Anta's Diary

Anta's Diary
Di Rumah Sakit Ayah Bunda



Happy Reading...


*****


Tiba-tiba, suara sirine mobil polisi terdengar.


"Yah, kayak di film aja, pas penjahatnya udah beres, baru deh pada dateng," gumam Anta.


Para polisi itu hadir dan mengamankan para penjahat itu. Akan tetapi mereka terperanjat kala mendapati sosok Harjuna yang salah satu perwira itu ada di sana dan terlibat.


"Dasar polisi korup, elo ngomelin gue mulu, ngebully gue mulu, sok suci luh, taunya elo penjahat di sini!" ucap salah satu polisi sampai menendang kaki Harjuna dengan penuh kekesalan.


"Arya, Arya gimana Bunda keadaanya?" tanya Anta dengan cemas.


"Oh iya, tadi dia dibawa ke rumah sakit," jawab Dita.


"Oh iya Anta baru inget, tadi Anta liat mamanya Ria," ucap gadis itu.


"Kamu salah lihat kali."


"Beneran, Anta lihat mamanya Ria, dia dikurung gitu."


Anan mendengar suara rintihan minta tolong.


"Kayaknya dari situ!" ucap Anan lalu berusaha mendobrak pintu ruangan itu.


Ternyata memang benar kalau mamanya Ria ada di sana. Akhirnya pihak kepolisian membawa Nyonya Mia ke kantor polisi bersama para pengikut aliran sesat yang lain.


"Ayo, buruan kita ke sana!" Tasya segera berlari kecil menuju mobil diikuti oleh Dita, Anta, Anan dan juga Herdi.


"Pak, mau ke mana, saya mau minta keterangan, ini?" tanya salah satu polisi menahan Herdi.


"Besok pagi saja, Pak, saya janji deh datang ke kantor polisi. Anak saya salah satu korban kelompok ini udah dibawa ke rumah sakit!" sahut Herdi.


"Tapi, Pak—"


"Saya mohon ya, saya mau lihat kondisi anak saya dulu," pinta Herdi.


"Baiklah, dua orang petugas akan ikut mengawal Bapak kalau begitu. Sekalian mereka akan melihat korban," ujarnya.


"Ya udah terserah Bapak Polisi aja," ucap Herdi yang bergegas pergi menyusul Tasya.


Anta menghubungi ponsel Ria dan menanyakan ke mana mereka membawa Arya.


"Aku di Rumah Sakit Ayah Bunda, soalnya terdekat. Kamu enggak apa-apa kan, Nta?" tanya Ria dari seberang sana.


"Aku enggak apa-apa, ya udah kalau gitu kita segera menyusul ke sana," jawab Anta lalu menutup sambungan ponselnya.


"Arya dibawa ke mana?" tanya Anan.


"Ada di Rumah Sakit Ayah Bunda," sahut Anta.


"Oh, aku tau tempatnya, ayo pada naik!" seru Anan.


"Berhubung aku enggak tau tuh rumah sakit, aku ikuti mobil kalian dari belakang," ucap Tasya.


Dita melupakan kendi yang terdapat Nyi Ageng di dalamnya.


"Tunggu, aku mau ambil kendi dulu!"


Dita langsung berlari ke dalam galeri. Tak lama kemudian ia membawa kendi tersebut.


"Aku akan memusnahkan makhluk ini nanti, mungkin dengan cara dibakar," ucap Dita.


"Sini Bunda, biar Anta yang pegang." Anta meraih kendi tersebut lalu dengan isengnya ia mengguncang kendi itu naik turun.


Sosok Nyi Ageng yang berada di dalam kendi sampai berteriak minta tolong. Ia merasa pusing dan mual saat merasakan guncangan yang dilakukan Anta. Namun, gadis itu tak menghentikan perbuatan isengnya. Sepanjang jalan ia terus mengguncang kendi tersebut.


***


Arga dan Ria tiba di rumah sakit. Dengan wajah panik ia berseru pada para suster saat membuka pintu bertuliskan IGD itu.


"Suster, tolong temen saya!" teriak Arga dengan wajah panik sambil membopong tubuh Arya.


Namun, semua mata para wanita yang ada di dalam ruang Instalasi Gawat Darurat itu langsung terkesima melihat tubuh atletis Arga dengan perut kotak-kotak sempurna layaknya aktor. Pemuda itu sampai terlupa kalau hanya mengenakan celana panjang berbahan jeans saja kala itu.


"Suster! Malah bengong! Buruan tolong temen saya!" teriak Arga.


Dua orang Suster langsung memerintahkan Arga agar membaringkan tubuh Arya di salah satu ranjang yang kosong. Dokter jaga langsung menghampiri dan memeriksa kondisi Arya.


"Mas, silakan ke luar dulu ya!" pinta Dokter itu pada Arga.


Arga menurut, lalu ia menghampiri Ria.


"Gimana Arya, Ga?" tanya Ria.


"Udah ditangani sama dokter, semoga tuh anak enggak apa-apa. Awas aja kalau dia sampai mati lagi dan jadi pocong kayak cerita Anta waktu itu," ucap Arga.


"Ya Allah, semoga Arya baik-baik aja."


"Ria, kenapa sih semuanya pada ngeliatin aku?" tanya Arga seraya bertolak pinggang.


"Ga, kamu sadar enggak sih kalau kamu lagi enggak pakai baju," lirih Ria.


Arga langsung menoleh ke arah tubuhnya yang bertelanjang dada.


"Astagfirullah, aku lupa. Pantesan dari tadi hawanya dingin banget!" Arga berusaha menutupi tubuh atletisnya itu.


Ria akhirnya memberanikan diri menemui salah satu pengunjung rumah sakit kala itu.


"Ya udah nih!" ucapnya seraya menyerahkan jaket warna hitam dengan hodie itu.


"Makasih banyak ya, Mas. Enggak nyangka masih ada orang sebaik Mas mau minjemin jaket ini," ucap Ria.


"Seratus ribu," ucap pria itu sampai membuat Ria terperanjat.


"Hah? Mas bilang apa?" tanya Ria.


"Seratus ribu, saya jual jaket itu, saya belinya 150 ribu, lho," ucapnya.


"Hmmm..."


Untung saja Ria membawa uang berlebih di tas kecilnya. Ia merogoh selembar uang kertas ratusan ribu dan menyerahkannya pada pria tersebut.


"Makasih ya," lirih Ria.


"Sama-sama." Pria itu lalu pergi.


Ria menyerahkan jaket berbahan kaus itu pada Arga.


"Ih, punya siapa nih, mana bau asem lagi," keluh Arga.


"Udah pakai aja, daripada kamu enggak alami baju gitu. Aku enggak mau ya calon masa depan aku auratnya diumbar gratis kayak gitu," ucap Ria.


Arga langsung tersipu malu mendengar penuturan gadis itu.


"Tapi, ini apek banget, Ria, kayak udah sebulan enggak dicuci," keluh Arga.


"Udah sih pakai aja, aku beli tuh seratus ribu," ucap Ria.


"Hah, jaket KW yang harganya lima puluh ribu gini kamu tebus seratus ribu, ckckckc... kamu dibohongi, Yang."


"Wah, sialan tuh Masnya. Udahlah anggap aja amal."


Arga dengan terpaksa memakai jaket pemberian Ria. Dokter jaga datang menghampiri mereka.


"Pasien mengalami pendarahan hebat dan harus segera dioperasi, tetapi pasien butuh darah golongan O, tetapi sayangnya pihak rumah sakit sedang kehabisan golongan darah tersebut."


"Waduh, beda lagi sama aku," ucap Arga.


"Aku juga beda, aku kan A," sahut Ria.


"Pakai punya Anta aja!"


Anta yang tiba-tiba hadir itu langsung menyahut.


"Astagfirullah... si Anta ngagetin aja, jantung Ria sampai pindah nih ke usus," sahut Ria.


"Baiklah, mari Mbak ikut suster ya ke ruang operasi!" pinta Dokter tersebut.


Anta langsung melangkah mengikuti para suster dan dokter itu. Herdi ikut melangkah mengikuti Anta.


"Sayang, mau ke mana?" tanya Tasya menahan Herdi.


"Mau ikut ke sana, kali aja butuh darah lagi," jawab Herdi.


"Ya udah hati-hati!"


Dita menghampiri Ria dan mengusap bahu gadis itu.


"Kamu yang sabar, ya," ucap Dita.


"Maksud Ibu Dita apa ya? Aku udah enggak apa-apa kok," ucap gadis itu.


Setelah Dita menghela napas panjang, ia lalu menceritakan perihal keterlibatan sang mama dengan kelompok sesat yang hampir membahayakan nyawa mereka tadi. Ria langsung menangis lalu tak sadarkan diri.


"Lho, Ria kenapa pingsan gini?" Arga terlihat panik.


"Bawa duduk di kursi tunggu sana, Ta!" ucap Tasya.


"Aku beli minum dulu buat si Ria sama buat kalian," ucap Anan menuju vending machine yang ia lihat itu.


Dita berusaha membuat Ria tersadar. Tasya menyerahkan minyak kayu putih yang baru saja ia pinjam dari salah satu suster.


"Pakai ini, Ta!"


Dita meraih minyak kayu putih tersebut lalu mengoleskan sedikit demi sedikit ke bawah hidung Ria. Karena tak kunjung sadar juga akhirnya Tasya bertindak nekat.


"Kelamaan kali kalau kayak gitu, coba kayak gini," ucap Tasya.


Wanita itu lalu mengoleskan cairan minyak kayu putih ke bibir Ria bahkan membuat gadis itu menelan sedikit cairan minyak kayu putih itu.


"Wah, Tante Tasya jangan gitu dong, kasian si Ria!" Arga mulai sewot melihat kejadian itu.


Namun, cara Tasya barusan berhasil, Ria tiba-tiba tersadar. Gadis itu lalu menangis memeluk Dita.


"Nangis aja sayangku, lepaskan semua kesedihan kamu, Nak."


Dita menepuk-nepuk punggung Ria dengan lembut.


****


To be continue...


Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Ayo dong, mana votenya.🥰🥰🥰


Selamat menjalankan ibadah puasa.