Anta's Diary

Anta's Diary
Raja Selamat



Jangan lupa sebelum membaca di like, komen dan bayar pakai vote ya. Terima kasih...😊


Happy Reading.


******


"Aaaaaaaa...!"


Teriakan para pengunjung sontak terdengar kala melihat tubuh Irma bersimbah darah. Kepala gadis itu pecah dan mengeluarkan lelehan otak yang mengalir ke tanah. Gadis itu tewas seketika.


Para pengunjung langsung mengerumuni tubuh gadis itu. Semua wahana permainan langsung dihentikan. Petugas taman hiburan juga langsung menghubungi pihak medis setempat. Dori menarik Raja untuk mendekati jasad Irma.


"Enggak mau, aku enggak mau lihat," ucap Raja mencoba menghindari.


"Ah, cemen kamu, masa liat Irma aja takut," sahut Dori.


Masalahnya bukan karena takut melihat jasad Irma, Raja justru tak mau bertemu dengan hantu gadis itu nantinya. Benar saja sosok Irma yang wajahnya bersimbah darah dan tempurung kepala sebelah kanan pecah dengan lelehan otak mengalir ke pipi itu sedang menatap Raja.


Anak laki-laki itu berusaha untuk tak mengindahkan sosok Irma. Dia tak mau menatap hantu temannya itu yang makin mendekat ke arahnya. Raja berusaha menghindar dengan menggeser tubuhnya. Hantu itu juga ikut bergeser.


"Ja, kamu bisa lihat aku, kan?" tanya Irma.


"Enggak," ucap Raja keceplosan sambil membekap mulutnya.


"Kamu bisa lihat aku, Ja."


Raja melangkahkan kakinya meninggalkan sosok hantu Irma. Ia sedang tak ingin berurusan dengan hantu itu. Saat anak itu menuju ke luar gerbang, ia bertemu dengan Hartono yang baru saja sampai di taman hiburan setelah mendengar berita kecelakaan seorang anak gadis.


"Hei, Raja! Apa kabar?" sapa Hartono pada anak itu.


"Baik, Om."


"Kamu mau ke mana?"


"Mau pulang."


"Ayo, ikut dulu, kita bicarakan mengenai model iklan yang Om tawarkan kepadamu," ajak pria itu.


Tak lama kemudian mobil ambulans datang mengevakuasi jasad Irma dan membawa gadis itu pergi dari taman hiburan. Para pengunjung lantas dibubarkan dan taman hiburan terpaksa ditutup lebih cepat. Saat Raja berada di kantor milik Hartono, ia sempat mengintip dari celah jendela.


Mobil ambulans yang tadi membawa Irma pergi datang kembali. Dua orang tenaga medis itu menurunkan jasad gadis itu perlahan. Mereka membawa tubuh gadis itu menuju danau.


"Ja, kok aku balik lagi ke sini, enggak dibawa ke orang tua aku," ucap Irma yang tiba-tiba muncul di samping Raja mengejutkan anak itu.


"Astagfirullah... ngagetin aja nih!" sahut Raja..


"Itu, kenapa tubuh aku dibawa ke danau, Ja?" tanya Irma.


Raja juga tak mengerti kenapa tubuh Irma di bawa ke danau.


"Ayo, kita cari tau!" ajak Raja.


Ia mengendap-endap keluar ruangan kantor milik Hartono, untuk mencari tau apa yang akan mereka lakukan pada jasad Irma.


"Kamu ngapain ikutan ngumpet, kamu kan hantu udah enggak kelihatan," bisik Raja pada Irma yang terus merapat di sampingnya.


"Oh iya, lupa aku, habisnya aku kan suka kalau deket sama Raja," sahut Irma.


"Idih, ogah!" sahut Raja.


Dua petugas medis itu langsung melempar jasad Irma ke danau. Hartono memberikan sejumlah uang kepada mereka.


"Nah, sekarang kalian menghilang, jangan sampai ada yang tau dan mencari keberadaan anak ini," ucap Hartono.


Dua petugas medis tadi mengangguk dan mengiyakan lalu mereka pergi. Hartono kembali ke ruang kerjanya.


"Kok, tubuh aku dibuang ke danau gitu?" tanya Irma.


"Iya, soalnya kamu udah dipilih buat dijadiin makanan sama monster danau itu," sahut Sherly si hantu penunggu pohon besar.


"Jadi, tubuh aku di makan dia?" tanya Irma.


"Iya."


"Huaaaaaaa... jahat banget, aku kan maunya dikubur dengan layak," rengek Irma.


"Kamu ngapain masih di sini?" tanya hantu penunggu pohon besar itu pada Raja.


"Aku, aku mau jadi bintang iklan," jawab Raja.


"Kamu percaya sama pria itu, yang ada kamu malah dikorbankan jadi makanan tuh monster, mau?"


"Ya, enggak sih."


"Sudah sana, kamu cepetan pulang!" pinta Sherly.


"Iya, Tante."


"Raja, jangan tinggalin aku," pinta Irma.


"Kamu di sini aja, sama Tante itu, alam kita berbeda jadi kita tak bisa sama-sama, halah ngomong apa sih aku ini, pokoknya kamu enggak bisa ikut aku," ucap Raja.


Raja bergegas menuju gerbang keluar, tapi Hartono kembali menemukannya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Hartono.


"Lho, kita kan belum bicarakan perjanjian kita yang tadi," ucap Hartono.


"Enggak jadi, Om, aku enggak mau jadi bintang iklan, aku mah jelek, permisi...."


Anak itu segera berlari menghindari Hartono menuju restoran milik Andri di seberangnya.


"Hmmm... lihat aja, Nak, suatu saat kamu pasti akan aku dapatkan," gumam pria itu.


Napas Raja tersengal-sengal saat tiba di restoran.


"Kamu kenapa, katanya tadi lagi main sama temen-temen ke taman hiburan sana?" tanya Andri.


"Iya, Pa, ini capek banget," jawab Raja.


Andri mendengar pembicaraan dua orang pengunjung mengenai kecelakaan yang terjadi di taman hiburan. Lantas saja ia tanyakan hal itu pada Raja.


"Iya, Pah, temen aku yang jatuh kecelakaan, udah gitu mayatnya dibuang ke danau," ucap Raja.


"Apa? Kamu yang bener kalau ngomong?"


"Beneran, jadi anak itu dijadiin tumbal buat makanan monster danau," sahut Raja.


"Jangan kenceng-kenceng ngomongnya," pinta Andri.


"Udah sekarang kamu pulang nanti dicariin sama Mama," ucap Andri.


"Nanti aja, aku mau pulang bareng Papa aja, aku takut ketemu Om jahat itu," ucap Raja.


Anak itu langsung menuju Ratu Sanca dan merebahkan tubuhnya sampai tertidur di atas ular besar itu.


***


Malam itu, Tasya sedang berada di sebuah restoran cepat saji untuk membeli makanan. Sialnya lagi-lagi ia bertemu Heru. Pria itu tak gentar menggoda wanita itu dengan berbagai cara.


"Permisi, saya mau pulang," ucap Tasya.


"Sombong banget, sih, sok jual mahal juga ya ternyata kamu, makin gemesin," ucap Heru.


"Terserah mau bilang apa, tapi saya harus pulang," tegas Tasya.


"Ada yang gangguin kamu, Sya?" tanya Sahid yang muncul di belakang Tasya saat masuk ke dalam restoran itu.


"Nah, kebetulan banget, iya nih gangguin aku mulu dianya," ucap Tasya.


"Sini, aku bantu bawa barang-barang kamu," pinta Sahid meraih bungkusan yang dibawa Tasya.


"Makasih, ya," ucap Tasya.


Wanita itu lantas pergi bersama Sahid meninggalkan Heru yang masih bengong menatap pria yang menghampiri Tasya itu.


Sesampainya di mobil Tasya, Sahid meletakkan beberapa bungkus makanan itu di dalamnya.


"Makasih ya, kamu udah nolongin aku, tuh cowok emang rese banget," ucap Tasya.


"Sama-sama, lagian kamu jangan keseringan kemana- mana sendirian, nanti banyak yang godain," ucap Sahid.


"Haha bisa aja," sahut Tasya menepuk bahu pria itu.


Tiba-tiba Sahid memegang kepalanya yang terasa sakit berdenyut hebat.


"Kamu kenapa?" tanya Tasya.


"Pusing banget kepala aku," ucap Sahid.


"Duduk dulu, aku antar pulang, ya?" tanya Tasya.


"Enggak usah, aku bawa mobil kok," jawab Sahid.


"Tapi, kamu lagi sakit gini, makanya aku antar pulang ya," pinta Tasya.


"Kamu hubungi Arga aja, nanti suruh dia jemput saya di sini," pinta Sahid seraya menyerahkan ponsel miliknya dan menunjukkan nomor ponsel Arga untuk dihubungi.


Tasya segera melakukan perintah Sahid untuk menghubungi Arga.


"Kamu duduk dalam mobil ini dulu, ya. Aku mau cari minum buat kamu dulu," ucap Tasya.


Ia masuk kembali ke dalam restoran dan membeli teh manis hangat untuk Sahid. Heru kembali mendekat, tapi Tasya mengancamnya dengan tatapan mata yang tajam.


"Jauh-jauh kamu dari saya!" tegas Tasya.


******


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni


Dan mampir juga ke novelku lainnya.