
Happy Reading...
*****
Beberapa tamu melayangkan puntung rokok dan beberapa sampah ke arah Bagus seraya tertawa. Pria itu menatap ke arah kelompok Maya dengan tatapan kebencian seraya menahan tangis. Ia pergi kemudian dari kafe tersebut.
Satu jam berlalu, Bagus kembali ke kafe. Ia memastikan kalau semua tamu sudah pulang dan hanya tertinggal lima orang, yaitu Maya dan para sahabatnya untuk membayar pesta malam itu.
Bagus masuk ke dalam kafe secara sembunyi-sembunyi. Ia menyamar menjadi pegawai kafe dengan memakai topi menutupi wajahnya. Pria itu mempersiapkan lima gelas wine yang sudah dicampur dengan racun lalu memberikannya pada Maya dan teman-temannya.
"Ini apa, Mas?" tanya Maya menahan Bagus sebelum pergi.
"Minuman hadiah sebagai ucapan terima kasih," ucap Bagus dengan suara yang dibuat-buat agar terdengar berbeda lalu bergegas pergi dari tempat itu.
"Wah, baik juga ya kafe ini, kita dapet minuman mahal gratis lagi," ucap Joni.
"Gimana kalau kita tos terus minum bareng buat merayakan ulang tahun Maya dan suksesnya kita tadi ngerjain si culun Bagus," ucap Yuli.
"Boleh banget," sahut Iwan si pria kaca mata.
"Sumpah tau, gue enggak enak banget sama Bagus, kasian tau, gue nahan-nahan gitu tadi pas ngerjain dia gue gemetaran," ucap Maya.
"Halah, enggak usah dipikirin, dia kan muka tembok, pantang menyerah juga, palingan besok udah masuk kuliah lagi terus ngeliatin elo terus kerjaannya," sahut Nisa si gadis bergaun ungu.
"Tapi gue masih enggak enak aja," ucap Maya sedih.
"Sudahlah, enggak usah dipikirin, yuk kita tos!" ajak Joni.
Kelima orang itu langsung menenggak gelas wine itu tanpa curiga sedetik pun. Mereka benar-benar tak merasa aneh dengan minuman berisi racun tersebut. Sepuluh menit kemudian, racun ganas itu bereaksi. Lima sahabat itu langsung tewas dan membuat gempar seluruh karyawan restoran kala itu.
Setelah kejadian itu, kafe bernama Joy Cafe akhirnya ditutup. Tak ada rekaman cctv yang merekam kejadian kala itu karena Bagus sudah meretas kamera cctv dengan kemampuan hacking program yang ia kuasai. Akhirnya kafe tersebut ditutup.
Gedung kafe itu berubah menjadi sebuah toko pakaian, lalu berubah kembali menjadi apotek. Sampai akhirnya berubah menjadi kafe kembali yang dibeli oleh anaknya Bagus yaitu Jemi.
***
Anta menghela napas lega setelah sebelumnya terlihat seperti sesak napas. Gadis itu lantas menatap ke arah Kakek Bagus.
"Ka-kakek, kakek yang membunuh mereka!" Pekik gadis itu.
"Eh, maksud kamu apa ya, apa-apaan kamu tuduh kakek saya pembunuh?" hardik Jemi berseru dengan nada amarah dan tatapan tajam pada Anta.
"Anta, kamu habis lihat apa?" tanya Arga menyentuh bahu gadis itu.
"Ga, lima hantu ini yang bunuh Kakek Bagus," ucap Anta.
"Kamu tahu nama saya, padahal saya belum ucap nama saya?" tanya Kakek Bagus.
"Anta tau dari mereka," ucap gadis itu menunjuk ke arah para hantu yang berdiri di belakang Kakek Bagus.
"Anak ini ngomong apa, sih?" tanya pria paruh baya itu.
"Kakek yang membunuh Tante Maya sama yang lainnya di kafe ini kan, Joy Cafe," ucap Anta dengan mata berkaca-kaca.
"Apa yang kamu bilang barusan itu?"
Jemi berseru membentak Anta.
Kakek Bagus langsung tertunduk lemas. Ia merebahkan bokongnya di kursi. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca dan akhirnya menangis.
"Yah, apa maksud perkataan anak ini?" tanya Jemi pada ayahnya seraya menunjuk Anta.
"Dari mana kau tau semua itu, Nak?" tanya Kakek Bagus yang sudah tak bisa lagi menahan air matanya.
Anta kemudian menyentuh tangan Kakek Bagus. Gadis itu memperlihatkan lima hantu di belakang pria paruh baya itu.
"Kakek bisa lihat mereka sekarang," ucap Anta.
"Astagfirullahaladzim... maafkan saya Maya, Joni, Yuli, Iwan, Pipi, tolong maafkan saya."
Pria paruh baya itu lalu menangis seraya meminta maaf pada kawan-kawannya.
"Ayah ngomong sama siapa, sih?" tanya Jemi.
Arga menyentuh bahu Jemi agar tenang dulu. Ia menjelaskan perlahan pada pria itu tentang apa yang dilihat Anta dan juga ayahnya.
"Tante, Om, maaf nih sebelumnya ya, harusnya kalian juga minta maaf sama Kakek Bagus, kalian udah sering buat salah sama dia," ucap Anta.
Kakek Bagus sampai berlutut di hadapan para hantu itu. Terlihat sekali kalau ia sangat menyesal. Hantu Maya mendekati Kakek Bayu. Ia berlutut di hadapan pria paruh baya itu.
"Harusnya saya yang minta maaf, Gus, saya malu mengakui kalau saya juga cinta sama kamu, dan malam itu saya malah menuruti nafsu setan untuk membuat kamu malu," ucap Maya.
Hantu wanita itu mengusap air mata yang mengalir di pipi Kakek Bayu.
"Gue juga minta maaf, Gus, maafin kita juga karena suka banget buat elo susah, apalagi gue demen banget nge-bully elo waktu itu. Gue sadar kalau gue bakalan melakukan hal yang sama ama elo kalau batas kesabaran gue udah hilang," ucap Joni.
"Saya akan mengakui perbuatan saya karena telah membunuh kalian, saya ikhlas jika sekarang saya harus menghabiskan sisa hidup saya di penjara Maaf kalau dulu saya terlalu takut untuk mengakui kesalahan saya," ucap Kakek Bagus sampai bersujud di hadapan para hantu itu.
"Sekali lagi, saya minta maaf ya, Gus."
Maya menoleh pada Anta kemudian saat ia bangkit berdiri.
"Terima kasih karena kamu telah membuat dia melihat kami, dan terima kasih karena kamu telah membuat kami tenang sekarang," ucap Maya seraya tersenyum pada Anta.
Lalu, hantu Maya bersama para hantu yang lainnya pergi menghilang. Jemi menghampiri sang ayah yang masih menangis tersedu-sedu seraya memeluk pria itu.
"Antar Ayah ke kantor polisi, Jemi," pintanya.
"Tapi, Yah, itu udah kejadian yang lama banget, polisi pasti enggak akan bahas masalah itu," ucap Jemi.
"Kamu tau enggak, setahun lalu saat ayah pergi naik haji, sesungguhnya Ayah bohong. Ayah tak pernah sampai ke Kakbah seolah Allah tak merestui kedatangan ayah ke sana. Ayah kecelakaan di Bandara saat sampai di Jeddah, lalu Ayah dirawat di rumah sakit sana. Tetapi ibumu bilang dia malu jika harus kembali tanpa gelar haji, jadi ibumu meminta Ayah untuk menyembunyikan hal ini," ucap pria itu.
"Ya ampun, Yah..."
"Nanti setelah Ayah di penjara, tolong jaga ibu dan adikmu dengan baik," pinta Kakek Bagus.
***
Di mobil Dion dalam perjalan pulang.
"Gue masih takjub sama kemampuan elo, Nta," ucap Dion.
"Hmmm..."
Anta yang duduk di kursi belakang bersama Ria terlihat mengantuk dan merebahkan kepalanya ke bahu gadis itu.
"Udah jangan diliatin aja, fokus aja ke depan nanti kuta kecelakaan kan repot!" seru Arga.
"Cuma mau tanya, Ga," sahut Dion.
"Tanya apa, hoaaammm?"
Anta menguap dengan lebarnya.
"Elo bisa nerawang para hantu, kalau nerawang nomor lotre, bisa enggak?" tanya Dion seraya tertawa.
"Bisa," jawab Anta.
"Seriusan? Besok kita main game online ke nomor lotre ya, terus kita pasang sesuai terawangan elo," pinta Dion.
"Emangnya kamu mau diajak berjudi, Nta?" tanya Arga.
"Tadi ucapan Anta belum selesai, maksudnya tuh Bisa, bisa gila! Udah ah Anta ngantuk mau bobo, pinjem pundak ya, Ria," sahut gadis itu ketus.
"Eh liat deh di status si Mey, dia pasang foto berdua sama Arga lagi makan-makan di rumahnya," ucap Ria.
Arga langsung mengeluarkan ponsel di saku dan melihat status milik Mey di layar ponselnya. Anta terlihat cuek meskipun ia melirik sekilas ke arah foto di layar ponsel milik Ria.
Kok, si Arya bisa luluh gini sama Mey, gue enggak nyangka.
Arga masih menatap layar ponselnya dengan wajah bingung.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni