Anta's Diary

Anta's Diary
Tuduhan Tasya



Happy Reading...


Tasya melihat ke arah Dita yang baru saja ke luar bersama Pak Herdi. Mereka menuju ke kedai kopi yang berada di seberang sekolah.


"Halo semuanya, boleh gabung?" tanya Tasya.


"Eh, Sya, sini duduk!"


Pak Herdi mempersilakan wanita itu duduk.


"Mau pesen apa?" tanya pria itu.


"Aku udah pesen tadi, nanti Mas itu bawa ke sini," jawab Tasya.


Dita tersenyum menatap Tasya, keduanya saling berbalas senyum.


"Saya mau ke kamar mandi dulu, ya," ucap Pak Herdi seraya bangkit dari kursinya.


Kedua wanita di hadapannya itu mengangguk. Dita masih memperhatikan Pak Herdi saat pria itu menuju ke kamar mandi di dalam kedai tersebut.


"Hai, kamu apa kabar?" tanya Tasya menyentak Dita.


"Eh baik, kamu juga apa kabar?" tanya Dita.


"Baik, gimana betah di sekolah barunya?"


"Betah, seru banget para murid yang berulah sering banget masuk ruang BK. Oh iya, kamu tetangga sama Pak Herdi, kan?" tanya Dita.


"Iya," ucap Tasya seraya meraih minuman yang baru saja diantar si pelayan.


Tasya segera menyeruput es capucino itu.


"Pak Herdi kan duda ya, kira-kira udah punya pacar belum, ya?" tanya Dita.


Bbuuuahhh!


Es kopi dalam mulut Tasya langsung tersembur ke luar sampai membasahi meja dan mengenai tangan Dita.


"Duh, maaf ya, aku sampai kaget denger kamu nanya gitu," ucap Tasya.


"Memangnya ada yang salah sama pertanyaan aku?"


Dita membersihkan bekas cipratan es Tasya dengan tisu.


"Ya enggak salah juga sih, tapi aneh aja kenapa kamu tanya gitu. Apa jangan-jangan kamu suka sama Pak Herdi?"


Tasya menerka dengan ujung jari telunjuk yang dihadapkan pada wajah Dita.


"Hahaha suka? Masa sih aku suka sama Pak Herdi, aku cuma kagum aja kok, dia baik banget," sahut Dita.


"Nah, sebaiknya perasaan itu jangan kamu lebih kembangkan lagi ya, soalnya dia bukan jodoh kamu," ucap Tasya.


"Hahahaha... kamu dukun apa peramal gitu, kok bisa buat pernyataan tentang jodoh aku?" tanya Dita.


"Ayolah, kamu itu reinkarnasi sahabat aku, Bundanya Anta sama Raja, kalau kamu suka sama Pak Herdi nanti Anan gimana?"


"Enggak ngerti deh. Aku malah curiga jangan-jangan kamu suka sama Pak Herdi, ya?"


Dita berusaha menggoda Tasya dan kali ini es kopi di dalam mulutnya tersembur ke wajah Pak Herdi yang baru saja sampai lalu duduk di kursinya kembali.


"Kok aku disembur gini, Sya?"


Pak Herdi menyeka wajahnya dengan tisu. Ia melirik ke arah Dita yang tertawa.


"Ada apa sih memangnya?"


Pria itu akhirnya menoleh pada Dita.


"Tanya sama Tasya deh, Pak!" sahut Dita.


"Tanya apa, ada apa sih, Sya?"


Pak Herdi menoleh pada Tasya sampai membuat wanita itu makin bertambah kikuk.


"Enggak ada apa-apa, cuma kaget aja tadi. Astagfirullah... Aku lupa jemput Raja!" pekik Tasya.


Wanita itu langsung berlari menuju ke mobilnya, tetapi sayangnya ban mobil Tasya terlihat kempes seperti ada yang menjahili.


"Ih, kamu gimana sih pake kempes segala, terus gimana ini jemput Raja," gerutu Tasya seraya menendang ban mobilnya.


"Mau saya antar?"


Heru langsung hadir di belakang wanita itu seraya tersenyum menggoda ke arah Tasya.


"Hadeh, kenapa ketemu buaya buntung macam gini sih," gumam Tasya.


"Sya, mobilnya kenapa?" tanya Herdi dari kejauhan yang datang bersama Dita.


"Ban kempes nih, nggak tau kok bisa gini," jawab Tasya.


"Biar aku aja yang antar pulang," sahut Heru.


"Tapi aku nggak mau," sahut Tasya langsung mematahkan semangat pria genit itu.


"Kamu mau jemput Raja, kan? Ya udah aku antar," ucap Pak Herdi.


"Dita gimana?"


Tasya menunjuk ke arah Dita.


"Aku bisa pulang sendiri, tenang aja."


Dita tersenyum pada Tasya.


"Tenang aja ada aku," sahut Heru.


Tasya melirik tajam ke arah pria itu. Ia langsung menghampiri Dita dan menarik lengan wanita itu.


"Pak Herdi, ayo buruan!" ajak Tasya.


Ia membawa Dita menuju ke mobil Pak Herdi.


"Kok, jadi sama kamu semua, Di?"


Heru menunjuk Pak Herdi.


"Mana aku tahu, aku pamit dulu."


Herdi melangkah pergi meninggalkan Heru.


"Kamu kenapa sih, Sya?" tanya Dita pada Tasya.


"Kamu jauhi itu buaya buntung, jangan sampai dekat-dekat sama dia!"


Tasya memperingatkan Dita dengan tatapan tajam.


"Baiklah."


Dita menurut lalu kedua wanita itu masuk ke dalam mobil Pak Herdi menuju ke sekolah Raja dulu baru mengantar Dita pulang.


***


Raja dan lainnya kembali ke rumah kosong yang tempo hari pernah mereka masuki. Robi dan Anji benar-benar sudah bertekad mempersiapkan segalanya untuk merekam tindakan mereka selama di rumah kosong itu. Imran menceritakan kejadian yang menimpa Pak Togar pada Raja dan membuat anak itu terkejut sekaligus berdecak kagum pada kemampuan kawannya itu.


"Kok malah seneng, Ja, aku aja ketakutan setengah mati punya kemampuan ini," ucap Imran.


"Tapi keren tau, kamu bakal tau kapan tuh orang bakal meninggal," sahut Raja.


"Sumpah enggak keren, Ja!"


Terlihat Anji dan Robi makin jauh melangkah masuk ke dalam rumah. Raja langsung memanggil keduanya.


"Cuma mau merekam aja, kan?" tanya Raja.


"Iya, bentar doang."


Anji menyerahkan sebatang coklat pada Raja dan Imran.


"Aku mana?" tanya Robi.


"Tadi kan kamu udah makan dua coklat, masa mau lagi," keluh Anji.


Robi hanya meringis seraya menggaruk-garuk kepalanya.


Mendadak suara berdecit terdengar dari lantai atas. Kemudian, sebuah kursi kayu terlempar begitu saja dan jatuh menuruni anak tangga dengan sendirinya. Angin berembus kencang menerbangkan dedaunan kering yang berserakan.


"Ja, sepertinya kita harus pergi," ucap Imran.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni