Anta's Diary

Anta's Diary
Menemui Martha



Hai semua, sorry for slow update.


Happy Reading...


******


Pagi itu ponsel milik Andri berdering, ia tatap layar ponselnya yang tertera nomor tidak di kenal. Dewi menoleh ke arah suaminya itu saat sarapan. Hari itu ia dan Andri berencana untuk pergi ke kantor polisi lagi demi mencari tau berita terbaru mengenai Raja.


"Siapa, Yang, kok enggak diangkat?" tanya Dewi.


"Enggak tau, nomor tidak dikenal," jawab Andri.


"Angkat aja, siapa tau pelanggan restoran kamu mau pesan tempat."


Andri mengangguk dan menekan gambar telepon berwarna hijau di layar ponselnya.


"Halo, ini siapa, ya?" tanya Andri.


"Halo my baby bunny, apa kabar?"


Suara seorang wanita terdengar dari seberang sana. Suara yang membuat Andri terkejut karena tau pemilik suara itu.


"Martha?" tanya Andri.


"Hahaha... senangnya hatiku, ternyata kamu masih ingat sama aku," ucap Martha.


"Apa mau kamu?" tanya Andri lagi.


Dewi yang melihat raut wajah Andri terlihat kesal langsung mendekat dan menanyakan dengan isyarat tangannya siapa yang menghubungi suaminya itu.


"Aku maunya kamu Andri, kamu tahu kan susah banget cari kamu dan setelah ketemu enggak sia-sia aku cari tau tentang kamu," ucap Martha.


"Maaf, Martha, aku sudah punya istri lagipula aku bisa adukan kelakuan kamu sama suami kamu itu," ancam Andri.


"Hahaha... Aku sudah bercerai dan kamulah orang yang aku ingat pertama kali untuk ku ajak berpesta kamu mau, kan?" tanya Martha dengan nada genit nan menggoda.


"Udah gila kamu, ya?" pekik Andri dengan nada makin kesal.


Dewi meraih ponsel di tangan suaminya itu dan menekan icon loud speaker agar dapat mendengar pembicaraan mereka.


"Iya, aku sudah gila karena kamu, aku ingin kamu kembali kepadaku dan menemaniku lagi," ucap Martha.


"Heh, cewek gatel! Kamu ngapain menghubungi suami saya sampai merayu seperti itu?" celetuk Dewi.


"Oh, kamu pasti Dewi, dokter senior di Rumah Sakit Keluarga, betul kan?" tanya Martha.


"Iya, kamu tau tentang saya, lalu apa yang kamu inginkan dari kami?" tanya Dewi dengan nada ketus.


"Ceraikan Andri! Berikan Andri pada saya!" tegas Martha.


"Hahaha... kamu lagi mabok ya, apa udah gila?" tanya Dewi dengan nada sinis dan mimik muka ala pemeran antagonis di drama.


"Hahaha... saya dalam keadaan sadar sepenuhnya," ucap Martha.


"Udah enggak usah diladenin, matiin aja hapenya!" Andri meraih ponsel tersebut dan mematikan hubungan ponsel dia dan Martha.


Tak lama kemudian sebuah pesan dengan gambar dikirimkan oleh Martha ke ponsel Andri. Pria itu langsung tersentak kala melihat foto Raja yang terikat sedang berbaring.


"Apa-apaan ini?" pekik Andri.


Dewi langsung meraih ponsel itu kembali dan melihatnya. Wanita itu menekan nomor sebelumnya untuk menghubungi Martha.


"Kamu, apa yang kamu lakukan sama Raja?" tanya Tante Dewi dengan nada membentak.


"Hahaha... sekarang sudah tau kan apa yang aku bisa lakukan pada anak ini, maka serahkan Andri kepadaku, lalu anak ini akan selamat," ucap Martha.


"Kau ini—"


"Jangan lapor polisi, atau anak ini akan celaka," ancam Martha.


"Heh, Martha! Enggak begini caranya kalau kamu mau ancam saya!"


Andri langsung berteriak di ponsel tersebut.


"Jelas harus begini, agar kamu mau menemui aku, nanti ku kabari di mana kita bisa bertemu."


Sambungan ponsel itu dimatikan oleh Martha.


"Kita hubungi polisi," ucap Dewi.


"Dan menyerahkan kamu untuk dia?"


"Aku enggak akan menyerah begitu saja pergi ke wanita itu, kita ikuti permainan dia, setelah dapat celah, kita baru bebaskan Raja," ucap Andri seraya memeluk istrinya itu.


***


Arya sudah berdiri di depan rumah Anta.


"Eh, Dion, tumben banget hari minggu gini main ke sini, ada apa?" tanya Mey yang membuka pintu rumah untuk Arya yang masih terkurung di tubuh Dion.


"Ummm... Anta ada?" tanya Arya.


"Cieeee nyari Anta, bentar ya aku panggilin," ucap Mey.


Tak lama kemudian, Mey datang bersama Anta.


"Kita cari mereka lagi hari ini, yuk!" ajak Arya.


"Oke, bentar ya Anta ambil tas dulu," ucap gadis itu.


Tasya yang menggenggam ponselnya bergegas menghampiri Anta. Ia baru saja diberitahukan oleh Dewi dan Andri mengenai keberadaan Raja dan Herdi. Martha sudah memberitahukan alamat pertemuan mereka. Hanya saja tak boleh ada polisi yang ikut serta.


"Mey, kamu jaga rumah, ya?" pinta Tasya.


"Oke, tenang aja nanti aku juga bersih-bersih," ucap Mey.


Tasya bergegas ditemani Anta dan Arya menuju mobilnya. Di parkiran apartemen tersebut Andri dan Dewo sudah menunggu. Mereka akan pergi lebih dulu sesuai anjuran Martha. Sedangkan mobil Tasya mengikuti perlahan-lahan di belakang nanti.


Namun, saat mereka hendak memulai perjalanan menuju alamat tadi, Sahid datang bersama Arga. Pria itu turun dari mobilnya dan menceritakan pada Tasya mengenai petunjuk di mana mata air suku Ro. Mata air yang bisa mengembalikan tubuh Dion dan Arya seperti semula.


"Tapi, alamat ini sama persis," ucap Tasya.


"Sama persis gimana?" tanya Sahid.


"Ini sama dengan alamat di mana Raja sedang diculik sama musuhnya Andri," ucap Tasya.


"Kenapa tidak menghubungi polisi?" tanya sahut menghampiri Andri.


"Enggak boleh, dia akan mencelakai Raja nantinya, aku tau gimana nekatnya seorang Martha," ucap Andri.


"Orang seperti itu tak akan sendiri, pasti punya anak buah, apalagi dia juga menculik Herdi, kalau begitu saya ikut," pinta Sahid.


Andri menoleh pada Dewi dan Tasya untuk mencari persetujuan di sana.


"Ini perjalanan jauh, kalau menurutku, Tasya bisa satu mobil sama Sahid, mobil Sahid lebih muat banyak penumpang dari mobil Tasya," sahut Dewi.


"Bolehlah, nanti gantian nyetir hehehe," celetuk Tasya.


"Tapi, Bi, kondisi Abi lagi enggak fit, biar Arga aja yang ikut memcari Raja dan mata air itu," ucap Arga.


"Enggak, Ga, kondisi Abi baik-baik aja," ucap Sahid.


"Kalau gitu, aku aja yang nyetir," pinta Arga.


"Oke, setuju, nih kunci mobilnya," ucap Tasya menyerahkan kunci mobil itu ke tangan Arga.


Ponsel Arya berbunyi, rupanya Ria menghubunginya. Anak muda itu akhirnya berbohong untuk ikut pergi berlibur dengan keluarga Anta.


"Wah, jangan-jangan Abang Dion naksir Anta ya apa udah jadian, cieeee..." ucap Ria.


Suaranya terdengar karena Arya menekan tombol loud speaker tersebut.


"Apaan sih, enggak ada tuh Anta jadian sama siapa-siapa," celetuk Arga.


"Eh, suara siapa tuh, kok aku sepertinya kenal?" tanya Ria.


******


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni