
Happy Reading...
*****
Akhirnya perlombaan dimenangkan oleh Arga akan tetapi sesuatu menimpa Arya. Kehebohan terjadi kala Pak Herdi dan beberapa panita tak melihat anak muda itu muncul ke permukaan.
"Arya mana, Nta?" tanya Ria.
"Iya ya, kok Arya enggak ada, Mey si Ar—"
Baru saja Anta mau menoleh ke arah gadis di sampingnya itu, ternyata Mey sudah berlari menuju ke dekat kolam.
"Lha, cepet banget tuh cewek kalau soal Arya langsung gerak cepat," gumam Anta.
Ia dan Ria juga menyusul ke dekat kolam renang. Anta langsung menghampiri hantu legenda karena tak sanggup menembus kerumunan para penonton yang mendekati kolam.
"Kak Dimas, kamu apain Arya?" bentak Anta.
"Aku enggak apa-apain, dari tadi aku di sini jagain dia tuh tau-tau tidur pules," jawabnya.
"Terus kalau bukan Kakak, siapa dong yang bikin Arya celaka?" tanya Anta.
Gadis itu lalu memastikan kondisi Dion yang masih tertidur pulas. Lantas ia meraih kunci di sakunya. Kunci yang ia minta pada Pak Herdi sebelum dia ke ruangan itu tadi. Gadis itu lalu mengunci ruangan tersebut agar tak ada siapapun yang mengganggu tidur Dion.
Gadis itu lalu kembali ke area kolam renang dengan berlari. Ia melihat sosok Arya yang sudah berada di pangkuan Pak Herdi sedang diberi penanganan oleh tim medis. Pemuda itu lalu tersadar dan terbatuk-batuk. Ia dilarikan ke ruang UKS.
Panitia memberi pengumuman kalau baru saja Arya mengalami kram di kakinya dan mendadak tenggelam. Untung saja Arga dan Herdi sigap menghampiri tubuh anak itu yang terlihat mengapung di dasar kolam tak sadarkan diri.
Acara dilanjutkan kembali. Kali ini rombongan para senior terlihat melangkah masuk ke arena kolam renang. Anta memutuskan untuk menghampiri Arya. Ia mengajak Arga ikut serta.
"Dion gimana, Nta?" tanya Arga.
"Lagi pules, di kursi ruang ganti pakaian."
"Kamu biarin aja gitu dia di sana?"
"Tenang aja, dia dijagain sama Kak Dimas hehehe..." ucap Anta sambil meringis.
"Hantu legenda kolam renang?"
"Iya, hehehe... dia baik kok," sahut Anta.
"Kamu sama Dion, pacaran ya?" tanya Arga setelah tadinya ragu mau bertanya.
"Aku pacaran sama Kak Dion? Hahahaha... enggak kok, biasa aja," sahut Anta.
"Kirain aku kamu pacaran soalnya tadi aku lihat—"
"Lihat itu si Mey, bucin banget ya sama Arya!" ucap Anta memotong pembicaraan Arga.
Keduanya sampai di ruang UKS terlihat Mey begitu perhatiannya pada Arya sampai membuat Anta dan Arga risih kala melihat adegan itu. Mereka menghentikan langkahnya memasuki ruang UKS.
"Udah Mey, gue enggak haus dari tadi disuapi teh manis mulu," ucap Arya sambil menepis tangan Mey.
Pemuda itu hendak turun dari ranjang.
"Kamu mau ke mana?" tanya Mey.
"Gue udah baikan kok, gue mau cari Anta," ucapnya tegas.
"Ya, pandang mata aku!" ucap Mey seraya menyentuh wajah Arya.
Ada aura hitam yang menyelimuti tubuh Mey kala itu saat kedua matanya bertatapan dengan mata Arya. Tadinya pemuda itu hendak menepis tetapi ia tak bisa melakukannya. Tubuh pemuda itu langsung terdiam bagai terpaku dengan sempurna tanpa bisa bergerak sedikitpun.
"Arga, itu Mey lagi apa?"
Anta yang hendak menghampiri Mey langsung ditahan oleh Arga.
"Jangan masuk kita lihat dulu apa yang akan terjadi selanjutnya," ucap Arga.
"Tapi, Ga, itu bayangan hitam apa, sih?" bisik Anta.
"Kita sembunyi dulu sambil kita amati, aku takut bayangan hitam itu akan membahayakan kita."
Di Dalam ruang UKS itu, Mey menatap Arya dengan tersenyum.
"Arya, kamu harus sayang sama aku, Arya mau kan jadi pacar aku?" tanya Mey.
Arya menganggukkan kepalanya dan mengiyakan pertanyaan gadis di hadapannya itu. Kedua matanya menatap kosong ke arah Mey.
"Bagus, makasih Arya, aku sayang banget sama kamu," ucap Mey seraya memeluk pemuda itu.
Pikiran Arya hendak menepis pelukan gadis itu tetapi tubuhnya tak bisa menolak.
Anta menoleh pada Arga yang juga menatap balik ke arahnya. Mereka masih tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Mereka jadian, Ga?" tanya Anta.
Anta menganggukkan kepalanya.
"Aku curiga Mey punya kekuatan jahat yang bisa mengendalikan Arya, semacam ilmu pelet gitu."
"Mey punya kekuatan seperti itu, masa sih?"
Anta mengernyitkan dahinya.
"Hayo... pada ngapain ngumpet di sini?"
Ria yang datang tiba-tiba itu menghentakkan kaki sambil menyentuh bahu Arga dan Anta bersamaan.
"Haduh, kamu ngagetin aja nih!" sahut Anta.
"Nta, ketemu enggak duit kamu yang jatuh tadi?" tanya Arga seraya berbohong sambil memberi kode mengedipkan kedua matanya.
"Eh, iya belum ketemu, mungkin enggak jatuh di sini kali," sahut Anta yang mengerti dengan kode dari Arga.
Kedua anak itu lalu bangkit berdiri. Mey ke luar dari ruang UKS bersama Arya. Ia menggenggam tangan pria muda di sampingnya kala itu.
"Nah, kebetulan ada kalian di sini, aku mau ajak kalian makan-makan, mau enggak?" tanya Mey.
"Dalam rangka apa, Mey ulang tahun?" tanya Ria.
"Enggak, hari ini aku jadian sama Arya, jadi aku mau merayakan hari jadian kami, ya kan, Ya?" tanya Met menoleh pada Arya.
Pemuda itu hanya terdiam lalu mengangguk lemah.
"Apa? Kalian jadian? Wah, selamat ya..."
Ria langsung menghampiri Mey dan Arya serta memberi keduanya selamat. Anta dan Arga mengikutinya meskipun kedua anak itu masih bertatap dengan kebingungan.
"Kami cocok kan, Nta?" tanya Mey pada Anta.
"Cocok," sahut Anta datar.
"Anta seneng kan kalau kami bahagia?" tanya Mey lagi.
"Seneng, Anta seneng kok kalau kalian bahagia," sahut Anta dengan senyum yang dipaksakan.
Gadis itu berusaha menatap Arya tetapi pemuda itu tak balas menatapnya. Wajah pemuda itu sangat aneh dilihat. Namun, sebelum Anta menanyakan hal tersebut pada Arya, tiba-tiba terdengar kegaduhan berikutnya dari arah arena kolam renang.
Arga menghentikan salah satu murid yang baru saja berlari dari kolam renang menuju ruang kepala sekolah.
"Ada apaan, sih?" tanya Arga.
"Gue mau cari kepala sekolah, ada anak yang meninggal di kolam renang," ucapnya.
"Meninggal?" tanya Anta.
"Iya, liat aja sana kalau enggak percaya."
Anak muda itu langsung berlari kembali ke ruang kepala sekolah. Tanpa basa basi menunggu persetujuan, Anta dan yang lainnya bergegas pergi ke arena kolam renang.
Seketika wahana kolam itu mendadak ramai malah bertambah ramai. Banyak pengunjung yang mendekat hanya untuk mengambil rekaman video atau menangkap gambar dari korban.
Salah satu peserta renang yang satu itu naik ke permukaan merayakan kemenangannya dengan heboh. Ia berjingkrak-jingkrak dan memeluk kawannya saat itu. Sayangnya mereka berdua tak sengaja terpeleset. Leher korban tak sengaja terkena himpitan tubuh kawannya. Kepala korban juga membentur tepi kolam dengan kencang. Korban jatuh ke dalam kolam renang kemudian bersama dengan kawannya. Namun sayangnya, korban tewas di tempat kejadian.
Ibunya yang kala itu melihat pertandingan langsung menangis dan menghampiri sang anak di tepi kolam. Ia sangat terpukul karena pihak panitia tak bisa menyelamatkan anaknya. Kemenangan itu terasa sia-sia bagi anaknya kala ajal menjemput nyawa sang anak.
"Siapa sih yang meninggal?" tanya Ria karena mereka tak bisa melihat korban.
Kerumunan penonton itu benar-benar tak bisa ditembus.
"Kelihatan enggak, Mey?" tanya Ria.
"Aku enggak bisa lihat, mungkin Arga yang tinggi bisa lihat," ucap Mey menoleh pada Arga.
Sosok yang Anta kenal itu muncul dan berdiri di samping gadis itu. Ia menatap dengan tatapan kesedihan.
Hantu pemuda itu kini berada disamping Arga. Dia tau kalau Anta dan Arga dapat melihatnya. Hantu itu berdiri, menunduk, dan terlihat basah kuyup. Dia lantas mengangkat wajahnya yang pucat pasi memandang ke arah keduanya lalu dia menangis. Terlihat jelas kala hantu itu meneteskan darah dari kedua matanya.
****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni