Anta's Diary

Anta's Diary
Makan Malam Bersama



Jangan lupa bayar cerita ini dengan cara kumpulin poin buat VOTE ya ke Anta. terima kasih...


******


Tin... Tin!


Suara klakson mobil terdengar menghampiri Tasya dan Raja. Seorang pria terlihat saat jendela kaca mobil itu terbuka.


"Mobilnya kenapa?" tanya Heru kawan dari Herdi.


"Mobilnya mogok, tapi udah panggil mobil derek sih suruh ke sini," jawab Tasya.


Pria itu turun dari mobil yang dia tepikan sebelumnya. Ia menghampiri Tasya dan menjabat tangan wanita itu secara paksa.


"Masih inget saya, kan?" tanya Heru.


"Iya, masih inget," jawab Tasya yang langsung melepas pegangan tangan dari Heru itu.


"Nah, berarti kenal sama saya, kan?" tanya Heru.


Tasya menganggukkan kepalanya mengiyakan.


"Ya, kalau begitu saya antar pulang aja, gimana?" ucap pria itu menawarkan.


"Enggak usah, saya tunggu mobil derek aja," sahut Tasya.


"Enggak takut nunggu di sini sama anak itu, sepi lho jalanan nanti takut ada penjahat, malah bisa-bisa ketemu hantu, ihhh serem," ucap Heru mencoba menakuti Tasya.


"Uwuuu serem ya kalau ketemu hantu, kalau begitu saya tetap enggak mau pulang bareng kamu," ucap Tasya.


"Nama kamu Tasya, kan? Memangnya kamu takut sama saya?" tanya Heru menunjuk dirinya sendiri.


Tasya hanya tersenyum kecut, ia masih hapal wajah pria di sampingnya itu sama persis dengan penglihatan yang hantu Sherly perlihatkan kemaren malam.


"Kok, diem? Masa wajah ganteng kayak saya gini serem kayak penjahat, kan enggak mungkin," ucap Heru.


"Hahaha... Eh maaf, kelepasan. Saya coba hubungi sopir derek mobil lagi, ya," ucap Tasya menjauhi Heru menuju mobilnya berpura-pura mencari ponsel.


Raja mendekati Tasya dan berbisik sesuatu, "kok, muka Om itu mirip sama yang berantem sama Tante Sherly kemarin, sih, Tante?" tanya Raja.


"Sssttt... kita pura-pura enggak tau, kita diem aja, tapi tetap waspada," bisik Tasya.


"Oh, oke."


Heru masih berdiri di samping mobilnya dan menghisap sebatang rokok. Ia terlihat tak gentar mendekati Tasya. Tapi, Raja tak hilang akal. Anak itu berusaha terus mengalihkan pembicaraan pria itu saat menggoda Tasya.


Akhirnya mobil derek tiba, Tasya dan Raja bergegas naik ke mobil derek tersebut. Keduanya melambaikan tangan pada Heru yang terlihat cemberut saat ditinggalkan.


"Sial, susah juga deketin tuh cewek."


Pria itu menggerutu seraya membanting puntung rokok yang ia injak dengan hentakan kaki yang kesal.


***


Malam itu, Anta bersama Mey bertemu dengan Arya dan Arga di sebuah kedai nasi goreng dekat Apartemen Emas. Arga merencanakan makan malam bersama kala itu.


"Kok, kita ketemu sama Dion, nah ya, jangan-jangan Anta mulai dating nih sama Dion?" terka Mey saat melihat sosok Dion sudah duduk bersama Arga di kedai tersebut.


"Enak aja, mungkin mereka kebetulan ketemu," ucap Anta mencoba membela diri.


"Sini, duduk sini!"


Arga menepuk kursi di sampingnya. Melihat hal tersebut malah membuat Arya bangkit dan duduk di samping Arga.


"Kok, elo pindah duduk sini, sih?" tanya Arga dengan nada kesal.


"Lha, kata elo tadi suruh duduk sini, makanya gue duduk sini, dong!" sahut Arya.


"Maksud gue yang duduk sini tuh Anta, bukan elo!" bentak Arga.


"Eh, ini kenapa udah mulai pada berantem sih, belum juga makan," ucap Anta yang duduk di hadapan kedua pria itu. Mey duduk di samping Anta.


"Dia nih yang mulai!" tunjuk Arya.


"Lha, elo duluan yang cari ribut, sih!" sahut Arga menepis tangan Arya dengan kesal.


"Arga, Arya, bisa enggak sih tenang dikit enggak ribut terus, Anta pusing dengernya!" seru gadis itu dengan tatapan tajam dan bertolak pinggang.


"Kamu bilang apa tadi, Nta? Arya?" tanya Mey.


"Eh iya, siapa itu Arya, wah, jangan-jangan elo kangen ya sama dia?"


Arya langsung menimpali ucapan Mey untuk mengalihkan ucapan Anta barusan.


"Emang tadi Anta nyebut nama Arya?"


Anta menoleh pada Mey dengan tatapan polos seolah tak terjadi apa-apa barusan itu.


"Iya, kamu sebut nama Arya," sahut Mey.


"Ah, salah denger kali, masa Anta sebut nama pocong jelek gitu," ucap Anta.


Arya menendang ujung kaki Anta dari bawah meja.


"Adaw!" pekik Anta menoleh ke bawah meja.


"Enggak, kayaknya barusan ada tikus gede lewat nabrak kaki Anta," jawab gadis itu sambil menatap tajam pada Arya.


"Ada tikus? Ah, masa sih, nakutin aja, nih!" pekik Mey dengan mengangkat kakinya ke atas kursi.


"Kan, cuma dugaan Anta doang, pesen makanan gih, Dion!" ucap Anta menoleh pada Arya.


"Iyeeee."


Arya bangkit dan memesan makanan pada si penjual nasi goreng tersebut.


"Anta, panggilin Arya, dong, aku mau ketemu sama dia, please...." pinta Mey.


"Arya, umm... enggak tau ke mana mungkin lagi sekolah hantu sama Tante Silla," ucap Anta.


"Lagian, Mey, emang enggak takut ketemu hantu Arya?" tanya Arga.


"Enggak, habisnya biarpun Arya jadi hantu dia tetep ganteng, lagian juga aku yang panggil dia ke dunia ini lagi," ucap Mey.


"Kamu yang panggil Arya?" tanya Arga.


"Iya," ucap Mey mengangguk dengan mantap.


"Mey, Anta mau minta tolong boleh?" tanya Anta.


"Tolong apa?"


"Beliin minuman di mini market depan, air mineral dingin sama bubble tea buat Anta," ucap Anta.


"Emang di sini enggak ada jual minum?" tanya Mey.


"Anta mau bubble tea, mau ya, soalnya Anta mau cuci tangan dulu nih kotor, tadi Anta habis ngupil," ucap gadis itu asal.


"Ih, jorok! Ya udah bentar, aku pesen empat aja ya sekalian," ucap Mey.


"Cakep, makasih ya, Mey," ucap Anta.


Arya kembali duduk ke kursinya saat Mey sudah pergi ke mini market di seberang kedai itu. Anta buru-buru menjelaskan pada Arga mengenai keberadaan Arya pada tubuh Dion. Gadis itu juga akan mempertemukan Arga dengan Dion saat tidak ada Mey di sisi gadis itu.


Arga mengerti dengan penjelasan Anta. Ia menatap ke arah Arya yang berada dalam tubuh Dion lalu menepuk bahu pemuda itu.


"Elo beruntung ada di dalam tubuh ini," ucap Arga.


"Emang kenapa?" tanya Arya.


"Cakepan Dion sama elo, hahaha..." ledek Arga.


"Haiss, rese banget luh, Onta," ucap Arya yang hendak mengancam pria muda itu dengan memegang mangkuk acar.


"Eit, mau diapain acarnya, Dek?" tanya si penjual nasi goreng seraya meletakkan dua piring nasi lalu meraih lagi dua piring dan diletakkannya lagi ke meja itu.


"Ummm... mau dimakan lah, Bang, acarnya," jawab Arya asal.


"Makasih ya, Bang, nasi gorengnya wangi banget," ucap Anta.


Tak lama kemudian Mey datang dengan membawa minuman pesanan Anta.


"Pas banget Mey udah datang, ayo kita makan!" ucap Anta dengan girangnya.


Saat menyantap nasi goreng tersebut seraya mendengarka cerita Arga selama bersama Abinya, tiba-tiba Mey memberikan pertanyaan mengejutkan. Apalagi ia melihat sosok Dion itu terlihat perhatian pada Anta dari menyiapkan sendok dan menuangkan acar pada piring gadis itu.


"Dion," ucap Mey.


Arya lupa dengan panggilan barunya sampai tak meboleh. Anta menepuk lengan pemuda di hadapannya itu.


"Kamu dipanggil sama Mey," ucap Anta.


"Oh, kenapa, Mey?"


"Dion, kamu suka ya sama Anta?" tanya Mey sambil tersenyum menatap Anta dan Arya bergantian.


"Buuahhh...!"


Nasi goreng yang sedang disantap Arya tersembur begitu saja dari mulutnya menghujani wajah Anta. Ia terkejut dengan pertanyaan Mey barusan.


Anta yang terlihat kesal langsung menyeruput minuman bubble tea dan membalas semburan Arya tadi ke wajah pria muda itu.


"Buuuaaah...!"


Arga dan Mey saling bertatapan dan tertawa melihat kelakuan keduanya.


******


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni


Dan mampir juga ke novelku lainnya.