
******
Benar saja, ke empat sekawan itu sudah berada di restoran Andri untuk membantu Anta. Hal tersebut membuat Raja senang karena dapat terbebas dari pekerjaan pelayan tersebut.
"Nta, suplier ikan salmon udah dateng belum?" tanya Andri pada Anta.
"Duh, mana nanti minta ada menu makanan sushi lagi," gumam Andri.
"Memangnya Papa bisa buat sushi?" tanya Anta.
"Bisa dong, tapi nyontek internet hehehe, duh kalau belum dateng pakai ikan apa, ya?"
"Ikan kembung banyak tuh di pasar, Om," sahut Arya.
"Semprul!"
Andri langsung kembali ke arena dapur. Sementara Anta menatap tajam pada Arya seraya mengerucutkan bibirnya.
"Ah, aku selamat juga, main game di sini aja lah," cuma Raja lalu ia duduk di kursi restoran yang berada di area luar.
"Permisi, maaf Dek, apa ini restoran The Anan's?"
Seorang pria mengenakan jaket biru dengan bertuliskan logo "Anta's Fresh Fish" di bagian dada kiri masuk ke dalam area restoran. Ia menggunakan topi berwarna sama dengan logo yang sama seperti jaket.
"Yanda....!"
Raja berteriak seraya memeluk tubuh pria yang wajahnya sama persis dengan Anan.
"Eh, maaf Dek, kamu salah orang nama saya Anan bukan Yanda," ucapnya.
"Enggak, ini Yandanya aku," ucap Raja bersikeras.
Anta mendengar kegaduhan yang diciptakan adiknya. Gadis yang sedang memegang sapu bergagang kayu gelatik itu langsung mengintip.
"Ada apaan, Nta?" tanya Arya yang sedari tadi berada di dekat Anta.
"Coba aku lihat," ucap Arga menimpali seraya mendekat ke arah pintu luar.
Ketiga anak muda itu sudah berdiri sejajar di depan pintu restoran.
"Itu, itu kan, Yanda....!"
Anta langsung berteriak dan tanpa sadar melepas genggaman sapu dari tangannya. Sapu itu tepat jatuh di kaki Arya dan Arga. Gadis itu langsung ke luar restoran menyerbu Anan. Ia menyusul Raja memeluk pria tersebut.
"Aduh....!"
Arya dan Arga mengucap bersamaan seraya mengusap kaki keduanya.
"Ini pada kenapa, ya? Saya bukan Yanda, saya Anan," ucap pria itu.
Anta dan Raja masih saja memeluk pria itu dengan erat. Entah kenapa, Anan merasakan pelukan hangat dari kedua anak itu. Ia menepuk punggung keduanya.
"Pada ngeliatin apa, sih?" tegur Andri.
"Ada Om Anan, tuh!" tunjuk Arga.
Tak butuh waktu lama, Andri langsung ke luar menyusul Anta dan Raja. Ia langsung menghamburkan diri memeluk pria itu sambil menangis.
"Duh, ini siapa lagi? Duh, saya berasa sesek napas," keluh Anan.
Raja, Anta dan Andri masih menangis malah tambah kencang terdengar sampai membuat Anan merasa risih. Pria itu langsung berteriak dan berusaha melepaskan pelukan ketiga orang yang masih asing untuknya itu.
"Ini ada apa ya sebenarnya? Saya bukan Yanda, nama saya Anan, Ananta—"
"Prayoga." sahut ketiga orang di hadapannya itu bersamaan.
"Kok, kalian pada tau?"
"Gue enggak percaya kalau elo bisa balik lagi ke dunia, dasar onta! Terus mana Dita?" tanya Andri.
"Onta? Dita? Balik ke dunia? Emang sebelumnya saya di mana, di planet bumi gitu? Ya sama aja, dong!" ucap Anan.
"Yanda kok enggak inget sama kita, Kak?" tanya Raja mencolek lengan Anta.
"Karena, apa namanya nasi nasi gitu, duh apa ya namanya?"
"Reinkarnasi," sahut Andri meneruskan ucapan Anta.
"Nah, maksudnya itu," ucap Anta.
"Rendang nasi? Itu nama makanan, kan?" celetuk Raja.
"Ih bukan rendang sama nasi, tadi kan katanya reinkarnasi, eh jadi laper tuh kepikiran rendang," ucap Anta.
"Enggak lucu!"
Raja menarik ujung rambut sang kakak sampai menjerit kesakitan.
"Kan kamu duluan yang mulai kenapa rambut Kak Anta ditarik, sih!"
"Bodo amat, aku kesel sama Kak Anta!"
Raja langsung menghindari kejaran Anta yang bersiap membalas. Keduanya berlari berputar-putar mengelilingi Anan.
Ia segera menuju mobil losbak yang terparkir di depan restoran. Satu box berbahan steroform berisi salmon itu ia turunkan. Ia membawanya ke hadapan Andri.
"Tolong dilunasi sesuai yang tertera di bon ini," ucap Anan sambil mengeluarkan secarik kertas nota dan menyerahkannya pada Andri.
"Oke, kalau begitu mari masuk, kita selesaikan pembayaran di dalam!" ajak Andri.
Ia lalu menoleh pada Anta, "tolong buatin minuman seger, Nta!"
"Oke, Pa, minuman segar segera datang!" sahut gadis itu.
"Raja, minta tolong Arga sama Arya buat bawa ikan ini!"
"Iya, Pa," sahut Raja.
Andri membawa Anan memasuki restoran. Arga langsung menyambut pria yang mirip ayahnya Anta itu dengan menjabat tangan. Arya juga mengikuti begitu juga dengan Mey.
"Elo takut sama gue?" tanya Anan pada Anta yang tak mah menatap wajahnya.
"Enggak, Om, hanya saja...."
Arya menghentikan ucapannya. Ia baru saja membayangkan bagaimana Anan sering memarahinya dan membuatnya sial. Bahkan ayahnya Anta itu juga sering menghalanginya untuk dekat dengan gadis itu.
"Lucu kalian, kita baru aja ketemu tapi kayak udah sok kenal lama sama gue," ucap Anan.
"Onta, masuk sini!" seru Andri mempersilahkan pria itu masuk ke ruang yang sama dengannya.
"Elo bilang apa barusan, elo panggil gue apa, Onta?"
"Ummm... begini saya ceritain di dalam, silakan duduk!"
Anan yang hendak menyusul Andri masuk ke ruang kerja itu sempat menghentikan langkahnya. Ia melihat Ratu Sangat merayap menuju pintu belakang restoran.
"Gila, gue rasa mereka punya penglaris nih, gue enggak nyangka," gumam Anan lalu ia masuk ke ruang bernuansa biru itu.
Andri mempersilahkan Anan untuk duduk. Ia meraih foto keluarga Anta di mejanya. Dia memperlihatkan pada pria yang sedang membetulkan posisi topinya itu.
"Ini siapa? Eh, bentar deh, ini anak-anak tadi, kan?" tanya Anan seraya menunjuk foto tersebut.
"Iya, betul ini mereka."
Anta datang dengan membawa dua gelas jus jeruk untuk Anan dan Andri.
"Makasih ya, kebetulan saya haus," ucap Anan.
"Coba lihat ayah mereka!" tunjuk Andri pada Anan yang berada di foto.
Anan yang sedang menyeruput jus jeruknya tiba-tiba tersentak. Semburan air jeruk itu tepat menghujani wajah Andri.
"Onta, elo bener-bener, ya..."
"Maaf, maaf Pak, saya enggak sengaja. Habisnya saya kaget ini cowok mirip banget sama saya."
Anan langsung menyerahkan tisu pada Andri.
"Pasti seger banget tuh, Pah."
Anta tak bisa menahan tawanya. Andri yang baru saja menyeka wajahnya itu berusaha menahan sabar. Ia menghela napas berat sampai merasa lega saat mengembuskannya.
"Oke, jadi paham kan kenapa mereka bilang kamu Yanda, itu sebutan untuk ayah mereka, karena kamu mirip sama Anan kami," ucap Andri.
"Waduh, udah muka mirip nama mirip. Gue tau nih pasti ayah mereka meninggal, ya kan?"
"Sebenarnya sih, gue jadi bingung menjelaskannya, ayah mereka itu lahir kembali dan kamu yakin orangnya kamu," ucap Andri.
"Makin enggak ngerti gue, tapi ini perempuan cakep juga," ucap Anan.
"Iyalah cakep, bundanya Anta kan Ratu Kencana Ungu, nanti Bunda juga lahir kembali kayak Yanda," sahut Anta.
Anan menoleh pada gadis itu lalu kepalanya menggeleng. Ia makin tak mengerti.
"Sudahlah gue enggak ngerti dan juga enggak mau ngerti. Mana duit gue cepetan nanti nenek gue marah-marah kalau gue kelamaan," ucap Anan.
"Mau Anan yang dulu sama sekarang sama aja tukang nyuruh dan enggak sabaran," ucap Andri.
"Oh, iya ada yang mau saya tanyain nih, kalian punya penglaris, ya?" tanya Anan.
Andri langsung memandang Anta dengan wajah terperanjat. Keduanya tak mengerti dengan pertanyaan Anan barusan.
******
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni