Anta's Diary

Anta's Diary
Menolong Delima



Sebelum membaca, jangan lupa Vote, ya...


Happy Reading.


*******


"Anta, itu ada cicak mati tuh!" tunjuk Pocong Uli.


Anehnya, bukannya Anta yang bergeser menghindari bangkai cicak tersebut, akan tetapi sosok Pak Herdi lah yang bergeser untuk menghindari.


"Kok, dia bisa lihat aku, ya?" bisik Uli pada Anta.


Anta hanya mengangkat bahunya tanda tak tahu.


Dengan isengnya Uli melompat ke arah Pak Herdi dan berusaha untuk menembus pria itu.


BRUG!"


Uli berhasil menyentuh Pak Herdi dan menabraknya. Keduanya jatuh di lantai lift. Pocong itu berada di atas tubuh pria bertubuh tegap itu. Kedua mata mereka saling beradu dan bertatapan sekilas. Pria itu langsung menendang Pocong Uli agar pergi dari tubuhnya.


"Dia, dia bisa lihat aku!" ucap Uli berseru di samping Anta.


"Pak Herdi, eh Om bisa lihat hantu?" tanya Anta buka suara juga setelah sedari tadi agak takut menyapa pria tersebut.


"Bukan urusan kamu!"


Pria itu langsung beranjak pergi setelah pintu lift terbuka di lantai dasar.


"Salah lagi aja deh Anta," gumam gadis itu menghela napas dalam.


Teringat ia harus menyusul Raja dan Silla, gadis itu langsung bergegas pergi menuju gedung pameran busana. Anta berlari menuju tangga busway. Ia berharap semoga jalanan tidak macet sehingga ia bisa segera sampai di gedung tersebut. Pak Herdi yang mengendarai mobil sedan putih itu sekilas melihat Anta berlarian di susul dengan Pocong Uli yang melompat-lompat di belakang Anta.


"Kok, lucu juga ya liatnya, anak gadis bukannya takut dikejar pocong eh malah temenan sama pocong hahaha," gumam Pak Herdi seraya melanjutkan perjalanannya.


***


"Lewat mana, Tante?" tanya Raja begitu tiba di gedung pameran tersebut.


Terlihat banyak penjaga yang meminta para tamu menunjukkan undangan. Itu artinya Raja akan kesulitan masuk ke dalam sana untuk menolong Delima. Sebuah mobil bermuatan berbagai makanan catering yang dipesan untuk para tamu undangan datang. Silla memerintahkan Raja untuk bersembunyi di bawah meja dengan roda yang tertutup kain taplak putih. Meja itu didorong menuju ke area dapur lewat pintu belakang gedung. Silla mengikuti di samping dua pria pelayan tersebut.


"Jek, kok gue merinding, ya?" gumam salah satu pelayan tersebut.


"Iya nih, hawanya beda, jangan-jangan ada setan lagi di sekitar kita," sahut pria satunya lagi.


"Buruan yuk! Ngeri gue nih jadinya."


Kedua pria itu bergegas mendorong meja beroda tersebut.


Sesampainya di dapur, Silla langsung memberi kode pada Raja untuk keluar dari persembunyiannya secara mengendap-endap. Mereka bergegas menuju ke belakang panggung. Namun, sesuatu menahan Silla kala itu. Ia melihat seseorang menggunakan jaket hitam bertudung yang memakai name tag bertuliskan "crew".


"Tante, kok berhenti di situ, ngapain?" tanya Raja berbisik.


"Sssttt, aku curiga sama orang itu! Kamu diam di sini, ya, aku mau ke sana," ucap Silla dia bersiap bersembunyi mengendap-endap ke arah sosok misterius tersebut. Namun, tangan Raja menahan gaun hitam Silla.


"Kenapa, Ja?" bisik Silla.


"Tante kan enggak kelihatan, ngapain ngumpet?" bisik Raja.


"Oh iya, lupa hehehe... tunggu sini ya, kamu ngumpet sini!" pinta Silla.


Saat ia mengamati sosok misterius itu ternyata sosok itu sedang berusaha memotong tipis salah satu tali penguat lampu sorot panggung agar terlihat rapuh. Silla juga makin terkejut kala melihat wajah si pelaku itu ternyata ia kenal.


Silla memukul punggung Kelly, ia bisa menyentuhnya karena sudah belajar cara menyentuh manusia dengan benar di sekolah hantu. Silla tersenyum puas kala menarik rambut Kelly sampai wanita itu menjerit. Beberapa petugas penata panggung sempat mendengar teriakan tersebut, akan tetapi Kelly sudah bersembunyi lebih dulu.


"Pinter juga nih cewek," gumam Silla.


Kedua mata Kelly memindai sekelilingnya. Ia tak menemukan apapun di sana seraya berpikir siapa yang menarik rambutnya barusan. Wanita itu lalu bangkit dan bergegas pergi dari belakang panggung itu.


"Kita temui Delima sekarang, Ja!" ajak Silla.


Raja mengikuti hantu kuntilanak tersebut. Mereka akhirnya menemukan ruangan para model yang sedang berganti pakaian tersebut. Silla menghampiri Delima, ia berbisik ke telinga gadis itu yang tiba-tiba terkejut dan menyemburkan air di dalam mulutnya ketika ia sedang minum.


"Delima ih, kayak mbah dukun deh sembur-sembur eyke," ucap salah satu penata rias.


"Duh, maaf aku enggak sengaja, aku kebelet pipis sebentar ya aku mau ke kamar mandi, nanti aku kembali," ucap Delima pada penata rias tersebut.


Gadis itu lalu menghampiri Raja yang bersembunyi di ruang janitor. Raja lantas menceritakan hal yang tadi dilihat oleh Silla. Anak itu memberi peringatan pada sang model agar berhati-hati saat berada di atas panggung. Nantinya Raja dan Silla akan berusaha berjaga di belakang panggung untuk mengawasi Kelly.


"Tapi, aku nanti sama Kelly satu panggung, kalau memang lampu itu akan ditujukan kepadaku, berarti ada orang lain lagi yang akan membantu Kelly untuk percobaan pembunuhan terhadapku," ucap Delima.


"Wah, benar juga kalau gitu, berarti kita harus ekstra pengawasan lagi, Ja, buat cari tau siapa orang yang membantu Kelly," ucap Silla yang dijawab anggukan oleh Raja.


"Tante tenang aja, nanti aku bakal mengawasi lebih ketat sama Tante Silla, yang penting Tante nanti hati-hati, ya."


Delima tersenyum lalu mengusap kepala Raja dengan lembut.


"Duh, sayang aku masih kecil, kalau aku udah gede aku ajak nonton ke bioskop tuh Tante Delima," celetuk Raja.


Pletak!


Jitakan Silla tepat mendarat di kepala Raja.


"Awww! Sakit, Tante!" pekik Raja.


"Masih bocah udah ganjen, huh!"


******


To be continue...


Follow IG ku ya @vie_junaeni


Mohon dukungannya, mampir juga ke Novelku lainnya.


- Pocong Tampan


- With Ghost


- 9 Lives


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Forced To Love


- Diculik Cinta


Vie Love You All.


Pleaseeeeee Jangan lupa VOTE buat dapatkan GA pulsa 20K tiap bulannya, semangat...!!!