Anta's Diary

Anta's Diary
Arya



Mohon maaf telat update karena tertahan review.


Sebelum membaca, bayar dulu ya pakai Poin hehehe jangan lupa Vote cerita Anta ya.


Happy Reading...


*****


Anta terbangun di sebuah kamar dengan buku diari yang selalu menjadi catatan hariannya untuk menuliskan kisah petualangan dia bersama dengan para hantu yang ia tolong. Saat itu Anan dan Dita menemaninya di ruangan tersebut.


"Selesaikan halaman terakhir itu sebelum Bunda berikan yang terbaru," ucap Dita.


"Maksud, Bunda?" tanya Anta tak mengerti.


"Buat buka lembaran yang baru," ucap Dita seraya membelai rambut halus milik Anta.


"Nta, temennya Yanda bawa, ya?" pinta Anan.


"Temen yang mana? Temen hantu Anta ada banyak."


"Bukan teman kamu yang hantu, tapi si Songong," ucap Anan.


"Yanda, kerjaannya sekarang seperti malaikat maut, ya?" Dita memeluk leher suaminya yang sedang duduk di hadapan Anta dari belakang.


"Anta enggak ngerti deh maksudnya Yanda sama Bunda apa?" tanya Anta.


"Setiap manusia kan ada waktu untuk bertahan di muka bumi, tinggal takdir aja yang membawa mereka nanti kembali seperti apa, apa dia menjadi arwah penasaran atau mendapat reinkarnasi kembali ke bumi ini," ucap Dita menjelaskan.


"Jadi, intinya apa?" tanya Anta, gadis itu masih tak mengerti.


"Nanti juga ngerti, Bunda sama Yanda pulang dulu, ya. Jangan lupa jaga Raja baik-baik jangan tambah usil kayak Yanda, nih." Dita mencubit kedua pipi Anan dengan gemas.


"Kuntilanak Silla sama Pocong Uli suruh pulang ke rumah jagain Raja, dia sendirian tuh di rumah," ucap Anan.


"Lho, kok bisa?" tanya Anta.


"Tanya aja nanti sama Tante Dewi!" seru Anan. Sementara Dita tertawa di samping Anan. Sang Ratu Kencana Ungu itu bukannya cemas mendengar Raja sendirian di rumah, ia malah tertawa. Keduanya lalu memeluk Anta dan memberi kecupan di kepala anak gadisnya itu. Mereka lalu pergi menghilang.


***


Tante Dewi dan Andri telah sampai di rumah sakit Alas Tua terlebih dahulu dibandingkan dengan rombongan Tasya. Wanita itu melihat Anta terbaring di kursi tunggu tamu pengunjung rumah sakit bersama Arga. Anak muda itu juga terlelap dan menjadikan kedua kakinya sebagai sandaran kepala untuk Anta.


Tante Dewi menepuk bahu Anta untuk membuatnya terbangun. Kedua mata lentik gadis itu perlahan terbuka. Mulutnya membuka lebar untuk menguap. Rasa kantuk masih hinggap di dirinya dan membuatnya enggan terbangun. Anta memperlihatkan telapak tangan kanannya yang menunjukkan lima jari.


"Lima menit lagi, Mama Dewi," lirih Anta lalu kembali terpejam.


"Anta, lima menit lagi bagaimana, emangnya ini kamar kamu apa? Anta bangun!"


Seruan Tante Dewi malah mengembalikan kesadaran Arga yang langsung bangkit berdiri dan memberi hormat pada Tante Dewi.


"Siap, grak!"


Andri tak bisa lagi menahan tawanya kala melihat kelakuan Arga yang mengira masih berada di dalam alam mimpi. Kepala Anta terantuk kursi karena Arga langsung bangkit berdiri tanpa aba-aba terlebih dahulu.


"Awww, kepala aku sakit!" pekik Anta.


"Nah, bagus, biar pada bangun semuanya," ucap Tante Dewi.


"Eh, Tante Dewi, kirain aku pembina pramuka," ucap Arga seraya mengusap-usap kedua matanya dengan lengan.


"Pasti mimpi lagi upacara, ya?" ledek Andri. Pria itu mendaratkan bokongnya di kursi pengunjung.


Arga hanya tertawa kecil dan terkekeh.


"Arya gimana?" tanya Tante Dewi pada Anta.


"Guru penanggung jawabnya mana, kok bisa membiarkan kalian terlibat dengan tindakan kriminal sampai Arya terluka?" tanya Tante Dewi dengan nada geram


"Bukan Bu Guru yang salah, tapi Anta."


"Kamu yang salah? Gara-gara mau nolong hantu, gitu?" terka wanita itu seraya bertolak pinggang.


"Tante Dewi, bukan Anta juga yang salah, lagipula kita bukan nolong hantu, kok. Kita nolong Iman, kawan kita yang diculik dalang gila itu, dan ternyata dalang itu juga merupakan buronan polisi."


"Tapi lihat tuh akibatnya, udah tau temen diculik kenapa gak hubungi pihak keamanan setempat atau polisi, jangan malah coba-coba menyelesaikan masalah itu sendiri. Usia kalian itu masih muda, belum dewasa."


Nyanyian kemarahan Tante Dewi sudah sering Anta dengar ketika ia sedang kesal. Gadis itu memberikan kode pada Arga agar menundukkan kepala dan jangan menjawab atau membantah apapun lagi. Anak muda itu mengerti akan isyarat yang diberikan Anta.


"Udah, Dewi... Namanya juga setia kawan, aku juga bakalan bersikap seperti mereka kalau ada temanku yang kesusahan, mereka ini anak hebat lho," ucap Andri. Dia mencoba menenangkan istri tercintanya itu.


Setelah menghela napas dalam dan mengeluarkannya seiring kelegaan hati yang mulai tenang, Tante Dewi duduk di samping Andri menatap tajam ke arah dua anak muda di hadapannya itu.


Suara langkah kaki terdengar tak jauh dari ujung koridor. Pak Herdi datang bersama Tasya dan Doni. Wajah pria itu tampak terlihat panik dan langsung menghampiri Anta. Ia sudah tau apa yang terjadi pada Arya. Sepanjang jalan Tasya menceritakan kejadian yang ia dengar dari Tante Dewi melalui ponsel. Sedangkan Tante Dewi mendapat semua cerita yang terjadi dari Mey.


Pak Herdi langsung memeluk Anta dan menangis. Gadis itu juga ikut menitikkan air mata kala getaran kesedihan Pak Herdi terasa menusuk hatinya.


Seorang suster keluar dari ruangan operasi bersama dokter yang menangani operasi Arya.


Wajah keduanya terlihat murung kala melepas masker yang menutupi wajah mereka.


"Mana keluarga pasien Arya?" tanya sang Dokter.


"Saya, Dok, saya ayahnya," ucap Pak Herdi mengangkat tangan kanannya lalu menghampiri sang Dokter laki-laki paruh baya itu.


"Mohon maaf, Pak. Kami sudah berusaha semampu kami dan melakukan yang terbaik untuk pasien. Namun, Tuhan berkehendak lain, pasien kehilangan banyak darah dan tubuhnya menolak transfusi darah yang disediakan rumah sakit," ucapnya.


"Maksud, Dokter? Arya masih butuh darah, kan? Pakai darah saya, Dok, pasti cocok kan golongan darah kita sama," pinta Pak Herdi dengan nada cemas.


"Maaf, Pak, sayangnya Anda datang terlambat."


"Jadi, maksud Dokter...?"


"Maafkan saya sekali lagi, saya tidak bisa menyelamatkan pasien," ucapnya menepuk bahu Pak Herdi.


Bagai tersambar petir di siang bolong kala Pak Herdi mendengar penuturan dari Dokter tersebut. Anak laki-laki dan keluarga satu-satunya yang ia miliki harus meninggalkan dirinya seorang diri di dunia ini. Kedua kaki pria itu tak dapat lagi menahan tubuhnya. Ia jatuh berlutut ke lantai seiring dengan tangisannya yang pecah.


"Dokter pasti salah, Om! Arya enggak mungkin pergi," pekik Anta seraya ingin melangkahkan kaki ke dalam ruang operasi, tetapi Tasya langsung menarik lengan Anta menahannya. Gadis itu menangis di pelukan Tasya. Begitu juga dengan Tante Dewi yang menangis memeluk Andri. Arga hanya bisa memukul punggung tangannya sendiri ke dinding seraya merutuki dirinya sendiri. Doni menahan lengan Arga, ia berusaha menenangkan anak itu.


*****


Follow IG ku ya @vie_junaeni


Mohon dukungannya, mampir juga ke Novelku lainnya.


- Pocong Tampan


- With Ghost


- 9 Lives


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Forced To Love


- Diculik Cinta


Vie Love You All.


Pleaseeeeee Jangan lupa VOTE buat dapatkan GA pulsa 20K tiap bulannya, semangat...!!!