Anta's Diary

Anta's Diary
Jorji Bisa Melihatnya



Happy Reading...


*****


"Oh, jadi dari tadi Abang Dion pagi-pagi sibuk di dapur buat bikin bekal cantik penuh cinta ini untuk Anta," ucap Ria langsung membuat wajah Dion bersemu.


"Ga, saingan kita lama-lama kok tambah berat gini, ya?" bisik Arya.


"Ho oh, kualitas kita jadi beda jauh gini," sahut Arga yang juga berbisik pada pemuda di sampingnya itu.


"Makasih ya, Kak Dion," ucap Anta.


"Sama-sama, makan yang banyak ya," ucap Dion sembari mengusap kepala Anta.


"Eits... lakuin itu sekali lagi, patah ini tangan sama gue," ancam Arya.


Arga juga sudah siap dengan bertolak pinggang di belakang pemuda itu. Ia menatap Dion dengan penuh ancaman.


"Hahaha... kalian pada lucu banget sih, udah ah gue mau ke ruang musik," sahut Dion lalu melangkah pergi. Ia berpapasan dengan Jorji yang baru sampai di kantin itu.


"Hai, Dion!" sapa Jorji.


Dion tak menjawab, pemuda itu hanya mengangguk sembari melangkah dengan keren. Tangan kanannya ia masukkan ke dalam sakunya.


"Ga, apa enggak bisa lihat Ria dengan baik, aku udah segede gini ada di hadapan kamu, masih juga cari perhatian ke Anta?"


Gadis itu langsung merentangkan kedua tangannya di hadapan Arga. Ia memperlihatkan wajah memelas mengharap cinta dari pemuda itu.


"Ga, elo mau si Ria nanti nekat kaya Mey?" bisik Arya.


"Waduh, gue enggak kepikiran sampai situ. Baiklah... Ria mau nge-date sama aku?" tanya Arga spontan.


"A-apa, apa kamu bilang?"


Kedua kaki ramping gadis itu seolah tak dapat berpijak. Ia merasa bahagia sampai melayang kala mendengar penuturan Arga.


"Tau ah!"


Arga langsung terlihat malu dan pergi melangkah meninggalkan kawanan itu. Wajahnya terlihat merona kala Anta, Arya dan Jorji menertawainya.


"Elo ngapain masih di sini, sana kejar Arga!" perintah Arya.


"Oh iya ya, Arga... jangan pergi, tungguin aku dong!"


Gadis itu langsung pergi menghampiri pemuda yang ia sukai sejak lama itu.


"Hai, Nta! Aku dengar semua tentang kamu, gimana rasanya mati suri?" tanya Jorji.


"Ummm... ya gitu deh, kayak mimpi aja," jawab Anta.


Gadis itu sibuk memukul tangan Arya yang sedari tadi berusaha mencuri bekal dari Dion. Beberapa suapan salad buah juga sudah masuk ke dalam mulut pemuda itu.


Hantu Pinki mendekat dan menyapa Anta. Ia duduk di hadapan gadis itu sampai membuat Arya bergidik ngeri.


"Masih siang udah disamperin kuntilanak, Hadeh..." gumam Anta.


Jorji yang juga melihat ke arah hantu itu langsung bergeser. Ia bangkit dan memesan bakso di kantin itu. Anta dan Arya menangkap perbuatan gadis itu sampai keduanya saling bertatapan.


"Apa dia bisa lihat Kak Pinki?" tanya Anta.


"Kayaknya gitu, deh, mungkin dia punya indera ke tujuh kalau kamu kan udah indera ke sepuluh, hahaha..." jawab Arya.


"Apaan sih, enggak lucu!"


Anta terus mengamankan bekalnya dari Arya.


"Bagi gue Anta...!"


"Enggak mau!"


"Gue takut ini bekal ada peletnya makanya gue harus ikutan," ucap Arya bersikukuh.


"Yee... terus kalau ada peletnya kamu juga bakal suka gitu sama Dion?" tanya Anta.


"Nah, gue tanggung resikonya, asal jangan elo yang kepelet, hahaha..."


"Arya garing banget! Nih, habiskan! Tapi Anta beliin bakso sama siomay sekarang! Kak Pinky juga mau bakso tuh!" seru Anta.


"Enggak sekalian semua menu di kantin aja apa gue beliin, perasaan kalau soal makanan kaga ada kenyangnya elo, mana pake beliin kunti segala," ucap Arya.


"Ya udah kalau enggak mau beliin, Anta pergi nih," ancamnya.


"Eh iya iya, sabar anak cantik anak cakep, tunggu sini ya," ucap Arya lalu bangkit membeli makanan pesanan Anta.


Jorji kembali, ia sempat bertatapan dengan hantu Pinky.


"Kamu bisa lihat dia?" tanya Anta menunjuk Pinky.


"Ummm... aku, aku enggak ngerti maksud kamu?" tanya Jorji berusaha mengelak.


"Kak Jorji, pasti bisa lihat Pinky, Anta tau kok, Anta juga bisa lihat dia," ucap Anta.


"Bbuuaahh...!"


Kuah bakso yang baru saja gadis itu seruput langsung menyembur ke hadapan Anta. Akan tetapi, gadis itu langsung sigap dengan membentangkan selembar tisu di hadapan wajahnya agar tak terkena.


"Hmmm... sudah Anta duga."


"Kamu gara-gara mati suri, bisa lihat hantu ya?" tanya Jorji.


"Hehehe..." Anta tersenyum meringis.


"Kamu enggak takut? Aku dari kecil bisa lihat mereka lho dan suka stress sendiri sampai aku terbiasa," ucap Jorji dengan nada suara yang di kecilkan.


"Ya begitulah, Kak, Arya juga bisa lihat," ucap Anta menunjuk Arya yang baru datang dengan pesanan gadis itu tadi.


"Lihat apa?" tanya Arya.


"Lihat Kak Pinki, ternyata bener lho Kak Jorji bisa lihat juga," ucap Anta.


"Mau ngapain, aku aja berusaha menghindari mereka," ucap Jorji.


"Enggak bakal Kak, mereka selalu ada di sekitar kita, suka enggak suka, mau enggak mau, kita harus terbiasa menghadapi mereka. Dari yang iseng, usil, baik, sampai yang jahat," ucap Anta.


"Yang di samping aku ini gimana?" tanya Jorji.


"Baik dia mah, paling yang rada iseng yang di kamar mandi sudut koridor yang katanya angker, tapi sekarang udah mendingan, mereka rajin bersihin kamar mandi hehehe," ucap Anta.


"Yang kamar mandi cewek yang dibilang angker itu?" tanya Arya.


"Iya, hantu pocong hitam sama muka rata udah rajin, mau kenalan? Nanti Anta kenalin," ucap Anta.


"Bodo amat! Ngapain juga gue kenalan!"


Jorji menatap Anta dan Arya penuh kekaguman. Ia tak menyangka bisa bertemu dengan orang-orang yang memiliki kelebihan seperti dia. Bahkan sosok Anta terlihat tidak takut dan terbiasa dengan para hantu.


Sesekali Jorji menoleh pada Pinky yang menyantap bakso di mangkuk itu tanpa menyentuh. Hantu itu tersenyum pada Jorji meskipun wajahnya terlihat pucat.


"Kak Pinky keren ya, kayak pesulap, makan bakso enggak menyentuh tapi bakso sama mie sama kuah hilang sendiri," ucap Arya.


Hantu Pinky tertawa cekikikan mendapat bandana dari Arya.


"Eh, ngomong-ngomong kalian pacaran ya, kayaknya kalian cocok banget," ucap Jorji.


Anta menanggapi dengan santai tetapi lain halnya dengan Arya yang langsung bersemangat.


"Kita cocok ya, bagus deh. Emang Anta itu jodoh gue, habis lulus SMA nanti langsung gue lamar," jawab Arya.


"Buaaahh...!"


Kali ini Anta yang menyemburkan kuah bakso berikut bihun ke wajah Arya.


"Biasa kali, Nta, enggak usah kesenangan gitu," gumam Arya sambil meraih tisu dan mengusap wajahnya.


"Biasa aja katamu? Nih, rasain!"


Anta menginjak kaki Arya dengan kekuatan penuh sampai pemuda itu berteriak. Seluruh murid yang ada di kantin menoleh ke arahnya.


"Hahaha... kalian emang cocok tau, seru banget," ucap Jorji.


Tak lama kemudian, Ria dan Arga datang dengan napas tersengal-sengal. Wajah mereka tampak pucat pasi. Ketakutan terlihat sangat di wajah keduanya.


"Kalian pada kenapa?" tanya Arya.


"Haduh, itu... haduh..."


Ria masih berusaha menormalkan detak jantung dan deru napasnya yang kelelahan karena berlari.


"Gue bagi minum, Ya!"


Arga langsung meminum habis teh dingin dalam kemasan botol milik Arya.


"Yah, nih bocah ketakutan apa emang kebenaran haus," celetuk Arya.


"Serem banget pokoknya, dan gue liat arwahnya tadi di samping gue, terus gue buru-buru lari sama Ria ke sini buat menghindar," ucap Arga.


"Arwahnya siapa?" tanya Jorji.


"Temen sekelas kita, Nta, si Mia," jawab Ria.


"Mia, yang pakai kaca mata tebal itu?" tanya Anta.


"Iya," jawab Ria.


"Yang suka dikepang dua?" tanya Anta lagi.


"Iya," jawab Ria.


"Yang suka makan cokelat di kelas?" tanya Anta lagi.


"Iya," jawab Ria.


"Yang—"


Arga langsung membekap mulut Anta kemudian saking gemasnya.


"Elo berdua berisik banget kayak lagi main kuis tau enggak!" seru Arya.


"Fuuah! Lepasin, tangan Arya asin tau!" seru Anta yang menarik paksa tangan Arya dari bibirnya.


"Si Mia itu udah jadi hantu?" tanya Jorji.


"Iya, Kak, barusan dia jatuh dari lantai lima, kayaknya bunuh diri, tau enggak Kak, ih serem banget tadi tuh —"


Ucapan Ria terhenti saat Jorji melayangkan telapak tangan di hadapan gadis itu.


"Enggak usah kamu jelasin, tuh hantu si Mia ada di belakang Anta," ucap Jorji langsung menyembunyikan wajahnya dengan menunduk.


Arga dan Arya langsung menoleh dan melakukan hal yang sama. Hanya Ria yang tak dapat melihat hantu Mia itu terlihat kebingungan. Anta langsung menoleh ke belakang tubuhnya.


"Hai, Mia!" sapa Anta.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Vie punya cerpen baru, yuk mampir


"Kutukan Lima Tahun" dan Bloody Honeymoon


Atau klik aja profil aku nanti nongol cerpen paling bawah, jangan lupa komen dan love ya.


Follow IG : @vie_junaeni