
Jangan lupa Vote yang banyak buat Anta ya...
*******
"Gelang ini buat Anta?"
"Iya, kata Ayah buat kamu," sahut Arya.
"Oke, bilangin sama Om Herdi terima kasih," ucap gadis itu.
"Assalamualaikum..."
Tante Dewi masuk bersama Raja dan Andri.
"Walaikumsalam..."
"Wuih, ada pocong makan mie rebus, eh kayak kenal sama pocongnya," ucap Raja.
"Pocong, pocong mana?" tanya Tante Dewi.
"It—"
"Stop! Enggak usah jelasin, Mama mau rebahan mau tidur. Itu si Tasya suruh bangun, pindah ke rumahnya!" ujar Tante Dewi.
"Dia yang nanya dia yang enggak mau dijawab," ucap Raja.
"Ya, kamu kan enggak jauh bahas soal hantu deh pastinya," sahut Tante Dewi.
"Udah, yuk, rebahan!" ajak Andri menarik lengan Tante Dewi.
"Oh iya, Ma, Anta enggak jadi masuk SMA di sekolah Anta yang lama, kata Bunda Anta disuruh pindah sama Raja juga pindah biar enggak ketemu sekolah hantu," ucap Anta.
"Apa? Jadi selama ini ada sekolah hantu deket sama sekolah kamu?" pekik Tante Dewi.
"Iya ada," jawab Anta.
"Wuih, keren ya udah jadi hantu aja masih sekolah," celetuk Andri.
"Apaan sih kamu, serem tau ada sekolah hantu kayak gitu. Ya udah, nanti Mama urus kepindahan sekolah kalian."
Tante Dewi berlalu menuju kamarnya sampai tak sadar menembus Arya yang sedang makan. Andri yang mengikuti istrinya juga tak sadar menembus Arya.
"Duh, kayak ada geli-gelinya gitu, deh," ucap Arya.
"Tuh kan, Abang Arya, apa kabar, Bro?" tegur Raja yang langsung duduk di samping Arya.
"Abang, abang emang gue abang tukang bakso apa?" keluhnya.
"Tau enggak, waktu itu ada yang nangis di beranda situ terus bilang huhuhu Anta kangen sama Arya," ucap Raja meledek Anta saat mengadukan hal tersebut pad Arya.
"Uhuk... uhuk... belum pernah ya ngerasain nih sendok masuk ke mata?" ancam Anta menuding Raja dengan sendok ke arah anak itu.
"Iya sih, Kakak emang nangisin Kak Arya, pake enggak ngaku," sahut Raja.
"Cie... ada yang kangen nih sama gue," ledek Arya.
"Enggak sampe segitunya sih cuma lagi inget aja," sahut Anta.
"Cie..." ucap Silla menimpali.
"Tante Silla mau Anta masukin dalam botol enggak kayak jin botol?" ancam Anta.
"Emang bisa?"
"Bisa lah, nanti aku minta bantuin Om Item," sahut Anta.
"Duh, galak banget ini cewek."
"Eh liat, aku punya temen baru namanya Anta, nih."
Raja menunjukkan sosok tangan yang merangkak ke atas punggungnya..
"Kyaaaaaa apaan itu?" pekik Arya.
"Dih, udah jadi hantu masih takut aja," cibir Anta.
"Ini namanya Naga, lucu ya cuma tangan doang hehehe..." ucap Raja.
"Wah, ada yang lebih error dari Anta, udah ah Anta mau cuci piring ini, terus rebahan."
Gadis itu bangkit menuju dapur.
Tangan Naga merangkak menuju Arya.
"Singkirkan itu enggak! Gue tusuk nih pakai garpu!" ancam Arya.
"Dih, cemen banget masa hantu takut hantu, huh! Ayo, Naga kita masuk kamar!" Raja melangkah menuju kamarnya.
Tak lama kemudian, Anta kembali ke ruang tamu.
"Anta lupa mau bangunin Tante Tasya ngajak pulang, hehehe..."
Gadis itu membangunkan Tasya untuk pulang ke rumahnya. Dia juga menemani wanita itu untuk tidur di rumahnya. Mulai saat itu Anta tinggal bersama Tasya.
***
"Mey, kenalin ini Deni," ucap sang Mama.
"Halo, jadi ini anak kamu, cantik ya kayak kamu," ucap Deni.
Ia mengamati tubuh belia Mey yang pastinya terlihat lebih muda dari Liemey. Apalagi saat itu gadis cantik itu hanya mengenakan celana pendek dan kaus tanpa lengan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.
"Mey, salaman dong sama Om Deni, dia pacar Mama," ucap Liemey menyentak anak gadisnya yang hanya terdiam sedari tadi.
"Hah, pacar Mama?" tanya Mey.
"Iya, mungkin sebentar lagi kami menikah," ucap Liemey seraya mengusap lengan Deni.
"Halo, Mey!" sapa Deni menjabat tangan gadis itu dengan meraihnya paksa.
"Permisi, aku mau tidur," ucap Mey meninggalkan keduanya.
"Mey, tunggu! Kamu besok ujian, kan?" tanya sang Mama.
Mey menjawab dengan anggukan.
"Lalu, kamu udah pilih sekolah mana yang mau kamu jadikan SMA kamu?"
"Belum, aku mau bareng Anta aja, biar bisa satu sekolah lagi," jawab Mey.
"Selalu saja Anta, kamu enggak takut apa punya temen aneh kayak gitu?"
"Kenapa dengan Anta, apanya yang aneh?" tanya Mey dengan nada mulai meninggi.
"Kamu kok ngomong gitu sama Mama?"
Liemey balas membentak.
"Aku enggak bentak Mama, cuma enggak suka aja Mama menjelek-jelekkan Anta, cuma dia yang mau temenan sama aku dengan tulus, dan Anta enggak aneh," sahut Mey.
"Ya anehlah, Mama tuh ngerasa dia suka menghayal deh, takutnya enggak waras, makanya Mama enggak mau kamu dekat sama Anta."
"Aku enggak peduli, Ma, aku tetap ingin bersahabat dengan Anta dan satu sekolah sama dia," tegas Mey seraya masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
"Mey, tunggu! Mama belum selesai!"
Mey menutup kedua telinganya dengan headset lalu mendengarkan lagu sambil membuka buku catatan hariannya. Dipandangnya foto Arya yang menghias buku catatannya itu.
"Kenapa sampai sekarang dia belum kembali, kenapa semua ritual yang aku lakukan gagal mengembalikannya, harus apa lagi, ya?" gumam Mey.
Ia merebahkan tubuh rampingnya itu sambil memejamkan mata. Ia ingin terlelap agar bisa bermimpi bertemu Arya, sang pujaan hatinya.
Sementara di luar kamarnya, Deni asik menggoda Liemey dengan rayuan mautnya. Apalagi tujuannya berkencan dengan wanita yang lebih tua sepuluh tahun darinya itu hanyalah untuk mendapatkan harta.
Liemey membawa pria itu masuk ke dalam kamarnya kala itu. Pria itu tak peduli dengan bentuk tubuh Liemey yang sudah tak terlihat aduhai baginya. Ia mencoba membayangkan wanita lain saat mencumbu wanita itu. Bahkan ia melirik ke arah foto Mey yang terpampang di dinding kamar perempuan yang sedang ia rayu tersebut.
Tepat pukul satu dini hari, Mey terbangun untuk pergi ke kamar mandi. Setelah itu ia menuju lemari pendingin untuk meraih segelas air.
"Halo."
"Astaga, ya ampun!" pekik Mey saat terkejut menutup pintu lemari pendingin dan melihat sosok Deni yang sedang berdiri tanpa mengenakan pakaian. Ia hanya mengenakan celana pendek saat menyapa gadis itu.
"Kamu, ngapain sih masih di sini, bukannya pulang?" hardik Mey.
"Uh... judes juga ya kamu makin gemesin," ucap Deni seraya mencolek dagu gadis itu.
Mey langsung menepis tangan nakal Deni dan melemparkan air dalam gelas ke wajah pria tersebut.
"Kurang aja ya kamu!"
Deni menarik rambut milik Mey sampai gadis itu mengaduh kesakitan.
"Lepas, lepaskan aku!" teriak Mey dengan penuh amarah.
Deni membekap mulut gadis itu agar tak lagi bersuara membangunkan Liemey.
"Bisa diam, enggak? Kalau kamu enggak mau diam, aku akan bunuh kamu!" ancam Deni.
Mey menatap tajam ke arah pria tersebut ia mencoba untuk memberontak. Akan tetapi, pria itu sudah meraih pisau dapur di tangan kanannya dan mengarahkan pisau itu pada leher Mey.
******
To be continue...
Follow IG ku ya @vie_junaeni
Mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
- Diculik Cinta