Anta's Diary

Anta's Diary
Rumah Sakit Keluarga



Happy Reading...


******


Gadis itu mengambil gambar pintu gudang di salam ruang laboratorium tersebut secara tiba-tiba tanpa mau melihat lagi hasil jepretannya.


"Kamu ngapain, Ria?" tanya Ani.


"Enggak apa-apa, cuma ngetes kamera," jawab gadis itu berbohong.


Kertas foto polaroid yang sudah tercetak tadi langsung Ria simpan di dalam tas. Ia tak berani melihatnya kala itu. Sepulang sekolah nanti, ia akan menunjukkannya pada Arga.


Bel sekolah tanda pulang berbunyi, Ria langsung menghampiri Arga dan menunjukkan kertas pelapis hasil yang ia cetak tadi.


"Ga, liat deh!" pinta Ria.


"Apaan nih?"


"Nasi bungkus," jawab Ria asal.


"Mana nasinya?" tanya Arga belagak polos.


"Au amat, masa sih Arga enggak bisa lihat artis di foto ini?" tanya Ria dengan nada kesal.


"Oh, ada artisnya toh, coba sini liat!"


Arga meraih kertas foto polaroid dari tangan Ria.


"Astagfirullah, dapat dari mana ini fotonya?" tanya Arga setelah melihat penampakan perempuan memakai seragam sekolah dengan lidah yang terjulur keluar meledek Ria.


Kedua mata hantu itu melotot seperti hendak keluar dari sarangnya. Ada bekas sayatan di pipi gadis itu dan masih mengeluarkan darah. Di lehernya juga terlihat sayatan memanjang yang membuat permukaan kulit di bagian leher hantu itu terbuka sedikit.


"Punya aku lah, enggak ada yang kasih," sahut Ria.


"Gemesin lama-lama ini cewek," ketus Arga.


"Wah, makasih Arga, aku dibilang gemesin, ih... senangnya."


"Idih... maksudnya aku tuh ini foto diambilnya di mana, di mana kamu dapat foto artis macam gini?" tanya Arga.


"Di ruang lab IPA, di dalam gudangnya. Kan ada suara berisik tuh ketok-ketok terus pintunya kebuka gitu, aku penasaran dong, jadi aku ambil aja gambar di pintu gudangnya. Eh, ternyata bener ada artisnya," ucap Ria.


"Kamu mau liat artis macam gini lebih banyak, enggak?" tanya Arga.


"Maksudnya para hantu, di mana?"


"Di belakang sekolah sd punya Raja di situ tuh, kam ada sekolah hantu di sana," ucap Arga.


"Ih... kamu mah gitu, masa mau ngajak aku nge-date ke sekolah hantu," sahut Ria memukul bahu Arga dengan gemas.


"Pede banget ni cewek, aku ngomong kemana dia jawab apa, siapa juga yang ngajak kencan, males!"


Arga melangkah menuju mobil ibunya yang sudah menjemput dan berada di seberang sekolah seraya melambaikan tangan pada Ria.


"Huh...!" seru Ria mencibir pemuda itu.


***


Di rumah sakit, Arya dan Herdi langsung menuju bagian administrasi untuk pasien baru. Ia menanyakan mengenai pasien bernama Anta maupun Tasya. Tak ada data yang sesuai hari itu menurut suster.


"Kamu yakin kalau Anta sama Tasya dibawa ke sini?" tanya Herdi.


"Kata Ria tadi gitu, Rumah Sakit Keluarga, ya cuma di sini, mana lagi," sahut Arya.


Tiba-tiba, anak muda itu menangkap sosok anal kecil yang sedang berdiri di depan vending machine sambil memilih minuman dan snack yang ia inginkan.


"Ja, kamu enggak apa-apa?" tanya Arya menepuk punggung anak itu.


"Emang aku kenapa?" tanya Raja tak mengerti.


"Lho, katanya kalian kecelakaan makanya enggak masuk sekolah," sahut Arya.


"Kata siapa?" tanya Raja tak mengerti.


"Ya, kamu siapa yang ngasih tau kalau mereka kecelakaan?" Herdi menepuk bahu Arya.


"Tadi si Ria kasih tau kalau Anta ada di rumah sakit makanya enggak masuk sekolah," jawab Arya seraya menggaruk-garuk kepalanya meski tak gatal.


"Ah, kamu tuh kalau dapat info yang jelas, Ria kan cuma bilang ada di rumah sakit bukan kecelakaan, huh!" Herdi memukul punggung anaknya pelan dengan gemas.


"Lha, terus kamu kenapa ada di rumah sakit, Ja?" tanya Arya.


"Oh... tadi Om Mark sama Kak Jorji kecelakaan, tabrak lari, tau enggak yang nabrak siapa?"


"Hah, mereka ditabrak terus pengemudinya lari gitu?" tanya Herdi.


"Enggak lari, Om, yang nabrak naik mobil terus pergi kabur," sahut Raja.


"Iya, maksud aku gitu, pengemudinya kabur, siapa yang nabrak?" tanya Herdi.


"Bapaknya Kak Ria," ucap Raja.


"Hah? Kok bisa?" tanya Herdi.


"Ya bisa lah, Yah, namanya takdir, kalau udah ditakdirkan dia nabrak hari ini ya nabrak aja. Terus kondisi mereka gimana?" tanya Arya.


"Aku belum tau, coba tanya Kak Anta sama Tante Tasya di lantai tiga," sahut Raja.


"Yee... bocah!" Arya menoyor kepala Raja.


"Hehehe... eh kebetulan ada Om, ada uang kertas 50 ribu enggak?" tanya Raja.


"Buat apa?" Herdi balik bertanya.


"Buat beli ini, butuh uang kertas soalnya," jawab anak itu seraya menunjuk makanan dan minuman di dalam vending machine.


"Huuu... bilang aja minta beliin," sahut Arya.


"Nah, itu Kak Arya tau hehehe..."


Herdi meraih dompet dalam sakunya dan menyerahkan uang yang Raja minta.


"Ambilin saya teh botol itu, Ja," pinta Herdi.


"Gue juga dong, ambilin yang fanta itu," tunjuk Arya.


"Okay, makasih ya Om," sahut Raja.


***


Sementara itu, di lantai tiga Rumah Sakit Keluarga.


"Gimana kondisi Om Mark?" tanya Anta pada Tasya.


"Dia masih belum sadar tapi lukanya enggak terlalu berat cuma kaki kirinya patah," sahut Tasya.


"Kaki patah mah lumayan Tante, berat juga lama sembuhnya. Kabar Kak Jorji gimana ya?" tanya Anta.


"Tunggu dokter keluar, dia masih ada di ruang operasi, kan," jawabnya.


Tak lama kemudian, Dokter Ridwan membawa kabar dari rumah operasi. Jorji mengalami perdarahan epidural, yaitu perdarahan yang terjadi diantara bagian dalam batok kepala dengan selaput otak. Perdarahan epidural biasanya terjadi pada satu tempat tertentu di otak dan merupakan cedera kepala fokal yang paling sering ditemukan pada kelompok usia dewasa muda, dengan angka kejadian per tahun sebesar 2,7% dari seluruh kasus cedera kepala.


Perdarahan epidural termasuk kasus kegawat-daruratan di bidang bedah saraf yang bila dibiarkan akan menyebabkan pergeseran otak yang akan mengakibatkan kematian. Dokter Ridwan melakukan operasi kraniotomi pada Jorji. Langkah ini diambil karena operasi yang paling efektif dalam menyelamatkan nyawa pasien dengan tingkat kesembuhan yang dramatis. Pada kondisi ini keterlambatan dalam pelaksanaan operasi akan mengakibatkan kecacatan dan kematian pada penderita. Untungnya Jorji dapat diselamatkan.


"Hanya saja, pasien harus di sini dulu sampai saya diperbolehkan pulang. Masalahnya banyak pasien yang mengalami kelainan pasca operasi dan karena pasien belum sadarkan diri, jadi saya belum tau kelainan pasien tersebut nanti. Kita doakan saja yang terbaik," ucap Dokter itu.


"Baik, Dok, lakukan yang terbaik, ayahnya pasti akan menyetujui apapun asal anaknya selamat," ucap Tasya.


Dokter itu lalu pamit dari hadapan keduanya.


"Tante, Anta mau pipis dulu, ya," ucap Anta.


"Oke, jangan lama-lama!"


Anta lalu melangkah menuju kamar mandi di rumah sakit tersebut. Gadis itu melewati koridor yang sepi. Terlihat papan nama bertuliskan Ruang Lab dan juga Ruang Bedah.


"Hmmm... sepi banget nih, perasaan Anta nggak enak nih, biasanya ada yang ngagetin," gumam Anta.


Ia lalu sampai di depan toilet dan masuk ke dalamnya. Di ruangan yang lembab dan minim cahaya itu, Anta menemukan sepenggal kepala wanita berambut panjang yang sedang tersenyum sinis. Sosok itu pun menatapnya dengan kedua bola matanya yang berlumuran darah sambil cekikikan.


"Astagfirullah, tuh kan ada aja yang ngagetin, Halo Tante!" sapa Anta.


Ia lalu masuk ke dalam bilik toilet begitu saja tanpa peduli dengan hantu itu. kepala itu menggelinding masuk ke dalam toilet yang dimasuki Anta.


"Eh, enggak boleh ngintip, sembarangan aja!" sahut Anta.


Ia menggeser kepala hantu perempuan tadi dengan ujung sepatunya. Kepala itu menggelinding keluar akhirnya. Gadis itu lalu keluar dan baru saja sampai di depan cermin kalau ia terjatuh lantaran tersandung sesuatu. Setelah mencari tahu apa yang membuatnya tersandung, Anta terperanjat saat melihat yang membuatnya tersandung adalah tubuh seorang wanita yang tidak memiliki kaki dan tangan.


Ngerinya lagi hantu wanita tersebut menatap Anta dengan tatapan kosong tanpa ekspresi apa pun.


*****


To be continue…


Follow IG : @vie_junaeni