Anta's Diary

Anta's Diary
Tempat Aborsi



Happy Reading...


*****


"Kalian pada ngapain di depan gue gitu?" tanya Dion saat melihat Arga dan Arya melaksanakan salat di hadapannya.


"Kita habis mancing," jawab Arya asal.


"Mancing gimana, orang elo pada kayak orang salat depan gue," ucap Dion.


Dion tersadar dengan kepala pusing. Pakaian di tubuh bagian belakang anak muda itu terlihat kotor. Ia mengubah posisinya menjadi duduk.


"Nah, itu tau kalau kita habis salat, salat magrib," jawab Arga.


"Kenapa salatnya depan gue, emang gue jenazah apa?" hardik Dion.


"Lagian elo enggak bangun-bangun," sahut Arya.


Kedua anak muda itu melayangkan jabat tangan dan menahan tawa kala berhasil membuat Dion kesal.


"Kalian ih, enggak ada tempat lain apa sekalian salat di depan Dion yang lagi pingsan, kayak salat mayat aja!" sahut Dita seraya meletakkan teh manis hangat di meja yang terletak di sudut samping Dion.


"Kok, badan saya sakit semua ya, Tante?" keluh Dion bertanya pada Dita.


Arya dan Arga saling menatap menahan tawa.


"Kamu pingsan tadi gara-gara hantu di dalam sumur itu," sahut Anta seraya menyodorkan teh hangat manis ke tangan Dion.


"Makasih. Gue masih percaya enggak percaya sama yang gue liat," ucap pemuda itu seraya menyeruput teh hangat.


"Ummm... Anta, itu si Lala muncul," bisik Dita.


"Oh, iya itu Tante Lala."


"Hmmm... pasien si Anta muncul, elo buka ke pendaftaran gih!" ucap Arya menyikut Arga.


"Garing banget luh, Ya, kaga lucu!" sahut Arga.


"Hahaha... canda garing," celetuk Arya.


"Ada hantu lagi ya di belakang saya?" tanha Dion kala semua mata menatap ke arah belakangnya.


"Masih mau bilang enggak percaya sama hantu?" ledek Anta.


"Duh, gue percaya deh," sahut Dion tak mau menatap ke arah belakangnya.


Lala memperlihatkan kematiannya pada Dita melalui perantara Anta. Betapa terkejutnya wanita itu kala ia mengenali si pelaku. Dita berurai air mata ketika penglihatan itu makin jelas. Hal yang begitu membuatnya makin sedih kala Bibinya, Ibu Desi ternyata juga melakukan tindak kejahatan di panti ini.


"Pak Heru enggak bisa dibiarkan begitu aja, dia harus bertanggung jawab dan dihukum seberat mungkin," ucap Dita.


"Termasuk Ibu Desi," sahut Anta lirih.


"Aku masih enggak habis pikir kenapa Bibi aku bisa melakukan itu."


"Mungkin, demi uang," sahut Arga.


"Tetap enggak bisa dibiarin gitu aja. Tapi, bagaimana caranya membuat pria itu dipenjara?" tanya Dita.


"Sebenarnya ada satu lagi korban Pak Heru yang Anta tau, Tante Sherly, hantu yang ada di seberang restoran Papa Andri," ucap Anta.


Astagfirullah, korbannya banyak juga," ucap Dita.


"Termasuk Lisna, tapi kalau si Lisna mah masih hidup, cuma korban digituin aja," sahut Arya.


"Lisna? Digituin gimana?" tanya Dion mencuri dengar dan perlahan mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.


Arga akhirnya menceritakan apa yang ia dengar kala itu di dalam toilet. Kelakuan bejat Pak Heru pada Lisna yang entah dengan ilmu pelet apa memang Lisna juga menyukai pria itu, sangat mencoreng nama sekolah.


"Eh, masih pada di sini, terima kasih lho Nak Dion atas pemberiannya hari ini," ucap Ibu Desi.


"Sama-sama, Bu," sahut Dion.


"Bi, tolong—"


Ucapan Dita tertahan oleh Anta kala gadis itu menarik lengannya.


"Jangan sekarang, Bunda, tunggu bukti yang akurat," bisik Dita.


"Kuburan bayi itu udah jadi bukti, Nta."


"Bu Desi bisa bilang kalau itu kuburan anak panti yang meninggal bukan hasil aborsi, ya kan?"


"Lalu, bagaimana jadinya?"


"Kita buat Pak Heru kena sial, kita buat dia mengaku," ucap Anta.


"Kalian pada ngomongin apa?" tanya Bu Desi.


"Oh, baiklah kalau gitu kalian pulang aja, nanti kemalaman, bukannya ngusir nih, tapi sebaiknya kalian pulang, apalagi masih pada seragam sekolah gitu," ucap Bu Desi.


"Baik, Bu, kami pulang," ucap Anta.


Dita menemani mereka sampai ke mobil.


"Cara buat Pak Heru ngaku gimana?" tanya Dita.


"Buat dia mabuk kayak di film gitu Bunda, terus kita rekam," ucap Anta memberi ide.


"Wah, keren banget ide lo, pinter juga ini isi kepalanya," ucap Arya seraya mengusap rambut kepala Anta dengan gemas.


"Apaan sih, Ya!" Anta menepis tangan pemuda itu.


Arga juga membantu gadis itu dengan menarik tangan Arya menjauh dari Anta. Dion mengamati dengan saksama kelakuan dua anak muda itu terhadap Anta.


"Cara buat dia mabuk gimana?" tanya Dita.


"Pakai pesona Bunda dong, kan Pak Heru ganjen tuh, bisa lah dia tergoda sama Bunda," ucap Anta.


"Kapan tanggal mainnya?" tanya Dion yang ikut menimpali.


"Besok kita bicarakan lagi, deh, Anta ngantuk masa."


Gadis itu menguap seraya merentangkan kedua tangannya ke atas. Ia pamit pada Dita lalu masuk ke dalam mobil Dion. Dia memilih duduk di kursi depan daripada bersama Arga dan Arya. Para pemuda itu mengikuti gadis itu pamit pada Ibu guru BK mereka.


"Kalian hati-hati, ya, nanti kabarin kalau udah sampai rumah."


Dita melambaikan tangan pada mobil Honda Jazz hitam yang melaju pergi itu. Wanita itu lalu kembali ke dalam rumah. Namun, hantu Lala mendadak terlihat dan memberi kode padanya untuk mengikuti hantu itu.


"Kamu ngapain ganggu saya lagi, kan tadi Anta udah jelasin bakal bawa Pak Heru ke penjara, tapi enggak sekarang," bisik Dita.


"Sembunyi di sini, nanti kau tau apa yang akan Bini kamu lakukan," ucap Lala.


Hantu perempuan itu membawa Dita ke bagian belakang panti asuhan. Sebuah ruangan yang pernah wanita itu lihat saat hantu Lala memperlihatkan kematiannya terlihat. Ruangan tempat para korban aborsi.


Suara derap langkah kaki terdengar dari kejauhan dan mendekat. Lala memberi isyarat pada Dita untuk bersembunyi. Di kebun belakang itu lalu mengintip dari celah dekat jendela kecil ke arah dalam ruangan itu.


Bibi Desi dengan dua ajudannya terlihat membawa seorang wanita yang mengenakan stelan jas rapi dengan menjinjing tas mewah memasuki ruangan itu.


"Sudah berapa minggu kandungannya Ibu?" tanya Bu Desi.


"Sekitar 10 minggu, tetapi Anda profesional kan dan tak akan mengancam nyawa saya?" tanya wanita dengan rambut dicat kemerahan itu menatap Ibu Desi penuh keraguan.


"Tenang saja, Ibu Dina, kalau Pak Hartono sudah merekomendasikan tempat ini, berarti dia sudah yakin dengan tempat ini. Oh iya, ngomong-ngomong di mana beliau?" tanya Bu Desi.


"Sedang menemani sang istri terapi, katanya sih istrinya mengidap kanker payudara," jawab wanita itu.


"Oh, begitu... kamu sudah berapa lama bekerja dengan Pak Hartono?"


"Baru enam bulan, Bu," jawab Dina.


"Baru enam bulan tapi sampai hamil begini, hahaha..."


"Maksud Ibu apa, ya? Kalau saya suka sama suka lalu mau apa?" hardiknya.


"Ya, tetap saja pelakor macam kamu cuma jadi pelampiasan semata, begitu hamil disuruh buang," ucap Bu Desi seraya menyiapkan suntikan bius.


"Saya juga enggak mau anak ini hadir, saya masih mau bebas, lagian saya juga enggak minta ambil Pak Hartono dari istrinya, saya cuma jadiin dia ladang uang buat saya aja, kok," sahutnya penuh percaya diri.


Dua ajudan dan Bu Desi saling menatap dan tertawa kemudian.


"Kenapa sih pada ngetawain saya? Udah deh lakukan perkerjaan kalian sebaik mungkin, mana baju ganti buat saya?"


Akhirnya wanita bernama Dina itu mengganti pakaiannya dengan pakaian pasien lalu ia berbaring di atas ranjang operasi itu. Kemudian, suntikan bius mendarat ke dalam tubuh wanita itu dan operasi penghilangan janin itu dilakukan.


Dita mencoba membekap mulutnya seraya menangis agar tak terdengar. Ia tak menyangka sang Bibi, keluarga satu-satunya yang ia punya saat ini, tega melakukan hal sekeji itu. Lala mengusap punggung wanita yang sedang bersembunyi kala itu. Hantu perempuan itu juga menangis di sampingnya.


"La, aku tau bagaimana perasaan kamu waktu itu," bisik Dita.


"Tapi waktu itu aku mau bayi aku selamat bukan seperti wanita itu," ucap Lala.


Dita lalu tanpa sadar memeluk hantu Lala. Rasa takutnya mendadak hilang kala itu. Mereka menangis bersama kemudian.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Novel baru aku di Noveltoon ya...


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni