Anta's Diary

Anta's Diary
Misteri Dalam Tubuh Mey



Jangan lupa Vote yang banyak buat Anta ya...


*******


Dasar kurang ajar! Lepasin aku, aku enggak akan tinggal diam ya sekarang, aku akan bilang ke Mama kelakuan Om yang bejat ini!" pekik Mey.


"Bilang aja, kan Mama kamu lagi enggak ada, lagian Mama kamu tuh cinta banget sama aku, dia pasti bakal percaya sama aku," sahut Deni.


Ia menarik lengan Mey secara paksa sampai membawa gadis itu masuk ke dalam kamar. Deni membanting tubuh Mey ke atas ranjang.


"Kamu enggak akan bisa lepas kali ini," ucap Deni dengan senyum menyeringai.


Mey mendorong tubuh pria itu sampai menghempasnya ke lantai. Kemudian gadis itu berlari menuju luar. Deni mencoba bangkit dengan susah payah.


"Dasar, cewek sialan!" pekik Deni kesakitan.


Deni akhirnya mampu bangkit dan mencari keberadaan Mey. Suara berat itu memanggil nama yang terus berlari dengan paniknya menghindari sosok misterius itu. Mey memutuskan untuk bersembunyi di dalam lemari pakaian yang terletak di dalam kamar ibunya.


Gadis itu benar-benar tersudut. Ia menahan isak tangisnya dengan membekap mulutnya sendiri agar suara tersebut tak keluar begitu saja. Ia mengintip dari celah lemari. Dia harus bisa bersembunyi menghindari sosok pria kurang ajar itu yang ingin melakukan perbuatan tak senonoh padanya malam itu.


"Mey... di mana kamu sayangku..."


Suara berat itu memanggil gadis itu terus berulang.


"Apa kau tak ingin bermain denganku?" ucap Deni dengan suara yang dibuat-buat menakuti Mey.


Mey berusaha membekap mulutnya lebih kuat agar suara deru napas yang ketakutan itu tak dapat didengar oleh pria brengsek itu. Namun, bunyi detak jantungnya yang makin cepat terdengar kencang di pendengaran gadis itu.


Bulir matanya terus jatuh tak terbendung, meski ia berusaha menahannya. Sesekali ia menyeka air matanya. Akan tetapi isak tangisnya terlempar begitu saja dari bibirnya.


Deni memasang kedua telinganya dengan lebih teliti. Ia yakin baru saja mendengar isak tangis seorang gadis yang ketakutan dari kamar Liemey


"Mey, apa kau di sini?" tanyanya.


Keheningan menyeruak saat ia membuka pintu kamar Ibunya Mey tersebut. Hanya bunyi detak jam dinding yang menyambutnya dengan jelas sekali. Sementara itu, gadis itu masih berusaha untuk bersembunyi. Tekadnya hanya satu kala itu, bertahan dari terkaman Deni.


"Hmmm mungkin aku salah dengar, Mey gadis manisku tak ada di sini rupanya," ucapnya seraya menutup kembali pintu kamar Liemey.


"Aku harus pergi, aku harus melewati jendela lalu terjun ke taman, lalu pergi ke rumah Anta," batin gadis itu.


Mey mulai bergerak, perlahan-lahan ia membuka pintu lemari di kamar utama itu supaya tak ada suara derit lemari yang terdengar. Setelah dia merasa aman, lalu ia keluar dari tempat persembunyiannya secara diam-diam.


"Mey, aku menemukanmu," ucap Deni dengan suara penuh semangat itu. Ia menangkap tubuh gadis itu dan membawanya menuju ranjang ibunya.


"Aaaa... lepaskan aku! Lepaskan aku!" pekik Mey meronta dan mencoba lepas dari sergapan Deni.


Suara teriakan Mey yang menjerit dengan kencangnya tak dihiraukan oleh Deni. Bahkan pria itu begitu menikmati teriakan Mey tersebut. Tak ada siapapun yang akan menolongnya. Tiba-tiba pupil mata gadis itu melebar dan menghitam. Aura hitam itu ke luar menyeruak mengitari tubuh Mey.


"Apa ini, Mey kamu enggak apa-apa, kan?" tanya Deni mencoba menjauh.


Mey bangkit dengan senyuman menyeringai menghias wajahnya. Kepala gadis itu menengok ke kanan dan ke kiri bersamaan dengan bunyi gemerutuk tulang yang terdengar membuat ngilu.


"Jangan-jangan nih cewek stress atau malah dia kesurupan, hiyyy..."


Deni bergegas menuju pintu kamar karena hendak ke luar, tetapi pintu itu tertutup sendiri dengan sangat kencang.


Brak!


"Sial, kenapa enggak bisa dibuka ini pintu," ucap pria itu seraya menarik gagang pintu, bahkan ia berulang kali berusaha mendobrak pintu tersebut. Akan tetapi, usahanya sia-sia.


Mey melangkah menuju ke arah Deni. Dari ujung jari-jari tangannya terlihat kuku yang memanjang dan lancip. Tak ada lagi tampak warna putih di kedua mata gadis itu, yang ada hanyalah warna hitam keseluruhan.


"Mundur, apa yang mau elo lakuin sama gue, mundur luh, dasar cewek gila!" pekik Deni ia mencoba meraih lampu hias di atas meja kabinet dan melemparnya ke arah Mey tapi dihempas langsung oleh gadis itu.


Nyonya Liemey datang pulang ke rumah. Ia terlihat mabuk karena habis berpesta dengan rekan-rekan bisnisnya. Langkahnya terlihat gontai sampai seorang anak buahnya mengantarnya pulang.


"Terima kasih ya, Ren," ucapnya.


"Sama-sama Bu, perlu saya temenin ke dalam?" tanya pria muda itu.


"Enggak usah, ada anak saya hehehe, saya juga takut pacar saya datang," ucap Liemey.


"Oke deh, kalau gitu saya pulang ya, Bu."


"Apa yang terjadi?" gumamnya berusaha untuk melangkah dengan stabil.


"Duh, pusing banget lagi kepala aku," gumamnya.


Kemudian, ia menangkap suara teriakan Deni di dalam kamarnya. Lalu, wanita itu bergegas menuju kamarnya dan membuka pintu tersebut dengan mudah tak seperti Deni yang kesusahan tadi.


"Apa yang kalian lakukan di kamarku?" pekik Liemey seraya menggantungkan tangannya di gagang pintu.


"Lihat, anak gadismu ini terlihat gila!" tunjuk Deni menuduh Mey.


"Kenapa kamu sama Mey bisa ada di kamarku?" tanya Liemey lagi dengan wajah merah padam.


"Dia, dia berusaha merayuku, lihat saja dia berdandan hanya untuk menyambut kedatanganku, dasar ganjen. Lalu, saat aku menolaknya dia malah marah dan seperti orang gila, kau percaya padaku kan sayang?"


Deni berusaha memperngaruhi pikiran ibunya Mey agar tak disalahkan.


"Apa iya Mey, apa benar yang dia katakan?" tuduh wanita itu pada putrinya.


Mey tak menjawab ia malah tertawa menyeringai ke arah Ibunya.


Liemey mendekat ke arah anak gadisnya dan menampar pipi gadis itu.


"Keterlaluan kamu, dia itu pacar Mama tau!" pekik Liemey.


Mey mendorong tubuh ibunya sampai mendarat ke arah pelukan Deni. Tangan kanan gadis itu menunjuk ke arah Deni dengan telunjuk berputar-putar. Lantas saja kedua mata pria itu tampak kosong. Ia tersenyum menyeringai menoleh ke arah Liemey.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Liemey dengan nada mulai ketakutan.


Deni yang berhasil menangkap kekasihnya itu langsung menarik rambut Liemey dan menyeret tubuh wanita itu. Meskipun Ibunya Mey meronta-ronta mencoba untuk lepas, tapi tenaga pria itu lebih kuat.


"Mey, tolong Mama, Nak, tolong Mama!" pekik wanita itu.


Mey hanya berdiri terdiam.


"Kau gila, Deni, sayang apa kau sudah gila, sadarlah aku ini Liemey," ucap wanita itu yang masih mencoba lepas dari tangan Deni.


Namun, cengkeraman pria itu sangat kuat dan tak bisa ia lawan. Deni lalu menyeret tubuh kekasihnya sampai ke dalam dapur. Pria yang sedang dalam pengaruh gaib itu kemudian meraih pisau dapur di meja, lalu mengarahkannya ke leher Liemey.


"Deni, hentikan!" pekik Liemey yang langsung dipukul wajahnya sampai tak sadarkan diri. Pria itu lalu menggorok leher sang kekasih dengan sekali sayatan. Darah tersembur hebat dari leher wanita itu. Tubuh Liemey lantas kejang-kejang lalu ia tewas seketika.


Pria itu tertawa dengan lantangnya lalu kemudian ia menangis dan berlutut di hadapan mayat kekasihnya.


"Apa yang sudah aku lakukan?" pekiknya seraya mengamati pisau dapur di tangannya itu.


Lalu ia kembali tertawa dan menangis lagi. Sampai kemudian, akhirnya ia angkat pisau dapur yang masih ada di tangannya itu menuju ke lehernya sendiri.


Ia sayat leher itu dengan sekali sayatan, lalu tubuhnya jatuh ke lantai. Tubuh pria itu lalu kejang-kejang bagai seekor ayam yang baru saja disembelih.


Sekelebat bayangan hitam terlihat mengitari tubuh Mey lalu masuk ke dalam tubuh gadis itu. Mey jatuh ke lantai kemudian tak sadarkan diri.


******


To be continue...


Follow IG ku ya @vie_junaeni


Mampir juga ke Novelku lainnya.


- Pocong Tampan


- With Ghost


- 9 Lives


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Forced To Love


- Diculik Cinta