Anta's Diary

Anta's Diary
Si Kembar



Happy Reading...


Satu tahun berlalu, adik kembar Arya yang diberi nama Fasya dan Disya bermain di taman bersama Arya dan Anta.


"Kok cemberut gitu, sih?" tanya Anta seraya mencolek Arya yang sibuk mendorong maju mundur stroler ganda milik adik kembarnya.


"Habisnya aku kesel!"


"Kesel kenapa?" tanya Anta yang tengah sibuk menyuapi si kembar dengan jus buah.


"Kesel lah, tiap kamu ke rumah aku, kita disuruh jaga bayi, tiap aku ke rumah kamu, sama aja gantian jagain adik kamu, terus waktu pacaran kita berduaan mana?" keluh Anta.


"Lha ini kan kita lagi pacaran," ucap Anta.


"Beda lha, masa pacaran momong bayi, mending waktu itu deh pacaran sambil nolong hantu, biarpun serem tapi masih bisa berduaan!" Arya bersungut-sungut.


"Hahaha... Anta malah seneng kok kayak gini, jadi kayak latihan aja jadi orang tua, emang enggak mau jadi orang tua bareng Anta?"


"Ya mau lah, tuh liat aja muka orang-orang, udah ngeliatin kita macam kita orang tua nih bocah-bocah!"


"Hahaha... Arya tambah ganteng ya kalau ngomel terus kayak gitu!"


"Hah? Kamu bilang aku tadi tambah apa?" Aryan langsung bangkit dan mencubit pinggang Anta.


"Ih, geli tau!"


"Tadi bilang apa, coba ulang?"


"Enggak bilang apa-apa, sih, pede banget, udah ah bawa Fasya sama Disya ke dalam dulu, palingan Bunda kamu udah selesai masak gulai," ucap Anta.


"Padahal tadi bilang Arya tambah ganteng, kan?" Arya melirik manja ke arah Anta.


"Ih... pede banget! Dorong nih!" seru Anta.


"Enggak mau!"


"Ayah Arya yang ganteng... tolong Bunda dong dorong bayi-bayi lucu ini," ucap Anta.


"Hehehe... beres Bunda sayang..." Arya langsung menuruti perintah Anta.


Padahal orang-orang di sekitar mereka sedang membicarakan keduanya.


"Itu masih pada muda banget udah punya bayi kembar, pasti hamil duluan," bisik seorang wanita berkaca mata.


"Pasti deh, liat aja tampang masih muka anak sekolah gitu udah pegang bayi, miris ya anak-anak zaman sekarang."


***


Sementara itu, anak kembar Dita dan Anan yang diberi nama Andira dan Adam sedang merangkak menuju kebun singkong. Raja yang harusnya menjaga adiknya malah ceroboh karena asik bermain game.


Sore itu, Anta pulang setelah diantar oleh Arya. Ia masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Kemudian, gadis itu menemui Dita yang sedang membuat cemilan puding buah untuk si kembar.


"Bunda lagi apa?" tanya Anta.


"Lagi buat jus buah, buat Dira sama Adam," sahutnya.


"Terus dedek bayi yang gemesin itu pada ke mana?"


"Tadi lagi sama Raja deh, di teras samping!" sahut Dita.


"Jangan keseringan dijagain sama Raja nanti si Dira sama Adam kena tabiat buruk hahahaha..."


"Anta..." Dita menatap tajam ke arah Anta.


"Iya maaf..." Anta lalu melangkah ke luar dapur dan berpapasan dengan Aiko.


"Nenek cantikku... gemes gemes gemes!" Anta langsung memeluk Aiko sedang membersihkan debu di meja.


"Cucu cantikku, Nenek juga gemes gemes gemes!" sahut Aiko seraya menempelkan kedua pipi mereka saat berpelukan.


"Raja mana, Nek?" tanya Anta.


"Tuh di teras, sama si kembar!"


"Aku ke sana ya," ucap Anta lalu menghampiri Raja.


Gadis itu dengan isengnya berteriak di telinga Raja.


"Woi!"


"Kampret! Kak Anta! Aku jadi kalah kan padahal lagi battle tau!" sahut Raja dengan nada kesal.


"Heh, kakak sendiri dibilang kampret! Bocah sekarang ya bahasanya enggak sopan!" Anta menjambak rambut Raja.


"Aduh, aduh ampun!"


"Si kembar mana? Anta kangen nih!"


"Itu di situ," jawab Raja seraya masih asik bermain game.


"Raja, di situ mana?"


"Raja ih, kalau momong bocah yang bener dong, jangan sambil main game! Ayo, cari enggak mau tau pokoknya cari!"


Raja meletakkan ponsel di atas meja lalu mencari kedua adik kembarnya bersama Anta.


"Dira, Adam... sini main, pada ke mana?" terus Raja.


"Bunda....!" Anta berteriak memanggil sang ibu.


Dita langsung bergegas menghampiri dengan membawa dua botol bayi berisi jus buah. Aiko yang mendengar teriakan Anta pun ikut menghampiri.


"Ada apa sih, kok teriak-teriak begitu?" tanya Dita.


"Tuh si Raja enggak becus jagain si kembar!" Anta menunjuk Raja yang langsung bersembunyi di belakang kursi.


"Maksudnya gimana?" tanya Dita tak mengerti.


"Dira sama Adam hilang!" seru Anta dengan panik.


"APA? Raja....!" Dita langsung berteriak meneriaki Raja.


"Ya maaf, Bunda, lagian yang hilang kan si kembar kenapa teriakin nama Raja, sih?" sahut anak itu.


"Belum pernah ya minum jus buah sama botol-botolnya masuk mulut?" ancam Dita.


"Ya maaf, Bunda, tadi kan aku—"


"Ngapain tadi? Kan Bunda bilang titip sebentar waktu bunda mau buat jus apel, terus kenapa adik kamu pada hilang?" Dita sudah bertolak pinggang sambil menatap tajam ke arah Raja.


Anak itu langsung mencari perlindungan di belakang punggung Aiko.


"Raja main game tuh, Bunda!" Anta mengadu dengan kesal.


"Udah udah udah, kita sekarang cari mereka, Nenek takut kalau si kembar masuk kebun singkong sampai ke sumur tua," ucap Aiko.


"Ayo, kita baru mereka, Nta! Ibu telepon Anan ya tolong kasih tau kalau si kembar hilang, dan kamu Raja, awas ya hape kamu Bunda sita!" Dita menunjuk Raja.


***


Di sebuah pohon beringin besar, yang berada cukup jauh dari kebun singkong, anak kembar Anan dan Dita sedang tertidur dengan pulas.


"We, kamu nyulik anak lagi?" tanya habtu genderuwo yang berbadan besar dan berbulu lebat.


"Aku enggak menculik, aku cuma mengamankan mereka karena sedang bermain di kebun singkong sendirian, Lee."


"Ya, sama aja itu kamu namanya menculik." Genderuwo itu menyahut seraya menyantap tikus panggang hasil masakannya.


"Biarin aja, lagian salah orang tuanya juga kenapa anaknya enggak dijagain!"


"Ah, kamu mah! Kalau dibilangin susah! Terus itu mau kamu kasih makan apa?"


"Biasalah, aku mau kasih makan kotoran manusia biar suara mereka hilang dan enggak bisa menceritakan tentang kita."


"Mereka kayaknya belum bisa ngomong, enggak ada yang ngerti sama bahasa bayi mereka!" sahut Lee.


Lalu, kedua anak kembar itu terbangun seraya menangis. Namun, mereka menangis bukan karena takut tetapi karena keduanya lapar.


"Tuh kan nangis, pasti mereka ketakutan lihat aku," ucap si wewe gombel dengan nada sombong.


Ia mendekat ke arah dua anak itu. Akan tetapi Dira dan Adam langsung menarik rambut panjang hantu tersebut. Bahkan mereka menyilangkan rambut hantu itu di leher sampai keduanya saling tarik dan menyakiti leher hantu tersebut.


"Aduh ini bocah malah nyiksa, Lee bantuin aku!"


Hantu wewe gombel dan si kembar samoai terjatuh. Namun, Lee sudah sigap menyelamatkan kedua anak kembar itu.


"Kenapa muka mereka enggak asing, ya?" gumam Lee.


Si kembar langsung menyentuh pipi Lee bersamaan seraya tertawa. Genderuwo itu malah menggoda si kembar sampai mereka tertawa puas. Adam menunjuk tikus panggang buatan Lee.


"Wah kalian lapar, ya? Tapi jangan makan itu ya, Om mau pergi bawain kalian bubur ayam dulu," ucap Lee.


Ia menyerahkan si kembar pada wewe gombel tadi.


"Aku mau cariin mereka bubur, kamu jaga mereka dengan baik, awas kalau kamu kasih mereka kotoran manusia, aku tarik itu dada kamu sampai melar terus aku gantung di pohon! Mengerti!"


"Iya, iya aku jagain!" sahut wewe.


Lee lalu pergi mencari tukang bubur ayam terdekat.


"Tumben banget si Lee peduli, biasanya juga cuek kalau liat aku culik anak," gumam Wewe.


Dira dan Adam lagi-lagi menarik Wewe tersebut. Mereka langsung menaiki punggung si Wewe tersebut seraya menarik-narik rambutnya.


"Aduh, sakit, sakit!"


Dira dan Adam tertawa menikmati permainan tersebut.


*****


To be continue.