
Happy Reading...
*****
Tiba-tiba, pengemudi mobil di samping mobil Tasya membuatnya terkejut. Ia melihat seorang pria yang pernah ia lihat sebelumnya sedang bersama wanita muda dan bermesraan dalam mobil.
"Kayaknya itu ayahnya temen si Anta, tapi muka ibunya beda," gumam Tasya.
Brak!
Tasya melihat Anan yang sedang mengendarai motor skutik itu tak sengaja menabrak mobil yang dikendarai Hartono.
"Heh, kalau bawa motor yang bener dong, mobil saya lecet semua nih!" hardik pria itu saat turun dari mobil bmw hitamnya.
"Maaf, Pak, saya enggak sengaja," ucap Anan turun dari mobilnya lalu menghampiri Hartono.
"Anan?"
Wanita yang berada di dalam mobil itu turun dan menunjuk Anan.
"Eh, Dian, kamu ngapain di sini?" tanya Anan.
"Aku mau pergi meeting sama Bos aku," jawab perempuan itu.
"Kamu kenal sama dia?" tanya Hartono.
"Iya, dia tetangga aku, Pak. Udah deh jangan diperpanjang nanti kita telat," ucap Dian menyelamatkan Anan dari perkara ganti rugi.
"Untung Dian kenal sama kamu, kalau enggak saya tuntut kamu buat ganti rugi," ancam Hartono.
"Makasih, Pak, dan maaf sebelumnya," ucap Anan.
Pria itu masuk ke dalam mobil bersama wanita simpanannya dan melaju pergi.
Tasya turun dari dalam mobilnya yang menepi menghampiri Anan. Ia menanyakan perihal kejadian barusan.
"Tapi kamu enggak apa-apa, kan?" tanya Tasya.
"Enggak sih, gue baik-baik aja."
"Kamu kenal sama perempuan tadi?" tanya Tasya.
"Iya kenal, dia tetangga aku, memangnya kenapa?" tanya Anan.
"Enggak apa sih cuma mau nanya aja, Mbak nya cantik tadi," ucap Tasya berbohong padahal dia penasaran dengan perempuan bernama Dian tadi.
"Gue pergi dulu, ya."
Anan melaju pergi dengan motornya begitu juga Tasya yang bergegas menuju restoran Andri.
***
"Eh, tadi katanya mau bilang sesuatu sama gue?" Dion hadir mendekati Anta dan duduk di samping gadis itu.
Ia sempat membuat para gadis terpana kala melihat sosok Dion hadir di kantin menghampiri Anta. Fani dan Lisna menatap ke arah gadis itu dengan tatapan sinis.
"Jangan sekarang deh, Anta lagi makan tau, nanti aja pulang sekolah," ucap Anta.
"Ya udah sih, sambil makan kan bisa ngomongnya," pinta Dion.
"Banyak orang, nanti aja pulang sekolah, enggak sabar banget, nih!" seru Anta.
"Cie... Abang ngapain di sini?" tanya Ria yang baru saja memesan siomay bersama Mey.
"Ada perlu aja sama anak ini," tunjuk Dion.
"Eh, aku punya rencana nonton, punya tiket gratis nih dari Papi, pada mau ikut enggak?" tanya Ria.
"Hmmm boleh juga, kapan?" tanya Anta.
"Sore ini, kau mau ikut?" tanya Ria.
"Wah boleh juga, gue ikut," sahut Arya.
"Eh, datang-datang langsung nyamber aja kayak geledek!
"Peka gue kalau berhubungan sama Anta," sahut Arya.
"Aku juga ikut!" sahut Arga yang hadir di belakang Arya.
"Ah, ini lebih nyamber geledeknya dari gue!" cibir Arya.
"Asik... kita jadi ada tiga pasangan, naik mobil Abang Dion, ya?" pinta Ria.
"Hmmm... males gue sih bareng-bareng kalian, Tapi ya sudahlah," sahut Dion.
"Yeeee...!" Ria berteriak kegirangan.
"Fan, mereka mau nonton tuh," bisik Lisna yang mencuri dengar sedari tadi.
"Kita ikutin, Na, gue enggak rela kalau Dion deket sama tuh anak," ucap Fani.
***
Tasya sedang membantu di dapur restoran untuk menyiapkan makanan yang dipesan para tamu dan salah satunya ternyata Hartono dan Dian yang datang kesana. Pria itu memesan steak salmon lengkap dengan kentang goreng, dan potongan dadu sayuran jagung dan wortel di piringnya. Begitu juga dengan Dian.
Andri melangkah masuk ke area dapur, Tasya langsung menariknya mendekat. Ia menceritakan perihal kedekatan Hartono dan Dian. Wanita itu curiga kalau dua pasangan itu sedang berselingkuh.
"Enggak boleh ngomong gitu, Sya, enggak baik berburuk sangka," ucap Andri.
"Beneran, Andri! tadi mereka mesra banget di mobil," ucap Tasya.
Ratu Sanca memperhatikan gerak-gerik Tasya dan Andri dengan saksama.
"Ratu Sanca ngapain sih kepo gitu?" tanya Tasya.
Sosok itubmembalasnya dengan tawa kecil di wajahnya.
"Tuh, Ratu Sanca aja bilang gitu," ucap Tasya menunjuk makhluk itu.
"Gue enggak bisa lihat dia Tasya, au amat lah gue mau bikin kopi," ucap Andri lalu pergi dari Tasya.
"Oh iya, kamu udah ketemu sama Sherly?" tanya Tasya.
"Iya tadi ketemu, tapi dia takut sama aku, hehehe..." ucap Ratu Sanca.
"Hmmm kirain udah ngomong, ya udah anterin kesana, yuk!" pinta Tasya.
"Sekarang? Bukannya kamu lagi siapin makanan."
"Oh iya, lupa aku, baiklah nanti ya setelah selesai kerja. Coba minggir dulu, aku mau mengantar pesanan tamu dulu," ucap Tasya.
"Okay, Sis..." sahut Ratu Sanca.
"Gaul amat bahasa ratu sekarang," gumam Tasya seraya tersenyum.
"Permisi, ini makanan Anda."
Tasya meletakkan pesanan Hartono di meja itu.
"Silakan dinikmati makanannya," ucap Tasya seraya tersenyum.
"Makasih, Mbak."
"Astaga," pekik Dian.
Tangan gadis itu menarik lengan Tasya dengan tatapan tajam.
"Kenapa banyak minyak gini, aku maunya kering," pinta wanita itu.
"Tapi, emang gini, Bu," ucap Tasya.
"Ibu, Ibu, enak aja! Kamu sama saya juga tuaan kamu! Bisa kamu ambil piring ini terus buat lagi!" seru Dian.
"Eh, denger ya, Bu—"
"Sya, biar aku aja yang ganti," ucap Andri menahan emosi Tasya.
"Kenapa harus diganti, sih?"
"Udah nurut aja, yuk ke dapur!" Andri meraih piring pesanan Dian dan menarik lengan Tasya pergi.
Tasya akhirnya menyerah dan menuruti perintah Andri.
***
Di Bioskop Mall Kota, Ria sudah hadir di sana dan sudah memesan tiket untuk enam orang. Sementara Dion memesan paket popcorn dan soda di sana. Tak lama kemudian Anta dan Mey datang setelah mereka dari toilet.
Terlihat Fani dan Lisna datang menyusul. Ria menatap kesal dan terpaksa tersenyum pada dua gadis itu.
"Hai, semua. Wah kita sudah berkumpul ya di sini," sapa Fani.
"Hai, kok pada ke sini, sih?" tanya Ria sinis.
"Suka suka aku dong, ini kan tempat umum," sahut Fani.
"Ehm, ehm, udah deh yuk pada masuk ke dalam, gue pikir filmnya akan segera dimulai," ucap Dion.
Nada suaranya mulai terdengar ketus. Dia meletakkan tangannya melingkar di bahu sepupunya. Yang lainnya menyusul masuk. Akan tetapi, Fani terus mendekati ke arah Dion.
"Sepertinya Kak Fani suka sama Dion," bisik Anta pada Mey.
"Memang iya, kamu mah Anta, ih kaga peka deh," bisik Mey.
"Wah, kayaknya film Dukun Beranak Dalam Sumur, bakalan seru, nih!" ucap Arya.
Mereka masuk ke studio begitu pintu teater di buka. Dion memilih duduk di samping Anta mendahului Arya dan Arga. Di samping pria itu ada Fani dan Lisna yang duduk sejajar.
"Yah, kok Anta jadi sendirian gini?" tanya Anta kala melihat Mey duduk di belakang bersama Arya dan Arga.
"Bentar, Fan, tuker bangku sama gue, mau enggak?" tanya Arya.
"Heh, ngomong sama Kakak kelas yang sopan tau!" seru Fani.
"Oh iya lupa, Kak, tuker bangku sama aku mau?"
"Enggak mau!" sahut Fani ketus.
"Kampret!" keluh Arya.
Akhirnya film tersebut di mulai. Semuanya menyimak ke arah layar besar. Sesekali Dion menyodorkan popcorn pada Anta. Sampai akhirnya gadis itu meraih tempat popcorn itu dan memilikinya sendiri sampai membuat Dion melongo.
Baru setengah jam film itu dimulai banyak penonton yang ketakutan mual dan jijik dengan adegan penuh darah dan penampakan menyeramkan para hantu di film tersebut.
Sementara itu, Anta malah tertawa. Gadis itu begitu asik dengan popcorn ditangannya. Dia memakan lahap popcorn itu tanpa rasa jijik sedikit pun.
Sementara di sudut kursi yang sejajar dengan Anta terlihat dua pasangan sedang sibuk dengan kegiatan nakal mereka sendiri tanpa peduli dengan film yang mereka tonton itu.
Arya memberitahukan pada Arga dan membuat keisengan dengan melemparkan popcorn ke arah pasangan nakal itu.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni