Anta's Diary

Anta's Diary
S2 - Pasrah



Happy Reading.


*****


"Ya, mau gimana lagi. Udahlah bismillah aja, kita jaga janin ini baik-baik. Siapa tau memang keajaiban dari Allah buat kita," ucap Andri.


"Tapi, Ndri ... berhadapan dengan Nyi Ageng itu bisa jadi bencana, dia iblis sesat," ujar Dita.


"Aku bilang bismillah, Ta. Tolonglah dukung kami kali ini," ucap Andri bersikeras.


Rasa egoisnya perihal memiliki buah hati membuatnya gelap mata. Pria itu bahkan tidak peduli jika harus berurusan dengan jin jahat atau iblis sekalipun. Andri juga merasa sanggup jika dia harus bersekutu dengan jin jika memang itu syarat untuk mendapatkan buah hati. Impiannya menjadi seorang ayah akhirnya terwujud.


***


Guru IPA tergalak bernama Pak Dadit memasuki ruangan kelas Anta.


"Simpan buku kalian! Kita hari ini ulangan harian!" serunya di depan kelas.


"Waduh, kok nggak bilang kalau mau ulangan, Pak?" protes Arya.


"Masa sih? Ah, bisa aja kamu alasannya, saya sudah bilang kok minggu lalu, mungkin kalian lupa. Oke, satu jam dari sekarang selesai nggak selesai pokoknya kumpulkan ke depan! Iyalah ke depan masa ke rumah saya, hahaha."


Pak Didi menertawai candaannya sendiri tanpa ada satu murid pun yang menimpali.


"Open book boleh, Pak?" tanya Arya lagi.


"Open book? Maksudnya buka buku?" tanya pria itu.


Semua murid langsung menganggukkan kepalanya mengiyakan penuh antusias.


"Ya, boleh dong. Tapi ... poin kalian minus lima puluh."


"Astagfirullah ...."


Kalimat istigfar langsung terdengar bersamaan.


"Kenapa dengan minus lima puluh?" tanya Mike pada Arya.


"Makanya baca peraturan sekolah, kalau poin kita udah minus seratus, itu artinya kita di drop out dari sekolah, paham tikus?" Arya mencibir Mike dengan tatapan sinis.


"Kampret!" sahut Mike.


"Eh, kalian kenapa pada bawa kebun binatang di sekolah? Jangan berisik! Nih, Arya ambil kertas ulangan ini dan bagikan!" perintah Pak Didi menunjuk Arya.


"Baik, Pak," ucap Arya seraya bangkit menuju meja guru tersebut.


Ia lantas membagikan kertas ulangan ke semua murid. Saat tiba di samping meja Anta, pemuda itu berbisik, "I love you, Nta."


"Apaan sih, nggak jelas!" Anta menatap tajam ke arah Arya yang malah mengedipkan satu kelopak matanya. Dia kembali ke kursinya dan mulai fokus mengerjakan ulangan.


"Ngapain luh?" tanya Mike.


"Tulisan elo jelek juga," sahut Arya.


"Halah, bilang aja mau nyontek!" sahut Mike.


"Idih, najis!" Arya mengerucutkan bibirnya.


"Duh, aku pusing nih liat tulisan burem!" Ria sampai mengibas kertas ulangannya.


Gadis itu benar-benar pusing mengerjakan ulangan tersebut.


"Kenapa, Ria?" bisik Anta.


"Biar ngumpul tulisannya, pusing liatnya. Kalau begini jadi kangen Arga, dia pasti gampang ngerjain soalnya," bisik Ria.


"Hadeh, makanya belajar!" sahut Anta.


"Emangnya Anta bisa ngerjainnya?" tanya Ria.


"Hehehe, soal kayak gini mah ... kaga paham. Anta juga mendadak migrain." Gadis itu sampai mengetuk kepalanya berkali-kali.


Hantu penunggu sekolah yang bergerak dengan menyeret kedua kakinya datang mendekat. Hantu itu mengalami kecelakaan sampai kedua kakinya hancur terlindas ban truk besar.


"Butuh bantuan, Nta?"


"Nggak, Kak Tika. Anta mau ngerjain sendiri," sahutnya.


"Yakin, mau aku contekin punya Rina, nggak?" tanya hantu Tika.


"Dibilangin nggak usah, tapi nomor lima belas sampai dua puluh boleh deh tolong liatin," bisik Anta.


Sementara di meja Arya dan Mike, kedua pemuda itu masih saling tatap dengan aura sinis yang memancar dari keduanya.


"Kalian ngapain pada liat-liatan gitu? Kalian saling jatuh cinta?" tanya Pak Didi mengejutkan keduanya yang tak sadar kalau sedari tadi guru tersebut sudah memperhatikan.


"Idih, najis!"


Mike dan Arya menyahut bersamaan dengan kompaknya.


******


To be continue...


Jangan lupa favorit, like, komentar dan vote. Terima kasih...