
Ayo, kumpulkan poin kalian buat
VOTE, bayar ceritaku dengan poin kalian udah seneng banget lho buat Vie.
Terima kasih…
*******
Belum juga pertanyaan Anta dijawab,
seseorang menarik rambut Anta dengan kencangnya, dia terlihat tampak kesal.
“Sini, ikut gue!”
Fani menarik rambut Anta dan
membawa gadis itu menuju sebuah bangunan yang akan dijadikan wahan ruamh hantu.
“Mana kuncinya?” tanya Fani pada
Lisna.
“Nih, kebetulan bokap gue yang
dekorasi wahana rumah hantu ini, jadi gue punya kuncinya,” jawab Lisna seraya
menyerahkan kunci bangunan rumah hantu itu pada Fani.
“Bagus. Begini ya adik kelasku yang
nyebelin, kemarin waktu di kamar mandi emang elo hebat juga bisa lolos karena enggak
lama elo ke kunci di sana, tapi sekarang gue mau elo nginep di sini, ya
itung-itung tes wahanan ini karena baru besok malam di buka,” ucap Fani.
Gadis itu merebut paksa tas kecil
Anta yang berisi ponsel dan uang, lalu ia mendorong tubuh Anta masuk ke dalam
bangunan tersebut dan langsung menguncinya.
“Enggak ada yang liat kita, kan?”
tanya Fani pada Lisna.
“Enggak ada, aman, yuk, kita cabut!”
ajal Lisna.
Kedua gadis itu berangkulan
melangkah menjauh dari rumah hantu tersebut meninggalkan Anta.
“Mereka iseng banget sih sama Anta,”
keluh gadis itu seraya membersihkan celana jeans yang ia pakai dari debu saat
ia jatuh terjerembab ke lantai.
Anta mengamati area dalam wahana
itu dengan saksama. Di dalamnya terdapat boneka manekin yang bergantungan
dengan tampilan menyeramkan. Ada juga boneka animatronik yang terletak di
sudut-sudut ruangan. Ada yang sedang duduk menatap kosong, ada juga yang
dibaringkan, dan ada juga yang menggantung begitu juga. Mereka digunakan untuk
menakuti para pengunjung.
Boneka yang menggantung itu ada
yang berbentuk pocong, ada juga hantu kuntilanak, bahkan ada pula hantu kepala
buntung yang kepalanya diletakkan di atas kedua paha boneka tersebut yang
sedang dalam posisi duduk.
“Wuih, keren juga efek hantunya,
serem juga, sih,” gumam Anta.
Pandangan gadis itu mulai beralih
pada sosok boneka kuntilanak yang ternyata bisa bergerak.
“Itu, bukan boneka kayaknya,” gumam
Anta berusaha mendekat.
Hantu perempuan itu tampak
kesulitan saat menarik daster putih lusuhnya yang tersangkut. Anta tau kalau
sosok itu bukan manusia karena kedua kaki wanita itu melayang tak napak di
permukaan lantai.
“Sini, Anta bantuin,” ucap Anta
menawarkan bantuannya.
“Oh iya, terima kasih,” sahut
kuntilanak itu yang langsung terperanjat.
‘Ka-ka-kamu, bisa lihat saya?”
tanyanya.
“Bisa, duh nyangkut nih susah,”
keluh Anta yang berusaha sekuat tenaga menarik daster hantu perempuan itu.
“Hiyaaaa… akhirnya bisa juga,” ucap
Anta.
“Wah, makasih banyak, ya. Eh,
tunggu bentar, berarti kalau kamu bisa lihat saya, waaaahhhh… saya bisa kena
sial dong, padahal saya capek-capek sembunyi di sini dari kejaran genderuwo,”
ucapnya.
“Enggak sial, Anta emang bisa lihat
hantu, kok,” sahut Anta.
“Oh, iyakah, nama kamu, Anta?”
tanyanya.
“Iya, nama Tante, siapa?” tanya
Anta.
“Saya, Nunik, saya kabur dari
kuburan yang di ujung sana buat ngumpet ke sini, soalnya saya mau dijodohin
sama anaknya raja genderuwo, saya enggak mau lah, kan saya maunya ke korea,”
ucapnya.
“Emangnya mau ngapain ke korea?”
tanya Anta penasaran.
“Ada masa depan saya di sana,”
sahut Nunik.
“Astagfirullah… Masa depan gimana,
kan Tante udah meninggal, mau ngapain cari masa depan ke korea, jauh amat!”
“Ya, saya mau ketemu bias saya,
biar nemenin dia pas konser, fan meeting, comeback stage, main drama, pokoknya
nemenin,” ucapnya.
“Haduh repot urusannya kalau di
dunianya enggak kesampaian fan girling gini, nih, udah mati jadi kuntilanak
aja, eh masih kekeh bela-belain ketemu bias,” gumam Anta menepuk dahinya
sendiri.
“Terus, kamu ngapain di sini?”
tanya Nunik.
“Anta dikunciin sama kakak kelas
nyebelin itu,” jawab Anta.
“Kamu enggak takut gitu sendirian di
sini, kan banyak hantu?”
“Kalau Anta takut dari tadi Anta
teriak, ‘aaahhhh ada hantu…’ hehehee kayak gitu,” ucap Anta seraya mengangkat
kedua tangannya dan memberikan ekspresi wajah pura-pura ketakutan.
“Hahaha.. lucu ih kamu.”
“Medning Tante ke bandara terus
cari penerbangan ke korea, sampai sana cari deh biasa Tante di mana rumahnya
terus tenang, kembali deh ke alamnya udah enggak gentayangan lagi,” ucap Anta
menawarkan.
“Wah ide bagus, tapi nanti
pulangnya ke mana?”
“Kalau Tante baik ya masuk surga
kalau buruk ya masuk neraka, emangnya Tante meninggalnya kenapa?” tanya Anta.
pas mau ngejar bias ke bandara,” jawabnya.
“Lagian enggak hati-hati. Kalau
bias dateng ke sini kan buat konser, ya udah sih, cukup duduk tenang liat bias di
tempat konser, enggak usah fanatik banget kejar bias dari bandara dan
kemanapun, kan kasian mereka juga butuh privasi. Atau cukup modal kuota liat
biasa dari hape,” ucap Anta.
“Iya sih, tapi kan aku pengen aja
gitu deket-deket mereka.”
“Belum tentu mereka suka di
deket-deketin sama fans fanatik, hayo?”
“Anta, kamu punya bias?”
“Punya, Bunda sama Yanda, cukup
buat Anta.”
“Yeee, maksudnya yang artis atau penyanyi
gitu?” tanya Nunik.
“Enggak ada,” jawab Anta.
Nunik menoleh pada Anta, ia melihat
gadis itu sudah mengantuk. Ia berikan bahunya agar gadis di sampingnya itu bersandar
pada bahu hantu itu.
“Anak ini, bisa lihat dan juga
sentuh aku, benar-benar anak luar biasa,” ucap Nunik.
***
Raja berkeliling mencari keberadaan
Anta sampai ia tiba di dekat danau. Perahu bebek itu terlihat menggoda untuk
ditaiki. Namun, saat Raja mencoba melangkah menuju perahu bebek tersebut,
seorang penjaga danau mencegah anak itu.
“Jangan, Dek! Udah malam, besok aja
kalau mau naik ini,” ucapnya.
“Oh, kirain boleh naik sekarang,”
ucap Raja.
Pandangannya kini tertuju pada
permukaan danau, ia melihat sosok wajah anak laki-laki tersenyum kepadanya di
permukaan danau tersebut. Raja menoleh ke samping kiri dan kanan karena ia
masih berpikir kalau itu pantulan bayangan wajah seorang anak yang mungkin saja
berada di sampingnya.
Akan tetapi, tak ada manusia
manapun dan siapapun di sekitarnya kecuali si penjaga.
“Jangan naik perahu itu ya, Om mau
kembali kerja dulu,” ucap si penjaga lalu pergi meninggalkan Arya yang menjawab
dengan anggukan kepala karena masih fokus pada bayangan wajah anak laki-laki
tersenyum di permukaan danau.
“Itu siapa, ya?” gumam Raja.
“Jauhi danau itu!”
Hantu perempuan yang memakai
seragam pelayan restoran itu hadir di belakang Raja dan mengejutkan anak itu.
“Kakak, ngagetin aku aja,” sahut
Raja dengan mengelus dadanya berkali-kali.
Kepala Raja ikut miring ke kanan
karena melihat kepala hantu perempuan itu yang miring. Jeratan di leher hantu
perempuan itu juga makin terlihat jelas dengan luka menganga. Banyak belatung
kecil ke luar masuk dan berpindah tempat di leher hantu tersebut.
Raja terlihat bergidik jijik karena
menatap ke arah larva-larva kecil yang menggeliat itu. Bukan karena mendapati
sosok hantu perempuan itu yang membuatnya takut, tapi para belatung itu yang
membuatnya jijik dan takut.
“Kakak, hantu, ya?” tanya Raja buka
suara dengan posisi masih memiringkan lehernya.
“Kok, kamu tau?” tanya hantu
perempuan itu makin mendekat pada Raja.
“Karena, umm… karena, karena Kakak
telah berhasil menakutiku, hiiiyyy…”
Raja yang sedang tak ingin berurusan dengan hantu perempuan itu langsung
berlari menjauhinya.
“Dasar bocah nyebelin, tadi yang
lainnya kamu kasih es krim, masa aku enggak, padahal aku kan juga mau es krim, huh!”
Hantu itu mengeluh lalu kembali
naik ke pohon tempat dia gantung diri tempo lalu.
Sementara itu, Arya juga mencoba mencari
keberadaan Anta yang tak ia temukan, tapi Fani dan Lisna sudah menghadangnya
dan mengajaknya untuk berfoto bersama.
“Awas, gue mau cari Anta,” ucap
Arya.
“Kamu kenapa, sih, apa cakepnya si
anak baru itu?” tukas Fani.
“Cakep dia lah sama elo!” jawab
Arya mencoba menepis tangan Fani dari tangannya.
Lisna menahan tawanya saat
mendengar perkataan Arya pada Fani. Baru kali ini ia mendengar ada pria yang
menolak seorang Fani bahkan mengucap ada perempuan yang lebih cantik dari
sahabatnya itu.
“Dion, kamu tuh pacar aku!” tukas
Fani dengan tegas.
“Kapan gue jadi pacar elo?”
“Kamu kan hilang ingatan, makanya
lupa kalau sebulan yang lalu kita udah jadian,” ucap Fani berbohong.
“Emangnya iya, Fan?” tanya Lisna
menyela.
Fani langsung menyerang gadis itu
dengan tatapan tajam dan wajah geram. Lisna langsung paham dengan maksud tujuan
perkataan Fani. Ia menunduk dan tak mau mengucapkan sepatah katapun saat itu.
“Iya, Dion, kita udah jadian,” ucap
Fani melingkarkan tangannya di lengan Arya.
“Ah, masa sih? coba nanti gue tanya
sama Dion,” sahut Arya yang tak sadar kembali keceplosan.
Fani dan Lisna langsung saling
bertatapan dan tak mengerti dengan ucapan Arya barusan.
******
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni
Dan mampir juga ke novelku lainnya.