
Happy Reading...
*****
Masalah satu hantu kelar, timbul masalah baru kala Anta mendapati sosok tanpa kepala di salah satu anak tangga darurat menuju lantai tiga. Keduanya melihat sosok hantu perempuan berdaster putih lusuh menghadap dinding.
"Hihihihihihihihi...."
"Nta, perasaan nggak ada kepalanya terus ketawanya dari mana?" bisik Arya.
"Ini, kepalanya aku pegangin," sahut sosok hantu perempuan yang muncul di belakang Arya.
"Wuaaaaaa!" Arya langsung berpindah tempat berdiri di belakang Anta.
"Tante Key?" Anta berseru kala melihat sosok hantu yang ia kenal itu.
"Eh, kamu anaknya Dita, kan?"
Tante Key lalu menyerahkan kepala hantu temannya pada Arya saat ia berpelukan sambil berjingkrak-jjngkrak kegirangan karena lama tak bertemu.
"Kamu kenapa lewat sini?" tanya Tante Key.
"Anta lagi mau jenguk Mama Dewi, bunda aku juga ada di sini," sahut Anta.
"Ada Dita di sini?" tanyanya.
"Ada."
"Wah, ayo Anta, aku mau ketemu Dita!" ajak Tante Key.
"Ini, kepalanya jangan ditinggal gini," ucap Arya dengan tangan gemetar.
"Key, ini siapa ganteng banget deh lumayan buat cem ceman aku hihihi." Kepala perempuan yang ada di tangan Arya melongok ke wajahnya.
"Pait pait pait pait ... alergi hantu jelek, gue. Mbak ini kepalanya pegang sendiri!" Arya yang merasa jijik menyerahkan kepala buntung itu ke pemiliknya.
"Ini cowok lucu banget sih, buat aku aja, ya," ucap hantu perempuan penunggu tangga darurat ini.
"Nta, ini kok dia godain aku terus?" seru Arya.
"Ya udah kamu main dulu sama dia. Anta mah nggak marah kalau kamu sama hantu, kalau sama manusia baru Anta marah hahaha," ucap Anta.
"Ya, hantunya jelek gitu, coba kalau hantunya cakep, pasti marah liat cem ceman kamu dikejar-kejar hantu iya kan?" goda Tante Key.
Benar saja ucapan Tante Key, Arya dan hantu wanita penunggu tangga darurat itu sudah berkejar-kejaran. Pemuda itu berusaha menghindari si hantu.
"Duh, capek liatnya, tinggal aja, yuk!" Anta menarik tangan Tante Key.
Sementara di tangga darurat itu Arya masih saja kejar-kejaran. Mereka sempat menghentikan adegannya.
"Ya udah kalau begitu, aku akan memeluk kamu, hihihi."
"Hosh hosh, capek bener tau, udahan ya please ... kepala kamu juga mau copot lagi itu," ucap Arya seraya membungkuk saat mencari napas kelelahan.
Saat Anta dan Tante Key masuk ke kamar perawatan Tante Dewi, mereka melihat Andri dan Dewi sedang mencium kening istrinya yang sedang menangis.
"Kita pasti bisa melewati ini," ucap Andri lalu mencium perut Dewi dan mengelusnya.
Bukan hanya Andri, tetapi Dita juga sedang menangis sesenggukan melihat keharuan yang tercipta dari Andri dan Dewj.
"Bunda, ada apa sih? Kok Mama Dewi sama Papa Andri nangis gitu?" tanya Anta.
"Eh, kamu ke sini sendirian?" tanya Dita.
"Anta sama Arya, tapi dia lagi main sama hantu kepala buntung di tangga sana," sahut Anta.
Dita melihat sosok hantu wanita dengan gaun putih penuh darah dengan wajah macam zombie pucat pasi menatap ke arahnya di sudut pintu.
"Tante Key?" tanya Dita.
"Hai, Dita!"
Keduanya langsung berpelukan dan berjingkrak-jjngkrak kegirangan.
"Kok, kamu tambah tua, ya?" tanya Tante Key.
"Ah, nggak asik lah!" Dita melepas pelukannya dengan raut wajah kesal.
"Tante Key kan begini terus udah mati, aku kan masih hidup jadi tambah tua, curang!" Dita bersungut-sungut.
"Hehehe, begitu aja marah. Tapi kamu tambah cantik kok, sama cantiknya sama Anta," sahut Tante Key.
"Nta, bunda kamu pasti lagi ngobrol sama hantu, ya?" tanya Andri.
"Nggak usah dijawab pasti udah pada paham, hehehe. Oh iya, Mama Dewi sakit apa?" tanya Anta.
"Mama ... umm ... Mama Dewi itu nggak sakit, tapi dia hamil," ucap Dewi yang menyeka kedua air matanya.
"Apa? Mama Dewi Hamil?"
*****
To be continue...
Jangan lupa like, vote, favorit dan komentarnya please...