
Jangan lupa sebelum membaca di like, komen dan bayar pakai vote ya. Terima kasih...😊
Happy Reading.
******
"Sama, Anta juga jadi baper kalau mereka berdua bersama," sahut Anta.
Para tamu undangan mulai hadir dan duduk di kursi tamu yang terletak di belakangnya meja penghulu. Terlihat sosok pria yang Tasya dan lainnya kenal datang bersama Arga.
"Sahid?"
Tasya menghampiri pria itu.
"Halo, Tasya! Apa kabar?"
Sahid memeluk wanita itu di depan Pak Herdi.
"Kalian saling kenal?" tanya Pak Herdi.
"Oh, jadi ini mempelai prianya?" ucap Sahid balik bertanya.
"Iya, dia mempelai prianya, kamu diundang sama Hyena?" tanya Tasya.
"Ya, begitulah. Kebetulan saya pindah ke sini karena ada kerja sama dengan perusahan The Rocky Company dan ternyata salah satu pemegang sahamnya adalah Hyena," jawab Sahid.
"Om Sahid!" seru Anta.
"Hei, ini pasti Anta. Arga sering cerita tentang kamu," ucap Sahid seraya merentangkan kedua tangannya agar Anta datang memeluknya.
"Kenapa Arga enggak bilang kalau mau datang ke sini sama Om Sahid?" tanya Anta.
"Kejutan..." sahut Arga.
Sahid memandangi wajah Anta yang mengingatkannya akan Dita.
"Kamu cantik banget, persis Bunda kamu," ucap Sahid.
"Cantik ya, Bi? Aku bakalan yakin Anta nanti cocok sama aku," ucap Arga merangkul Anta yang terkejut karena sentuhan itu.
Arya langsung mendekat dan menepis tangan Arga dan berucap, "lepas!"
Tatapan Arga dan Arya langsung menajam seolah ada kilatan petir yang beradu dan terpancar dari keduanya. Anta langsung berdiri di antara kedua pemuda itu untuk melerai mereka agar tak terjadi keributan.
Ria yang datang bersama keluarganya langsung menghampiri Arya.
"Abang Dion, kok pakai seragam pelayan?" tanya Ria.
"Lagi bantuin Anta, lumayan kerja sampingan," jawab Arya asal.
"Eh, ada Kak Arga, apa kabar?" tanya Ria yang terkesima melihat Arga dengan tampilan rapih dengan setelan jas.
"Halo, kabar baik," jawab Arga tersenyum manis.
"Nah, kayaknya Ria suka nih sama Arga, boleh juga kalau gue jodohin sama mereka," batin Arya yang tersenyum licik melirik ke arah Arga.
"Mempelai wanitanya mana, ya?" tanya Pak Penghulu yang menghampiri Pak Herdi.
"Sebentar, Pak, coba saya hubungi dia dulu," ucap Pak Herdi yang langsung meraih ponsel dari saku celananya untuk menghubungi Hyena.
Di sudut ruangan lainnya saat Raja berbincang dengan Ratu Sanca, Tuan Hartono menghampiri anak itu. Ia memandang anak laki-laki tampan itu dengan saksama dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Ada yang salah sama saya, Om?" tanya Raja.
"Sempurna, kamu sempurna," ucapnya seraya menepuk bahu Raja.
"Sempurna gimana?" tanya Raja.
"Sempurna untuk saya jadikan model iklan taman wahana yang di depan sana. Perkenalkan saya Hartono pemilik wahana yang ada di seberang sana. Kamu mau jadi model iklan?" tanyanya.
Raja menoleh pada Ratu Sanca.
"Aku tak suka dengan pria ini, aura jahat terlihat darinya," ucap Ratu Sanca yang keberadaannya tak dilihat oleh Hartono.
"Nanti, saya pikir dulu, Om," ucap Raja.
Hartono lalu menyerahkan kartu nama pada Raja.
"Saya akan bayar mahal kamu sebagai bintang iklan," ucapnya.
"Dibayar mahal? Umm... bisa buat beli PS empat, enggak?" tanya Raja.
"Bisa, bisa banget, kamu hubungi saya nanti saya bayar kamu buat beli sepuluh PS 4, bagaimana?"
"Wuih, keren!"
Seorang pria datang menghampiri Hartono.
"Pak, Nona Hyena belum datang, Tuan Herdi mau Anda menghubunginya atau mencarinya," ucap pria itu.
"Masa sih, belum datang? Oke, kalau begitu saya coba cari."
Hartono melangkah pergi bersama pria itu ke luar ruangan.
"Ja, jangan percaya kata-katanya, aku yakin dia jahat," ucap Ratu Sanca memperingatkan Raja.
Meskipun Raja menjawab tidak tertarik tapi anak itu masih menyimpan kartu nama yang diberikan Hartono tadi dan membayangkan uang yang akan dia dapat jika menjadi bintang iklan.
Hartono yang sudah mendapat kabar tentang Hyena segera memberitahukan kabar tersebut pada Pak Herdi yang sedang duduk menunggu bersama Pak Penghulu pernikahan.
"Maaf sebelumnya, tapi setelah saya cari kabar mengenai Nona Hyena, ternyata dia mengalami kecelakaan," ucap Hartono.
"Alhamdulillah..."
Anta dan Arya berucap bersamaan.
Semua tamu tertuju pada Anta dan Arya. Mama Dewi menatap tajam keduanya yang langsung menunduk malu.
"Bagaimana kondisi Hyena sekarang?" tanya Pak Herdi.
"Nona Hyena sekarang ada di Rumah Sakit Keluarga," jawab Hartono.
"Lho, Rumah Sakit Keluarga kan tempat kamu kerja, Dew, coba cari tau!" ucap Andri.
"Oh iya, coba aku hubungi Dian dulu, ya," sahut wanita itu seraya meraih ponsel dari saku jas untuk menghubungi asisten di rumah sakit tempat dia bekerja.
Acara pernikahan hari itu akhirnya dibatalkan. Para tamu juga dipulangkan. Sementara Pak Herdi menuju rumah sakit dan meminta Andri untuk menemaninya.
Andri dan Mama Dewi mengikuti Herdi untuk menemaninya menuju rumah sakit. Begitu juga dengan Hartono bersama asistennya. Sementara istri dan anaknya diperintahkan untuk pulang bersama sopir pribadinya tadi.
"Bang Dion, ayo kita pulang!" ajak Ria.
"Elo pulang duluan aja, gue masih beres-beres di sini," jawab Arya berbohong agar bisa lebih tau kabar mengenai Hyena.
"Ria, ayo kita pulang!" ajak sang Mama.
"Iya, Ma, ya udah aku pulang duluan. Ummm... Abang aku boleh minta tolong?" tanya Ria.
"Tolong apa?"
"Mintain nomor telepon Kak Arga," bisik Ria.
"Oh itu, beres nanti gue mintain," jawab Arya.
Ria melambaikan tangan untuk pamit pada Anta dan lainnya.
"Kalian mau kepo, enggak?" bisik Tasya ke Anta dan Arya.
"Kepo gimana?" tanya Anta.
"Kita ikutin ke rumah sakit, yuk!" ajak wanita itu.
"Cakep! Gue demen nih sama Tante Tasya," sahut Arya semangat.
"Ih, ogah banget didemenin sama bocah macam kamu!" sahut Tasya mencibir.
"Yee, bukan demen jadi pacar, maksudnya—"
"Iya, saya juga tau, cuma bercanda doang juga jawabnya, kalau kita saling demen nanti Anta marah," ledek Tasya melirik ke arah Anta.
"Apaan, sih!" sahut Anta bersungut-sungut.
"Kalian mau ke mana?" tanya Arga menghampiri Anta.
"Mau ikut Tante Tasya kepo," jawab Anta.
"Maksudnya?" tanya Arga lagi tak mengerti.
"Mau ke rumah sakit kepoin keadaan Tante Hyena," jawab Anta.
Arga mengangguk-anggukan kepalanya mengerti maksud tujuan mereka.
"Eh, titip Mey sama Raja, nanti antar mereka pulang, ya?" pinta Tasya.
"Oke, Tante, hati-hati di jalan," ucap Arga.
"Uhhh... Arga so sweet banget, sih," ucap Anta menepuk pipi Arga pelan.
Wajah Arga langsung bersemu merah merona mendapat sentuhan Anta yang tiba-tiba itu.
Arya meraih tangan Anta dan menariknya paksa masuk ke dalam mobil Tasya.
"Jangan ge er!" ketus Arya menatap tajam pada Arga sebelum masuk ke dalam mobil.
******
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni
Dan mampir juga ke novelku lainnya.