Anta's Diary

Anta's Diary
Pasar Seru (Part 1)



Happy Reading


*****


"Berita duka cita datang dari dunia hiburan Tanah Air. Aktor muda berbakat pemain sinetron dan bintang iklan ternama yang sedang merintis dunia perfilman ini meninggal dunia pada pukul dua siang. Jonathan Stevenson atau yang akrab dipanggil Jojo ini meregang nyawa saat mengikuti perlombaan renang tingkat nasional. Jenazah akan dimakamkan esok hari di bukit pemakaman San Miller. Sekian kabar terbaru hari ini, saya Nandhika undur diri dan nantikan update terbaru dari TV Lima."


Tante Dewi menyimak berita televisi sambil terisak. Banjir air mata dan aliran dari hidungnya membasahi tisu yang kini berserakan. Raja memanggil Anta dan Tasya untuk menenangkan Mamanya itu.


"Ini yang meninggal bintang sinetron lho, enggak kenal juga sama Tante, kenapa sedihnya banget-banget gini macam anak sendiri aja yang meninggal," ucap Tasya seraya menyodorkan lembaran tisu pada wanita tersebut.


Anta dan Raja bekerja sama membersihkan lantai dari sampah tisu bekas.


"Tante enggak habis pikir, dia tuh masih muda tau, ganteng banget lagi, dan asal kamu tau aja ya, dia tuh udah Tante anggap seperti anak sendiri meskipun dia enggak kenal dan anggap Tante tuh ibunya, hiks hiks."


Semburan cairan hidung itu makin keras terdengar di lembaran tisu yang ada di tangannya.


"Mama belum kenal aja sama Kak Jojo, coba kalau kenal," celetuk Anta.


"Lho, Mama kenal kok mama paham banget sama dia, Mama kan ikutin sosial media dia terus tau semua biodata dirinya," sahut Mama Dewi mulai kesal.


"Maksud Anta watak asli Kak Jojo, dia kan—"


"Dia apa, dia kenapa? Kamu jangan coba-coba menjelek-jelekkan orang yang sudah meninggal ya!" ancam Mama Dewi.


"Hmmm... siapa yang mau menjelek-jelekkan sih?" ketus Anta menjawab sambil menaruh bekas tisu ke tong sampah.


"Emang si Jojo itu kenapa, Nta? Dia bukan anak baik gitu? Perasaan kalau Tante ketemu dia, dia kelihatan cool aja," sahut Tasya.


"Ya kalau depan orang lain mah dia cool cowok banget kalau aslinya mah... beuh..."


Anta tertawa cekikikan.


"Maksudnya apa sih?" tanya Dewi menoleh ke arah Tasya dan Anta bergantian.


"Aku tahu, maksud Kak Anta macam Tante Merry yang di salon seberang sekolah aku, kan?"


Raja menirukan jalan gemulai ala pria di salon bernama Merry itu.


"Enggak mungkin! Jojo aku enggak mungkin kayak gitu!"


Tante Dewi bersikeras seraya bangkit dari kursi sambil bertolak pinggang.


"Makanya kenalan, eh bentar siapa tau Anta bisa panggil Kak Jo ke sini," ucap Anta.


"Maksudnya? Jojo gentayangan?" tanya Dewi.


"Iya, dia gentayangan di sekolah," ucap Anta.


"Hah? Jangan deh kalau gitu, kalau jumpa fans sama hantunya mah Mama juga enggak mau, enggak mau ah!" sahut Dewi.


Anta dan lainnya langsung tertawa.


***


Anan menaiki sebuah busway menuju ke pasar tradisional. Semua mata tertuju pada paras tampan pria yang memakai topi baseball itu. Kaus putih dengan luaran kemeja kotak biru bersanding dengan jeans warna abu-abu membuatnya makin terlihat keren.


Anan melihat ke arah seorang wanita yang tertidur pulas itu. Dia tersenyum kala mendapati Dita duduk di kursi dalam bus itu seorang diri. Kepala wanita itu jatuh ke bahu kanannya tanpa sandaran karena terlalu pulas. Pria itu memutuskan untuk duduk di sampingnya.


"Pulas amat ya, sampai ngeces juga enggak berasa," gumam Anan sambil tertawa kecil.


Ia letakkan kepala Dita ke bahunya. Namun, sentuhan pria itu malah membuat wanita di sampingnya terbangun.


Plak!


"Heh, jangan macem-macem ya sama aku!" ancam Dita setelah memberi tamparan pedih di pipi Anan kala itu.


"Duh, nyesel aku duduk di sini, niatnya mau kasih kamu bahu buat tidur," keluh Anan sambil mengusap pipinya.


"Eh, kamu toh ternyata, ngapain sih pegang-pegang kepala aku?" tanya Dita.


"Permisi, Mbak, apa Mas ini kurang ajar sama Mbak?"


Petugas dalam bus itu menghampiri Dita dan menanyakan perihal kejadian tersebut.


"Enggak kok, saya enggak kurang ajar," jawab Anan dengan tegas.


Ia juga menatap Dita dengan tatapan penuh permohonan agar jangan disalahkan.


"Enggak, Mas, cuma salah paham aja."


Dita memberi senyuman pada petugas tersebut. Petugas itu lantas kembali ke tempatnya semula.


"Tuh, bilang apa sama aku?" tanya Dita.


"Bilang apa?"


Anan mengernyitkan dahi dan masih mengusap pipinya.


"Eh, jangan dong! Iya deh makasih Dita cantik..."


Dita tersentak mendengar penuturan Anan barusan. Wajahnya tampak bersemu kala mendengar kata cantik dari pria di sampingnya itu.


Keduanya bangkit bersamaan kala bus berhenti di pemberhentian Halte Pasar Seru.


"Kamu turun sini?" tanya Dita.


"Iya, emang kamu juga mau turun sini?" tanya Anan.


Dita menganggukkan kepala dan keduanya turun bersamaan.


Di pasar seru itu sedang mengadakan bazar makanan dan barang-barang tradisional daerah setempat. Terlihat banyak juga pedagang yang menjajakan makanan tradisional dan juga pernak- pernik hiasan maupun pakaian adat setempat.


Tiba-tiba, Dita langsung menundukkan kepalanya dan meremas tangan Anan karena ketakutan melihat penampakan yang baru saja ia lihat. Seorang anak berkepala botak menggelayut di punggung seorang pria paruh baya yang berjalan dengan membungkuk. Pria itu berjalan di depan keduanya.


"Nan, itu apa?" bisik Dita.


"Kayaknya tuyul deh," sahut Anan.


"Bapak itu bawa tuyul ke sini?"


"Tanya aja sana sama Bapaknya!" sahut Anan asal.


Plak!


Pukulan Dita kali ini tepat mendarat di bahu Anan.


"Duh, sakit banget nih pukulannya, biasa jadi kuli, ya?" ledek Anan.


Anak berkepala botak yang berada di gendongan itu menoleh ke arah Dita dan Anan. Anak itu berwajah pucat dan bermata hitam seperti mata panda. Dia juga tak memakai pakaian hanya bawahan layaknya pampers bayi pada umumnya.


"Nan... itu..." bisik Dita makin meremas tangan Anan dan bersembunyi di balik punggung pria itu.


"Udah sih tenang aja, jangan dilihat!" bisik Anan.


"Duh, hadap sana dek, jangan hadap sini," bisik Dita menunjuk anak kecil tersebut agar menghadap ke arah lain.


Hantu anak kecil itu malah melotot, dia lantas memperlihatkan lidahnya yang menjulur panjang lalu tertawa menyeringai.


"Ih, malah meledek lagi!" seru Anan.


Pria yang menggendong hantu anak kecil itu lantas menoleh pada Anan.


"Kamu ngomong sama saya?" tanyanya menunjuk diri sendiri.


"Enggak, Pak, ngomong sama dia nih," ucap Anan berbohong sambil menunjuk Dita.


Pria itu lalu melangkah pergi.


"Nan, aku mau beli gelang manik-manik ini, lucu banget, kamu kalau mau duluan ya duluan aja sana, tapi kalau bisa sih bareng aja," ucap Dita melepas tangan Anan kemudian.


"Hmmm... ya udah aku tungguin kamu aja, iseng juga kalau sendirian di sini," sahut Anan.


"Emang kamu ke sini mau beli apa?" tanya Dita.


"Aku mau cari kado buat Nenek, besok dia ulang tahun, dia mau minta kain batik," jawab Anan.


"Hmmm... Aku mau temenin nanti aku bantu cari kado yang pas buat Nenek kamu," sahut Dita.


"Halah, bilang aja takut kalau ketemu hantu, jadi minta ditemenin," sahut Anan.


"Hehehe... itu kan tempe."


"Tahu! Mulai garing deh!"


Anan tertawa kecil memandang Dita. Wanuta itu sampai terpesona melihat senyum Anan kala itu. Padahal Dita sudah menaruh hati pada sosok Pak Herdi semenjak bekerja di sekolah yang sama.


Mendadak kemudian, seseorang menabrak punggung Anan tak sengaja.


"Aduh, maaf ya, Pak," ucap gadis itu.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Anan.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Novel baru aku di Noveltoon ya...


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni