Anta's Diary

Anta's Diary
Mengikuti Mey (Part 2)



Happy Reading...


*****


Anta dan Raja mengangguk bersamaan. Mereka lantas menuju ke sebuah gang dalam pasar. Anak lelaki itu yakin kalau Mey akan menuju ke tempat yang sama seperti saat dia lihat waktu itu.


"Tuh, Kak Mey beli ayam hitam semua, buat apa coba?" bisik Raja.


"Buat dimakan, lah..." sahut Anta.


"Ayam normal aja banyak masa harus hitam semua," sanggah anak itu.


"Mungkin rasanya enak," sahut Anta.


Mereka langsung bersembunyi ke dalam toko daging. Anta dan Raja bersembunyi di bawah meja pemotongan demi menghindari Mey yang tiba-tiba berjalan menuju ke arah dekat mereka.


"Aw!"


Sesuatu mengigit kaki Raja kala itu. Anak kecil itu langsung menoleh ke kaki kecilnya. Betapa terkejutnya kala ia melihat sosok boneka kecil seperti berpenampilan mirip manusia dengan ukuran mungil dan badannya dilengkapi dengan taring tajam, kuku panjang, serta rambut panjang.


"Apaan, nih?" bisik Raja.


"Heh, kalian pada ngapain di situ?" tanya si pedagang daging.


"Numpang, Bu, kita lagi main petak umpet hehehe...," jawab Anta.


Gadis itu juga menoleh pada sosok kecil yang tadi menggigit kaki Raja. Boneka mumi kecil itu hanya diam dengan mulut menganga seolah menunggu tetesan darah yang mengalir dari daging sapi segar itu.


"Apaan tuh, Kak?" tanya Raja ia mengusap kaki kirinya yang berdarah karena gigitan makhluk tadi


"Entahlah, ayo kita keluar, nanti ketinggalan si Met," ucap Anta.


"Udah pada gede masih main petak umpet aja," ucap Ibu penjual daging itu.


"Ya, maaf ya Bu," ucap Anta.


Saat Raja dan Anta keluar dari bawah meja dan pergi, ibu penjual daging itu mengiris sedikit jari tangannya dengan pisau lalu meneteskan beberapa darah ke mulut sosok boneka kecil itu.


"Wah, rupanya Ki Jenglot sudah memilih calon korban untukmu, ya?" tanya Ibu itu.


Boneka kecil itu lalu berdiri tegak dan mengangguk.


"Bagus kalau begitu, kau bebas mendapatkan anak itu nanti kau harus berikan aku pendapatan yang lebih banyak," ucap Ibu penjual daging. Sosok mumi berukuran mini itu lalu pergi. Ia mengejar Raja yang sudah ditargetkan menjadi buruan selanjutnya.


***


Raja membawa Anta menuju ke sebuah gang yang sama saat anak itu pernah melihat Mey membeli jantung darah manusia.


"Sembunyi di sini, Kak, tuh lihat kan Kak Mey ke toko itu lagi," bisik Raja.


"Itu toko apa?"


"Toko tempat jual darah manusia dan alat untuk pesugihan lainnya," jawab Raja.


"Hah, masa di pasar gini ada toko kayak gitu?" tanya Anta tak mengerti.


"Ada, itu buktinya, makanya toko itu adanya di tempat tersembunyi seperti itu, Kak."


Anak laki-laki itu terlihat lebih dewasa dari anak seumurnya. Anta makin mengamati dengan saksama apa yang dilakukan Mey.


"Kak, ini malam jumat kan?" tanya Raja.


"Iya, lalu?"


"Nah kebetulan tuh, aku pernah baca buku misteri kalau mau melakukan sesuatu yang sesat dan jahat itu biasanya dilakukan saat malam jumat, bisa aja Kak Mey mau melakukan sesuatu," bisik Raja.


"Jangan terlalu berburuk sangka, masa Mey kayak gitu?"


Namun, jauh di lubuk hati gadis itu, ia juga mengiyakan apa yang Raja bicarakan barusan. Bayangan hitam yang gadis itu pernah lihat saat Mey ada di ruang UKS bersama Arya membuat kuat dugaannya kalau sahabatnya itu sedang melakukan sesuatu yang jahat.


Apa iya Mey melakukan ritual sesat, apa iya kecurigaan Raja ini benar, aku harus buktikan itu, tetapi bagaimana caranya, ya?


Anta berpikir keras sampai ia lupa kalau Mey sudah pergi dari tempat tersebut.


"Kak, itu Kak Mey udah pergi," ucap Raja menyentak gadis itu.


"Hmmm... udah biarin aja, Kak Anta bingung gimana ya caranya cari tau soal Mey?"


"Minta bantuan Ratu Sanca, minta Ratu Sanca buat menyelidiki Kak Mey di rumahnya, gimana?" tanya Raja.


"Oh iya bener juga, Kak Anta mau ke restoran deh buat minta bantuan dia, " ucap gadis itu.


Lalu keduanya bangkit berdiri ke luar dari tempat persembunyiannya dan segera mencari keberadaan Tasya kali itu.


"Tante, Anta mau ke restoran Papa Andri dulu, ya," pinta Anta saat bertemu wanita itu.


"Enggak sih, aku ada perlu aja," ucap Anta.


"Apa aku boleh ikut, mungkin saja setelah pasar malam berakhir aku bisa bekerja sama dengan Andri dan menjadi juru masak di sana," ucap Mark.


"Ummm... boleh juga, ayo ikut!" ajak Tasya.


"Tapi aku bawa motor, nanti aku ikuti kamu dari belakang," ucap Mark.


"Oke."


Semuanya bergegas menuju ke parkiran yang ada di Pasar Seru. Anta sempat melihat ke arah Mey yang memesan taxi online di depan pasar.


"Anta, yee bukannya masuk malah bengong aja!" seru Tasya.


"Oke, aku masuk."


***


Malam itu selepas magrib, Mama Dewi menghubunginya. Ia pulang terlambat karena ada pasien yang harus ditangani untuk melakukan operasi. Raja menoleh ke kanan dan ke kiri, tak ada siapapun ia temui.


"Oh iya ya, Kak Anta ke pasar malam pasti nih, aku ditinggal, mana laper lagi," gumam anak itu.


Tiba-tiba, sekelebat bayangan hitam terlihat mengikuti anak itu. Raja menoleh ke belakang.


"Kayak ada yang lagi ngeliatin aku," gumamnya.


"Tante Silla, Om Uli? Eh, enggak mungkin ada Om Uli dia kan udah nyaman di sekolah hantu, apa mungkin Om Tomo apa Tante Susi, ya?" tanyanya pada diri sendiri.


Tak ada jawaban dari para hantu yang ia panggil itu. Raja lalu melanjutkan langkahnya kembali menuju lemari pendingin di dapurnya. Ia merasakan kembali sesuatu yang seolah-olah sedang mengikutinya.


"Siapa sih ni, kok ngikutin aku terus?" gumam anak itu.


Raja membuka pintu kulkas dan meraih sebotol susu cokelat dan irisan puding untuk mengganjal lapar di perutnya. Ia lantas memijit tombol On pada remote tv dan menyalakannya. Sebuah tayangan tentang legenda tempat-tempat menyeramkan terpampang di layar televisinya.


"Hahaha... lucu banget sih, hantu sekarang keren pada masuk tv, tapi enggak pada lihat, mana pada dadah-dadah. Belum lagi itu rumah si hantu makin banyak aja masuk tv," gumamnya.


Mendadak kemudian sebuah gigitan di paha anak itu terasa. Ia langsung menepuk pahanya karena merasa gigitan tersebut adalah gigitan nyamuk biasa meski sakitnya terasa berbeda.


"Apaan tuh barusan?"


Raja seperti menepuk sesuatu yang lebih besar dati nyamuk. Ia langsung ketakutan kalau sesuatu yang ia tepuk itu kecoa. Lampu ruang tengah yang belum ia nyalakan tadi langsung menyala kala anak itu menekan sakelar.


Raja melihat sosok boneka menyeramkan seperti manusia berukuran mini tanpa pakaian dan sangat kurus dengan tengkorak nyaris terlihat itu mengejutkannya. Kedua taring panjang keluar dari mulut boneka itu. Rambut putihnya panjang sampai melebihi kaki sosok mini itu.


"Waduh, ini kan boneka yang di tukang daging tadi, kok bisa ada di sini?" gumamnya.


Raja mendekati sosok tersebut yang berada di sudut sofa. Tiba-tiba sosok itu bergerak lalu melayang menerkam wajah anak kecil itu.


"Aaaaaaa....!"


Kuku tajam di ujung jari kecil itu menerkam Raja. Taring makhluk itu bahkan melukai hidung anak kecil itu.


"Aargghhh! Makhluk apa kamu?" bentak Raja sampai membanting sosok kecil itu ke lantai.


Sosok itu tak bergerak hanya tergeletak di lantai begitu saja.


"Jangan-jangan boneka setan?" gumam Raja.


Ia langsung menuju kamar mandi dan membersihkan luka di hidungnya dengan air. Makluk mungil itu kembali menggigit kaki bagian bawah Raja sampai membuat anak itu berteriak. Kulit anak itu mengelupas bahkan daging di kakinya hilang sedikit. Makhluk itu memakannya.


"Heh, kenapa kamu gigit aku? Mentang-mentang punya taring beraninya main gigit aja, kamu hidup, ya?" tanya Raja menendang makhluk itu menjauh darinya.


Rasa perih dan kesakitan menjalar di kaki anak itu.


"Aku harus cari Tante Silla," ucap Raja mencoba melangkah menuju ke luar apartemen.


Makhluk itu kembali mengikuti dan mengigit kaki Raja kembali.


"Aargghhh... Tante Silla tolongin aku...!" pekik Raja.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Novel baru aku di Noveltoon ya...


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni