Anta's Diary

Anta's Diary
Bertemu Martha



Dita dan Anan masuk ke dalam kawasan gudang kosong tersebut. Mereka menelisik sekeliling mencari keberadaan Raja dan Pak Herdi. Sesuatu menggelinding di tanah sampai ke kaki Anan.


"Apaan, nih?"


Dita ikut menoleh ke arah kaki suaminya itu.


"Itu ada kelapa, Yanda, eh kepala," tunjuk Dita.


"Heh, bagus enggak gue tendang lu bro!" seru Anan menyentuh dahi si kepala itu dengan ujung kakinya.


"Sepertinya kalian bukan manusia, dan bukan orang sini," tanya hantu kepala tersebut.


"Halo, nama saya Dita ini Anan, kami adalah sepasang suami istri yang bahagia," ucap Dita.


"Apaan sih, Bunda, garing banget becandanya. Ini Ratu Kencana Ungu, kita ke sini mau cari anak kecil sama pria dewasa, ya udah tua lah," ucap Anan.


"Oh, aku tau dia di mana," sahut si hantu kepala.


Sosok hantu kepala satu lagi datang mendekat seraya menggelinding.


"Ada tumbal baru, dua kepala cowok," ucap hantu kepala perempuan itu.


"Wah, jangan-jangan mau ada pemanggilan iblis Ro," terkanya.


"Bentar, bentar, apa kata kamu tadi, iblis Ro?" tanya Dita.


Hantu kepala itu mengiyakan. Dita menoleh pada Anan, ia masih ingat kegerian saat di jembatan Ro tempo lalu. Betapa sulitnya mengalahkan iblis itu. Apalagi sekarang ada Raja dan Anta yang harus ia jaga.


Anan meraih tangan kanan Dita dan menggenggamnya. Pria itu memberi kecupan pada punggung tangan istrinya agar lebih tenang. Senyum hangat milik pria berlesung pipi itu memang sangat membuat sang Ratu lebih tenang.


"Gimana, Ta, Nan, dapat lokasi Raja?" tanya Andri. Pria itu tak sadar telah memijak daun telinga si hantu kepala.


""Awww, sakit!"


"Ndri, elo pindah deh mendingan, itu kepala buntung yang elo injak," ucap Anan.


"Ah, masa sih, mana enggak ada apa-apa," ucap Andri lalu menggerakkan kaki kanannya seperti menendang angin.


Akan tetapi, hal yang dilihat Dita dan Anan kalau Andri berhasil menendang kepala hantu si pria sampai melayang tinggi dan jatuh di atap.


"Wah, parah elo, masa tuh kepala elo tendang sampai sana," ucap Anan menunjuk ke atas atap.


"Ah, masa sih, jangan nakutin deh!"


"Bisa enggak sih pada fokus cari Raja, coba kamu hubungi si Martha!" perintah Dewi pada suaminya.


Andri menghubungi Martha saat itu juga. Seorang wanita memakai gaun hitam keluar dari dalam gudang tak lama kemudian.


"Nah, itu Martha!" tunjuk Andri.


"Heh, nenek peyot, di mana anakku, lekas kau beri tau!" bentak Tante Dewi.


"Oh, jadi ini istri kamu, Ndri, udah tua sih, lebih tua dari kamu pasti, kelihatan banyak kerutan."


Martha mencibir Dewi sampai membuat istri Andri itu menoleh pada Dita dan Anan serta suaminya bergantian.


"Memangnya, aku banyak kerutan, keliatan tua gitu?" tanya Dewi pada Dita.


"Enggak kok, Tante awet muda, cantik banget kulit wajahnya berseri terus glowing kayak porcelen. Tuaan juga wanita itu," jawab Dita menenangkan hati Tante Dewi.


Andri juga ikut mengiyakan dengan tersenyum dan mengarahkan dua ibu jari pada Dewi.


"Tapi, kayaknya Tante Dewi gemukan, deh," sahut Anan.


Andri langsung menepuk jidatnya sendiri. Baru saja dia dan Dita mencoba menyenangkan hati istrinya, Anan malah membicarakan masalah bentuk tubuh wanita itu yang memang lebih padat dari sebelumnya.


"Apa kamu bilang, Nan?" tanya Dewi dengan mata makin tajam menoleh pada Anan.


"Oh, maksud aku, Tante tuh makin bohai badannya, wuihhh keren banget deh," ucap Anan.


"Awas ya kalau bohong," ucap Tante Dewi lalu menoleh pada Martha.


"Heiiii! Kamu denger kan nenek peyot, jelas-jelas Anda yang tampak peyot, kenapa pake bilang aku tua dan banyak kerutan?"


Tante Dewi bertolak pinggang seraya menunjukkan wajah sangar nan ganas.


"Hahaha... memang nyatanya begitu, kita percepat saja pertemuan kita, jika ingin anak itu selamat maka serahkan Andri padaku," ucap Martha tegas.


"Tidak akan!"


"Kalau begitu anak itu akan mati," ucap Martha.


"Tante ajak dia ngomong terus ya, aku sama Anan mau masuk ke dalam cari Raja," ucap Dita.


Sepasang suami istri itu langsung mengendap-endap untuk masuk ke dalam gudang. Mereka pikir Martha tak bisa melihat keduanya. Akan tetapi, saat berada di depan pintu masuk gudang, pintu itu langsung tertutup dengan keras.


"Kalian pikir aku tak tau keberadaan kalian, hah?"


Martha menoleh pada Dita dan Anan. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku gaunnya. Sebuah remote kecil berada di sana. Remote yang tampak seperti pemicu bom.


"Kalian tau ini apa? Sekali aku tekan tombol ini, maka... boom! Anak dan pria tampan itu akan mati hancur berkeping-keping!" ancam Martha sambil tertawa puas penuh kemenangan setelahnya.


Dewi yang mendengar itu tak bisa menyembunyikan kecemasan di wajahnya. Ia mendekat pada Andri dan melingkarkan tangan kanan miliknya ke lengan suaminya itu.


Anan mencoba berkomunikasi dengan Dita dari hati ke hati. Telepati di antara keduanya sudah tak diragukan lagi. Pria itu akan menyerang Martha saat wanita itu lengah. Begitu hal itu terjadi, dia ingin istrinya masuk ke dalam gudang menyelamatkan Raja.


Sayangnya, Martha tak lengah. Hal mengejutkan terjadi setelah itu. Sepuluh manusia yang tampak seperti mayat hidup atau zombie hadir. Mereka muncul dari arah sumur tua. Rupanya mereka para hantu pengikut suku Ro yang sudah dibantai beberapa tahun lalu oleh warga desa tersebut. Sayangnya, mereka tidak mati. Mereka kembali dibangkitkan seperti mayat hidup.


Mereka juga memakan tubuh manusia yang tersesat di area gudang itu. Jika tidak ada manusia tersesat, mereka mengharapkan tumbal dari Martha. Wanita itu merupakan cucu dari si kepala desa yang sudah meninggal. Kepala desa yang menganut aliran sesat dan bergabung dengan suku Ro. Begitu juga dengan wanita itu.


Para mayat hidup itu sedang menenteng beberapa organ tubuh sambil mengunyah saat berjalan mendekat dengan terseok-seok. Rupanya tumbal manusia itu diperuntukkan untuk mereka.


Andri langsung menarik lengan Dewi untuk mundur perlahan. Dita dan Anan sudah memberinya kekuatan untuk melihat para makluk tak kasat mata di area tersebut.


"Kenapa, Yang?" tanya Dewi.


"Banyak mayat hidup, Wi, ini terlalu bahaya," jawab Andri.


"Masa sih?"


"Iya, kita harus waspada."


Andri berusaha untuk menjaga istrinya dengan sekuat tenaga yang ia punya.


"Gimana, Bun?" tanya Anan.


"Hmmm... kita bisa lawan mereka, asal jangan sampai mereka mendekat ke mobil Tasya," ucap Dita.


"Ini baru pengikutnya, gimana iblis Ro sendiri yang dateng ke sini," gumam Anan.


****


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni