
Happy Reading...
*****
Anta bertemu dengan Arga yang akan mengantarnya menuju sekolah malam itu. Akan tetapi, gadis itu berbohong pada Tasya. Ia memberitahu sang tante untuk pergi menemui Ria demi tugas sekolah. Hantu Silla mengikuti dan ikut serta dalam mobil Arga menuju SMA Satu Jiwa.
"Nanti di jalan berhenti di deket sekolah Raja ya," pinta Silla.
"Emang kenapa?" tanya Arga yang fokus menyetir.
"Aku mau bawa si Yuda ketemu pacarnya, Kuntilanak Pinky," sahut Silla.
"Buahahaha... jadian sama salah satu Kunti pohon asem?" tanya Arga lagi dengan tawa terbahak-bahak.
"Yes, benar sekali."
Silla ikut tertawa bersama Arga. Namun, gadis di samping pemuda itu terlihat melamun. Ia memandangi layar ponsel di tangannya.
"Kamu kenapa, Nta?" tanya Arga.
Tak ada jawaban dari gadis itu sampai Silla ikut mendongakkan kepala melihat ke ponsel Anta. Terlihat di layar ponsel itu foto Mey bersama Arya yang diunggah ke halaman sosial media milik sahabatnya.
"Anta!"
Silla menepuk bahu gadis itu sampai tersentak.
"Iya, kenapa?" tanya Anta langsung menyembunyikan ponselnya dari Silla dan Arga.
"Aku tahu kok kalau kamu habis ngeliatin Arya yang foto bareng sama Mey," ucap Silla.
"Eh, enggak kok, emang lagi buka sosial media aja terus pas banget si Mey bikin status," jawab gadis itu.
Arga menoleh ke Anta menelisik gadis itu lebih dalam lalu fokus kembali menyetir.
"Jadi si Arya lagi jalan sama Mey?" tanya Arga.
"Begitulah."
Gadis itu teringat dengan cerita dari Raja di Pasar Seru tadi. Ia menceritakan kalau Mey membeli ayam hitam dan darah manusia dari toko ilegal.
"Kenapa jadi kayak ritual aneh apa sesat gitu sih?" tanya Silla.
"Nah, aku juga ngerasa gitu, Mey itu mulai aneh, dan kamu masih inget kan, Nta, bayangan hitam yang kita lihat keluar dari tubuh Mey?"
Arga menoleh pada Anta yang menjawab dengan anggukan.
"Kayaknya ada hubungannya deh sama itu," ucap Arga.
"Hubungan gimana?" tanya Anta.
"Ya kamu liat deh sikap Arya, kalau lagi sama Mey nurut banget kayak boneka, tapi tatapan dia kosong," ucap Arga.
"Jadi, maksud kamu?"
Silla ikut menimpali penuturan Arga.
"Itu lho maksudnya si Arya kayak kepelet."
"Pelet?" tanya Anta menoleh pada Arga.
"Itu salah satu jenis ilmu gaib yang berfungsi untuk memengaruhi alam bawah sadar seseorang agar jatuh cinta kepada orang yang mengirim pelet tersebut," jawab Arga.
"Ummm... Sebetulnya sih tidak hanya di sini aja ada yang namanya ilmu pelet, di setiap belahan dunia juga ada tetapi sebutannya biasanya dikenal dengan istilah mantra cinta."
Silla menimpali.
"Oh, jadi Mey pelet Arya buat supaya Arya suka sama dia, gitu?"
"Ya, begitulah, kayak aku pelet kamu tapi enggak kena-kena atau malah enggak bisa," ucap Arga yang tak sengaja keceplosan.
"Hah, apa maksud Arga ngomong gitu?" tanya Anta dengan mata menajam menatap Arga.
"Bercanda, Nta, aku cuma bercanda hehehe..."
Arga tak berani menatap Anta. Akan tetapi, Silla menangkap kebohongan di bibir pemuda itu. Hantu itu yakin kalau pemuda yang sedang fokus menyetir itu memang melakukan ilmu pelet pada Anta, tetapi sayangnya gadis itu tak bisa terkena ilmu gaib karena kekuatan dalam diri gadis itu.
Silla tersenyum meledek menatap Arga yang meliriknya dari kaca spion. Namun, hantu itu teringat sesuatu.
"Tunggu, ayam hitam dan darah manusia, hmmm... kok persis sama yang waktu dulu majikan ibu aku lakukan ya, terus ibu ketakutan dan bawa aku pergi dari rumah besar itu," gumam Silla.
"Tapi ceritanya Tante Silla tuh nakutin deh, masa satu desa kena wabah mengerikan gitu," ucap Anta.
Silla menyisir rambutnya dengan jari tangganya sendiri. Arga sempat menyimak dari kaca spion.
"Kalau lihat hantu kuntilanak pohon asem rambutnya pada berantakan ya, Nta, cuma kalau lihat Tante Silla rambutnya kayak iklan shampo," celetuk Arga.
"Iya dong, aku kan punya kasta yang lebih tinggi dibanding kuntilanak pohon asem yang kata kalian punya daster warna-warni kayak pelangi, kan, hihihihi..." sahut Silla lalu tertawa cekikikan.
"Tapi kalau ketawanya mah sama aja," ucap Arga.
"Iya, emang harus gitu ga ketawa kuntilanak?"
Anta menoleh pada Silla.
"Aku juga enggak tau, lho, pokoknya kalau aku mau ketawa ya keluar ketawa cekikikan kayak gini, hihihi..." sahut Silla.
"Lama-lama merinding juga aku, Nta."
Arga sempat melirik pada Anta lalu fokus kembali menyetir.
Mereka melintasi sebuah pemakaman yang minim cahaya. Layaknya pemakaman pada umumnya, selalu ada cerita-cerita horor yang mengiringi keberadaannya. Apalagi, di ruas jalan yang itu sempat terjadi beberapa kejadian kecelakaan lalu lintas yang menelan korban jiwa.
"Kita berhenti di sini!" pinta Silla.
Hantu itu turun dari mobil Arga dan menuju ke dalam kompleks pemakaman mencari Yuda.
"Tadi katanya kita disuruh lewat ke sekolah Raja, kenapa jadi berhenti di sini?" gumam Arga.
"Mungkin si Yuda ada di sini," sahut Anta.
"Serem tau, Nta, mana sepi banget," ucap Arga.
"Kata siapa sepi? Coba aja kamu ke dalam pasti rame, hehehe."
"Anta, maksud aku sepi enggak ada manusianya, kalau di dalam rame mah ya karena banyak hantu gentayangan tau!"
Arga bersungut-sungut sampai mengerucutkan bibirnya mencibir gadis di sampingnya itu. Suasana seram yang terpancar dari daerah tersebut, seakan diperkuat dengan minimnya penerangan jalan yang ada. Tiba-tiba, mereka menjumpai sosok menyeramkan dengan penampakan seorang wanita berbaju putih seperti daster yang longgar dan panjangnya sampai menyeret di tanah.
Wajah hantu itu pucat dan terlihat sangat putih seperti memakai bedak bayi satu botol. Kedua matanya terdapat lingkaran hitam layaknya mata panda. Anta dan Arga melihat hantu itu melayang dan kakinya tak menapak di tanah. Ia juga berbalik badan dan memperlihatkan punggungnya yang penuh luka macam hantu sundel bolong yang pernah gadis itu lihat di TV.
Kemudian, hantu wanita itu bergerak dan perlahan-lahan tubuhnya terangkat. Ia melayang menuju ke pohon bambu. Hantu wanita itu bergelayut di atas pohon bambu yang memang seperti memayungi sisi kiri dan kanan di dekat dua kuburan. Dia tertawa melengking tajam sampai memekakkan telinga. Bulu kuduk yang mendengar pasti kan meremang dan hawa ketakutan merasuk ke dalam jiwa.
"Nta, itu hantu kayaknya, bukan kayaknya lagi emang hantu ya?" bisik Arga.
"Duh, ini sih kayak hantu yang pernah Anta lihat di TV bareng si Raja pas nonton filmnya," sahut Anta.
"Maksud kamu, Nta?" tanya Arga dengan nada gemetar mulai ketakutan.
"Anta ketemu artis nih, duh mana enggak bawa buku sama pulpen buat minta tanda tangan."
"Anta ngomong apaan, sih?"
Arga mendorong bahu gadis itu pelan, pemuda itu mulai terlihat kesal.
"Harusnya pinjem kamera punya Ria, nih, tapi kali aja kalau pakai hape Anta bisa juga nangkap gambar dia. Arga fotoin Anta ya sama dia, kali aja kelihatan di hape Anta," pinta Anta menoleh pada Arga yang menempelkan selembar tisu menutupi wajahnya.
"Arga ngapain sih, mukanya panas ya apa dingin?" tanya Anta.
"Bodo amat! Foto aja sana sendiri, aku enggak mau fotoin!" sahut Arga.
Ia tak mau melihat sosok hantu itu yang sedang menatap tajam ke arah Anta dan dia.
"Sih, Arga mah enggak mau bantuin Anta, ya udah kalau gitu Anta mau selfie aja sama dia, kali aja bisa ke foto," ucap gadis itu.
Ia langsung membuka pintu mobil dan turun mendekati pohon bambu tempat hantu wanita tadi berada.
"Anta...! Ish si bocah ya enggak ada takut-takutnya!"
Arga berusaha memanggil Anta, tetapi kedua kakinya terasa lemas untuk digerakkan. Tubuhnya bahkan mulai gemetar ketakutan.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni