah di antaranya sampai membuat Tomo tersungkur jatuh.
"Duh, maaf Om, Raja buru-buru," ucap Raja tanpa berhenti lagi.
"Ah, si Raja, gimana sih? Bola mata saya sampai pada jatuh kemana nih," keluh Tomo.
"Tenang sayang, aku bantu cari ya bola matanya kamu diem-diem aja di sini, otak kamu juga udah meleleh tuh kepanasan," ucap Susi.
Raja berlari terengah-engah sampai di lobi untungnya ia masih melihat anak perempuan yang ia cari itu.
"Angel!" seru Raja.
Anak perempuan itu menoleh.
"Lho kata Mama kamu, kamu lagi tidur," ucap Angel.
"Haduh, capek banget aku ngejar kamu."
Anak muda itu masih tersengal-sengal saat berbicara dengan gadis kecil itu.
"Aku udah mendingan kok, yuk kita—"
Brug!
Raja pingsan kemudian tak sadarkan diri.
"Lho, Raja ayo bangun!" Pekik Angel.
Dua penjaga satpam langsung menghampiri Raja dan salah satunya kemudian menghubungi Mama Dewi. Dia dilarikan ke klinik kesehatan yang berada di sekitar apartemen Emas.
Sesampainya di sana, Raja diharuskan dibawa ke rumah sakit karena dokter jaga khawatir kalau anak itu menderita penyakit demam berdarah. Akhirnya, Mama Dewi menelepon ambulans rumah sakit tempat dia bekerja untuk membawa anak itu ke sana.
Angel memutuskan untuk ikut serta ke rumah sakit menemani Raja. Sang sopir miliknya mengikuti di belakang mobil ambulans. Mama Dewi juga menghubungi Andri dan Tasya untuk memberi kabar. Sementara itu, ponsel Anta mati dan tak bisa dihubungi.
***
Saat berada di kafe, Anta akhirnya menceritakan pertemuannya dengan hantu legenda di kolam renang. Gadis itu juga menceritakan pada Dion kalau kemungkinan tumbal berikutnya adalah dia. Semua asumsi itu cowok dengan pemuda tampan di sampingnya.
Dion akan berusia 17 tahun, dia juga yang paling jago dalam berenang. Bahkan pemuda itu acap kali menjuarai lomba renang antar pelajar semenjak SMP sampai sekarang.
"Iya emang sih, tapi Anta mau kamu lebih berhati-hati lagi, enggak mau kalau terjadi sesuatu sama Kak Dion," ucap Anta sembari mengunyah mie goreng telur yang ia pesan.
"Uhuk, uhuk!"
Arga dan Dion terlihat kompak sampai bersamaan tersedak air minum saat mendengar perkataan Anta barusan.
"Duh, so sweet banget si Anta sampai perhatian gitu sama Abang Dion," ucap Ria seraya mengulurkan tisu pada Arga dan Dion.
Arga bangkit dan mengulurkan tangannya ke dahi Anta. Ia menyentuh dahi gadis itu dengan punggung tangannya.
"Anta enggak lagi sakit, kan? Anta baik-baik aja?" tanya Arga.
"Ih, maksud Arga apa sih? Anta sehat kok, sehat banget malah, terus kekenyangan nih," jawab gadis itu.
Dion masih menatap Anta tak percaya.
"Terus kenapa kamu ngomong gitu sama Dion?" tanya Arga dengan nada kesal.
"Ya maksud Anta kan bener dong kalau Anta bakalan khawatir kalau Kak Dion kenapa-napa sama kayak khawatir Anta ke Arga," ucap Anta.
"Kalau sama Arya?" tanya Arga penasaran.
"Iya sama aja, emang kenapa sih?" tanya Anta menoleh pada Dion yang masih menatapnya terpana.
"Aku enggak suka aja dengernya," ucap Arga.
Tak!
Garpu di tangan Ria sampai terjatuh saat mendengar ucapan Arga barusan. Gadis itu menoleh pada pemuda di sampingnya yang menatap Anta dengan lekat.
Masa iya Arga suka sama Anta?
Ria masih menelisik wajah pemuda di sampingnya itu.
Kalau Arga suka sama Anta, wah gawat dong, sia-sia pendekatan aku sama dia selama ini, aku harus buat Anta jadian sama Abang Dion.
Ria masih menatap ke wajah Arga.
"Ria sama Kak Dion kenapa pada bengong?" tanya Anta menyentak kedua orang itu.
"Eh, enggak apa kok, cuma lagi liat layar tv itu," ucap Dion berbohong seraya menunjukkannya tv yang terpasang di dinding kafe.
Anta menoleh ke arah layar tv itu.
"Itu berita apa sih, kok kayak zaman dulu banget kayak masih tahun 90-an?" tanya Anta menunjuk layar tv.
"Apaan sih, mata elo katarak kali, itu berita olahraga zaman sekarang, mana yang tahun 90- an?" tanya Dion.
"Ih serius itu dari pakaiannya itu berpenampilan baju dan kemeja yang dimasukkan ke celana kayak cupu jadul gitu."
"Masa sih, Nta? Aku kok liatnya berita olahraga," sahut Ria.
"Serius, tuh lagi pada pesta di tempat ini, tapi cat temboknya beda, terus lebih usang, yang cewek pake belt berukuran besar tapi rapi."
"Nta, jangan ngaco deh!" sentak Dion.
"Eh bentar, itu kan tinggal lima orang terus kok itu pada keracunan semua, eh mereka mati di meja yang dekat air mancur kecil itu," ucap Anta.
"Nta, yang mati ada cowok dua, cewek tiga orang, bener enggak?" tanya Arga.
"Bener, Ga, tuh Arga aja lihat beritanya di tv kan?"
Anta mengucek-ucek kedua matanya untuk memastikan penglihatannya tak salah. Ternyata ia masih melihat hal yang sama yang terdapat di gambar itu.
"Nta, aku enggak lihat gambar di tv seperti yang kamu lihat," ucap Arga.
"Lha terus, bagaimana kamu bisa tahu korban yang mati di meja itu?" tanya Anta tak mengerti sampai Ria dan Dion menoleh ke arah Arga dan Anta secara bergantian.
"Karena aku lihat mereka di meja sudut itu dekat air mancur, mereka lagi lihat ke sini," ucap Arga.
Anta lalu menoleh pada meja yang berada di sudut termasuk Ria dan Dion.
"Astagfirullah..." pekik Anta.
"Mereka lihat apaan, sih?" tanya Dion.
"Aku tau apa yang mereka lihat, sebentar Aku coba buktikan," ucap Ria.
Gadis itu mengeluarkan kamera polaroid dari tas miliknya. Ia lalu menangkap gambar meja yang berada di sudut tersebut. Setelah kertas polaroid itu muncul ke luar, gadis itu mengibas-ngibas agar cepat kering.
"Hah, seriusan ada lima hantu lagi menatap ke kita," ucap Ria.
"Ah, masa sih? Mana sini gue liat!"
Dion meraih kertas polaroid dari gadis itu.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni