
Chat bersama Vie 😁😁
Vie: Yeayyy 3 pemenang pulsa @20rb akan ku umumkan tanggal 2 November ya.
All : Darimana pemenang itu Vie dapatkan?
Vie : Dari pengirim Vote terbanyak setiap minggunya.
Jadi...
sebelum membaca, jangan lupa di Vote ya.
Hitung-hitung bayar tulisan ku ini dengan poin 😁
Mengandung adegan sadis, mohon bijak dalam menyikapi cerita di bab ini terima kasih.
...******...
Mobil kijang hitam tersebut mengikut Mey yang mencoba berjalan kembali tak tau arah, ia hanya berharap ada seseorang yang mau memberinya makan nanti karena ia merasa sangat lapar.
Tin Tin...
"Hei, Nak, apa kau mau ikut?" tanya si pria yang rambutnya dicat warna merah itu. Ia terlihat nyentrik.
Mey menggelengkan kepalanya dengan wajah sangat ketakutan bertemu dengan pria asing itu.
"Ayolah jangan takut, aku akan mengantarmu pulang," ucap si pria itu mencoba membujuk Mey.
"Aku tak mau pulang," jawab Mey ketakutan.
"Baiklah, kalau begitu ikut saja dengan ku, kau lapar, kan?" tanya si pria itu.
"Tidak, aku tak lapar," ucap Mey mencoba berbohong dan melangkah cepat bahkan mulai berlari ke dalam sebuah kebun penuh semak belukar.
"Wah rese tuh bocah!"
Pria itu turun dari mobil tersebut lalu mengejar Mey. Dengan mudahnya ia menangkap tubuh mungil gadis itu dan memanggulnya ke atas bahunya lalu memasukkan tubuh Mey ke dalam mobil secara paksa.
"Lepaskan aku! lepaskan aku!"
Mey terus saja berteriak sampai akhirnya pria itu kesal dan memukul wajah gadis itu sampai tak sadarkan diri.
"Nah, begini lebih baik."
Mobil kijang hitam itu melaju menuju ke sebuah rumah tua di pinggiran kota dekat danau. Rupanya pria itu adalah penculik anak-anak. Di rumah itu ia mengeksekusi para korban penculikan yang diambil organ dalam tubuhnya untuk dijual ke rumah sakit maupun orang-orang kaya yang membutuhkan donor organ tubuh.
Terpajang di bagian rak, ada botol- botol kaca berisi organ tubuh seperti bola mata, bahkan ada janin bayi yang dia awetkan dari seorang korban wanita yang tengah hamil muda. Di bagian dalam lemari pendinginnya terdapat organ jantung, ginjal dan hati yang sudah di pesan oleh si pembeli. Sungguh pemandangan yang mengerikan untuk dilihat.
Si pria berambut merah yang bernama Tomy itu meletakkan tubuh Mey di atas ranjang operasi untuk melakukan pembedahan. Lalu Tomy menyiapkan obat bius dan alat-alat bedah kemudian menaruhnya di rak samping ranjang operasi.
Kini, pria itu bersiap untuk mengeksekusi tubuh Mey. Tomy memyuntikkan obat bius ke dalam tubuh gadis itu. Kemudian ia melepas semua pakaian di tubuh gadis itu dengan cara mengguntingnya. Tiba-tiba aura hitam muncul dari dalam tubuh Mey. Kedua Mata Mey terbuka dan membelalak menatap ke arah Tomy seraya mengeluarkan suara berat menggeram.
"Ba-bagaimana bisa kau bangun, kau kan sudah kuberi obat bius?"
Tomy yang terkejut mundur beberapa langkah. Kedua bola mata milik Mey berubah menjadi hitam. Senyum menyeringai terpancar dari wajah gadis itu yang sudah memegang gunting bedah. Tanpa banyak kata dan basa-basi gadis itu menusuk leher bagian belakang Tomy
"Aarrgghh... apa yang kau lakukan?" pekik pria itu seraya mencoba menarik gunting di belakang lehernya itu.
Gadis itu menyuntikan obat tersebut ke dada Tomy.
Jleb!
"Aaaaaaaa...!"
Pria itu berteriak dengan kencangnya dan mencoba untuk menusuk balik Mey tapi tak bisa. Kemudian tubuh pria itu sudah terkena reaksi obat bius itu. Ia tak dapat mengendalikan gerak tubuhnya lagi.
Tomy tergeletak tak berdaya di lantai saat Mey perlahan-lahan menghampirinya.
"Hentikan!" ucap Tomy yang masih bisa berbicara dan mencegah tindakan Mey.
"Aku akan melakukan apa yang sering kau lakukan pada para korban itu," ucap Mey dengan nada suara berat seperti suara pria. Kini di tangan gadis itu menggenggam pisau bedah.
Mey menyayat tubuh pria itu dari bagian leher sampai perut Tomy dan merobek paksa kulitnya. Pria yang masih dalam pengaruh obat bius itu tak merasa sakit, tetapi ia masih bisa bersuara dan mengeluarkan air mata kala melihat tubuhnya terbuka mengerikan seperti itu.
Sobekan demi sobekan Mey ciptakan dengan tangan berlumuran darah. Mey lalu meraih kedua ginjal lalu berlanjut ke jantung, kemudian hati dan berakhir di pankreas milik pria itu dan memasukkannya dalam sebuah kotak penyimpanan dan menaruhnya di dalam lemari es.
Perlahan dengan pasti Tomy yang dibiarkan tergeletak seperti itu akan mati karena kehabisan darah dan kehilangan organ tubuhnya.
Setelah semua di simpan dengan rapih, Mey yang masih kerasukan meraih pisau bedah, ia menyayat tangan kirinya dan membuat luka goresan di sana. Lalu ia jatuh ke lantai tak sadarkan diri.
Mey terbangun dari pingsannya. Ia langsung berteriak saat melihat kengerian dari tubuh pria penculiknya yang tampak di hadapannya itu. Mulut pria itu terbuka lebar dengan mata terbelalak. Tubuh gadis itu bersimbah darah. Gadis itu langsung meraih tas ranselnya untuk berganti pakaian.
Setelah Mey berganti pakaian, Ia taruh pakaian penuh darah tadi ke dalam kantong plastik. Gadis itu bergegas meraih tas ranselnya dan ke luar dari bangunan mengerikan itu. Namun, langkahnya terhenti. Ia berbalik menuju tubuh Tomy yang sudah tak bernyawa itu.
Mey dengan nekatnya merogoh saku dan mencari dompet pria tersebut untuk meraih uang tunai yang ada di dalamnya. Ia perlu uang untuk membeli makanan dan pergi ke rumah Anta.
"Maafkan aku ya, Om."
Tangan Mey gemetaran saat membersihkan permukaan dompet itu dengan tisu basah untuk menghilangkan bekas sidik jarinya. Gadis itu lalu meletakkan dompet itu di samping tubuh Tomy. Mey lalu bergegas pergi dari rumah mengerikan itu. Beruntung sebuah bus berhenti di halte tak jauh dari tempat Mey berdiri.
...******...
To be continue...
Mohon dukungannya, mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
- Diculik Cinta
Vie Love You All...😘😘😘
Pleaseeeeee Jangan lupa VOTE...!!!