
Happy Reading
*****
Setelah merencanakan semuanya, akhirnya kepala sekolah memberi izin kepada pengurus OSIS yang lama dengan yang baru untuk melakukan persami di sekolah. Kebetulan Ria, Anta, Arga dan Arya masuk ke dalam pengurus OSIS angkatan terbaru.
Malam itu di SMA Satu Jiwa.
"Duh, aku capek banget nih baru aja pulang cerdas cermat bareng si Joko," ucap Arga menunjuk ke arah ketua OSIS angkatan terbaru itu.
Joko menganggukkan kepala mengiyakan tanda setuju.
"Ya udah sih rebahan aja, toh cuma serah jabatan sama pengurus inti doang," sahut Arya.
"Terus bendahara OSIS kan Kak Jojo, nanti aku serah jabatan sama siapa?" tanya Ria yang ditunjuk menjadi bendahara.
"Ya, nanti dirimu serah jabatan sama Kak Jojo, entar Anta yang panggil hehehe..." sahut Anta.
"Hiy... seriusan?" tanya Ria bergidik ngeri.
"Udah sih tenang aja, kan ada Arga si wakil ketua OSIS yang bakal mendampingi kamu," ledek Anta.
"Hmmm... selama ada Arga, aku bisa deh bertahan," jawab Ria.
"Cie... Arga mukanya ungu tuh!" ledek Arya.
"Kampret, Luh!" Arya meninju bahu Arya.
"Jadi gimana nih, habis serah jabatan terus ngapain?" tanya Dion.
"Acara bebas, Kak, tapi kita ke ruang kepsek, jangan sampai ketahuan sama yang lain, nanti Ria sama Arga dan Arya berjaga di luar, Anta yang masuk ke dalam," ucap Anta.
"Hmmm... Aku ikut kamu deh ke dalam Bu Kepsek," sahut Dion.
"Kok, perasaan enggak enak ya, gimana kalah tukeran aja, elo jaga di luar, gue ke dalam sama Anta?" sahut Arya.
"Berisik luh, gue paling tua di sini, jadi gue yang atur!" tukas Dion.
"Halah... sok tua!" bibir Arya.
"Udah sih, pada bisa tenang enggak? Sekarang udah azan isya, ayo solat jamaah, terus makan-makan, yuhuuu!" ucap Anta seraya merangkul bahu Ria menuju ke area musala dalam sekolah.
***
Anta dan yang lainnya memasak mie rebus di dapur milik ibu kantin yang tadi sudah di pinjamkan pada anak-anak tersebut. Arya mengetuk meja kantin mengejutkan keduanya.
"Ada air panas, enggak? Gue mau bikin kopi," ucap Arya.
"Tuh, ambil sendiri!" sahut Ria.
Mie rebus yang sudah jadi itu lantas ia bawa perlahan menuju ke para murid yang berkumpul.
"Nta, ini gula kopinya enaknya semua apa setengah?" tanya Arya.
Tak ada jawaban dari gadis itu.
"Yee, gue tanya diem aja!" seru Arya.
Tiba-tiba sosok perempuan yang dia kira Anta itu berbalik. Wajah seram milik hantu Mia tertawa menyeringai ke hadapan Arya.
"Kampret luh!"
Gelas berisi kopi panas yang baru saja ia buat langsung terlempar ke wajah hantu itu. Lalu ia pergi berlari.
"Duh, Arya... panas tau muka aku!" seru Mau.
"Kenapa, Ya?" tanya Anta saat bertemu pemuda itu.
"Tadi elo di sana tau-tau berubah jadi si Mia," sahut Arya.
"Masa sih, orang Anta udah pergi bareng Ria," sahut gadis itu.
"Ah, tau ah!"
"Eh, Pak Herdi minta kopi tuh minta bawain ke ruang olah raga," ucap Fani memerintahkan pada Anta
"Masa? Ya udah nanti Anta buatin," sahut gadis itu menuju kantin kembali.
Terlihat Fani dan Lisna tertawa berbarengan karena berhasil mengerjai Anta.
"Elo pastiin enggak ada yang tau dia kemana, awasin sana, nanti sampai di rumah olah raga elo kunciin dia," bisik Fani.
"Gue takut, Fan..." ucap Lisna.
" Elo cemen banget sih! Cepat sana awasin!" perintah Fani.
Setelah selesai membuat kopi, Anta menuju ruangan yang tadi diperintahkan Fani. Ternyata ruangan itu kosong tak ada penghuninya. Anta menelisik seluruh ruangan itu sambil memanggil Pak Herdi.
"Ngaco nih, pasti Anta dikerjain sama Fani sama Lisna," gumamnya.
Terdengar bunyi pintu ruangan itu tertutup. Seseorang menguncinya dari luar.
"Ih sumpah ini si Anta mana lagi?" keluh Ria sambil menyantap mie rebus miliknya di aula sekolah yang terbuka itu.
"Tadi bukannya sama elo?" tanya Arya dengan secangkir kopi panas di tangannya.
"Ya sih sama aku, tapi habis itu aku enggak tau dia kemana, aku kan lagi nyiapin kelas buat tempat tidur nanti," sahut Ria.
Di tengah suasana tegang itu, tiba-tiba ponsel Arya yang ada di saku berbunyi mengejutkan pemuda yang mencoba menyeruput kopi susunya. Lantas saja bibir pemuda itu kepanasan terkena kopi panas yang lupa ia tiup.
Ternyata Tasya menghubunginya menanyakan keadaan Anta. Ponsel gadis itu tak diangkat sedari tadi, makanya wanita itu menghubungi Arya.
Terdengar ucapan panjang lebar Tante Tasya membuat Arya malah terdiam dan menganggukkan kepalanya.
Sambungan ponsel itu terputus kemudian.
"Kenapa, Ya, Siapa yang telepon?" tanya Herdi.
"Tante Tasya, dia nyariin Anta," sahut Arya.
"Apa? Ngapain si Tasya telepon kamu bukannya dia telepon Ayah," ucap Herdi.
"Sudahlah, Yah, yang penting sekarang cari Anta dulu."
Tubuh Ria langsung gemetar, tangannya seolah tak dapat lagi menjangkau sendok di atas mangkuk mie rebusnya.
"Terus Anta kemana dong?" tanya gadis itu.
"Dah, makan lagi aja, biar gue cari Anta. Ayo, Yah cari Anta!" sahut Arya menarik lengan ayahnya.
"Ada apaan, Ria?" tanya Dion.
Ria masih terlihat ketakutan saat menyantap mie rebus di hadapannya, tak ada suara yang terlontar saat suapan mie itu masuk perlahan ke dalam mulutnya karena sedang kelaparan.
"Anta ilang, enggak tau kemana lagi di cariin sama Arya sama Pak Herdi," jawab Ria setelah menelan semua mie rebusnya.
"Yeee bukannya bilang dari tadi, Abang samperin deh," ucap Dion.
Arga datang seraya membawa air mineral satu dus dalam kemasan gelas.
"Kebenaran Arga dateng, makasih minumnya. Terus cari Anta yuk!" ajak Ria.
"Emang Anta ke mana?" tanya Arga mulai panik.
"Tau kemana, katanya tadi Tante Tasya telepon enggak diangkat-angkat," jawab Ria.
"Bukannya bilang dari tadi," sahut Arga lalu melangkah pergi.
"Aku ikut, Ga."
Ria langsung mengangkat piring yang ia pakai lalu mengikuti Arga kemudian.
"Ga, anterin aku cuci piring dulu, yang cari Anta kan udah banyak, paling dia lagi main sama hantu," ucap Ria.
"Hmmm... iya juga sih, tapi males ah, aku mau cari Anta," ucap Arga.
"Baiklah, aku emang enggak ada artinya buat kamu, sepertinya aku harus melangkah sendirian di dunia ini tanpa cinta," ucap Ria seraya menunduk sedih menuju kantin.
Arga akhirnya tak tega juga, ia menemani gadis itu untuk cuci piring. Pemuda itu bahkan membantu untuk mencuci piring para murid lainnya karena ia mendapat tugas untuk cuci piring malam itu.
"Kamu ngapain sih, ngeliatin aku cuci piring gitu?" Tanya Arga karena Ria terus saja berada di sampingnya memperhatikan dirinya.
"Arga ganteng ya, tambah cakep banget malah."
Akhirnya perkataan itu terlontar juga dari bibirnya.
"Oohhh... udah biasa sih dibilang gitu. Aku emang ganteng," sahut Arga.
Pemuda itu lantas meletakkan piring di bak penyimpanan alat makan yang sudah bersih. Ria tiba-tiba mendekat ke arah Arga karena merasa melihat sesuatu bergerak. Hantu Pinki membantu Arga menahan piring yang hampir jatuh itu.
"Kamu takut, ya?" tanya Arga sembari menciprati gadis itu dengan air di tangannya.
"Ya takut lah... hehehe," sahut Ria
"Astagfirullah....!" seru Arga.
Pemuda itu mundur beberapa langkah karena dari balik genteng kantin, ia melihat sosok kepala pocong bermata merah dan wajah yang hitam sedang mengintipnya.
"Kenapa, Ga?" Ria Makin merapat ketakutan.
"Enggak, tadi aku lihat cicak."
Argaa mencoba berbohong agar tak menambah lagi ketakutan pada Ria.
"Yuk, kita balik, Siapa tau Anta udah ketemu!" ajak Arga.
"Iya, tapi aku mau pipis dulu, tungguin bentar, ya," pinta Ria dengan wajah memelas.
"Baru sekali aku turunin eh udah ngelunjak aja minta apa-apa temenin, gimana tiap hari coba," sahut Arga.
"Seumur hidup juga aku mau, Ga, ditemenin sama kamu terus, hehehe...." gadis itu mencoba menggoda Arga.
"Hadeh... makin halu ini bocah," ucap Arga menoyor kepala Ria.
"Ayo, temenin... tunggu aja di depan pintu toilet ya. Kalau enggak mau temenin aku pipis di sini nih depan kamu," ancam Ria.
"Hmmm repot deh, ya udah ayo aku temenin!" ucap Arga.
Sesampainya di depan toilet perempuan. Arga mendadak menahan lengan Ria sebelum masuk. Detak jantung gadis itu terasa cepat berdetak. Senyum merekah menghias wajahnya kala itu. Ia menoleh ke arah Arga.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Vie punya cerpen baru, yuk mampir
"Kutukan Lima Tahun" dan Bloody Honeymoon
Atau klik aja profil aku nanti nongol cerpen paling bawah, jangan lupa komen dan love ya.
Follow IG : @vie_junaeni